SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Prestasi Nadia Putri Ramadhani di ajang Miss Asia Pacific 2026 menjadi bukti bahwa keberhasilan tidak diraih secara instan. Ketekunan, kerja keras, serta keberanian pelajar kelas 7A SMPN 2 Kota Sukabumi, untuk terus mengembangkan diri mengantarkan remaja asal Sukabumi itu meraih tiga gelar di panggung internasional. Nadia sukses menyabet tiga gelar bergengsi dalam ajang Miss Asia Pacific 2026 kategori Preteen yang digelar di Negeri Sembilan, Malaysia. Ketiga gelar tersebut yakni Best National Costume, Miss Charming Teen, dan Free-Teen Asia Pacific Princess. Raihan tersebut sekaligus membawa nama Indonesia, khususnya Sukabumi, di tengah persaingan peserta dari berbagai negara. Di balik keberhasilan itu, terdapat proses panjang yang dijalani Nadia. Ia harus mempersiapkan diri secara matang, mulai dari kemampuan, mental, penguasaan materi hingga keberanian tampil di hadapan peserta dari berbagai negara. Proses tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan Nadia. Baginya, setiap tahapan kompetisi bukan hanya tentang mengejar gelar, tetapi juga kesempatan untuk belajar, meningkatkan kemampuan dan membangun kepercayaan diri. Putri pasangan Ucup Supriatna dan Evi Sumanti itu sebelumnya telah menorehkan prestasi di tingkat nasional dengan meraih juara utama Miss Bintang Indonesia 2026 kategori Preteen. Prestasi tersebut kemudian mengantarkannya mendapat kepercayaan dari Yayasan Miss Bintang Indonesia untuk mewakili Indonesia di ajang Miss Asia Pacific 2026. Keberhasilan Nadia mendapat apresiasi dari kedua orang tuanya. Ucup Supriatna mengaku bersyukur atas pencapaian putrinya yang dinilai merupakan buah dari proses, ketekunan dan dukungan berbagai pihak. “Pertama puji syukur pada Allah SWT dan pihak-pihak yang telah mendukung dan mendorong serta mengasah talenta anak saya hingga bisa mencapai kesuksesan dalam karirnya,” kata Ucup, Sabtu (29/8). Menurut Ucup, tiga gelar yang diraih Nadia bukanlah satu-satunya ukuran keberhasilan. Lebih penting dari itu, pengalaman berkompetisi di tingkat internasional telah membentuk mental, kedisiplinan dan keberanian putrinya. Ia berharap pengalaman tersebut dapat menjadi bekal bagi Nadia untuk terus berkembang dan menghadapi tantangan di masa mendatang. Sementara itu, Founder Yayasan Miss Bintang Indonesia, Taufik Sanjaya, menegaskan bahwa sebuah gelar juara bukanlah akhir dari perjalanan seorang peserta. “Setiap pemenang akan memiliki perjalanan dan kesempatan untuk mengembangkan diri,” kata Taufik melalui keterangan tertulis. Menurutnya, Nadia memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan. Prestasi yang diraih di tingkat internasional diharapkan tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga mampu memberikan motivasi bagi anak-anak dan remaja seusianya. Kisah Nadia menjadi pesan bahwa usia muda bukan alasan untuk membatasi diri dalam meraih prestasi. Kesungguhan dalam berlatih, ketekunan menjalani proses dan keberanian mengambil kesempatan dapat membuka jalan menuju pencapaian yang lebih besar. Dari Sukabumi hingga panggung Asia Pacific, Nadia kini bukan hanya membawa pulang tiga gelar, tetapi juga membawa cerita tentang perjuangan yang dapat menjadi inspirasi bagi remaja lain untuk berani bermimpi, bekerja keras dan terus mengembangkan potensi diri. (Usep)
SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Penguatan infrastruktur kelistrikan di wilayah selatan Kabupaten Sukabumi mendapat apresiasi dari Pemerintah Kabupaten Sukabumi. Revitalisasi dan pengoperasian kembali Gardu Induk (GI) 150 kV Jampang Kulon dinilai menjadi langkah strategis untuk memastikan kebutuhan energi masyarakat dan dunia usaha tetap terpenuhi. GI milik PT PLN (Persero) tersebut diresmikan Wakil Bupati Sukabumi H. Andreas, Kamis (27/8/2026). Andreas mengatakan, kebutuhan terhadap energi listrik terus berkembang seiring meningkatnya aktivitas masyarakat dan pertumbuhan sektor usaha. Karena itu, keandalan jaringan listrik harus menjadi bagian penting dalam mendukung pembangunan daerah. “Listrik adalah urat nadi pembangunan. Ketersediaan energi listrik yang andal tidak hanya menjadi kebutuhan masyarakat, tetapi juga menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi, investasi, pelayanan publik, serta pembangunan daerah,” kata Andreas. Ia menilai peningkatan kapasitas GI Jampang Kulon dapat memberikan dampak yang lebih luas terhadap perkembangan wilayah. Ketersediaan pasokan listrik yang memadai diharapkan mampu menciptakan iklim yang lebih kondusif bagi pelaku usaha untuk mengembangkan kegiatan ekonominya. Terlebih, Jampang Kulon dan kawasan sekitarnya memiliki berbagai potensi yang dapat terus dikembangkan. Mulai dari sektor perikanan, usaha kecil dan menengah, hingga pariwisata. “Semoga sinergi dan kolaborasi yang telah terbangun ini dapat terus kita pelihara dan tingkatkan dalam mendukung keberhasilan pembangunan, demi terwujudnya Kabupaten Sukabumi yang Mubarakah,” ujarnya. Sementara itu, Vice President Efisiensi Kualitas dan Pengukuran Distribusi Jawa Madura dan Bali PT PLN (Persero), MX Wahyu C. Prasetyo, mengungkapkan bahwa GI Jampang Kulon kini diperkuat dengan kapasitas 1 x 60 MVA serta empat jalur penyulang. Menurutnya, pengoperasian kembali GI tersebut merupakan bagian dari langkah PLN untuk memperkuat sistem kelistrikan sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan kepada pelanggan di wilayah Sukabumi. “Dengan re-energize-nya Gardu Induk Jampang Kulon 1 x 60 MVA yang sekarang sudah ada empat jalur penyulang, semakin membuka peluang usaha, UMKM di sekitar, dan tentunya bisa menambah pariwisata semakin berkembang di lingkungan Sukabumi,” ungkap Wahyu. Ia menyebut penguatan pasokan listrik dapat menjadi penopang bagi sejumlah aktivitas ekonomi di kawasan pesisir. Di antaranya usaha tambak udang, penyediaan es untuk nelayan, industri kecil, UMKM, serta sektor pariwisata. Selain mendukung pertumbuhan ekonomi, PLN berharap keberadaan GI Jampang Kulon mampu memperbaiki kualitas pelayanan kelistrikan, terutama dalam membantu mengatasi persoalan penurunan tegangan atau drop voltage yang selama ini dapat memengaruhi kenyamanan pelanggan. Wahyu berharap fasilitas tersebut dapat beroperasi secara optimal sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara luas, baik oleh masyarakat maupun pemerintah daerah dan dunia usaha. “Semoga gardu ini dapat beroperasi dengan baik dan andal, serta memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada PLN, pelanggan, pemerintah daerah, dunia usaha, dan seluruh masyarakat Jampang Kulon dan Kabupaten Sukabumi,” tandasnya. (Dicky)
JAKARTA,-Bidik-kasusnews.com,.27 Agustus 2026 — Ketua Umum DPP Fast Respon Indonesia Center (FRIC), H. Dian Surahman, mendesak Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) bersama pemerintah mempercepat pembahasan dan pengesahan Rancangan Undang-Undang Perampasan Aset Tindak Pidana. Menurut H. Dian, keberadaan regulasi yang kuat mengenai perampasan aset menjadi salah satu instrumen penting dalam memperkuat pemberantasan korupsi, khususnya dalam upaya memastikan hasil kejahatan tidak tetap dinikmati pelaku setelah proses hukum berjalan. “Korupsi bukan hanya persoalan menghukum pelakunya. Negara juga harus memastikan hasil kejahatan dapat dipulihkan dan dikembalikan untuk kepentingan masyarakat. Karena itu, pembahasan RUU Perampasan Aset jangan terus berlarut-larut,” tegas