SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Di Kampung Ciherang, RT 19/07, Desa Buniwangi, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, sebuah keluarga kecil menjalani hidup dalam keterbatasan namun penuh keteguhan. Pasangan suami istri, Sodikin (49) dan Lilis (46), harus berjuang keras menopang kehidupan bersama enam anggota keluarga dalam rumah sederhana berukuran 6 x 9 meter. Sejak 2018, Sodikin tidak lagi mampu bekerja akibat penyakit keropos tulang yang dideritanya. Kondisi tersebut membuatnya hanya bisa beraktivitas terbatas di rumah, sementara tanggung jawab mencari nafkah kini sepenuhnya berada di pundak sang istri. “Iya, saya hanya bisa pasrah. Untuk kebutuhan sehari-hari, istri saya yang bekerja sebagai kuli serabutan,” ujar Sodikin, Senin (20/4/2026). Rasa sakit berkepanjangan yang dialaminya bahkan sempat membuat Sodikin frustrasi hingga melakukan tindakan nekat. Namun kini, ia memilih bertahan dan menerima kondisi yang ada. Di tengah situasi itu, Lilis menunjukkan keteguhan sebagai tulang punggung keluarga. Ia bekerja serabutan demi memastikan kebutuhan rumah tangga tetap terpenuhi. “Saya menerima ini sebagai bagian dari kehidupan. Sekarang saya yang berusaha untuk keluarga,” ucap Lilis. Beban keluarga semakin bertambah setelah anak sulung mereka kembali ke rumah usai perceraian. Kini, enam orang harus berbagi ruang di hunian sederhana yang kondisinya memprihatinkan. Meski demikian, harapan tetap terjaga. Anak kedua mereka, Alya, menjadi tumpuan harapan keluarga karena tekadnya untuk terus melanjutkan pendidikan di tingkat SMK. “Harapan kami ada pada anak kedua yang ingin terus sekolah,” tutur Lilis. Ketua RT setempat, Duden, menyampaikan bahwa keluarga Sodikin telah terdaftar sebagai Keluarga Penerima Manfaat (KPM) dan rutin menerima bantuan sosial dari pemerintah. Di tengah keterbatasan ekonomi dan kondisi kesehatan, keluarga ini tetap bertahan. Kisah mereka menjadi potret nyata tentang keteguhan, pengorbanan, dan harapan yang terus dijaga di tengah kesulitan hidup. (Dicky)
SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Aksi solidaritas pascakebakaran yang menghanguskan rumah milik Atih Atikah (70) di Kelurahan Sukakarya, Sabtu (28/2/2026), terus mengalir. Lurah Sukakarya Kecamatan Warudoyong, Lina Yuliana Supriatin, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama membangun kembali rumah korban agar segera layak dihuni. Dia menegaskan, dalam waktu dekat pihak kelurahan bersama jajaran, relawan, serta berbagai komunitas akan bergotong royong memperbaiki rumah yang porak-poranda akibat amukan api tersebut. “Alhamdulillah, bantuan terus berdatangan, termasuk dari para dermawan yang ikut merasakan duka korban. Ini bukti kepedulian masyarakat Sukakarya sangat luar biasa,” ujar Lina, Minggu (1/3/2026). Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Sukabumi yang telah bergerak cepat dengan mengutus OPD terkait untuk melakukan asesmen serta menyalurkan bantuan awal bagi korban. Dukungan konkret datang dari PT Nura Travel. Perwakilannya, Agus, menyatakan pihaknya siap membantu pembangunan bagian atap rumah yang menjadi kebutuhan mendesak saat ini. “Kami akan fokus memperbaiki bagian atap sesuai permintaan Ibu Lurah. Alhamdulillah, pimpinan sudah menyetujui,” katanya. Sementara itu, perwakilan Komunitas Siaga Bencana Persatuan Islam (Persis), Rudi Harlan, mengatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan berbagai unsur, termasuk BPBD Kota dan Kabupaten Sukabumi, untuk mempercepat proses perbaikan. “Saat ini kami masih melakukan asesmen kebutuhan. Kami ingin memastikan bantuan tepat sasaran dan pengerjaan bisa segera dimulai,” ucap Rudi. Ia menambahkan, komunitasnya siap mengambil peran sesuai kebutuhan di lapangan. Pengalaman membangun rumah korban bencana di wilayah Kabupaten Sukabumi tahun lalu menjadi bekal untuk bergerak lebih cepat. Hal senada disampaikan Ketua Yayasan Yatim Piatu Dhuafa Zakaria yang menegaskan komitmennya membantu pembangunan rumah warga kurang mampu. “Kami terbiasa membantu pembangunan rumah yatim dan dhuafa. InsyaAllah kami akan turut berkontribusi. Tidak banyak janji, yang penting bergerak,” ujarnya. Aksi gotong royong ini menjadi potret kuatnya solidaritas sosial di tengah musibah. Harapannya, rumah Atih Atikah dapat segera berdiri kembali dan menjadi tempat berteduh yang aman serta nyaman. (Usep)
