Jakarta, Bidik-kasusnews.com – Kepedulian terhadap akses komunikasi bagi penyandang disabilitas melahirkan sebuah gerakan inspiratif dari mahasiswa LSPR Institute of Communication & Business. Melalui program INTUISI (Interaksi Untuk Inklusi), para mahasiswa berupaya membangun lingkungan yang lebih ramah bagi teman tuli dengan mengedukasi masyarakat tentang bahasa isyarat dan pentingnya komunikasi yang inklusif.
Program Community Development tersebut dilaksanakan di wilayah Kelurahan Sukabumi Selatan, Jakarta Barat, setelah tim melakukan observasi berdasarkan data Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) yang telah diverifikasi. Data tersebut menunjukkan terdapat lebih dari 40 penyandang disabilitas yang berdomisili di kawasan tersebut, termasuk lebih dari 20 penyandang tuli dari berbagai kelompok usia.
Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa Konsentrasi Public Relations Digital Communication LSPR menghadirkan INTUISI sebagai upaya mengurangi hambatan komunikasi yang selama ini masih dihadapi teman tuli dalam kehidupan sehari-hari.
Program ini dikembangkan di bawah pendampingan dosen LSPR Institute of Communication & Business, yaitu Shopia Bernadette, S.E., M.I.Kom., Dr. Alexander Mamby Aruan, M.Si., Wynne Wardhani, S.I.Kom., serta Salsabila Andi Akil, M.I.Kom.
Project Leader INTUISI, Carizsa Pasha Lady Jacob, menjelaskan bahwa hasil observasi menunjukkan tantangan terbesar yang dihadapi teman tuli bukan hanya keterbatasan akses terhadap informasi, tetapi juga minimnya kemampuan masyarakat sekitar dalam menggunakan bahasa isyarat.
“INTUISI hadir sebagai jembatan yang menghubungkan teman tuli dengan keluarga, tetangga, dan masyarakat agar tercipta komunikasi yang lebih setara serta lingkungan yang semakin inklusif,” ujarnya.
Mengusung tagline “Interaksi Untuk Inklusi”, program ini menghadirkan berbagai kegiatan berkelanjutan. Salah satunya adalah DIAM (Dengan Isyarat Aku Menyapa), yakni edukasi bahasa isyarat bagi kelompok Dasawisma, kunjungan langsung dari rumah ke rumah kepada teman tuli dan keluarganya, kampanye edukasi digital, hingga program BISIK (Bahasa Isyarat Itu Asik) yang dirancang untuk memperkenalkan bahasa isyarat kepada masyarakat luas.
Dalam pelaksanaannya, INTUISI juga menggandeng SMKN 45 Jakarta dengan melibatkan para siswa sebagai bagian dari tim pelaksana kegiatan. Kolaborasi tersebut menjadi bentuk sinergi antara dunia pendidikan dan masyarakat dalam meningkatkan kesadaran akan pentingnya komunikasi yang inklusif.
Tak hanya itu, program ini turut melibatkan Dipa Rizky Prakusha, mahasiswa LSPR School of Special Needs Education (SSNE), serta Razka Nayla Asshiddiqi, siswi SMKN 45 Jakarta, sebagai Brand Ambassador. Keduanya yang merupakan teman tuli menjadi representasi penting agar setiap kegiatan benar-benar dibangun berdasarkan pengalaman dan kebutuhan komunitas tuli.
Sebagai puncak kegiatan, INTUISI menggelar talkshow edukatif yang diikuti sebanyak 171 peserta. Acara tersebut menghadirkan Nunur Aeni, dosen LSPR School of Special Needs Education (SSNE), serta Phieter Angdika, CEO PTI-Ruang Isyarat, perusahaan yang bergerak di bidang layanan dan teknologi inklusif bagi komunitas tuli di Indonesia.
Dalam sesi diskusi, para narasumber mengupas berbagai persoalan mengenai akses komunikasi bagi penyandang tuli, pentingnya penguasaan bahasa isyarat oleh masyarakat, hingga perlunya membangun lingkungan yang menghargai keberagaman. Peserta juga mendapatkan kesempatan mengikuti simulasi bahasa isyarat sehingga dapat mempraktikkan komunikasi dasar secara langsung.
Melalui kolaborasi bersama keluarga, kelompok Dasawisma, tokoh masyarakat, institusi pendidikan, dan komunitas tuli, INTUISI berharap mampu menumbuhkan budaya komunikasi yang lebih inklusif di Kelurahan Sukabumi Selatan.
Program ini menjadi bukti bahwa membangun masyarakat inklusif tidak hanya membutuhkan kepedulian, tetapi juga aksi nyata melalui edukasi, kolaborasi, dan keterlibatan langsung komunitas. Dengan semakin banyak masyarakat yang memahami bahasa isyarat, diharapkan tercipta ruang komunikasi yang setara sehingga setiap individu, termasuk teman tuli, dapat berinteraksi, berpartisipasi, dan merasa diterima sepenuhnya dalam kehidupan bermasyarakat.
(Agus)