SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Ketua Tim Penggerak PKK, Ranti Rachmatilah, menekankan pentingnya perubahan pola pikir atau mindset bagi para kader PKK dan Posyandu agar tidak hanya menjalankan rutinitas pelayanan, tetapi mampu menjadi penggerak perubahan di tengah masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Ranti saat menghadiri Pelatihan Kader Kesehatan Masyarakat PKK dan Posyandu dengan tema “Smart Waste Community, Pemberdayaan Masyarakat melalui Pengelolaan Sampah untuk Mewujudkan Green Economy dan Lingkungan Berkelanjutan” di ruper Kelurahan Warudoyong, Senin (31/8/2026).
Kegiatan yang menjadi agenda tahunan tersebut diikuti puluhan kader se Kelurahan Warudoyong. Kegiatan turut dihadiri Lurah Warudoyong Nuke Nurulaini dan Camat Warudoyong Raden Abdul Muis.
Menurut Ranti, pelatihan bukan sekadar meningkatkan kemampuan teknis kader, tetapi juga harus mampu membangun cara berpikir yang lebih adaptif terhadap persoalan masyarakat.
“Kegiatan ini memperkuat kapasitas kader. Selain itu kegiatan ini diarahkan untuk mendorong keterlibatan masyarakat dalam menjaga kesehatan, kebersihan, serta keberlanjutan lingkungan,” ujarnya.
Ia menegaskan, perubahan di masyarakat tidak akan berjalan apabila kader hanya ditempatkan sebagai pelaksana kegiatan. Kader harus berani mengambil peran sebagai pemain yang aktif mencari dan menyelesaikan persoalan di wilayahnya.
“Mindset itu harus dibangun. Hidup itu seperti sepak bola. Kalau menjadi pemain, kita terus berlari mengejar bola. Enak jadi penonton, tetapi penonton hanya bisa mengomentari,” kata Ranti.
Ia menjelaskan, membangun kebiasaan positif membutuhkan proses. Hal yang awalnya dilakukan karena terpaksa, apabila terus dibiasakan, pada akhirnya dapat membentuk kesabaran sekaligus kesadaran.
Ranti juga menyoroti semakin lunturnya semangat gotong royong di tengah masyarakat. Padahal, menurutnya, persoalan kesehatan dan kebersihan lingkungan memiliki keterkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat.
Karena itu, ia meminta para lurah bersama kader kembali menghidupkan budaya gotong royong di lingkungan masing-masing.
“Bu lurah harus menghidupkan lagi semangat itu. Kesehatan dan kebersihan sebenarnya untuk diri kita sendiri,” tegasnya.
Ranti juga meminta kader tidak terpaku pada pola penyampaian materi Posyandu yang cenderung berulang dari tahun ke tahun.
Menurutnya, substansi pelayanan memang memiliki banyak hal yang tetap sama, tetapi metode komunikasi harus mengikuti perkembangan zaman agar pesan lebih mudah diterima masyarakat.
“Materinya memang relatif sama, tetapi cara menyampaikannya harus mengikuti perkembangan zaman,” ujarnya.
Ia melihat masyarakat saat ini lebih mudah tertarik terhadap konten negatif maupun provokatif. Kondisi tersebut, kata dia, harus diimbangi dengan konten positif yang kreatif dan menarik.
Salah satunya melalui pembuatan video kreatif mengenai pengelolaan sampah. Cara tersebut dinilai dapat membuat pesan tentang kebersihan lingkungan lebih mudah dipahami sekaligus menjadi contoh nyata bagi masyarakat.
“Mudah-mudahan menjadi teladan bagi masyarakat. Hari ini orang yang membangun diri sendiri tidak akan mudah dijatuhkan oleh orang lain,” tuturnya.
Selain kreativitas, Ranti menekankan pentingnya emotional intelligence atau kecerdasan emosional. Kader dituntut mampu mengendalikan emosi, memahami kondisi orang lain, serta menghadapi persoalan masyarakat secara bijaksana.
Ia juga mengingatkan bahwa semangat pengabdian tidak selalu berada pada kondisi yang sama. Karena itu, kader harus mampu menjaga konsistensi dan kembali membangun semangat ketika menghadapi kejenuhan maupun tantangan.
“Semangat itu seperti iman seseorang, kadang naik dan kadang turun,” katanya.
Lebih jauh, Ranti meminta kader memahami karakter dan persoalan spesifik di wilayah sebelum menentukan langkah penyelesaian.
Setiap kelurahan, menurutnya, memiliki tantangan yang berbeda sehingga penanganannya tidak bisa menggunakan pendekatan yang sama.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah tawuran pelajar. Ranti menilai keberadaan dan optimalisasi Posyandu Remaja (Posren) dapat menjadi salah satu instrumen untuk membangun komunikasi, pendampingan, sekaligus menyediakan kegiatan positif bagi kalangan remaja.
“Cari skema yang tepat untuk menyelesaikan masalah di wilayah masing-masing. Contohnya tawuran pelajar, salah satunya dengan mengoptimalkan peran Posyandu Remaja,” ungkapnya.
Sementara itu, pelatihan juga diarahkan untuk memperkuat pemahaman kader mengenai integrasi enam bidang Standar Pelayanan Minimal (SPM) sebagaimana diatur dalam Permendagri Nomor 13 Tahun 2024.
Keenam bidang tersebut meliputi kesehatan, pendidikan, pekerjaan umum, perumahan rakyat, sosial, serta ketenteraman, ketertiban umum dan pelindungan masyarakat.
Dengan penguatan tersebut, kader PKK dan Posyandu diharapkan tidak hanya berperan dalam pelayanan kesehatan dasar, tetapi juga mampu menjadi penggerak pemberdayaan masyarakat, pengelolaan sampah, kebersihan lingkungan, perlindungan sosial, serta terciptanya lingkungan yang aman dan berkelanjutan.
Sinergi antara kader, pemerintah kelurahan, dan masyarakat diharapkan mampu membawa program pemberdayaan keluar dari sekadar kegiatan seremonial, menuju perubahan perilaku yang nyata dan berkelanjutan di tingkat kewilayahan. (Usep)