Kuningan,-Bidik-kasusnews.com,.Memasuki September 2026, Pemerintah Kabupaten Kuningan masih menyiapkan sederet agenda yang melibatkan masyarakat, mulai dari kegiatan sosial, festival ekonomi kreatif, tradisi budaya, olahraga, hingga karnaval. Rangkaian Hari Jadi Kuningan tahun ini tidak hanya dikemas dalam bentuk acara seremonial. Pemerintah daerah berupaya menghadirkan kegiatan yang menyentuh berbagai sektor sekaligus, mulai dari sosial, keagamaan, budaya, ekonomi kerakyatan hingga pelayanan publik. Sejumlah agenda bahkan dirancang untuk mempertemukan pemerintah secara langsung dengan masyarakat di berbagai wilayah Kabupaten Kuningan. Sekretaris Daerah Kabupaten Kuningan U Kusmana SSos MSi, yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Panitia Hari Jadi ke-528 Kuningan, mengatakan seluruh rangkaian kegiatan telah disusun dengan tujuan memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat. Salah satu agenda baru yang menjadi perhatian adalah Ciremai Coffee Culture. Festival kopi tersebut akan menjadi salah satu magnet dalam rangkaian perayaan Hari Jadi Kuningan tahun ini. Ciremai Coffee Culture dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, mulai 4 hingga 6 September 2026. Kegiatan tersebut mengusung konsep berbeda dibandingkan pameran pembangunan yang sebelumnya kerap menjadi bagian dari rangkaian perayaan hari jadi daerah. Festival ini akan mempertemukan pelaku industri kopi dari berbagai daerah. Tidak hanya produk kopi lokal Kuningan, sejumlah perusahaan kopi nasional juga dijadwalkan ikut meramaikan kegiatan tersebut. (Asep Rusliman)
INDRAMAYU,-Bidik-kasusnews.com,. Polres Indramayu menggelar malam pengantar purna bakti Kasi Propam dan Kasiwas sekaligus bersilaturahmi dengan insan media di Aula Atmani Wedhana Polres Indramayu, Rabu malam (2/9/2026). Acara penuh kekeluargaan ini dihadiri Kapolres Indramayu AKBP Prianggo P. M., SIK, M.Si., Wakapolres Kompol Tahir Muhiddin, S.E., S.I.K., M.M, CPHR., jajaran Pejabat Utama (PJU) Polres Indramayu, serta wartawan dari berbagai media di Kabupaten Indramayu. Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bentuk penghormatan dan apresiasi atas dedikasi serta pengabdian yang telah diberikan oleh purnawirawan, sekaligus memperkuat kemitraan strategis antara Polres Indramayu dan pers. Kapolres Indramayu AKBP Prianggo P. M., dalam sambutannya menyampaikan ucapan terima kasih kepada pejabat purna bakti atas integritas dan kerja kerasnya selama bertugas menjaga kedisiplinan internal serta pengawasan di lingkungan Polres Indramayu. “Kegiatan silaturahmi ini menjadi momentum untuk mempererat persaudaraan, memberikan penghargaan atas pengabdian, sekaligus menjaga sinergi antara kepolisian dan insan pers yang selama ini menjadi mitra strategis dalam menyampaikan informasi yang akurat, transparan, dan bertanggung jawab kepada masyarakat,” ujar AKBP Prianggo P. M. Kapolres berharap hubungan baik dan silaturahmi dengan insan pers terus terjaga demi merawat kondusivitas serta membangun kepercayaan publik di wilayah Kabupaten Indramayu. Dalam kesempatan itu, Perwakilan wartawan yang hadir turut menyampaikan apresiasi dan doa terbaik. Sosok purnawirawan tersebut dikenal terbuka dalam membangun komunikasi serta mendukung keterbukaan informasi bagi kalangan jurnalis. (Asep Rusliman)
SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Memperkuat pelayanan kepada masyarakat tidak hanya membutuhkan program yang baik, tetapi juga kekompakan seluruh unsur yang berada di tingkat kewilayahan. Semangat itulah yang dibangun Kelurahan Gedongpanjang, Kecamatan Citamiang, Kota Sukabumi, dengan menyatukan seluruh unsur Lembaga Kemasyarakatan Kelurahan (LKK) dalam kegiatan capacity building di alam terbuka. Sebanyak 140 peserta mengikuti kegiatan yang digelar di Taman Rekreasi Cakrawala, Desa Perbawati, Kecamatan Sukabumi, Kabupaten Sukabumi, Kamis (3/9/2026). Mengusung tema “Berbeda Pikiran, Satu Tujuan, Gedong Panjang Hebat”, kegiatan tersebut menjadi ruang kebersamaan