H. Dian Surahman di Jakarta, Kamis (27/8/2026). Ia menilai, pemberantasan korupsi harus diarahkan tidak hanya pada pemidanaan badan, tetapi juga pada asset recovery atau pemulihan aset yang berkaitan dengan tindak pidana sesuai mekanisme hukum dan pembuktian yang berlaku. “Jangan sampai seseorang menjalani hukuman, tetapi hasil kejahatannya tetap aman dan dapat dinikmati setelahnya. Prinsipnya sederhana: apabila aset terbukti berkaitan dengan tindak pidana, negara harus memiliki instrumen hukum yang kuat untuk memulihkannya,” ujarnya. “EMPAT ALASAN FRIC MENDORONG PERCEPATAN RUU PERAMPASAN ASET” “Pertama, memperkuat efek jera terhadap pelaku korupsi” H. Dian berpandangan bahwa pemberantasan korupsi membutuhkan pendekatan yang menyentuh keuntungan ekonomi dari tindak pidana tersebut. “Kalau korupsi hanya dipandang sebagai persoalan hukuman penjara, maka keuntungan ekonomi dari kejahatan tersebut tetap menjadi persoalan. Efek jera akan lebih kuat apabila pelaku mengetahui bahwa hasil kejahatannya dapat dipulihkan melalui mekanisme hukum,” katanya. “Kedua, memastikan kerugian negara dapat dipulihkan” Menurut FRIC, setiap upaya pemberantasan korupsi harus memiliki orientasi yang jelas terhadap pengembalian kerugian negara dan pemulihan aset. “Uang negara pada akhirnya adalah uang rakyat. Ketika terjadi tindak pidana korupsi, dampaknya dirasakan masyarakat. Karena itu, pemulihan aset harus menjadi bagian penting dari strategi pemberantasan korupsi,” tutur H. Dian. Ia mencontohkan, aset negara yang berhasil dipulihkan dapat kembali memberikan manfaat bagi masyarakat melalui berbagai program pembangunan dan pelayanan publik sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. “Ketiga, memperkuat kepastian hukum dalam penelusuran dan pemulihan aset” FRIC menilai pembentukan undang-undang khusus harus tetap mengedepankan prinsip due process of law, perlindungan hak pihak yang beritikad baik, transparansi, serta mekanisme pembuktian yang jelas. “Perampasan aset harus dilakukan secara profesional, transparan, akuntabel, dan berdasarkan hukum. Kita ingin pemberantasan korupsi semakin kuat, tetapi pada saat yang sama kepastian hukum dan hak-hak masyarakat juga harus tetap dijaga,” tegasnya. “Keempat, menjawab tuntutan publik terhadap pemberantasan korupsi” H. Dian mengatakan masyarakat membutuhkan langkah konkret negara dalam memastikan pemberantasan korupsi tidak berhenti pada proses penghukuman pelaku. “Rakyat ingin melihat negara hadir. Rakyat ingin melihat uang yang dirugikan dapat kembali. Karena itu, DPR dan pemerintah harus mendengarkan aspirasi publik dan memberikan kepastian mengenai arah penyelesaian RUU Perampasan Aset,” katanya. “FRIC SIAP KAWAL DAN EDUKASI MASYARAKAT” Sebagai organisasi yang bergerak dalam bidang respons cepat dan informasi publik, FRIC menyatakan akan terus mengawal perkembangan pembahasan RUU Perampasan Aset melalui pemberitaan dan edukasi kepada masyarakat. H. Dian juga mengingatkan seluruh jajaran FRIC agar menyampaikan informasi secara akurat, berimbang, dan tidak menghakimi, terutama ketika memberitakan perkara korupsi yang masih berada dalam proses hukum. “FRIC akan mengawal dari sisi informasi publik. Kami tidak ingin masyarakat hanya mendengar soal siapa yang ditangkap atau dihukum. Masyarakat juga perlu memahami bagaimana negara memulihkan aset hasil tindak pidana dan bagaimana mekanisme hukumnya,” jelasnya. Ia menegaskan, FRIC mendukung penguatan sinergi antarlembaga penegak hukum dan lembaga terkait dalam pemberantasan korupsi serta pemulihan aset negara, sepanjang seluruh proses berjalan berdasarkan kewenangan dan ketentuan hukum. SIKAP FRIC SE-INDONESIA FRIC menyampaikan sejumlah sikap terkait