SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Sampah yang selama ini identik dengan persoalan lingkungan, di tangan warga Kelurahan Warudoyong, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi, justru menjadi sumber manfaat dan peluang ekonomi.
Berkat inovasi pengelolaan berbasis masyarakat, mulai dari budidaya magot hingga bank sampah, Warudoyong berhasil meraih juara pertama pengelolaan sampah tingkat Kota Sukabumi.
Program yang berjalan hampir satu tahun di RW 1 tersebut membuktikan bahwa pengelolaan sampah tidak selalu membutuhkan fasilitas berskala besar.
Dengan mengoptimalkan potensi lingkungan, warga mengintegrasikan pemilahan sampah, pengolahan sampah organik, peternakan bebek dan ayam, serta pengumpulan sampah anorganik melalui bank sampah.
Lurah Warudoyong, Nuke Nurulaini, menjelaskan bahwa sampah organik diolah melalui budidaya magot. Prosesnya dimulai dari pengelolaan lalat hingga menghasilkan telur yang kemudian dibudidayakan menggunakan sampah organik.
Magot yang tumbuh selanjutnya dimanfaatkan sebagai pakan bebek dan ayam.
Menurut Nuke, metode tersebut memberikan nilai tambah karena sampah organik tidak hanya berkurang, tetapi juga menghasilkan pakan ternak yang mendukung pertumbuhan hewan.
Hasilnya mulai terlihat dari bertambahnya populasi bebek, sehingga pengelola kini berupaya memperluas area peternakan.
“Alhamdulillah, sekarang bebeknya sudah mulai banyak. Karena protein dari magot ini bagus, perkembangannya juga cepat. Kami sudah mulai memperluas area untuk tempat beternak bebek,” kata Nuke, Rabu (21/10/2026).
Pengelolaan kegiatan dilakukan secara berkelompok dengan melibatkan ketua RW sebagai penanggung jawab, bersama unsur RT, Linmas, dan warga setempat. Kolaborasi tersebut menjadi modal penting untuk menjaga keberlanjutan program, mulai dari pengumpulan sampah hingga pemeliharaan ternak.
Dukungan lainnya datang dari warga yang meminjamkan lahannya secara gratis untuk kegiatan pengolahan sampah dan peternakan. Lahan itu dapat digunakan selama pemiliknya belum membutuhkan kembali, dengan kesepakatan lokasi harus tetap terjaga kebersihan dan perawatannya.
Ke depan, pengelola menargetkan peternakan tersebut dapat menghasilkan pendapatan bagi masyarakat. Jika populasi bebek sudah memadai, bebek dan telurnya akan dijual, termasuk kepada pedagang jamu. Untuk sementara, hasil yang tersedia juga dapat membantu memenuhi kebutuhan pangan warga sekitar.
“Kalau bebeknya sudah banyak, rencananya kami jual bebeknya dan telurnya juga dijual ke tukang jamu. Jadi ada nilai ekonominya. Yang penting masyarakat bisa bekerja sama dan merasakan manfaatnya,” tuturnya.
Sementara itu, sampah anorganik dikelola melalui bank sampah di lingkungan RW 1. Pemilahan sejak dari sumbernya menjadi kunci agar sampah organik dapat diolah menjadi media budidaya magot, sedangkan material anorganik dikumpulkan untuk penanganan lebih lanjut. Dengan pola ini, hanya residu yang benar-benar tidak dapat diolah yang masih perlu dibuang.
Pengembangan pengelolaan sampah juga diarahkan pada pemanfaatan mesin pencacah plastik bantuan Pemerintah Kota Sukabumi. Peralatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan nilai jual material plastik sekaligus membuka peluang tambahan pendapatan bagi warga.
Namun, mesin pencacah itu belum dapat dioperasikan karena masih membutuhkan persiapan, terutama ketersediaan listrik dengan daya memadai dan penataan lokasi. Pihak kelurahan telah mulai berkoordinasi dengan PLN untuk memenuhi kebutuhan listrik tersebut.
“Target kami pada 2027, sampah anorganik dari seluruh wilayah Kelurahan Warudoyong bisa masuk ke RW 1 untuk dikelola. Tempatnya sudah ada, tinggal ditata, dan kami sedang mengupayakan kebutuhan listrik untuk mesin pencacah plastik,” ungkap Nuke.
Meski demikian, sistem pengelolaan sampah tidak akan dipaksakan seragam di seluruh wilayah. Kelurahan Warudoyong memiliki lima RW dengan karakteristik lingkungan berbeda sehingga pendekatan yang diterapkan perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah.
Sosialisasi terus dilakukan untuk mendorong masyarakat membiasakan pemilahan sampah dan memanfaatkan sarana pengolahan yang sesuai. Salah satu alternatif yang didorong adalah penggunaan lubang biopori untuk membantu menangani sampah organik di lingkungan permukiman.
Nuke menegaskan, perubahan perilaku masyarakat membutuhkan edukasi yang berkelanjutan. Kebiasaan memilah sampah tidak dapat dibangun secara instan, terlebih jika warga belum merasakan manfaat langsung dari kegiatan tersebut.
“Untuk mengubah pola perilaku masyarakat itu perlu dilakukan terus-menerus, tidak bisa instan. Kalau ada manfaat dan nilai ekonomi yang dirasakan, masyarakat juga akan lebih terdorong untuk ikut terlibat,” katanya.
Saat ini, pengelolaan sampah di RW 1 masih mengandalkan kemampuan warga secara mandiri dan belum melibatkan pihak swasta. Kelurahan Warudoyong juga belum memiliki tempat pengolahan sampah dengan prinsip *reduce, reuse, recycle* (TPS 3R). Kendati demikian, keterbatasan fasilitas tidak menyurutkan inisiatif warga untuk mengembangkan sistem pengelolaan sesuai potensi lingkungan dan semangat gotong royong.
Bank sampah yang telah berjalan turut dipromosikan melalui media sosial, termasuk TikTok, untuk memperluas partisipasi masyarakat. Upaya ini diharapkan semakin memperkuat kesadaran bahwa sampah harus dipilah sejak dari rumah dan dapat dimanfaatkan kembali sesuai jenisnya.
Prestasi sebagai juara pertama menjadi dorongan bagi Kelurahan Warudoyong untuk terus mengembangkan program tersebut.
“Melalui budidaya magot, peternakan, dan bank sampah, warga tidak hanya berupaya mengurangi volume sampah yang berakhir di TPA Cikundul, tetapi juga membangun pola pengelolaan yang memberikan manfaat lingkungan sekaligus peluang ekonomi bagi masyarakat,” tutupnya. (Usep)