bagi berbagai unsur kewilayahan yang selama ini memiliki tugas dan peran masing-masing. Lurah Gedongpanjang, Hauwera Aulia Handayani atau biasa disapa Uni itu mengatakan, konsep kegiatan sengaja dibuat berbeda dari pembinaan LKK pada umumnya. Jika pembinaan biasanya dilakukan secara terpisah dan lebih banyak berlangsung di dalam ruangan, kali ini seluruh unsur kelembagaan dikumpulkan dalam satu kegiatan dengan suasana yang lebih terbuka dan interaktif. “Tujuannya untuk memperkuat kebersamaan, kekompakan, serta semangat pelayanan kepada masyarakat. Seluruh unsur kelembagaan kami hadirkan bersama dalam satu kegiatan,” ujar Hauwera. Peserta yang hadir berasal dari berbagai unsur LKK, mulai dari enam RW, 30 RT, 22 anggota PKK Kelurahan, 44 kader Posyandu, 36 anggota Linmas hingga dua orang dari Karang Taruna. Menurut Hauwera, seluruh unsur tersebut selama ini memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat. Namun, keberhasilan pembangunan dan pelayanan di tingkat kelurahan membutuhkan komunikasi serta sinergi yang kuat. Karena itu, kegiatan capacity building menjadi salah satu upaya untuk membangun rasa saling mengenal, memahami dan memperkuat kerja sama antarlembaga. “Semua kami satukan agar semakin kompak, solid, dan bergerak dalam satu tujuan,” ungkapnya. Tidak hanya diisi dengan sosialisasi dan pembekalan materi, para peserta juga mengikuti berbagai permainan dan aktivitas yang dirancang untuk membangun kerja sama, komunikasi, kepemimpinan dan kekompakan. Suasana alam terbuka pun memberikan pengalaman berbeda bagi para peserta. Mereka tidak hanya mengikuti materi secara formal, tetapi terlibat langsung dalam berbagai aktivitas bersama. Konsep tersebut dipilih agar kegiatan pemberdayaan masyarakat tidak berjalan monoton serta mampu memberikan semangat baru bagi seluruh pengurus LKK. Dengan tagline “Bangga Melayani, Gedong Panjang di Hati”, pemerintah kelurahan berharap kegiatan tersebut dapat membangkitkan kembali motivasi para pengurus lembaga kemasyarakatan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. “Harapannya RT, RW dan seluruh LKK bisa kembali refresh, semakin termotivasi, dan lebih optimal dalam melayani masyarakat. Mereka merupakan perpanjangan tangan kami di wilayah,” jelas dia. Selain membangun kekompakan, kegiatan tersebut juga menjadi momentum untuk menyampaikan sejumlah program strategis Pemerintah Kota Sukabumi yang membutuhkan peran aktif masyarakat dan unsur kewilayahan. Salah satunya berkaitan dengan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), khususnya melalui optimalisasi pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan atau PBB-P2. Hauwera menyebut Kelurahan Gedongpanjang sebelumnya berhasil mencatatkan capaian pembayaran PBB tertinggi se-Kota Sukabumi dan mendapat apresiasi langsung dari Wali Kota Sukabumi. Pihak kelurahan juga terus melakukan pendampingan kepada masyarakat dalam mendukung program penyerapan tenaga kerja, termasuk bagi warga yang ingin bekerja ke luar negeri melalui jalur resmi. “Sudah ada beberapa warga yang kami dampingi untuk berangkat bekerja ke luar negeri melalui program yang tersedia. Sosialisasi kepada masyarakat juga terus kami lakukan,” katanya. Perhatian terhadap persoalan lingkungan juga turut diperkuat melalui peran aktif unsur LKK. Kelurahan Gedongpanjang membagikan tempat penampungan botol plastik kepada setiap RW sebagai langkah mendorong masyarakat melakukan pemilahan sampah sejak dari rumah. Sampah plastik yang terkumpul nantinya diharapkan dapat dikelola melalui Bank Sampah Unit Mandiri. Selain membantu mengurangi sampah, pengelolaan tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat dan lingkungan RW. “Pemerintah kelurahan memfasilitasi agar masyarakat mulai terbiasa memilah sampah dari sumbernya. Nantinya sampah plastik yang terkumpul bisa dikelola dan memberikan manfaat kembali kepada masyarakat,” tuturnya. Sementara itu, Camat Citamiang Aries Ariandi memberikan apresiasi terhadap konsep kegiatan yang dilakukan Kelurahan Gedongpanjang. Menurutnya, kegiatan yang menyatukan seluruh unsur LKK dalam satu forum seperti ini merupakan yang pertama dilaksanakan di wilayah Kecamatan Citamiang. Meski secara substansi pembinaan LKK memiliki kesamaan dengan kegiatan di kelurahan lain, konsep yang diterapkan Kelurahan Gedongpanjang dinilai memiliki nilai lebih dalam membangun kebersamaan. “Yang membedakan adalah bagaimana seluruh LKK disatukan untuk membangun kebersamaan dan memiliki satu visi dalam memajukan Kelurahan Gedongpanjang,” ujarnya. Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Wali Kota Sukabumi Bobby Maulana dan Ketua TP PKK Kota Sukabumi Ranti Rachmatilah. Melalui kegiatan tersebut, Kelurahan Gedongpanjang berharap semangat kebersamaan yang terbangun tidak berhenti hanya dalam kegiatan capacity building. Lebih dari itu, kekompakan seluruh unsur LKK diharapkan terus terjaga dan menjadi kekuatan bersama dalam menjalankan berbagai program kewilayahan. Sebab, meski setiap lembaga memiliki tugas dan pemikiran yang berbeda, seluruhnya tetap memiliki tujuan yang sama, yakni memberikan pelayanan terbaik dan membangun Kelurahan Gedongpanjang menjadi semakin maju. (Usep)
SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Kelurahan Sukakarya, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi terus mencari pola penyelesaian permasalahan sampah yang lebih efektif. Di mana keterbatasan fasilitas pengolahan menjadi salah satu alasan pemerintah kelurahan mendorong masyarakat mulai memilah dan mengelola sampah dari rumah. Saat ini, Kelurahan Sukakarya hanya memiliki satu Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) yang berada di wilayah RW 3. TPS3R tersebut telah beroperasi, namun kapasitasnya belum mampu menampung seluruh sampah yang dihasilkan masyarakat. Lurah Sukakarya Sri Andayani mengatakan, kondisi tersebut membuat pemilahan sampah dari sumber menjadi sangat penting. Masyarakat kata dia diharapkan tidak lagi mencampurkan sampah organik, anorganik, dan residu sebelum dibuang atau diserahkan kepada petugas. “Untuk saat ini, Kelurahan Sukakarya baru memiliki satu TPS3R yang berada di wilayah RW 3,” ujar Sri saat kegiatan sosialisasi pengelolaan dan pemilahan sampah, Selasa (1/9/2026). Menurutnya, persoalan tidak hanya terletak pada keterbatasan kapasitas TPS3R. Pengelolaannya juga masih menghadapi kendala sumber daya manusia karena saat ini hanya tiga orang petugas yang menangani operasional TPS3R. Karena itu, sosialisasi pemilahan sampah terus dilakukan dengan menyasar 49 RT dan 13 RW. Langkah tersebut diharapkan dapat membangun kebiasaan baru masyarakat sehingga sebagian sampah dapat ditangani sejak dari lingkungan tempat tinggal. Dorongan serupa disampaikan Ketua Restu Bumi, Kia Florita. Ia menilai pengelolaan sampah akan lebih efektif apabila dimulai dari tingkat paling bawah, terutama RT sebagai lingkungan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Kia mendorong setiap RT memiliki satuan tugas yang dapat membantu mengatur pengambilan dan pemilahan sampah. Dengan sistem tersebut, sampah yang dikumpulkan warga dapat dipisahkan berdasarkan jenisnya sebelum dibawa ke tempat pengolahan. “Harapan saya setiap ke-RT-an ada satgas masing-masing, sehingga penyelesaian sampah lebih dari bawah langsung dari RT-an,” kata Kia. Ia mengakui perubahan kebiasaan masyarakat tidak bisa dilakukan secara instan. Pola kumpul, angkut, dan buang yang telah berlangsung selama puluhan tahun membutuhkan sosialisasi serta pendampingan secara berkelanjutan. Namun, Kia menegaskan perubahan harus segera dimulai. Ia mencontohkan wilayah Subangjaya yang telah menerapkan pengelolaan sampah dengan sistem berbasis satgas RT dan dinilai dapat menjadi contoh bagi wilayah lainnya. Di sisi lain, Kelurahan Sukakarya mulai merintis bank sampah di RW 3 sebagai proyek percontohan. Keberadaan bank sampah diharapkan dapat menjadi alternatif pengelolaan sekaligus meningkatkan kepedulian warga terhadap sampah yang masih memiliki nilai guna. Sri menambahkan, pihak kelurahan juga membuka peluang pembentukan tim atau satuan tugas penanganan sampah dengan melibatkan LPM dan unsur kewilayahan. Rencana tersebut akan dikaji dan dikoordinasikan lebih lanjut. Dengan hanya mengandalkan satu TPS3R, keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam mengatasi persoalan sampah di Sukakarya. Pemilahan sejak dari rumah hingga penguatan peran RT diharapkan mampu mengurangi beban fasilitas pengolahan sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan. (Usep)