agenda RUU Perampasan Aset, yakni: Mendukung percepatan pembahasan dan pengesahan RUU Perampasan Aset dengan tetap mengedepankan kualitas substansi dan kepastian hukum. Mendorong DPR RI dan pemerintah memberikan kejelasan mengenai tahapan serta perkembangan pembahasan regulasi tersebut kepada publik. Mengawal pembahasan melalui pemberitaan dan edukasi publik agar masyarakat memahami tujuan, mekanisme, manfaat, serta konsekuensi hukum dari regulasi tersebut. Mendorong penguatan pemulihan aset hasil tindak pidana sebagai bagian dari strategi pemberantasan korupsi. Mendukung sinergi lembaga penegak hukum dan lembaga terkait dalam upaya pemberantasan korupsi serta asset recovery sesuai kewenangan masing-masing. Menutup pernyataannya, H. Dian Surahman menegaskan bahwa perang melawan korupsi harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. “FRIC berdiri bersama kepentingan rakyat. Kami mendukung pemberantasan korupsi yang tegas, profesional, transparan, dan berdasarkan hukum. Jangan hanya pelakunya yang dihukum, tetapi aset hasil tindak pidananya juga harus dipulihkan melalui mekanisme hukum yang jelas. Jika aset negara dapat kembali, maka manfaatnya kembali kepada rakyat,” pungkas H. Dian Surahman (Asep Rusliman)
SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Pemerintah Kelurahan Sindangpalay terus memperkuat kolaborasi dengan masyarakat dalam menjalankan berbagai program pembangunan dan pelayanan publik. Perbaikan lingkungan, kesehatan, kebersihan, serta pemberdayaan ekonomi menjadi sejumlah sektor yang mendapat perhatian. Lurah Sindangpalay, Detty Kurniati, mengatakan peran masyarakat menjadi salah satu kunci dalam memastikan program pemerintah benar-benar memberikan manfaat bagi warga. Pernyataan tersebut disampaikan Detty seusai menghadiri Sosialisasi Peningkatan Kapasitas RT, RW dan Karang Taruna yang turut dihadiri Wali Kota Sukabumi H. Ayep Zaki, Kamis (27/8). Detty menjelaskan, dari sisi pembangunan fisik, kelurahan terus mendorong penataan sarana dan prasarana lingkungan. Salah satu yang menjadi perhatian adalah kondisi drainase yang perlu ditangani secara berkelanjutan untuk mengurangi potensi genangan saat hujan. Namun, pembangunan infrastruktur menurutnya harus berjalan beriringan dengan kesadaran warga dalam menjaga lingkungan. Karena itu, pengelolaan sampah berbasis masyarakat terus didorong agar persoalan kebersihan dapat ditangani mulai dari lingkungan terkecil. “Penanganan lingkungan membutuhkan keterlibatan semua pihak. Kami terus mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga kebersihan dan mengoptimalkan pengelolaan sampah di wilayah masing-masing,” ujar Detty, Kamis (27/8). Semangat kebersamaan tersebut juga diwujudkan melalui kegiatan kerja bakti antar-RT. Selain membantu menjaga kebersihan, kegiatan ini menjadi ruang untuk memperkuat komunikasi dan kepedulian sosial antarwarga. Di sektor kesehatan, Kelurahan Sindangpalay memperkuat kegiatan posyandu sekaligus mendukung langkah pencegahan stunting. Pemerintah kelurahan berupaya memastikan pemantauan kesehatan ibu dan anak terus dilakukan secara rutin dengan melibatkan masyarakat. “Program kesehatan harus terus berjalan karena menyangkut masa depan anak-anak kita. Posyandu dan upaya pencegahan stunting akan terus kami dukung,” katanya. Sementara untuk meningkatkan kemandirian ekonomi warga, kelurahan turut membuka ruang pemberdayaan melalui kegiatan pelatihan kewirausahaan. Pelaku UMKM lokal didorong agar mampu meningkatkan keterampilan serta mengembangkan usaha yang telah dijalankan. Detty menilai keberhasilan pemberdayaan tidak cukup hanya dengan memberikan program, tetapi harus disertai kemauan masyarakat untuk ikut mengambil bagian dan