KOTA CIREBON Bidik-kasusnews.com,.(Jum’at, 13/2/2026), – Kodim 0614/Kota Cirebon bekerja sama dengan BBWS Cirebon serta didukung dari berbagai instansi terkait menggelar kegiatan bersih-bersih pantai yang dipusatkan di pesisir Pantai Kesenden, Kelurahan Kesenden, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon. Kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut atas instruksi Presiden RI dalam rangka mendukung program “Indonesia Asri dan Bebas Sampah”. Aksi bersih pantai ini melibatkan unsur TNI, aparatur pemerintah daerah, komunitas peduli lingkungan, serta elemen masyarakat setempat yang secara bersama-sama membersihkan sampah di sepanjang garis pantai. Komandan Kodim 0614/Kota Cirebon, Letkol Arm Drajat Santoso, S.Kom menyampaikan bahwa kegiatan Gerakan Indonesia Asri kami bekerjasama dengan BBWS Cirebon, tidak hanya bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat, tetapi juga membangun kesadaran kolektif masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, khususnya wilayah pesisir yang rentan terhadap penumpukan sampah kiriman. “Melalui Gerakan Indonesia Asri ini, kami ingin menumbuhkan semangat gotong royong serta kepedulian terhadap kelestarian lingkungan. Pantai yang bersih bukan hanya enak dipandang, tetapi juga berdampak pada kesehatan dan perekonomian masyarakat,” ujarnya. Sementara itu, perwakilan BBWS Cirebon menegaskan pentingnya sinergi lintas sektor dalam menjaga kebersihan sungai dan muara yang bermuara ke laut. Sampah yang tidak terkelola dengan baik di hulu akan berdampak langsung pada kondisi pesisir. Dalam peranan dan keikutsertaannya pada kegiatan ini, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cirebon menyampaikan komitmennya untuk terus mendukung upaya pelestarian lingkungan, khususnya di wilayah pesisir dan daerah aliran sungai, melalui kolaborasi lintas sektor bersama TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat. Kegiatan bersih-bersih ini pun disambut antusias warga sekitar. Banyak masyarakat yang merasa puas dan bangga dapat terlibat langsung dalam aksi nyata menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal mereka. Selain membuat kawasan pesisir lebih tertata, kegiatan ini juga mempererat kebersamaan antara aparat dan masyarakat. Diharapkan, dengan selesainya kegiatan bersih-bersih ini, kesadaran dan komitmen seluruh pihak untuk menjaga kebersihan pantai tidak berhenti sampai di sini. Ke depan, kegiatan serupa diharapkan dapat dilakukan secara rutin dan berkelanjutan, sehingga pesisir Pantai Kesenden tetap terjaga kebersihannya serta menjadi lingkungan yang asri, sehat, dan nyaman bagi masyarakat. Dalam kesempatan tersebut, Komandan Kodim 0614/Kota Cirebon turut menyampaikan himbauan kepada seluruh peserta kegiatan dan masyarakat pesisir di wilayah Kota Cirebon. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan, baik di lingkungan permukiman, sungai, maupun di area pantai. Menurutnya, kebersihan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau aparat, melainkan tanggung jawab bersama sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan dan generasi mendatang. “Pantai yang bersih adalah cerminan kepedulian kita bersama. Jangan sampai kegiatan ini hanya bersifat seremonial. Mari kita jadikan kebersihan sebagai budaya dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya. Selain itu, ia juga mendorong peran aktif masyarakat dalam mengawasi dan mengingatkan satu sama lain apabila masih ditemukan kebiasaan membuang sampah sembarangan. Dengan sinergi dan kesadaran kolektif, diharapkan kawasan pesisir tetap terjaga kebersihannya serta mendukung terwujudnya program Indonesia Asri dan Bebas Sampah secara berkelanjutan. (pendim0614)* (Asep.R)
