SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Usaha pengolahan gula semut kelapa yang dijalankan secara rumahan di Kampung Cibuntu, Desa Buniwangi, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, terus menunjukkan perkembangan yang menggembirakan.
Produk olahan berbahan baku nira kelapa tersebut tidak hanya dipasarkan di tingkat lokal, tetapi juga telah berhasil menembus pasar mancanegara, termasuk sejumlah negara di Eropa.
Usaha yang dijalankan oleh pelaku usaha Famili Abadi ini memanfaatkan potensi sumber daya alam desa yang melimpah.
Di wilayah Desa Buniwangi sendiri tercatat lebih dari 200 pohon kelapa yang dimanfaatkan sebagai sumber nira untuk bahan baku pembuatan gula semut.
Pengrajin gula semut Famili Abadi, Subarna, menjelaskan bahwa dari sekitar 20 pohon kelapa yang disadap setiap harinya dapat menghasilkan kurang lebih 10 kilogram gula semut siap jual.
“Alhamdulillah, selama menjalankan usaha ini tidak ada kendala yang berarti. Bahan baku nira kelapa di sini sangat mencukupi, sehingga produksi bisa berjalan secara berkelanjutan,” ujar Subarna, Jumat (6/3/2026).
Ia menjelaskan, sebutan gula semut berasal dari bentuknya yang berupa butiran halus menyerupai sarang semut di dalam tanah. Selain tampilannya yang khas, gula semut juga memiliki keunggulan dari sisi ketahanan penyimpanan.
Menurutnya, gula semut dapat bertahan hingga dua tahun apabila dikemas dengan baik dan rapat. Hal ini karena kadar udara yang terkandung di dalam gula semut relatif rendah, yakni hanya sekitar 2 hingga 3 persen.
“Kalau dikemas dengan baik, gula semut bisa disimpan sampai dua tahun tanpa mengalami perubahan warna maupun rasa,” jelasnya.
Proses pembuatan gula semut sendiri tidak jauh berbeda dengan pembuatan gula merah cetak.
Tahapannya dimulai dari pengambilan nira kelapa, kemudian dimasak dan diaduk secara terus-menerus hingga mengkristal dan berubah menjadi butiran gula.
Seluruh proses tersebut memerlukan waktu sekitar empat jam hingga gula semut siap untuk dikemas.
Subarna menegaskan bahwa produk gula semut yang diproduksinya dibuat secara alami tanpa menggunakan campuran bahan kimia. Teknik pengolahannya masih mengandalkan cara tradisional yang telah lama dilakukan para pengrajin di daerah tersebut.
“Dalam prosesnya kami tidak menggunakan bahan kimia. Semua murni dari nira kelapa dan diolah secara alami,” tegasnya.
Untuk pemasaran, gula semut produksi Famili Abadi saat ini telah dipasarkan di berbagai wilayah Pajampangan atau kawasan selatan Kabupaten Sukabumi.
Produk tersebut dijual dalam kemasan ekonomis seberat 250 gram dengan harga sekitar Rp10 ribu per kemasan.
Selain memenuhi pasar lokal, gula semut asal Desa Buniwangi juga telah menembus pasar ekspor, salah satunya ke Belanda.
Keberhasilan usaha rumahan ini menjadi bukti bahwa potensi sumber daya alam desa, apabila dikelola secara optimal dan berkelanjutan, mampu memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat serta membuka peluang pasar hingga ke tingkat internasional. (Dicky)