memanfaatkan kesempatan yang tersedia. “Kami sangat mengapresiasi partisipasi masyarakat. Pemerintah tidak mungkin bekerja sendiri. Kemajuan Sindangpalay membutuhkan dukungan dan kebersamaan seluruh elemen warga,” ucapnya. Ia berharap sinergi antara RT, RW, Karang Taruna, kader masyarakat dan pemerintah kelurahan semakin kuat. Dengan koordinasi yang baik, berbagai persoalan di lingkungan diharapkan dapat lebih cepat diketahui dan ditangani. Detty juga mengajak masyarakat tidak pasif dalam menyampaikan aspirasi. Setiap persoalan yang muncul di lingkungan, mulai dari infrastruktur, kebersihan hingga pelayanan masyarakat, diharapkan dapat segera dikomunikasikan kepada pihak kelurahan. “Kami terbuka terhadap masukan masyarakat. Mari kita bangun Sindangpalay dengan semangat gotong royong, menjaga lingkungan dan bersama-sama meningkatkan kualitas kehidupan warga,” tandasnya. (Usep)
SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Ketua Hiswana Migas Sukabumi, H. Eten Rustandi, memastikan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) dan liquefied petroleum gas (LPG) di wilayah Sukabumi hingga akhir 2026 dalam kondisi aman. Eten menegaskan, persoalan yang beberapa kali muncul di lapangan lebih disebabkan keterlambatan pengiriman, bukan karena stok BBM maupun LPG benar-benar mengalami kekurangan. “Kalau ada kekurangan, sampaikan. Berarti diusahakan diprioritaskan. Sebetulnya bukan kekurangan, tapi keterlambatan di lapangan,” ujar Eten Rustandi, Kamis (27/8). Ia mengatakan, Hiswana Migas terus berkoordinasi dengan Pertamina untuk memastikan distribusi tetap berjalan dan pasokan dapat diprioritaskan apabila terjadi keterlambatan pengiriman di suatu wilayah. Menurut Eten, pengamanan stok untuk kebutuhan hingga akhir 2026 bahkan telah dilakukan sejak Februari dan Maret. Langkah tersebut dilakukan melalui pola saving atau menyisihkan sebagian pasokan untuk digunakan menghadapi kebutuhan pada periode akhir tahun. “Dari bulan Februari, Maret kita sudah saving untuk akhir tahun,” ungkapnya. Pola tersebut dilakukan dengan menyesuaikan kondisi distribusi dan tingkat serapan di lapangan. Eten memberikan gambaran, apabila dalam kondisi normal suatu wilayah mendapatkan sekitar tiga truk, maka pada kondisi tertentu distribusinya bisa diberikan dua truk terlebih dahulu. Satu truk lainnya diamankan untuk kebutuhan berikutnya. “Misalkan biasanya di sini tiga truk, diberi dua truk. Yang satu truk diamankan untuk ke depan,” jelasnya. Strategi tersebut dilakukan bukan semata-mata untuk mengurangi pasokan, melainkan sebagai bagian dari manajemen stok agar ketersediaan BBM dan LPG tetap terjaga sampai penghujung tahun. Selain itu, kondisi penyerapan di masing-masing wilayah juga terus dipantau. Eten menjelaskan, tingkat kebutuhan dapat dilihat dari penyerapan Delivery Order (DO) di Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE). Jika suatu wilayah seharusnya memperoleh kuota 10, tetapi realisasinya hanya terserap enam atau delapan, maka pasokan yang tidak terserap tersebut tidak dibiarkan menumpuk. “Misalkan seharusnya 10, yang ditebus hanya enam atau delapan. Buru-buru di-split, diamankan untuk daerah yang lain,” katanya. Dengan pola tersebut, pasokan dapat dialihkan ke wilayah yang tingkat kebutuhannya lebih tinggi. Langkah ini sekaligus menjadi cara untuk menjaga agar distribusi tidak mengalami ketimpangan antara daerah yang serapannya rendah dengan daerah yang membutuhkan tambahan pasokan. Eten menegaskan, manajemen stok dan distribusi menjadi kunci utama dalam menjaga ketersediaan BBM serta LPG. Terlebih, ia menyebut adanya kecenderungan pengurangan pasokan oleh pemerintah dari tahun ke tahun jika dibandingkan dengan kebutuhan atau perhitungan