Jakarta | Bidik-kasusnews.com – Refleksi tentang cinta dan ketulusan menjadi pesan utama dalam kegiatan pembinaan iman yang digelar PDOMPKK Santo Carlo Acutis pada 21 Februari 2026. Dalam kegiatan tersebut, Romo Yuvens Eftata hadir sebagai pewarta dan mengajak kaum muda Katolik untuk memahami makna cinta sejati melalui peristiwa Jumat Agung.
Di hadapan peserta Orang Muda Katolik (OMK), Romo Yuvens menekankan bahwa cinta bukan sekadar tentang siapa yang memberi dan siapa yang menerima, melainkan tentang ketulusan yang lahir tanpa pamrih. Menurutnya, cinta sejati selalu hadir tanpa memandang latar belakang maupun kepentingan pribadi.
Ia menjelaskan bahwa peristiwa Jumat Agung menjadi simbol kasih terbesar, ketika Yesus Kristus menyerahkan nyawa-Nya bagi umat manusia. Pengorbanan tersebut, lanjutnya, merupakan wujud cinta yang total dan tanpa syarat, sekaligus penggenapan firman Allah tentang penebusan dosa manusia melalui pengorbanan Anak-Nya.
Namun, Romo Yuvens juga mengingatkan bahwa manusia sering kali kurang peka terhadap cinta yang telah diberikan Tuhan. Dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di kalangan generasi muda, makna cinta kerap disalahartikan dan bahkan dijadikan alasan untuk melakukan tindakan yang menjauhkan diri dari nilai-nilai iman.
Menurutnya, hubungan yang mengatasnamakan cinta seharusnya membawa seseorang pada pertumbuhan pribadi, saling mendukung dalam kebaikan, serta memiliki batasan yang jelas. Cinta yang sehat, kata dia, bukan yang mendorong pada kesalahan, melainkan yang membantu seseorang menjadi lebih baik.
“Cinta sejati selalu memiliki tanggung jawab dan batasan. Ketika sebuah hubungan justru mendorong pada hal buruk, maka keberanian untuk menjaga jarak menjadi bentuk kedewasaan iman,” pesannya kepada para peserta.
Melalui refleksi tersebut, kaum muda diajak untuk lebih peka terhadap nilai ketulusan dan memahami bahwa cinta sejati tidak pernah menuntut balasan. Sebagaimana pengorbanan Yesus di kayu salib, kasih yang tulus tetap diberikan meski sering kali tidak dihargai sepenuhnya oleh manusia.
Kegiatan ini diharapkan menjadi pengingat bagi generasi muda agar mampu membedakan antara cinta yang membangun dan cinta yang justru menjerumuskan, serta menjadikan nilai pengorbanan Kristus sebagai dasar dalam menjalani relasi dan kehidupan sehari-hari.
(Agung)