Kuningan,-Bidik-kasusnews.com,.Tahun 2026 menjadi tahun bersejarah yang penuh makna bagi Kabupaten Kuningan. Di tengah gema perayaan HUT Republik Indonesia ke-81 dengan tema “Nusantara Baru, Indonesia Maju”, Kabupaten Kuningan turut merayakan momentum emasnya sendiri: Hari Jadi ke-528. Dua perayaan besar ini bukan sekadar rutinitas kalender, melainkan bukti nyata dari transformasi positif yang terus digelorakan oleh Pemerintah Kabupaten Kuningan di bawah kepemimpinan tegas dan visioner Bupati Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si. Di bawah komando Bupati Dian, Kuningan telah bertransformasi menjadi daerah yang tidak hanya maju secara infrastruktur, tetapi juga matang dalam tata kelola pemerintahan dan kaya akan nilai kemanusiaan. Berbagai prestasi gemilang—mulai dari opini WTP berturut-turut dari BPK, pengakuan Warisan Budaya Takbenda untuk Pesta Dadung, hingga predikat Kualitas Tinggi dari Ombudsman RI—adalah buah dari kerja keras kolaboratif antara eksekutif, legislatif, yudikatif, dan seluruh elemen masyarakat. “Kami tidak hanya membangun gedung, kami membangun harapan. Kami tidak hanya mengejar angka pertumbuhan, kami mengejar keadilan dan kesejahteraan yang terasa hingga ke pelosok desa,” demikian semangat yang selalu digaungkan Bupati Dian dalam setiap langkah pembangunannya. Momentum HUT RI ke-81 dan Hari Jadi Kuningan ke-528 menjadi ajang refleksi sekaligus akselerasi. Bupati Dian mengajak seluruh warga Kuningan untuk merawat api semangat kemerdekaan dengan cara mengisi kemerdekaan tersebut melalui karya nyata. “Mari kita jadikan momen ini sebagai penguat ikatan kebersamaan. Gotong royong adalah DNA orang Kuningan. Dengan sinergi yang kuat, kita wujudkan Kuningan yang Maju, Pinunjul, dan Sejahtera, selaras dengan cita-cita Indonesia Maju,” ujar Bupati Dian. Atas nama Pemerintah Kabupaten Kuningan, Bupati Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si., beserta Wakil Bupati Hj. Tuti Andriani, S.H., M.Kn., dan seluruh jajaran aparatur sipil negara, menyampaikan ucapan: Selamat Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-81 Selamat Hari Jadi Kabupaten Kuningan ke-528 Terima kasih kepada seluruh putra-putri terbaik Kuningan, para tokoh masyarakat, ulama, akademisi, pelaku usaha, petani, guru, tenaga kesehatan, dan seluruh rakyat Kuningan yang telah menjadi tulang punggung kemajuan daerah. Terima kasih juga kepada DPRD Kabupaten Kuningan atas sinergi konstruktif yang luar biasa. Semoga di usia yang semakin matang ini, Kabupaten Kuningan semakin dicintai warganya, disegani oleh daerah lain, dan tetap menjadi rumah yang nyaman, aman, dan berkah bagi semua. (Asep Rusliman)
Kabupaten Cirebon,-Bidik-kasusnews.com,. Proyek revitalisasi gedung SDN 1 Ciperna di Kecamatan Talun, kabupaten Cirebon, yang menelan anggaran pemerintah lebih dari Rp1 miliar menuai sorotan publik, pada Senin 31/08/2026 Pembangunan fasilitas pendidikan tersebut diduga kuat mengabaikan standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), minim pengawasan, tidak menggunakan molen dalam proses pengadukan pasir dengan semen serta tidak transparan dalam pelaksanaannya dan minimnya pengawas baik dari pihak sekolah maupun Dinas. Pantauan dan bukti visual di lokasi menunjukkan para pekerja beraktivitas di ketinggian tanpa dilengkapi Alat Pelindung Diri (APD) yang memadai. Mereka menggarap struktur bangunan tanpa menggunakan helm pelindung, rompi keselamatan, maupun safety harness, meskipun