tahun sebelumnya. “Kalau perhitungan tahun sekarang dengan tahun kemarin, terus terang tiap tahun itu dikurangi oleh pemerintah. Tapi kita juga berusaha dengan Pertamina untuk mengamankan stok sampai 2026,” ujarnya. Karena itu, menurut Eten, langkah antisipasi tidak bisa dilakukan hanya ketika terjadi persoalan. Pengamanan stok harus dilakukan jauh-jauh hari dengan melihat pola kebutuhan, tingkat serapan, kondisi distribusi, serta momentum tertentu seperti hari libur. “Pada saat hari libur, kita ambil sedikit-sedikit, ditumpukkan untuk nanti akhir tahun,” tuturnya. Dengan strategi tersebut, Eten optimistis kebutuhan BBM dan LPG masyarakat Sukabumi hingga akhir 2026 dapat tetap terpenuhi. “Insyaallah aman,” tegasnya. Meski demikian, Eten mengakui masih terdapat persoalan lain yang menjadi perhatian pelaku usaha, khususnya berkaitan dengan regulasi. Ia menyebut arah regulasi saat ini masih belum sepenuhnya jelas sehingga diperlukan kepastian agar para pelaku usaha dapat menyesuaikan pola distribusi dan pelayanan di lapangan. “Justru sekarang regulasinya remang-remang semuanya. Mau ke mana pemerintah ini arahnya?” kata Eten. Ia berharap koordinasi antara pemerintah, Pertamina, dan pelaku usaha dapat terus diperkuat sehingga setiap perubahan kebijakan maupun kebutuhan distribusi dapat diantisipasi lebih cepat. Bagi Hiswana Migas Sukabumi, yang terpenting saat ini adalah memastikan BBM dan LPG tetap tersedia, mengelola stok secara cermat. “Kita akan memindahkan pasokan dari wilayah dengan serapan rendah ke wilayah yang membutuhkan. Dengan pola tersebut, ketahanan pasokan hingga akhir 2026 diharapkan tetap terjaga,” ungkapnya. (Usep)
MAJALENGKA,-Bidik-kasusnews.com,. Dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Ke 81 Republik Indonesia tahun 2026 sekaligus tanggung jawab sosial telah digelar pemeriksaan dan pengobatan gratis serta pemberian sembako bagi 1.000 orang yang meliputi 4 desa di Kecamatan Kertajati. Hal tersebut ditegaskan General Manager Metland Kertajati Dodo Eldi Utomo saat kegiatan berlangsung yang dihadiri langsung oleh Bupati Majalengka Eman Suherman pada Rabu, (26/08/26) bertempat di Galery Marketing Metland Kertajati. Nampak hadir pula Direktur PT. Metropolitan Land Tbk dan Yayasan Metropolitan Peduli, Camat Kertajati Fazri Pria Perdana dan jajaran Forkopincam, dan tamu undangan lainnya. Bupati Majalengka Eman Suherman mengatakan bahwa kegiatan yang hari ini dilaksanakan di Metland Kertajati dengan PT Metropolitan Land Tbk dan Yayasan Metropololitan Peduli sangat membahagiakan masyarakat. “Hari ini dilaksanakan bakti sosial bagi 1.000 masyarakat di empat desa se Kecamatan Kertajati di Cek Kesehatan Gratis (CKG) dan jika didiagnosa ada penyakit langsung dikasih obat. Selain itu ada bakti sosial pemberian sembako kepada 1.000 orang masyarakat sekitarnya. Untuk itu saya menghaturkan penghargaan yang setinggi tingginya kepada jajaran Yayasan Metropilitan Peduli yang sudah melaksanakan tanggung jawab sosialnya di wilayah Majalengka,” papar Bupati. Sambung Bupati Eman, semoga kegiatan ini tidak hanya sampai disini saja akan tetapi terus diagendakan pada setiap tahunnya. “Semoga semakin berkembang untuk bersama sama mensejahterakan masyarakat khususnya di Kecamatan Kertajati untuk Majalengka Langkung Sae,” ujarnya. Dalam kesempatan yang sama, General Manager Metland Kertajati, Dodo Eldi Utomo mengatakan bahwa kegiatan ini berlangsung berkat dukungan dari semua terutama Bupati Majalengka. “Semoga bisa berdampak positif bagi warga sekitarmya,” seru Dodo. Sementara itu, Camat Kertajati, Fazri Pria Perdana mengucapkan terimakasih dan penghargaan yang setinggi tingginya kepada panitia penyelenggara khususnya Metland Kertajati. “Warga di empat desa se Kecamatan Kertajati bisa merasakan manfaat dari tanggung jawab sosial ini,” urainya. (Asep Rusliman)
