Pangkep, Bidik-kasusnews.com — TNI Angkatan Darat (TNI AD) kembali menunjukkan peran strategisnya dalam misi kemanusiaan melalui keterlibatan intensif dalam operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) pesawat ATR 42-500 rute Yogyakarta–Makassar yang jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.
Memasuki hari kedua operasi (H+1), Minggu (18/1/2026), Tim SAR Gabungan berhasil mencatat kemajuan signifikan meskipun dihadapkan pada tantangan cuaca ekstrem dan medan karst yang terjal. Angin kencang dengan kecepatan mencapai 20–22 knot, jarak pandang terbatas hingga sekitar lima meter, kabut tebal sejak pagi hari, serta hujan yang mengguyur kawasan pegunungan menjadi kendala serius di lapangan.
Kondisi geografis Gunung Bulusaraung yang didominasi tebing batu kapur curam dan vegetasi rapat di ketinggian sekitar 1.353 meter di atas permukaan laut (mdpl) menuntut kemampuan khusus dari seluruh personel SAR. Dalam situasi tersebut, TNI AD menjadi unsur terbesar sekaligus motor penggerak utama operasi.
Sebanyak 1.214 personel SAR Gabungan diterjunkan, dengan kekuatan TNI AD berasal dari jajaran Kodam XIV/Hasanuddin dan Divisi Infanteri 3 Kostrad. Personel dilengkapi keahlian khusus, mulai dari mountaineering, evakuasi darat, kesehatan lapangan, zeni, hingga komunikasi taktis, serta didukung teknologi pengamatan udara.
Dukungan alutsista dan peralatan modern turut memperkuat efektivitas operasi. TNI AD mengerahkan drone, Night Vision Goggle (NVG), GPS, sistem komunikasi berbasis Starlink, radio taktis, kendaraan dan motor trail, hingga perlengkapan khusus seperti gergaji listrik dan alat panjat tebing. Sinergi peralatan ini memungkinkan operasi tetap berjalan optimal meskipun pendaratan helikopter sempat terhambat akibat kondisi angin yang tidak bersahabat.
Hasil penting mulai diperoleh sejak pukul 07.17 WITA, saat tim udara mendeteksi indikasi awal serpihan pesawat. Tak lama kemudian, tim darat TNI AD yang bergerak dari dua pangkal gerak berbeda berhasil menjangkau lokasi dan memastikan keberadaan bagian utama pesawat, termasuk badan dan ekor, yang ditemukan sekitar 300 meter dari puncak Gunung Bulusaraung.
Pada pukul 08.37 WITA, Tim SAR Gabungan memastikan dua bagian besar pesawat tersebut dan segera membangun sistem komunikasi Starlink di lokasi guna mempercepat pelaporan dan koordinasi lintas unsur. Pencarian dilanjutkan hingga sore dan malam hari, dengan ditemukannya mesin pesawat, sejumlah serpihan penting, serta Emergency Locator Transmitter (ELT) pada pukul 19.04 WITA.
Dalam operasi kemanusiaan ini, tim juga menemukan satu bagian tubuh korban berjenis kelamin laki-laki di sekitar lokasi ekor pesawat. Proses evakuasi dilakukan secara bertahap melalui jalur darat dengan mengedepankan prinsip keselamatan, mengingat medan yang ekstrem dan cuaca yang terus berubah.
Capaian pada H+1 ini menjadi bukti disiplin operasi, ketangguhan fisik, serta kemampuan teknis prajurit TNI AD dalam melaksanakan misi SAR di wilayah ekstrem. Operasi pencarian dan evakuasi akan terus dilanjutkan pada hari berikutnya, baik melalui jalur darat maupun udara, menyesuaikan perkembangan situasi dan kondisi cuaca.
Operasi SAR pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung menegaskan komitmen TNI AD dalam tugas kemanusiaan—hadir di garis terdepan saat rakyat membutuhkan, bahkan di medan paling berat sekalipun.
(Agus)