potensi risiko jatuh sangat tinggi. pengadukan semen dan pasir secara manual (tanpa mesin molen atau ready mix) pada proyek revitalisasi bernilai miliaran rupiah merupakan indikasi kuat terjadinya pelanggaran spesifikasi teknis dan penurunan mutu konstruksi. Pada proyek berskala besar, penggunaan alat mekanis (seperti mesin molen atau beton instan) bersifat wajib untuk menjamin standarisasi kekuatan material Mengapa tindakan tersebut menjadi sorotan negatif dan risiko dampak yang ditimbulkannya Harus Menggunakan Molen?Dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB) dan spesifikasi teknis proyek miliaran, metode kerja biasanya mensyaratkan pencampuran mekanis. Mesin molen digunakan untuk Mesin molen digunakan untuk memastikan semen, pasir, dan air menyatu secara merata sehingga tidak ada bagian yang kekurangan semen, jika diaduk manual cenderung tidak rata, membuat struktur bangunan menjadi rapuh, mudah retak, dan tidak tahan lama. Awak media melakukan konfirmasi dengan pihak kepsek SDN 1 Ciperna, namun berulang kali datang ke lokasi selalu kepsek tidak ada “sedang rapat” berkedok rapat yang di sampaikan pihak selalu merupakan pengelabuan awak media. Ketua Komite Sekolah Andi kuning mengatakan saat di temui awak media di lokasi sekolah SDN 1 Ciperna, k3 memang ada namun pekerja tidak mau memakai dengan alesan risih dan tidak terbiasa, sedangan kalau masalah baja ringan tidak di ganti serta adukan tidak menggunakan mesin molen dirinya tidak tahu itu urusan pengawas dan kepala sekolah yang ikut dalam bimtek. Ujar komite. Sampai berita ini di terbitkan awak media belum bisa bertemu kepsek SDN 1 Ciperna, rupanya masih senang bersembunyi yang berkedok rapat. (Asep Rusliman)
SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Ketua Tim Penggerak PKK, Ranti Rachmatilah, menekankan pentingnya perubahan pola pikir atau mindset bagi para kader PKK dan Posyandu agar tidak hanya menjalankan rutinitas pelayanan, tetapi mampu menjadi penggerak perubahan di tengah masyarakat. Pesan tersebut disampaikan Ranti saat menghadiri Pelatihan Kader Kesehatan Masyarakat PKK dan Posyandu dengan tema “Smart Waste Community, Pemberdayaan Masyarakat melalui Pengelolaan Sampah untuk Mewujudkan Green Economy dan Lingkungan Berkelanjutan” di ruper Kelurahan Warudoyong, Senin (31/8/2026). Kegiatan yang menjadi agenda tahunan tersebut diikuti puluhan kader se Kelurahan Warudoyong. Kegiatan turut dihadiri Lurah Warudoyong Nuke Nurulaini dan Camat Warudoyong Raden Abdul Muis. Menurut Ranti, pelatihan bukan sekadar meningkatkan kemampuan teknis kader, tetapi juga harus mampu membangun cara berpikir yang lebih adaptif terhadap persoalan masyarakat. “Kegiatan ini memperkuat kapasitas kader. Selain itu kegiatan ini diarahkan untuk mendorong keterlibatan masyarakat dalam menjaga kesehatan, kebersihan, serta keberlanjutan lingkungan,” ujarnya. Ia menegaskan, perubahan di masyarakat tidak akan berjalan apabila kader hanya ditempatkan sebagai pelaksana kegiatan. Kader harus berani mengambil peran sebagai pemain yang aktif mencari dan menyelesaikan persoalan di wilayahnya. “Mindset itu harus dibangun. Hidup itu seperti sepak bola. Kalau menjadi pemain, kita terus berlari mengejar bola. Enak jadi penonton, tetapi penonton hanya bisa mengomentari,” kata Ranti. Ia menjelaskan, membangun kebiasaan positif membutuhkan proses. Hal yang awalnya dilakukan karena terpaksa, apabila terus dibiasakan, pada akhirnya dapat membentuk kesabaran sekaligus kesadaran. Ranti juga menyoroti semakin lunturnya semangat gotong royong di tengah masyarakat. Padahal, menurutnya, persoalan kesehatan dan kebersihan lingkungan memiliki keterkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat. Karena itu, ia meminta para lurah bersama kader kembali menghidupkan budaya gotong royong di lingkungan masing-masing. “Bu lurah harus menghidupkan lagi semangat itu. Kesehatan dan kebersihan sebenarnya untuk diri kita sendiri,” tegasnya. Ranti juga meminta kader tidak terpaku