SUKABUMI-BIDIK-KASUS.NEWS.COM – Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) Suara Hati Sukabumi Raya, menyalurkan bantuan sosial berupa kaki palsu bagi warga Sukabumi bahkan datang dari Bogor dan Cianjur dan Padalarang. Hal itu disampaikan Ketua LKS Sukabumi Raya, Panji saat dihubungi wartawan, Kamis (12/2/2026). “Lembaga sosial ini berafiliasi dengan Dinas Sosial untuk menjembatani kegiatan-kegiatan kemasyarakatan bersama-sama dengan orang-orang yang memiliki jiwa dan kesetiakawanan sosial,” kata Panji. Panji menambahkan, kegiatan ini sudah dilaksanakan sejak 2014 lalu. Artinya lebih dari 10 tahun sudah menyalurkan ratusan pasang kaki palsu untuk masyarakat yang membutuhkan. ‘Kita bekerjasama dengan Yayasan Tuna Daksa, jika kita dapatkan kesempatan bisa dua kali dalam satu tahun saat stok kaki palsunya ada,” ujarnya. Jumlah pendaftar kata Panji ada 75 orang. Namun karena kendala teknis, yang dapat direalisasikan ada sekitar 58 orang. “Saat diukur rata-rata belum siap atau kondisinya belum pulih,” terangnya. Panji juga menyatakan, pola penyebarluasan informasi dilakukan juga oleh para penerima manfaat sebelumnya baik secara spontanitas bertemu di satu tempat atau pun informasi dari sumber-sumber lainnya. “Kita tidak akan melihat latar belakang orang itu. Pokoknya jika mereka benar-benar membutuhkan kali palsu, selama persediaan barangnya ada, InsyaAllah akan dibantu,” tandasnya. Kegiatan ini lanjut dia, tidak hanya membantu menyediakan kaki palsu saja tapi juga membuat ekosistem usaha yang bisa mereka kembangkan. “Paling tidak setelah mendapatkan bantuan ini, bisa memotivasi mereka untuk menata kembali hidup, layaknya orang normal kebanyakan,” kata dia. Perlu diketahui ujarnya, bahwa para penerima bantuan ini adalah para pelaku usaha. Dengan bantuan kaki palsu ini akan meringankan beban kehidupan yang serba problematik. “Disamping itu mereka juga akan dibekali dengan pelatihan-pelatihan kerja untuk meningkatkan keahlian mereka di bidang tertentu yang tidak kalah bersaing dengan manusia normal,” ucapnya. Masih kata Panji, pihaknya juga membuka ruang komunikasi untuk bekerjasama dengan Kementrian Sosial dan Kementerian Pemuda dan Olahraga. Tidak berhenti di situ, LKS juga membantu mereka dalam memasarkan produk-produk hasil kreativitas dan produktivitas yang dihasilkan dari hasil pelatihan-pelatihan yang diinisiasi oleh lembaga. Selain bergerak dibidang usaha kecil menengah para disabilitas juga diarahkan untuk menggeluti bidang olahraga seperti tenis meja dan renang. Sementara itu Pembina LKS, yang juga Manajer Hotel Augusta di Jalan Raya Cikukulu Desa Cisande Kecamatan Cicanyayan Kabupaten Sukabumi, H. Asep Suparwan menuturkan, bahwa kegiatan sosial seperti ini sudah barang tentu merupakan tuntunan bukan tontonan. “Agama Islam mengajarkan pada seluruh umat manusia untuk saling membantu dan menolong sesama. Termasuk membantu nasib saudara-saudara kita para disabilitas,” kata H. Asep. Lebih jauh dia mengatakan, dengan kaki palsu ini diharapkan mereka lebih percaya diri untuk bersaing dengan orang normal di sekelilingnya. “Kita mendorong mereka untuk lebih produktif dan menghilang kesan bahwa kaum difabel itu menjadi beban bagi negara dan masyarakat,” ujarnya. Bahkan saat ini banyak dari mereka telah menjadi orang-orang sukses dan menjadi motor penggerak ekonomi,” kata Pembina Media Online Bidikkasusnews.com itu, Seorang penerima manfaat kaki palsu Fajar, seorang pengemudi Grab mengatakan, peran dan sepak terjang difabel sepertinya tidak bisa dipandang sebelah mata. “Saya pakai kaki palsu sejak 2014. Selama itu pula saya berdikari sendiri dan tidak menggantungkan hidup dari belas kasihan orang lain,” tegasnya. (Usep)
