SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Pergerakan ekonomi Kota Sukabumi menunjukkan arah yang semakin positif. Stabilitas harga yang tetap terjaga berjalan beriringan dengan peningkatan aktivitas ekonomi daerah, memberikan optimisme bagi Pemerintah Kota Sukabumi untuk mempertahankan momentum pertumbuhan hingga akhir 2026.
Berdasarkan data Pemerintah Kota Sukabumi, inflasi pada Agustus 2026 tercatat 2,77 persen secara tahunan atau year on year (yoy).
Sementara secara bulanan, inflasi berada di angka 0,22 persen month to month (mtm).
Capaian tersebut menempatkan Kota Sukabumi di peringkat kesembilan untuk tingkat inflasi tahunan, sekaligus lebih rendah dibandingkan Kota Bogor yang mencatat inflasi sebesar 2,87 persen.
Wali Kota Sukabumi Ayep Zaki menilai kondisi tersebut menjadi sinyal positif bagi perekonomian daerah.
Menurutnya, pengendalian harga harus terus dilakukan agar pertumbuhan ekonomi yang sedang bergerak positif tidak terganggu oleh tekanan inflasi.
“Capaian inflasi ini memberikan harapan positif bagi pertumbuhan ekonomi Kota Sukabumi. Di tengah dinamika ekonomi global, inflasi kita masih berada pada level yang terkendali. Tantangannya adalah mempertahankan stabilitas tersebut sembari terus mendorong aktivitas ekonomi daerah,” ujar Ayep Zaki, Selasa (8/9/2026).
Tingkat inflasi Kota Sukabumi tersebut juga masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 2026. Pemerintah menetapkan sasaran inflasi sebesar 2,5 persen dengan toleransi sekitar 1 persen.
Meski demikian, sejumlah kelompok pengeluaran masih memberikan tekanan terhadap inflasi.
Pada Agustus 2026, sektor transportasi dan pendidikan menjadi salah satu penyumbang dominan.
Kenaikan tarif transportasi berbasis daring serta penyesuaian biaya pendidikan pada awal tahun ajaran baru ikut memengaruhi pergerakan harga.
Biaya pendidikan tingkat SD dan SMP, termasuk kebutuhan bimbingan belajar, turut menjadi faktor yang diperhatikan pemerintah daerah.
Untuk menjaga kondisi tersebut tetap terkendali, Pemkot Sukabumi bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus memperkuat berbagai langkah pengendalian harga.
Salah satu upaya yang dilakukan melalui Gerakan Pangan Murah (GPM) yang digelar di sejumlah wilayah, di antaranya Kecamatan Gunung Puyuh, Lembursitu dan Cibeureum.
GPM diarahkan untuk menjaga keterjangkauan kebutuhan pokok masyarakat sekaligus mempertahankan daya beli.
Program tersebut juga terus didorong untuk diperluas ke berbagai lokasi sebagai bagian dari strategi pengendalian inflasi daerah.
Selain itu, Pemkot Sukabumi memperkuat komunikasi dengan Pemerintah Kabupaten Sukabumi untuk membuka peluang kerja sama di bidang pangan.
Langkah ini dinilai penting karena ketersediaan dan harga komoditas pangan memiliki pengaruh terhadap pergerakan inflasi.
Di tengah upaya menjaga stabilitas harga, indikator pertumbuhan ekonomi Kota Sukabumi juga memperlihatkan perkembangan yang menggembirakan.
Pada triwulan II 2026, ekonomi Kota Sukabumi tumbuh 5,94 persen secara tahunan atau yoy.
Pertumbuhan tersebut menempatkan Kota Sukabumi dalam kelompok 20 daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi pada periode tersebut.
Kota Pekanbaru menjadi daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi sebesar 7,39 persen, kemudian Kota Batam sebesar 7,28 persen dan Kota Surabaya sebesar 7,20 persen.
Pertumbuhan ekonomi Kota Sukabumi sebesar 5,94 persen juga lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat 5,29 persen pada triwulan II 2026.
Bagi Ayep Zaki, capaian tersebut memperlihatkan bahwa perekonomian Kota Sukabumi memiliki fondasi yang cukup positif.
Karena itu, momentum tersebut harus dijaga dengan kebijakan yang mampu mendorong sektor-sektor produktif sekaligus tetap mengendalikan tekanan harga.
“Capaian ini menunjukkan Kota Sukabumi sudah berada di jalur yang tepat. Ke depan, tantangannya adalah bagaimana menjaga pertumbuhan tetap kuat sekaligus menekan laju inflasi melalui kebijakan yang kreatif, terukur, dan berani. Dengan begitu, peningkatan aktivitas ekonomi dapat terus memberikan manfaat bagi masyarakat,” kata Ayep.
Ia menegaskan, pemerintah daerah tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek, tetapi juga berupaya memastikan peningkatan aktivitas ekonomi memberikan dampak yang lebih luas terhadap masyarakat.
Penguatan sektor ekonomi produktif, menurut Ayep, menjadi salah satu kunci agar tren positif tersebut dapat dipertahankan hingga akhir tahun.
“Inflasi harus tetap terkendali, sementara sektor-sektor ekonomi produktif perlu terus diperkuat. Dua hal ini penting untuk menjaga perekonomian Kota Sukabumi tetap tumbuh hingga akhir 2026,” pungkasnya. (Usep)