Bidik-kasusnews.com
Jakarta — Peringatan Hari Kartini dimaknai secara berbeda oleh Komisi Pemberantasan Korupsi dengan menekankan pentingnya peran perempuan dalam membangun budaya antikorupsi. Melalui kegiatan yang digelar di Gedung ACLC KPK, Jakarta, Kamis (16/4), ratusan perempuan dari berbagai latar belakang berkumpul dalam sebuah forum bertajuk “Perempuan Tangguh, Perempuan Berintegritas”.
Kegiatan ini merupakan hasil sinergi antara KPK dan komunitas Angklung Perempuan Indonesia (API). Tidak sekadar seminar, acara ini juga menjadi ruang kolaborasi antara seni dan edukasi antikorupsi, yang dikemas secara sederhana namun sarat makna.
Direktur Sosialisasi dan Kampanye Antikorupsi KPK, Amir Arief, menyampaikan bahwa peringatan Hari Kartini seharusnya tidak berhenti pada simbol emansipasi semata. Menurutnya, semangat Raden Ajeng Kartini perlu diterjemahkan dalam tindakan nyata, terutama dalam membangun kesadaran akan pentingnya integritas sejak lingkungan terkecil.
“Perempuan memiliki posisi strategis dalam keluarga maupun masyarakat. Dari peran itulah nilai-nilai kejujuran dan tanggung jawab dapat ditanamkan secara konsisten,” ujarnya.
Ia juga menyoroti keterlibatan aktif anggota API yang sebagian besar merupakan perempuan lanjut usia. Menurutnya, hal tersebut menjadi bukti bahwa kontribusi dalam menyuarakan nilai antikorupsi tidak dibatasi usia, melainkan ditentukan oleh komitmen dan kepedulian.
Pandangan serupa disampaikan tokoh perempuan Okky Asokawati yang menilai bahwa perempuan memiliki kekuatan besar dalam mendorong perubahan sosial. Ia menegaskan bahwa integritas harus menjadi fondasi utama dalam setiap gerakan perempuan.
“Ketika perempuan menjunjung tinggi nilai kejujuran, keadilan, dan konsistensi, dampaknya tidak hanya dirasakan dalam keluarga, tetapi juga meluas ke masyarakat,” ungkapnya.
Selain diskusi, alunan musik angklung yang dimainkan para anggota API menjadi simbol bahwa pesan antikorupsi dapat disampaikan dengan pendekatan budaya. Melalui seni, nilai-nilai integritas diharapkan lebih mudah diterima dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu peserta, Shashie Nurul (66), mengaku aktif menanamkan nilai kejujuran dalam keluarganya. Ia membiasakan anak dan cucunya untuk memahami batas hak dan kewajiban sejak dini, sebagai bagian dari pendidikan karakter.
Kegiatan yang diikuti sekitar 150 peserta ini menjadi bukti bahwa pemberantasan korupsi bukan hanya tanggung jawab lembaga negara, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat.
Dalam semangat Kartini, perempuan diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang menanamkan nilai integritas, dimulai dari keluarga hingga ke lingkungan yang lebih luas.(Wely)
Sumber:Humas KPK