pada pola penyampaian materi Posyandu yang cenderung berulang dari tahun ke tahun. Menurutnya, substansi pelayanan memang memiliki banyak hal yang tetap sama, tetapi metode komunikasi harus mengikuti perkembangan zaman agar pesan lebih mudah diterima masyarakat. “Materinya memang relatif sama, tetapi cara menyampaikannya harus mengikuti perkembangan zaman,” ujarnya. Ia melihat masyarakat saat ini lebih mudah tertarik terhadap konten negatif maupun provokatif. Kondisi tersebut, kata dia, harus diimbangi dengan konten positif yang kreatif dan menarik. Salah satunya melalui pembuatan video kreatif mengenai pengelolaan sampah. Cara tersebut dinilai dapat membuat pesan tentang kebersihan lingkungan lebih mudah dipahami sekaligus menjadi contoh nyata bagi masyarakat. “Mudah-mudahan menjadi teladan bagi masyarakat. Hari ini orang yang membangun diri sendiri tidak akan mudah dijatuhkan oleh orang lain,” tuturnya. Selain kreativitas, Ranti menekankan pentingnya emotional intelligence atau kecerdasan emosional. Kader dituntut mampu mengendalikan emosi, memahami kondisi orang lain, serta menghadapi persoalan masyarakat secara bijaksana. Ia juga mengingatkan bahwa semangat pengabdian tidak selalu berada pada kondisi yang sama. Karena itu, kader harus mampu menjaga konsistensi dan kembali membangun semangat ketika menghadapi kejenuhan maupun tantangan. “Semangat itu seperti iman seseorang, kadang naik dan kadang turun,” katanya. Lebih jauh, Ranti meminta kader memahami karakter dan persoalan spesifik di wilayah sebelum menentukan langkah penyelesaian. Setiap kelurahan, menurutnya, memiliki tantangan yang berbeda sehingga penanganannya tidak bisa menggunakan pendekatan yang sama. Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah tawuran pelajar. Ranti menilai keberadaan dan optimalisasi Posyandu Remaja (Posren) dapat menjadi salah satu instrumen untuk membangun komunikasi, pendampingan, sekaligus menyediakan kegiatan positif bagi kalangan remaja. “Cari skema yang tepat untuk menyelesaikan masalah di wilayah masing-masing. Contohnya tawuran pelajar, salah satunya dengan mengoptimalkan peran Posyandu Remaja,” ungkapnya. Sementara itu, pelatihan juga diarahkan untuk memperkuat pemahaman kader mengenai integrasi enam bidang Standar Pelayanan Minimal (SPM) sebagaimana diatur dalam Permendagri Nomor 13 Tahun 2024. Keenam bidang tersebut meliputi kesehatan, pendidikan, pekerjaan umum, perumahan rakyat, sosial, serta ketenteraman, ketertiban umum dan pelindungan masyarakat. Dengan penguatan tersebut, kader PKK dan Posyandu diharapkan tidak hanya berperan dalam pelayanan kesehatan dasar, tetapi juga mampu menjadi penggerak pemberdayaan masyarakat, pengelolaan sampah, kebersihan lingkungan, perlindungan sosial, serta terciptanya lingkungan yang aman dan berkelanjutan. Sinergi antara kader, pemerintah kelurahan, dan masyarakat diharapkan mampu membawa program pemberdayaan keluar dari sekadar kegiatan seremonial, menuju perubahan perilaku yang nyata dan berkelanjutan di tingkat kewilayahan. (Usep)
SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Tingkat kehilangan air bersih yang dikelola Perumda Air Minum Tirta Bumi Wibawa atau PDAM Kota Sukabumi masih menjadi pekerjaan rumah serius bagi perusahaan daerah tersebut. Hingga Juli 2026, tingkat kebocoran air tercatat mencapai 59 persen. Angka tersebut menunjukkan lebih dari separuh volume air yang diproduksi belum sepenuhnya dapat tersalurkan kepada pelanggan. Meski demikian, kondisi itu sedikit membaik dibandingkan periode sebelumnya yang sempat mencapai 60,1 persen. Direktur Perumda Air Minum Tirta Bumi Wibawa, Dian Afriandi, menyampaikan capaian tersebut dalam perayaan HUT ke-51 perusahaan sekaligus tasyakur Maulid Nabi Muhammad SAW di Sukabumi. Ia mengatakan, penurunan tingkat kehilangan air menjadi bagian dari upaya perusahaan meningkatkan efisiensi distribusi. “Kami terus berupaya mendorong efisiensi distribusi air dan menekan tingkat kebocoran ini. Target utama dari