Pemalang | Bidik-kasusnews.com — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Presiden Prabowo Subianto untuk meningkatkan kualitas gizi pelajar kembali menuai sorotan. Keterlambatan distribusi terjadi di sejumlah sekolah dasar dan taman kanak-kanak di Kecamatan Bodeh, Kabupaten Pemalang, pada Senin (22/12/2025), sehingga memicu kekecewaan pihak sekolah dan orang tua siswa.
Distribusi paket Makan Bergizi Gratis mengalami keterlambatan signifikan, bahkan sebagian jatah yang seharusnya dibagikan pada hari berikutnya justru dikirim di hari yang sama
Keterlambatan terjadi di Desa Payung dan Desa Karangbrai, Kecamatan Bodeh, Kabupaten Pemalang.
Distribusi yang seharusnya dilakukan pagi hari Senin pukul 08.00 WIB, baru diterima sekolah pada siang hingga malam hari, yakni sekitar pukul 14.00 WIB hingga 18.00 WIB, pada Senin, 22 Desember 2025.
Sekolah terdampak meliputi SD dan TK di Desa Payung dan Desa Karangbrai. Distribusi dilakukan oleh SPPG Payung, sementara kritik datang dari Aliansi Pemerhati Pendidikan Kabupaten Pemalang.
Diduga lemahnya manajemen distribusi dan perencanaan pengiriman menjadi penyebab keterlambatan, meski lokasi sekolah relatif dekat dengan dapur pengolahan MBG.
Berdasarkan pantauan awak media, di Desa Payung makanan MBG baru tiba sekitar pukul 18.00 WIB, jauh dari jadwal yang ditetapkan. Bahkan, jatah yang seharusnya dikirim pada Selasa dan Rabu (23–24 Desember 2025) justru didistribusikan lebih awal pada Senin malam. Kondisi serupa terjadi di Desa Karangbrai, di mana paket MBG diterima sekitar pukul 15.30 WIB, dan distribusi untuk hari berikutnya kembali dilakukan pada malam hari.
Kondisi tersebut menuai kritik keras dari Aliansi Pemerhati Pendidikan Kabupaten Pemalang, Edi Darmawan, yang menilai sistem distribusi MBG di wilayah tersebut tidak profesional.
“Ini jelas semprawut. Program yang seharusnya menunjang kegiatan belajar justru merepotkan guru. Ada sekolah yang terpaksa menolak karena makanan datang malam hari,” tegas Edi.
Ia menambahkan, pihaknya akan melaporkan kinerja SPPG Payung ke tingkat yang lebih tinggi, agar pelaksanaan program nasional tersebut dapat dievaluasi dan diperbaiki.
Hingga berita ini diturunkan, pihak SPPG Payung, Martina Novitilova, belum memberikan tanggapan. Upaya konfirmasi yang dilakukan oleh Pimpinan Redaksi Media Bidik-Kasusnews belum mendapat respons.
Keterlambatan ini menjadi catatan penting bagi pelaksana Program MBG agar tujuan mulia pemerintah dalam meningkatkan gizi dan kualitas pendidikan anak-anak Indonesia tidak terhambat oleh persoalan teknis di lapangan. (Red)