KUNINGAN Bidik-kasusnews.com,., Tugas polisi lalu lintas (polantas) tidak melulu soal mengatur arus kendaraan di jalan raya. Jajaran Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Kuningan membuktikan peran sosialnya dengan terjun langsung ke sawah, menanam jagung di lahan seluas 2 hektare di Desa Cibulan, Kecamatan Cidahu, Kamis (29/1/2026). Kegiatan tersebut merupakan bentuk dukungan Polres Kuningan terhadap program ketahanan pangan nasional, sekaligus wujud kepedulian Polri terhadap sektor pertanian dan kesejahteraan masyarakat desa. Kasat Lantas Polres Kuningan, AKP Pandu Renata Surya, mengatakan bahwa kehadiran polantas di tengah petani menjadi simbol bahwa Polri siap berkontribusi dalam berbagai bidang, tidak hanya penegakan hukum lalu lintas. “Polantas tidak hanya bertugas di jalan. Melalui kegiatan penanaman jagung ini, kami ingin menunjukkan bahwa Polri juga hadir mendukung ketahanan pangan dan membantu masyarakat, khususnya para petani,” ujar AKP Pandu Renata Surya. Menurutnya, pemanfaatan lahan pertanian seluas 2 hektare tersebut diharapkan mampu memberikan hasil yang produktif serta mendorong semangat petani dalam mengelola lahan secara berkelanjutan. “Ini bagian dari pengabdian Polri kepada masyarakat. Kami ingin kehadiran polisi benar-benar dirasakan manfaatnya, baik dalam aspek keamanan maupun ekonomi,” tambahnya. Kegiatan penanaman jagung ini juga disambut positif oleh warga setempat. Selain mempererat hubungan antara polisi dan masyarakat, kegiatan tersebut dinilai mampu menumbuhkan kesadaran bersama akan pentingnya menjaga ketahanan pangan di daerah. Dengan turun langsung ke sawah, Satlantas Polres Kuningan menegaskan bahwa peran Polri semakin humanis dan adaptif terhadap kebutuhan masyarakat, sejalan dengan semangat Polri Presisi. (Asep Rusliman)
SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Jumlah korban dugaan keracunan usai menyantap makanan bergizi gratis (MBG) yang dialami pelajar dan guru di Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, terus bertambah. Peristiwa tersebut terjadi sejak Rabu, 28 Januari 2026. Kepala Puskesmas Simpenan, Ade Setiawan, menyampaikan hingga Kamis pagi, 29 Januari 2026, total korban tercatat sebanyak 22 orang. Dari jumlah tersebut, enam orang dirujuk ke RSUD Palabuhanratu, satu orang menjalani observasi di Puskesmas, sementara 15 orang lainnya sudah diperbolehkan pulang. “Dari 22 korban, enam dirujuk ke RSUD Palabuhanratu, satu orang diobservasi di Puskesmas, dan 15 orang sudah pulang,” ujar Ade saat dihubungi melalui sambungan telepon. Menindaklanjuti kejadian tersebut, Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi bergerak cepat. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, H. Masykur Alawi, turun langsung ke Puskesmas Simpenan pada Rabu malam untuk memastikan penanganan di lapangan. “Malam itu juga saya langsung ke lokasi. Ketika ada laporan dari masyarakat terkait dugaan keracunan makanan dan pasien berdatangan ke Puskesmas, kami langsung melakukan triase,” jelasnya. Ia menerangkan, triase dilakukan untuk memilah dan menilai kondisi pasien berdasarkan derajat keparahan. Pasien yang masih dapat ditangani di Puskesmas mendapat perawatan langsung sesuai standar operasional prosedur. Sementara pasien yang membutuhkan penanganan lanjutan dirujuk ke rumah sakit setelah dilakukan stabilisasi. Pada malam kejadian, sejumlah pasien dirujuk ke RSUD Palabuhanratu. Dinas Kesehatan juga berkoordinasi langsung dengan pihak rumah sakit agar siap siaga menerima pasien rujukan. “Saya langsung berkoordinasi dengan RSUD Palabuhanratu sebagai fasilitas rujukan. Direkturnya dan jajaran manajemen kami undang ke Puskesmas untuk memastikan kesiapsiagaan,” tambahnya. Selain itu, Dinas Kesehatan menginstruksikan seluruh Puskesmas di wilayah satu untuk siaga sebagai bentuk respons cepat. Ke depan, Dinas Kesehatan akan melakukan penyelidikan epidemiologi untuk mengetahui penyebab pasti kejadian tersebut. “Tim surveilans Dinas dan Puskesmas sudah saya instruksikan untuk melakukan penyelidikan epidemiologi terhadap kasus ini,” pungkasnya. (Dicky)
SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Dua personel Polsek Jampangkulon Aipda Hermanjaya dan Bripda Farraz mendonorkan darahya untuk membantu seorang pasien yang sudah dalam keadaan kritis. Secara kebetulan mereka berdua memiliki golongan darah sama dengan pasien tersebut. Kapolsek Jampangkulon AKP Muhlis menegaskan bahwa kegiatan donor darah yang dilakukan oleh anggota Polsek Jampangkulon merupakan wujud nyata kepedulian Polri terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Dia menambahkan, kehadiran polisi tidak hanya sebatas menjaga keamanan, tetapi juga harus mampu hadir dan memberi manfaat langsung bagi masyarakat yang membutuhkan. Hal tersebut disampaikan AKP Muhlis usai kegiatan donor darah di RSUD Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi, Sabtu (3/1/2026). AKP Muhlis menyampaikan bahwa kebutuhan darah bagi pasien kritis sering kali bersifat mendesak dan tidak bisa menunggu lama. Dalam kondisi seperti itu, setiap tetes darah sangat berarti dan dapat menjadi penentu keselamatan nyawa seseorang. Ia menambahkan, kegiatan donor darah ini juga menjadi bentuk empati dan solidaritas Polri terhadap masyarakat. Anggota didorong untuk memiliki kepekaan sosial serta kesiapsiagaan dalam membantu sesama, tanpa memandang latar belakang siapa yang ditolong. “Ketika ada masyarakat yang sedang berjuang melawan sakit, sudah menjadi kewajiban kita semua untuk saling menolong,” ujarnya. Donor darah ini ungkapnya adalah bentuk ikhtiar kecil kami, namun kami berharap bisa memberikan harapan besar bagi pasien dan keluarganya,” ujar AKP Muhlis. Semangat kemanusiaan harus terus ditanamkan dalam setiap pelaksanaan tugas kepolisian. Dengan kepedulian dan keikhlasan, kehadiran Polri di tengah masyarakat diharapkan mampu memberikan rasa aman sekaligus rasa empati. AKP Muhlis berharap, kegiatan sosial seperti donor darah dapat menjadi budaya di lingkungan Polsek Jampangkulon serta menginspirasi berbagai pihak untuk bersama-sama menumbuhkan semangat tolong-menolong demi kemanusiaan. (Dicky)
SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Camat Jampangkulon, Dading, kembali menunjukkan sikap humanis dan responsif pada warga lansia. Hal itu ditunjukkan saat memantau penyaluran Bantuan Langsung Tunai Sementara (BLTS) Kemensos sebesar Rp 900 ribu, Rabu (26/11/2025). Saat berada di lokasi, Dading melihat seorang nenek penerima bantuan yang kesulitan berjalan karena kondisi fisiknya yang sakit. Tanpa sungkan dan ragu, ia langsung menghampiri dan menggendong nenek tersebut menuju area pelayanan di Kantor Pos Jampangkulon. “Ini bukan pencitraan, tapi kondisi yang mendesak. Nenek ini sedang sakit dan tidak kuat berjalan. Saya hanya berupaya mempercepat prosesnya karena bantuan ini tidak bisa diwakilkan dan wajib foto saat penerimaan,” ujarnya. Penyaluran BLTS Kemensos senilai Rp 900 ribu ini diberikan kepada 2.359 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di Kecamatan Jampangkulon. Distribusi dilakukan di 10 desa dan 1 kelurahan, yaitu Desa Ciparay, Mekarjaya, Karanganyar, Cikarangeusan, Bojongsari, Cikarang, Bojong Genteng, Nagraksari, Tanjung, Padajaya, serta Kelurahan Jampangkulon. Camat Dading berharap bantuan tersebut dapat digunakan untuk kebutuhan dasar warga. Ia memastikan, bagi KPM yang berhalangan hadir pada jadwal utama, penyaluran susulan tetap akan dilayani setelah pembagian di seluruh desa selesai. ”Saya berharap, dana tersebut digunakan dengan sebaik-baiknya untuk memenangkan kebutuhan dasar warga sehari-hari,” ujarnya. (Dicky)
SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Baznas Kota Sukabumi, menyalurkan bantuan stimulan perbaikan rumah tidak layak huni (Rutilahu) kepada Yandi warga Kampung Tegalwangi Kelurahan Sukakarya Kecamatan Warudoyong Kota Sukabumi, Jumat (22/11/2025). Jumlah bantuan sebesar Rp2 juta. Bantuan diserahkan staf lapangan BAZNAS Kota Sukabumi, Wawan Setiawan dan diterima langsung oleh Yandi selaku kepala rumah tangga. Wawan mengatakan, bantuan tersebut sebagai bentuk kepedulian Baznas terhadap warga yang tengah dapat musibah. ”Alhamdulillah, hari ini saya bisa menyampaikan amanat ini. Mudah-mudahan bantuan bermanfaat untuk memulihkan kembali kondisi bangunan agar bisa ditempati secara layak,” kata Wawan. Sebagai lembaga terpercaya, BAZNAS sangat konsen dengan hal-hal yang bersifat kemanusiaan apalagi menyangkut hajat hidup orang banyak terutama warga yang rumahnya terkena dampak bencana beberapa waktu lalu. Sementara itu penerima bantuan, Yandi yang didampingi istri Rani menghaturkan banyak terimakasih pada BAZNAS yang telah mengulurkan bantuan berupa uang tunai untuk membantu menyelesaikan perbaikan rumahnya. “Kami sangat berterimakasih pada BAZNAS atas bantuan yang diberikan. Semoga dengan bantuan ini dapat mempercepat proses penyelesaian perbaikan rumah kami,” ujarnya. (Usep)
CIREBON-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Aroma ketidakpekaan sosial kembali mencuat dari program pemberdayaan ekonomi yang sejatinya ditujukan untuk membantu masyarakat kecil. Alih-alih memberikan kenyamanan yang terjadi malah arogansi dan aksi tak simpatik. Kali ini, keluhan datang dari seorang nasabah PNM Mekar di Kelurahan Kalijaga, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, yang mengaku ditekan oleh petugas penagih lantaran keterlambatan pembayaran angsuran mingguan. Kepada tim media, nasabah yang enggan disebut namanya itu menuturkan dirinya belum dapat membayar karena kondisi ekonomi keluarga yang sedang terpuruk. Suaminya, pekerja serabutan, sudah tiga bulan terakhir jarang mendapat panggilan kerja. Akibatnya, penghasilan keluarga nyaris tak ada sementara kebutuhan hidup terus merangkak naik. “Suami saya belum dapat uang, belum ada yang nyuruh kerja. Saya sudah bilang akan bayar besok kalau sudah ada uang, tapi mereka tetap datang malam-malam,” tuturnya kepada media, Sabtu (18/10/2025). Ironisnya, meski sudah memberi penjelasan, petugas penagih berinisial ELS itu tetap bersikeras menagih pembayaran. Ia bahkan menunggu di rumah nasabah hingga pukul 21.00 malam dengan alasan mengikuti “perintah atasan”. “Katanya nggak bisa, bu. Harus malam ini. Saya tunggu di rumah ibu, perintah atasan,” ujarnya sebagaimana diceritakan sang nasabah. Kondisi tersebut menimbulkan keprihatinan warga sekitar. Mereka menilai lembaga pembiayaan seharusnya memahami situasi ekonomi masyarakat yang sedang sulit, bukan justru memberi tekanan. “Kami sadar punya kewajiban membayar, tapi kalau sampai malam-malam datang ke rumah, itu bukan membantu, tapi menakut-nakuti,” ungkapnya lagi. Sebagai informasi, PNM Mekar (Permodalan Nasional Madani – Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera) merupakan program pemerintah di bawah Kementerian BUMN. Di mana seharusnya mereka membantu perempuan pelaku usaha mikro agar lebih mandiri secara finansial. Namun praktik di lapangan sering kali dinilai jauh dari semangat pemberdayaan dan justru berubah menjadi tekanan psikologis bagi para ibu rumah tangga yang sedang kesulitan. Publik kini menanti sikap tegas dari manajemen PNM Mekar maupun Kementerian BUMN untuk menertibkan pola penagihan yang dinilai memaksa dan tidak manusiawi. Sebab di balik angka-angka target dan laporan keuangan, ada rakyat kecil yang berjuang sekadar untuk bertahan hidup. “Kami butuh solusi dan pengertian, bukan penagihan sampai malam. Kami juga sadar punya tanggungan, tapi hidup kami sedang tidak mudah,” ujarnya menutup. Tim