peningkatan kualitas layanan tersebut adalah naiknya tingkat kepuasan pelanggan,” ungkap Dian seperti dikutip, Minggu (30/8/2026). Menurutnya, penurunan dari 60,1 persen menjadi 59 persen merupakan sinyal positif dalam pengelolaan distribusi air. Namun, angka tersebut masih tergolong tinggi sehingga membutuhkan langkah penanganan yang konsisten dan berkelanjutan. Di sisi lain, jumlah pelanggan PDAM Kota Sukabumi terus menunjukkan pertumbuhan. Hingga Juli 2026, tercatat sebanyak 19.878 pelanggan aktif telah menerima layanan air bersih dari perusahaan daerah tersebut. Pertambahan pelanggan itu sekaligus meningkatkan tuntutan terhadap kemampuan PDAM dalam menjaga kontinuitas, kualitas dan keandalan distribusi. Karena itu, penurunan tingkat kebocoran dinilai menjadi salah satu kunci agar peningkatan jumlah pelanggan benar-benar sejalan dengan perbaikan pelayanan. Persoalan tersebut turut menjadi perhatian Wakil Wali Kota Sukabumi, Bobby Maulana, yang menghadiri perayaan HUT ke-51 Perumda Air Minum Tirta Bumi Wibawa. Bobby meminta jajaran direksi dan manajemen tidak cepat berpuas diri dengan capaian yang sudah diraih. “Melihat apa yang sudah dilakukan dan apa yang akan dilakukan, tentunya masih banyak kekurangan. Jadikan kekurangan itu sebagai tantangan untuk memberikan yang terbaik bagi masyarakat,” ujar Bobby. Ia menegaskan, momentum HUT ke-51 harus menjadi ruang evaluasi bagi perusahaan, termasuk dalam membenahi berbagai persoalan yang masih menghambat peningkatan kualitas pelayanan. Menurutnya, kekurangan bukan alasan untuk berhenti melakukan perbaikan, melainkan harus dijadikan pemicu untuk bekerja lebih optimal. Bobby juga mengingatkan jajaran PDAM agar menjadikan sifat-sifat Rasulullah SAW sebagai teladan dalam menjalankan tugas. Sebagai perusahaan yang mengelola kebutuhan dasar masyarakat, pelayanan air bersih harus diberikan secara cepat, tepat, responsif dan ramah. Dorongan tersebut menjadi tantangan bagi Perumda Air Minum Tirta Bumi Wibawa untuk mempercepat pembenahan sistem distribusi sekaligus menekan angka kehilangan air. Penurunan kebocoran memang menunjukkan adanya perbaikan, tetapi capaian 59 persen masih menyisakan pekerjaan besar. Dengan jumlah pelanggan yang telah mencapai hampir 20 ribu sambungan aktif, PDAM Kota Sukabumi dituntut tidak hanya mengejar pertumbuhan pelanggan, tetapi juga memastikan air yang diproduksi dapat dimanfaatkan secara maksimal dan pelayanan kepada masyarakat terus meningkat. (Usep)
CIREBON,-Bidik-kasusnews.com,.Kondisi infrastruktur jalan yang rusak serta ketiadaan penerangan jalan umum (PJU) di sejumlah titik rawan terbukti telah memakan korban kecelakaan lalu lintas. Kembali terjadi peristiwa kecelakaan yang menimpa warga Desa Setu Wetan blok Bandung rt/tw 11/04 ber inisial AS anak dari seorang jurnalis Cirebon di area jembatan tol arah Astapada, pada Sabtu malam, 29 Agustus 2026, sekitar pukul 20.00 WIB. Kejadian ini kembali menyoroti urgensi perbaikan jalan serta pemasangan penerangan guna menjamin keselamatan pengguna jalan. Akibat kondisi jalan yang rusak dan minimnya penerangan, korban mengalami luka lebam di bagian wajah serta luka-luka pada tangan dan kaki. Korban segera mendapatkan pertolongan dari warga sekitar yang berada di lokasi kejadian. Kejadian ini menjadi bukti nyata bahwa ketidak nyamanan dan ketidak amanan yang dirasakan masyarakat bukan sekadar keluhan, melainkan telah berujung pada kerugian fisik dan material bagi warga yang melintas. Jalan Rusak dan Gelap Menjadi Ancaman Nyata bagi Keselamatan Masyarakat Kondisi jalan yang berlubang dan rusak di area tersebut semakin diperparah dengan ketiadaan penerangan jalan umum, sehingga pada malam hari lokasi tersebut menjadi gelap gulita. Pengguna jalan tidak dapat melihat kerusakan jalan di depannya secara dini, yang menyebabkan tingginya risiko kehilangan kendali atas kendaraan yang dikendarai. Kurangnya penerangan juga membatasi jarak pandang pengendara, sehingga memperlambat waktu reaksi saat menghadapi bahaya