BANTEN | BIDIK-KASUSNEWS.COM– Menjelang puncak perayaan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 yang akan digelar pada 9 Februari mendatang di Provinsi Banten, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat menggelar rangkaian kegiatan bernuansa kebudayaan dan refleksi jurnalistik. Salah satunya adalah Kemah Budaya PWI yang dilaksanakan pada 16–17 Januari 2026 di Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, kawasan masyarakat adat Baduy.
Kegiatan yang mengusung tema “Belajar Mencintai dari Baduy” ini diikuti sekitar 50 wartawan dan sastrawan dari berbagai daerah di Indonesia, di antaranya Kalimantan Timur, Riau, Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Timur, DI Yogyakarta, Jawa Barat, Banten, hingga DKI Jakarta. Menariknya, sekitar 80 persen peserta merupakan perempuan, sejalan dengan kebijakan PWI yang memprioritaskan keterlibatan wartawati dan sastrawati.
Keberangkatan peserta dilepas langsung oleh Ketua Umum PWI Pusat Akhmad Munir, didampingi Sekretaris Jenderal Zulmansyah Sekedang, pada Kamis sore (15/1/2026) di Kantor PWI Pusat, Jalan Kebon Sirih, Jakarta.
Dalam sambutannya, Akhmad Munir—yang akrab disapa Cak Munir—menitipkan pesan agar seluruh peserta menjunjung tinggi nilai kejujuran, menghormati adat istiadat Baduy, serta merekam pengalaman mereka melalui karya jurnalistik dan sastra yang berperspektif pelestarian budaya.
“Kemah Budaya Baduy ini menjadi kontribusi nyata PWI dalam menyambut HPN 2026. Saya berharap peserta mampu menghadirkan catatan terbaik dengan tetap menghargai seluruh kearifan lokal masyarakat Baduy,” ujar Cak Munir.
Disambut Pemkab Lebak
Pada Jumat (16/1/2026), rombongan peserta tiba di Rangkasbitung, pusat pemerintahan Kabupaten Lebak. Mereka disambut jajaran Pemerintah Kabupaten Lebak di Aula Museum Multatuli, di antaranya Asisten Daerah III Dr. Iyan Fitriyana, Kepala Diskominfo Lebak Anik Sakinah, serta pejabat terkait lainnya.
Prosesi penyambutan ditandai dengan penyerahan syal dan ikat kepala khas Baduy, yang langsung dikenakan peserta sebagai simbol penerimaan dan penghormatan adat.
Asisten III Pemkab Lebak Dr. Iyan Fitriyana menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan Kemah Budaya PWI di wilayahnya. Ia berharap karya-karya yang lahir dari kegiatan tersebut mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat Baduy dan Kabupaten Lebak secara luas.
“Baduy adalah keistimewaan Lebak dan Banten. Nilai kesederhanaan, kejujuran, dan keharmonisan dengan alam yang mereka jaga selaras dengan etika dan nurani insan pers,” ungkapnya.
Senada dengan itu, Ketua Departemen Seni, Musik, Film, dan Budaya PWI Pusat, Ramon Damora, menegaskan bahwa Kemah Budaya bukan sekadar agenda seremonial, melainkan ruang refleksi jurnalistik.
“Baduy mengajarkan cara mencintai kehidupan secara jujur—mencintai alam, tradisi, dan sesama. Nilai ini penting agar karya jurnalistik tidak hanya informatif, tetapi juga berempati,” katanya.
Menelusuri Jejak Sejarah di Museum Multatuli
Sebelum memasuki kawasan adat Baduy, peserta diajak berkeliling Museum Multatuli yang dipandu langsung oleh Kepala Museum Ubaidillah Muchtar. Museum yang diresmikan pada 2018 ini menjadi pusat literasi dan sejarah antikolonialisme di Lebak.
Dalam tur tersebut, Ubaidillah—akrab disapa Kang Ubai—menjelaskan kiprah Eduard Douwes Dekker (Multatuli) beserta karya monumentalnya Max Havelaar, yang lahir dari pengalaman penulis tersebut saat bertugas di Lebak pada abad ke-19.
“Museum ini kami harapkan menjadi ruang belajar dan pusat literasi yang terbuka untuk siapa pun,” ujar Kang Ubai.
Menyatu dengan Kehidupan Baduy
Perjalanan dilanjutkan menuju Ciboleger dan Baduy Luar di Desa Kanekes. Rombongan disambut hangat oleh Jaro (Kepala Desa Kanekes) di Imah Jaro, dengan sajian jajanan lokal seperti ubi, pisang rebus, dan kopi.
Dalam suasana sederhana dan penuh keakraban, Jaro menyampaikan petuah tentang pentingnya menjaga adat, alam, dan keharmonisan hidup. Peserta pun berdialog langsung, menggali nilai-nilai kehidupan masyarakat Baduy.
Malam harinya, peserta menginap di rumah-rumah warga Baduy Luar, merasakan langsung kehidupan tanpa listrik, tidur di lantai bambu, serta makan bersama tuan rumah. Pengalaman tersebut memberi kesan mendalam tentang kesederhanaan dan kedekatan sosial masyarakat adat.
Keesokan harinya, peserta menjelajahi kampung dan alam sekitar Baduy. Bertepatan dengan musim buah, berbagai hasil hutan seperti durian, manggis, rambutan, dan pisang melimpah, menegaskan kearifan Baduy dalam menjaga keseimbangan alam.
Melalui Kemah Budaya ini, PWI Pusat berharap insan pers dapat membawa pulang nilai-nilai kejujuran, kesederhanaan, dan cinta kehidupan—sebuah bekal penting dalam menyambut Hari Pers Nasional 2026 di Provinsi Banten.
(Agus)