JAKARTA,-Bidik-kasusnews.com,.(FRIC) 26 Agustus 2026 — Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP Fast Respon Indonesia Center (FRIC), H. Deden Hardening, A.Md., mengingatkan para pelajar agar tidak mudah terbawa ajakan untuk mengikuti aksi unjuk rasa, terlebih apabila kegiatan tersebut berpotensi membahayakan keselamatan diri maupun mengganggu proses pendidikan. Pesan tersebut disampaikan sebagai bentuk kepedulian terhadap generasi muda agar tetap fokus menuntut ilmu, menjaga masa depan, serta tidak mudah terpengaruh oleh ajakan yang belum diketahui secara jelas tujuan dan risikonya. Menurut H. Deden, pelajar memiliki tanggung jawab utama untuk belajar dan mempersiapkan diri menjadi generasi penerus bangsa. Karena itu, lingkungan sekolah harus menjadi ruang yang dijaga, bukan ditinggalkan hanya karena mengikuti ajakan yang belum tentu memberikan manfaat. “Adik-adik pelajar, jangan mudah terbawa ajakan untuk ikut unjuk rasa, apalagi kalau berisiko membahayakan diri. Jangan tinggalkan sekolah, jangan mudah terprovokasi. Ingat, di rumah ada orang tua yang menunggu dan di depan kalian ada masa depan yang harus dijaga,” tegas H. Deden. Ia menekankan bahwa menyampaikan pendapat merupakan bagian dari kehidupan demokrasi, namun setiap warga negara tetap harus mempertimbangkan ketentuan hukum, keamanan, ketertiban, serta keselamatan diri. Khusus bagi pelajar, kata dia, sikap kritis seharusnya dibangun melalui pendidikan, diskusi yang sehat, prestasi, dan kegiatan positif yang dapat membentuk karakter serta wawasan kebangsaan. “Jadilah pelajar yang cerdas, bukan mudah diprovokasi. Jangan sampai masa depan kalian dipertaruhkan hanya karena mengikuti ajakan yang belum tentu kalian pahami. Sekolah adalah tempat kalian menyiapkan masa depan,” ujarnya. H. Deden juga mengingatkan para orang tua dan tenaga pendidik untuk terus memberikan pendampingan kepada anak-anak, terutama dalam menghadapi berbagai informasi dan ajakan yang beredar melalui media sosial. Menurutnya, derasnya arus informasi membuat pelajar harus memiliki kemampuan untuk memilah informasi, memeriksa kebenaran sebuah ajakan, serta tidak mengambil keputusan secara emosional. “Sebelum ikut, pahami dulu tujuannya. Siapa yang mengajak, untuk apa, bagaimana kegiatannya, dan apa risikonya. Jangan hanya karena ikut-ikutan kemudian menyesal di kemudian hari,” katanya. FRIC juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga generasi muda agar tetap berada dalam lingkungan pendidikan dan kegiatan yang positif. “Masa depan Indonesia ada di tangan generasi muda. Karena itu, mari kita jaga adik-adik pelajar agar tetap belajar, berprestasi, menghormati orang tua dan guru, serta menjadi generasi yang mampu memberikan kontribusi positif bagi bangsa dan negara,” pungkas H. Deden. (Asep Rusliman)
SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Manajer Hotel Augusta Cikukulu, H. Asep Suparwan, memberikan perhatian khusus terhadap kualitas pekerjaan pengaspalan halaman hotel. Pria paruh baya yang dikenal energik tersebut bahkan menyampaikan langsung sejumlah tips agar hasil pekerjaan hotmix lebih rata, kuat, dan tidak mudah mengelupas. Testimoni Asep mengenai proses pengaspalan tersebut ditayangkan melalui sebuah video yang diunggah di media sosial TikTok. Dalam video itu, ia memperlihatkan sekaligus menjelaskan tahapan pekerjaan renovasi yang tengah dilakukan di lingkungan Hotel Augusta Cikukulu. Menurut Asep, pekerjaan renovasi hotel dilakukan secara bertahap, mulai dari pembenahan restoran, kemudian dilanjutkan ke area lobi hingga pekerjaan