Kabupaten Cirebon,-Bidik-kasusnews.com,. Proyek revitalisasi gedung SDN 1 Ciperna di Kecamatan Talun, kabupaten Cirebon, yang menelan anggaran pemerintah lebih dari Rp1 miliar menuai sorotan publik, pada Senin 31/08/2026
Pembangunan fasilitas pendidikan tersebut diduga kuat mengabaikan standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), minim pengawasan, tidak menggunakan molen dalam proses pengadukan pasir dengan semen serta tidak transparan dalam pelaksanaannya dan minimnya pengawas baik dari pihak sekolah maupun Dinas.
Pantauan dan bukti visual di lokasi menunjukkan para pekerja beraktivitas di ketinggian tanpa dilengkapi Alat Pelindung Diri (APD) yang memadai.
Mereka menggarap struktur bangunan tanpa menggunakan helm pelindung, rompi keselamatan, maupun safety harness, meskipun potensi risiko jatuh sangat tinggi.
pengadukan semen dan pasir secara manual (tanpa mesin molen atau ready mix) pada proyek revitalisasi bernilai miliaran rupiah merupakan indikasi kuat terjadinya pelanggaran spesifikasi teknis dan penurunan mutu konstruksi. Pada proyek berskala besar, penggunaan alat mekanis (seperti mesin molen atau beton instan) bersifat wajib untuk menjamin standarisasi kekuatan material
Mengapa tindakan tersebut menjadi sorotan negatif dan risiko dampak yang ditimbulkannya Harus Menggunakan Molen?Dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB) dan spesifikasi teknis proyek miliaran, metode kerja biasanya mensyaratkan pencampuran mekanis. Mesin molen digunakan untuk
Mesin molen digunakan untuk memastikan semen, pasir, dan air menyatu secara merata sehingga tidak ada bagian yang kekurangan semen, jika diaduk manual cenderung tidak rata, membuat struktur bangunan menjadi rapuh, mudah retak, dan tidak tahan lama.
Awak media melakukan konfirmasi dengan pihak kepsek SDN 1 Ciperna, namun berulang kali datang ke lokasi selalu kepsek tidak ada “sedang rapat” berkedok rapat yang di sampaikan pihak selalu merupakan pengelabuan awak media.
Ketua Komite Sekolah Andi kuning mengatakan saat di temui awak media di lokasi sekolah SDN 1 Ciperna, k3 memang ada namun pekerja tidak mau memakai dengan alesan risih dan tidak terbiasa, sedangan kalau masalah baja ringan tidak di ganti serta adukan tidak menggunakan mesin molen dirinya tidak tahu itu urusan pengawas dan kepala sekolah yang ikut dalam bimtek. Ujar komite.
Sampai berita ini di terbitkan awak media belum bisa bertemu kepsek SDN 1 Ciperna, rupanya masih senang bersembunyi yang berkedok rapat.
(Asep Rusliman)