Jakarta – Bidik-kasusnews.com September kerap menjadi bulan yang membawa kembali ingatan bangsa Indonesia pada sejumlah peristiwa kelam dalam perjalanan sejarah. Istilah “September Hitam” kemudian digunakan di ruang publik untuk mengingat berbagai persoalan, termasuk dugaan pelanggaran hak asasi manusia (HAM), kekerasan, serta peristiwa masa lalu yang hingga kini masih menyisakan pertanyaan dan pekerjaan rumah.
Menghadirkan kembali sejarah bukan berarti membuka luka lama untuk mempertajam pertentangan. Sebaliknya, sejarah semestinya menjadi ruang untuk belajar. Dari berbagai peristiwa masa lalu, kita dapat memahami bahwa perbedaan yang tidak dikelola melalui dialog berpotensi berkembang menjadi konflik ketika ruang untuk saling mendengar semakin menyempit.
Bagi saya, mengingat sejarah adalah bagian dari tanggung jawab antargenerasi. Kita perlu memberikan penghormatan kepada para korban, membuka ruang bagi keluarga korban untuk menyampaikan pengalaman dan kesaksiannya, sekaligus memastikan pembahasan mengenai HAM berlangsung secara bertanggung jawab.
Namun, pembicaraan mengenai sejarah juga membutuhkan kehati-hatian. Peristiwa masa lalu perlu dibahas berdasarkan fakta, konteks, dan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Ingatan sejarah jangan sampai berubah menjadi alat untuk menumbuhkan kebencian kepada kelompok tertentu.
Tantangan di Era Media Sosial
Cara masyarakat memperoleh dan menyebarkan informasi mengenai sejarah kini telah berubah secara signifikan. Jika dahulu pembahasan sejarah lebih banyak berlangsung melalui buku, ruang kelas, forum diskusi, maupun media massa, saat ini sebuah foto lama, potongan video, atau pernyataan yang kehilangan konteks dapat menyebar luas hanya dalam hitungan menit.
Perubahan tersebut membawa peluang sekaligus tantangan.
Di satu sisi, masyarakat memiliki akses yang jauh lebih luas terhadap berbagai sumber sejarah. Namun di sisi lain, derasnya arus informasi membuat batas antara fakta, opini, kesaksian, dan informasi yang belum terverifikasi menjadi semakin mudah kabur.
Karena itu, momentum September Hitam semestinya juga menjadi kesempatan untuk meningkatkan literasi sejarah dan literasi digital masyarakat.
Sebelum mempercayai atau menyebarkan sebuah informasi, kita perlu melihat siapa sumbernya, kapan peristiwa tersebut terjadi, apa konteksnya, serta apakah informasi tersebut memiliki dukungan dari sumber lain yang kredibel.
Sikap kritis menjadi penting agar masyarakat tidak mudah terjebak pada informasi yang sengaja dipotong dari konteks atau disajikan untuk membangun persepsi tertentu.
Kritik, Kesaksian, dan Provokasi
Dalam kehidupan demokrasi, kritik terhadap pemerintah, negara, maupun kebijakan publik merupakan bagian dari ruang kebebasan berpendapat. Demikian pula kesaksian korban dan keluarga korban memiliki posisi penting dalam menjaga ingatan kolektif mengenai suatu peristiwa.
Namun, kritik dan kesaksian perlu dibedakan dari provokasi.
Perbedaan pandangan mengenai sejarah seharusnya tidak otomatis berubah menjadi permusuhan. Ketika perbedaan dipelintir menjadi kebencian terhadap kelompok tertentu, tujuan untuk belajar dari sejarah justru dapat kehilangan maknanya.
Kita perlu membangun budaya diskusi yang memungkinkan berbagai perspektif disampaikan tanpa menghilangkan penghormatan terhadap kemanusiaan.
Jakarta, sebagai salah satu ruang perjumpaan berbagai kelompok masyarakat, memiliki posisi penting dalam membangun tradisi tersebut. Kampus, organisasi kemasyarakatan, komunitas pemuda, media, serta ruang digital dapat menjadi tempat bertemunya beragam pandangan mengenai sejarah dan HAM.
Perbedaan perspektif tidak harus dihapus. Justru melalui dialog yang terbuka, masyarakat dapat memahami mengapa sebuah peristiwa dipandang secara berbeda oleh kelompok yang berbeda.
Mengingat Tanpa Mewariskan Kebencian
Yang kita perlukan bukan melupakan sejarah, melainkan belajar darinya.
Menghormati korban tidak harus berarti mewariskan kebencian kepada generasi berikutnya. Membicarakan dugaan pelanggaran HAM tidak harus berujung pada permusuhan. Begitu pula perbedaan pandangan mengenai sebuah peristiwa sejarah tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling meniadakan.
Generasi muda berhak mengetahui sejarah bangsanya secara utuh. Mereka juga berhak mendapatkan ruang untuk bertanya, berdiskusi, menguji informasi, dan membentuk pandangan berdasarkan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
Di sinilah pentingnya menghadirkan sejarah bukan hanya sebagai kumpulan tanggal dan peristiwa, tetapi sebagai pembelajaran mengenai konsekuensi dari keputusan manusia.
Sejarah dapat mengajarkan bahwa kekerasan bukan jalan keluar dari perbedaan. Sejarah juga mengingatkan bahwa ketika dialog berhenti dan kebencian mengambil alih, masyarakat dapat membayar harga yang sangat mahal.
Pada akhirnya, menjaga ingatan sejarah bukan semata-mata tentang bagaimana kita memandang masa lalu. Lebih jauh dari itu, menjaga ingatan adalah upaya untuk memastikan kesalahan yang pernah terjadi tidak kembali terulang.
September Hitam dapat kita jadikan momentum untuk mengingat dengan jernih, membicarakan sejarah secara bertanggung jawab, dan memperluas ruang dialog.
Sebab bangsa yang besar bukan bangsa yang melupakan masa lalunya, melainkan bangsa yang mampu belajar dari masa lalu tanpa menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk kembali bermusuhan.
Mari menjadikan September sebagai momentum untuk merawat ingatan, membuka ruang dialog, menghormati kemanusiaan, dan memastikan bahwa kekerasan tidak kembali menjadi jalan dalam menyelesaikan perbedaan.
Martin Khisna : Sekretaris Perkumpulan Laskar Ampera Arief Rachman Hakim Angkatan Enam
(Red)