SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM Memasuki tahun kedua pemerintahan Wali Kota Sukabumi Ayep Zaki bersama Wakil Wali Kota Bobby Maulana, penguatan kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi salah satu agenda yang terus didorong melalui program unggulan.
Di tengah upaya tersebut, Beasiswa Bercahaya menjadi salah satu program andalan, sementara rencana revitalisasi Stadion Suryakencana atau Stadion Surken masih menghadapi kendala pendanaan.
Kepala Bidang Perencanaan, Pengendalian, dan Evaluasi Pembangunan Daerah (PPED) Bappeda Kota Sukabumi, Asep Supriadi, SKM., M.Tr.AP., menjelaskan bahwa evaluasi pembangunan pada tahun kedua kepemimpinan kepala daerah perlu melihat perkembangan program yang sudah berjalan sekaligus mengidentifikasi agenda yang masih membutuhkan penyelesaian.
“Memasuki tahun kedua pemerintahan, kita perlu melihat sejauh mana program-program unggulan yang sudah berjalan memberikan manfaat bagi masyarakat. Evaluasi ini juga penting untuk mengidentifikasi berbagai tantangan yang masih perlu ditindaklanjuti,” kata Asep, Selasa (20/10).
Salah satu program yang menjadi perhatian adalah Beasiswa Bercahaya. Program yang digagas Ayep Zaki tersebut diarahkan untuk memperluas akses pendidikan tinggi sekaligus menjadi investasi jangka panjang dalam meningkatkan kualitas SDM Kota Sukabumi.
Peningkatan pendidikan diharapkan membuka kesempatan lebih luas bagi masyarakat untuk memperbaiki taraf hidup dan mengurangi risiko kemiskinan maupun pengangguran.
Pada 2026, Pemerintah Kota Sukabumi mengalokasikan anggaran sekitar Rp1.073.250.000 untuk membiayai pendidikan 333 mahasiswa asal Kota Sukabumi.
Anggaran beasiswa itu diperkirakan meningkat pada 2027, sehingga peluang memperluas dukungan pendidikan bagi masyarakat berpotensi semakin besar.
“Pada 2026, Pemkot Sukabumi mengalokasikan anggaran sekitar Rp1,073 miliar untuk membiayai pendidikan 333 mahasiswa asal Kota Sukabumi. Untuk 2027, anggaran beasiswa diperkirakan meningkat sehingga dukungan terhadap akses pendidikan tinggi diharapkan semakin kuat,” jelasnya.
Keberadaan Beasiswa Bercahaya menjadi salah satu bentuk intervensi pemerintah daerah di sektor pendidikan. Melalui program tersebut, mahasiswa yang membutuhkan bantuan pembiayaan diharapkan memiliki kesempatan lebih baik untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Selain sektor pendidikan, pemerintahan Ayep Zaki dan Bobby Maulana juga mengembangkan program yang menyasar kelompok masyarakat dengan peran penting dalam kehidupan sosial dan ekonomi. Dukungan tersebut antara lain ditujukan bagi guru ngaji, marbot, guru madrasah, serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Pada tingkat kewilayahan, Pemkot Sukabumi mengalokasikan anggaran Rp8,9 miliar untuk Program Pemberdayaan Rukun Warga (P2RW). Program ini menjadi instrumen pembangunan yang diarahkan untuk mendukung kebutuhan masyarakat di lingkungan RW.
Pembangunan berbasis kewilayahan tersebut diharapkan mampu mendekatkan program pemerintah dengan kebutuhan masyarakat. Dengan dukungan anggaran yang tersedia, P2RW menjadi bagian dari upaya memperkuat pemberdayaan masyarakat sekaligus mendorong pembangunan lingkungan.
Pemerintah daerah juga memberikan perhatian kepada calon Pekerja Migran Indonesia (PMI) melalui subsidi sebesar Rp2,5 juta. Bantuan ini ditujukan untuk mendukung masyarakat yang akan bekerja di luar negeri.
