SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Ketua Hiswana Migas Sukabumi, H. Eten Rustandi, memastikan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) dan liquefied petroleum gas (LPG) di wilayah Sukabumi hingga akhir 2026 dalam kondisi aman.
Eten menegaskan, persoalan yang beberapa kali muncul di lapangan lebih disebabkan keterlambatan pengiriman, bukan karena stok BBM maupun LPG benar-benar mengalami kekurangan.
“Kalau ada kekurangan, sampaikan. Berarti diusahakan diprioritaskan. Sebetulnya bukan kekurangan, tapi keterlambatan di lapangan,” ujar Eten Rustandi, Kamis (27/8).
Ia mengatakan, Hiswana Migas terus berkoordinasi dengan Pertamina untuk memastikan distribusi tetap berjalan dan pasokan dapat diprioritaskan apabila terjadi keterlambatan pengiriman di suatu wilayah.
Menurut Eten, pengamanan stok untuk kebutuhan hingga akhir 2026 bahkan telah dilakukan sejak Februari dan Maret.
Langkah tersebut dilakukan melalui pola saving atau menyisihkan sebagian pasokan untuk digunakan menghadapi kebutuhan pada periode akhir tahun.
“Dari bulan Februari, Maret kita sudah saving untuk akhir tahun,” ungkapnya.
Pola tersebut dilakukan dengan menyesuaikan kondisi distribusi dan tingkat serapan di lapangan.
Eten memberikan gambaran, apabila dalam kondisi normal suatu wilayah mendapatkan sekitar tiga truk, maka pada kondisi tertentu distribusinya bisa diberikan dua truk terlebih dahulu. Satu truk lainnya diamankan untuk kebutuhan berikutnya.
“Misalkan biasanya di sini tiga truk, diberi dua truk. Yang satu truk diamankan untuk ke depan,” jelasnya.
Strategi tersebut dilakukan bukan semata-mata untuk mengurangi pasokan, melainkan sebagai bagian dari manajemen stok agar ketersediaan BBM dan LPG tetap terjaga sampai penghujung tahun.
Selain itu, kondisi penyerapan di masing-masing wilayah juga terus dipantau. Eten menjelaskan, tingkat kebutuhan dapat dilihat dari penyerapan Delivery Order (DO) di Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE).
Jika suatu wilayah seharusnya memperoleh kuota 10, tetapi realisasinya hanya terserap enam atau delapan, maka pasokan yang tidak terserap tersebut tidak dibiarkan menumpuk.
“Misalkan seharusnya 10, yang ditebus hanya enam atau delapan. Buru-buru di-split, diamankan untuk daerah yang lain,” katanya.
Dengan pola tersebut, pasokan dapat dialihkan ke wilayah yang tingkat kebutuhannya lebih tinggi.
Langkah ini sekaligus menjadi cara untuk menjaga agar distribusi tidak mengalami ketimpangan antara daerah yang serapannya rendah dengan daerah yang membutuhkan tambahan pasokan.
Eten menegaskan, manajemen stok dan distribusi menjadi kunci utama dalam menjaga ketersediaan BBM serta LPG.
Terlebih, ia menyebut adanya kecenderungan pengurangan pasokan oleh pemerintah dari tahun ke tahun jika dibandingkan dengan kebutuhan atau perhitungan tahun sebelumnya.
“Kalau perhitungan tahun sekarang dengan tahun kemarin, terus terang tiap tahun itu dikurangi oleh pemerintah. Tapi kita juga berusaha dengan Pertamina untuk mengamankan stok sampai 2026,” ujarnya.
Karena itu, menurut Eten, langkah antisipasi tidak bisa dilakukan hanya ketika terjadi persoalan.
Pengamanan stok harus dilakukan jauh-jauh hari dengan melihat pola kebutuhan, tingkat serapan, kondisi distribusi, serta momentum tertentu seperti hari libur.
“Pada saat hari libur, kita ambil sedikit-sedikit, ditumpukkan untuk nanti akhir tahun,” tuturnya.
Dengan strategi tersebut, Eten optimistis kebutuhan BBM dan LPG masyarakat Sukabumi hingga akhir 2026 dapat tetap terpenuhi.
“Insyaallah aman,” tegasnya.
Meski demikian, Eten mengakui masih terdapat persoalan lain yang menjadi perhatian pelaku usaha, khususnya berkaitan dengan regulasi.
Ia menyebut arah regulasi saat ini masih belum sepenuhnya jelas sehingga diperlukan kepastian agar para pelaku usaha dapat menyesuaikan pola distribusi dan pelayanan di lapangan.
“Justru sekarang regulasinya remang-remang semuanya. Mau ke mana pemerintah ini arahnya?” kata Eten.
Ia berharap koordinasi antara pemerintah, Pertamina, dan pelaku usaha dapat terus diperkuat sehingga setiap perubahan kebijakan maupun kebutuhan distribusi dapat diantisipasi lebih cepat.
Bagi Hiswana Migas Sukabumi, yang terpenting saat ini adalah memastikan BBM dan LPG tetap tersedia, mengelola stok secara cermat.
“Kita akan memindahkan pasokan dari wilayah dengan serapan rendah ke wilayah yang membutuhkan. Dengan pola tersebut, ketahanan pasokan hingga akhir 2026 diharapkan tetap terjaga,” ungkapnya. (Usep)