di depan mereka. Kondisi ini telah berlangsung cukup lama dan berulang kali menjadi penyebab terjadinya kecelakaan, namun hingga saat ini belum terdapat perbaikan yang signifikan. Masyarakat yang melintas di jalan tersebut merasa cemas dan tidak aman, terutama pada malam hari. Teguran kepada DPUTR dan DISHUB Kabupaten Cirebon Kecelakaan ini kembali menjadi peringatan keras bagi Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kabupaten Cirebon selaku pihak yang bertanggung jawab atas pemeliharaan infrastruktur jalan, serta Dinas Perhubungan (DISHUB) Kabupaten Cirebon yang mengurusi penerangan jalan umum dan keselamatan lalu lintas. Jika perbaikan jalan dan pemasangan PJU tidak segera dilakukan, dikhawatirkan korban kecelakaan akan terus bertambah di masa mendatang. Diperlukan langkah konkret dan segera dari kedua instansi terkait untuk melakukan survei lapangan, memperbaiki kerusakan jalan, serta memasang penerangan jalan yang memadai di titik-titik yang rawan kecelakaan. Tidak cukup hanya dengan perbaikan sesaat, pemeliharaan rutin juga harus dilakukan agar jalan tetap dalam kondisi baik dan aman untuk dilalui setiap saat. Harapan Masyarakat agar Pemerintah Daerah Segera Bertindak Masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Cirebon melalui DPUTR dan DISHUB segera merespons situasi ini dengan serius. Keselamatan jiwa warga adalah prioritas utama yang tidak boleh diabaikan. Jalan yang baik dan penerangan yang memadai bukan sekadar fasilitas, melainkan hak setiap warga negara untuk mendapatkan perlindungan dan keamanan saat menggunakan fasilitas umum. Semoga peristiwa ini menjadi peringatan terakhir dan segera ditindaklanjuti dengan perbaikan menyeluruh, sehingga tidak ada lagi korban yang berjatuhan akibat kelalaian pemeliharaan fasilitas umum. Langkah cepat dan tepat dari pemerintah daerah sangat dinantikan oleh seluruh masyarakat yang melintas di jalan tersebut demi terciptanya lalu lintas yang aman, tertib, dan nyaman. (Asep Rusliman)
CIREBON,-Bidik-kasusnews.com,. Proyek Peningkatan Jalan Kabupaten yang berada di wilayah Desa Sarabau Kecamatan Plered Kabupaten Cirebon mendadak viral setelah muncul adanya dugaan oknum Ormas yang memanfaatkan tanah hasil galian peningkatan jalan tersebut sebagai kegiatan komersil dengan cara diperjualbelikan. Berawal dari pengakuan salah satu warga setempat (DR) yang ingin meminta tanah hasil galian tersebut guna di manfaatkan untuk menimbun area yang tidak terdampak, namun ia malah diminta untuk membelinya. “Awalnya saya kesitu mau minta tanah galian itu untuk dipergunakan kepentingan umum juga, tapi malah disuruh beli sama salah satu oknum anggota ormas,” katanya, (29/08/2026). DR juga menyayangkan adanya hal itu lantaran dulunya masyarakat sering melakukan swadaya untuk memperbaiki jalan tersebut walau untuk sementara waktu. “Ya jelas kami kecewa, dulunya kami masyarakat sering berswadaya untuk memperbaiki jalan ini, yaa walaupun bersifat sementara ya, sebelum akhirnya diperbaiki pemerintah. Tapi ketika ada pekerjaan ini, kami masyarakat malah disuruh beli tanah galiannya.” papar DR. Merespon itu, Ketua Umum Bikers Journalist Indonesia (BJI), Arief Yolando mengecam keras tindakan tersebut, ia menduga ada keterlibatan pihak Dinas PUTR Kabupaten Cirebon sehingga hal tersebut bisa terjadi. “Kalau saya jelas mengecam keras hal itu, karena tanah hasil galian itu milik negara dalam hal ini Pemerintah Kabupaten Cirebon, saya menduga ada keterlibatan Dinas PUTR sehingga ada orang yang berani menyebut kalau tanah tersebut diperjualbelikan,” tegas Arief. Arief juga menjelaskan berkaitan dengan aset milik negara apabila hal tersebut dibutuhkan dan pemohonnya adalah masyarakat itu diperbolehkan dengan catatan tidak ada transaksional. “Kalau masyarakat yang meminta atau memohon itu sah-sah saja asal tidak ada akad jual beli disitu, namun memang ada beberapa prosedur yang harus ditempuh termasuk persetujuan dari Pejabat Pembuat Komitmen (PPK).” tutupnya. (Asep Rusliman)