Berbagai program tersebut menjadi bagian dari agenda pembangunan yang menyentuh sektor pendidikan, sosial, ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat. Namun, evaluasi pembangunan tidak hanya berkaitan dengan program yang telah berjalan, tetapi juga mencakup sejumlah rencana yang belum dapat direalisasikan secara optimal.
Salah satu pekerjaan rumah yang masih membutuhkan tindak lanjut adalah revitalisasi Stadion Suryakencana. Rencana pembenahan fasilitas olahraga tersebut masih terkendala kebutuhan anggaran yang cukup besar, sehingga pemerintah kota perlu menjajaki kemungkinan dukungan pembiayaan dari pihak ketiga.
“Revitalisasi Stadion Surken masih membutuhkan persiapan yang matang. Selain kebutuhan anggaran, aspek teknis, keterbatasan lahan, aksesibilitas, dan penataan fasilitas juga harus diperhitungkan agar rencana revitalisasi dapat berjalan sesuai standar yang dituju,” kata Asep.
Persoalan pendanaan menjadi tantangan penting karena revitalisasi stadion tidak hanya berkaitan dengan perbaikan fisik bangunan. Pemerintah juga perlu memastikan kesiapan kawasan, kelayakan fasilitas, serta aksesibilitas agar stadion dapat berfungsi sesuai kebutuhan.
Keterbatasan lahan dan kondisi lalu lintas di sekitar Stadion Surken turut menjadi aspek yang harus diperhitungkan. Pengaturan arus kendaraan dan upaya mengurai kemacetan perlu masuk dalam perencanaan agar aktivitas stadion tidak menambah beban mobilitas masyarakat di kawasan tersebut.
Di sisi lain, sejumlah bagian stadion yang mengalami kerusakan akibat penggunaan untuk berbagai kegiatan membutuhkan evaluasi dan pembenahan menyeluruh. Perbaikan harus direncanakan dengan mempertimbangkan persyaratan teknis dan standar nasional yang hendak dicapai.
Untuk mendukung hal tersebut, Pemkot Sukabumi masih perlu mematangkan perencanaan teknis, termasuk menjajaki kebutuhan konsultan perencana. Langkah ini penting agar konsep revitalisasi disusun secara terukur, baik dari aspek konstruksi maupun penataan fasilitas pendukung.
Kondisi Stadion Surken memperlihatkan bahwa realisasi agenda pembangunan tidak cukup mengandalkan perencanaan semata. Ketersediaan anggaran, kesiapan teknis, dan penataan kawasan menjadi faktor yang perlu diselesaikan agar rencana revitalisasi dapat berlanjut ke tahap pelaksanaan.
Asep menegaskan bahwa evaluasi pembangunan daerah diperlukan untuk melihat perkembangan program yang telah dijalankan sekaligus mengukur berbagai tantangan yang masih dihadapi pemerintah kota.
“Evaluasi pembangunan bukan hanya melihat program yang sudah dilaksanakan, tetapi juga bagaimana pemerintah daerah menindaklanjuti kendala yang ada. Dengan begitu, program unggulan dapat berkelanjutan dan agenda pembangunan yang belum terealisasi bisa terus diupayakan penyelesaiannya,” ungkapnya.
Memasuki tahun kedua pemerintahan Ayep Zaki dan Bobby Maulana, Beasiswa Bercahaya bersama program pemberdayaan masyarakat menjadi bagian dari agenda yang terus dikembangkan. Sementara itu, revitalisasi Stadion Surken masih membutuhkan penyelesaian persoalan pendanaan dan pematangan aspek teknis.
Tantangan pemerintah kota ke depan adalah menjaga keberlanjutan program unggulan sekaligus mencari solusi atas agenda pembangunan yang belum terealisasi. Dengan demikian, capaian pembangunan tidak hanya terlihat dari program yang berjalan, tetapi juga dari kemampuan pemerintah menuntaskan pekerjaan rumah yang manfaatnya dinantikan masyarakat. (Usep)