SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Suta Widhya mengenang kembali bagaimana Gerakan 212 bermula, sembilan tahun lalu. Ia masih ingat betul rapat pada Jumat, 7 Oktober 2016, di rumah Habib Rizieq Shihab di Markas Besar FPI, KS Tubun, Jakarta.
Saat itu ia hadir sebagai praktisi hukum dan mengusulkan agar selain mendengar pandangan ahli pidana, perlu juga dihadirkan ahli bahasa untuk membedah ucapan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengenai Surah Al-Maidah ayat 51.
Usulan itu disetujui dan menjadi dasar lahirnya aksi pertama pada 14 Oktober 2016 di depan Balai Kota DKI Jakarta.
Bagi Suta, aksi yang diikuti lebih dari dua puluh ribu orang tersebut menjadi sinyal awal bahwa publik menilai Ahok telah melampaui batas ketika berbicara mengenai ayat suci umat Islam.
Dari situ gelombang aksi terus membesar. Ia menyebutkan bagaimana Aksi 411 dan kemudian 212 menjadi rangkaian demonstrasi yang tersusun rapi seperti barisan yang kompak, menggambarkan ketaatan massa dalam menyampaikan aspirasi.
Ia melihat Gerakan 212 bukan semata aksi protes, tetapi simbol persatuan umat Islam yang menuntut penegakan hukum. Aksi puncak pada 2 Desember 2016, yang dihadiri jutaan peserta dari berbagai daerah, menurutnya menjadi momentum terbesar yang menandai perubahan lanskap sosial-politik Indonesia.
Ketidakhadiran Presiden Joko Widodo kala itu menjadi salah satu hal yang diingat publik, sementara tuntutan massa dan tekanan publik akhirnya membawa Ahok pada kekalahan dalam Pilgub serta vonis dua tahun penjara.
Suta juga mencatat perubahan yang muncul setelahnya: meningkatnya konservatisme, menguatnya ekspresi keagamaan di ruang publik, serta polarisasi masyarakat yang semakin terasa.
Namun dari semua itu, ia menggarisbawahi satu hal: kedisiplinan massa 212 yang menurutnya tidak pernah meninggalkan kerusakan atau sampah. Panitia saat itu menyiapkan petugas kebersihan internal untuk memastikan seluruh area tetap tertib.
Menjelang Reuni 212 tahun 2025, Suta menilai gerakan ini telah berkembang semakin dewasa dan cerdas. Ia berharap momentum tahunan tersebut bukan hanya menjadi ajang temu kembali, tetapi melahirkan resolusi penting bagi umat.
Menurutnya, masyarakat kini lebih peka terhadap fenomena sosial dan situasi bangsa, sehingga gerakan 212 harus mampu menjawab tantangan zaman yang terus berubah. (Dicky)