pengaspalan atau hotmix halaman hotel. “Setelah pekerjaan renovasi restoran lanjut ke lobi dan ke pekerjaan hotmix. Khusus hotmix ada tata caranya bagaimana menabur split dan aspal yang benar agar hasilnya rata dan kuat dan tidak mudah mengelupas,” kata Asep, Selasa (25/8/2026). Ia menekankan bahwa kualitas pengaspalan tidak hanya ditentukan oleh material yang digunakan, tetapi juga sangat bergantung pada proses pengerjaan di lapangan. Penaburan material, komposisi, pemerataan hingga proses pemadatan menjadi bagian penting yang harus diperhatikan agar permukaan aspal memiliki daya tahan optimal. Bagi Asep, pekerjaan pengaspalan harus dikerjakan secara benar sejak tahap awal. Sebab, kesalahan dalam proses pengerjaan dapat berdampak terhadap kualitas permukaan dan memperpendek usia penggunaan aspal. Melalui video testimoninya, Asep sekaligus ingin menunjukkan bahwa pekerjaan hotmix membutuhkan ketelitian dan teknik yang tepat. Hasil yang rata, kokoh serta tidak mudah mengelupas, menurutnya, merupakan bagian dari standar kualitas yang harus menjadi perhatian dalam setiap pekerjaan pengaspalan. Renovasi Hotel Augusta Cikukulu sendiri terus dilakukan secara bertahap untuk meningkatkan kenyamanan dan kualitas fasilitas hotel. Pekerjaan pengaspalan halaman menjadi salah satu bagian dari rangkaian pembenahan tersebut. Mengingat bagian itu lah yang menjadi salah satu atensi para pengunjung hotel. (Usep)
SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM. Persoalan sampah di Kota Sukabumi tidak lagi bisa dipandang sebagai urusan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) semata.Di tengah produksi sampah yang mencapai 190,33 ton per hari, seluruh elemen masyarakat dituntut mengambil bagian agar persoalan sampah dapat diselesaikan secara bersama-sama. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Sukabumi Yudi Sutriana menegaskan, pemerintah membutuhkan keterlibatan masyarakat mulai dari tingkat rumah tangga hingga lingkungan permukiman. Sebab, sebesar 47 persen sumber sampah Kota Sukabumi berasal dari rumah tangga. “Persoalan sampah ini bukan hanya tanggung jawab DLH. Ini tanggung jawab kita bersama. Pemerintah tidak mungkin menyelesaikan persoalan sampah sendirian tanpa perubahan perilaku masyarakat dari sumbernya,” tegas Yudi Sutriana saat diwawancara di ruang kerjanya, Senin (24/8). Data persampahan tahun 2025 menunjukkan, dengan jumlah penduduk 373.189 jiwa, Kota Sukabumi menghasilkan sekitar 69.469 ton sampah per tahun. Kondisi tersebut semakin mendesak karena TPA Cikundul yang dibangun sejak 1995 dengan luas keseluruhan 10,7 hektare, kini hanya memiliki sisa lahan aktif sekitar 1 hektare. Setiap harinya, TPA Cikundul masih menerima beban sekitar 132 ton sampah. Jika seluruh sampah terus berakhir di TPA tanpa pengurangan dari sumber, persoalan keterbatasan lahan akan semakin sulit diatasi. Menurut Yudi, kondisi TPA tersebut harus menjadi alarm bersama. Sebab, persoalan yang dihadapi bukan hanya soal cepat atau lambatnya lahan TPA penuh, tetapi juga menyangkut dampak lingkungan dan pembiayaan pemerintah. Penumpukan sampah berpotensi meningkatkan emisi gas metan, menimbulkan air lindi yang berisiko mencemari lingkungan, sekaligus membuat biaya operasional pengelolaan sampah semakin besar. “Kalau semua sampah dibuang ke TPA, kapan pun lahannya akan penuh. Karena itu, solusinya bukan sekadar bagaimana mengangkut sampah sebanyak-banyaknya ke TPA, tetapi bagaimana sampah itu dikurangi sejak dari rumah,” jelasnya. DLH Kota Sukabumi kini mendorong perubahan paradigma. Masyarakat tidak cukup hanya membuang sampah pada tempatnya, tetapi harus mulai memilah dan mengolah sampah sejak dari rumah. Apalagi berdasarkan komposisinya, 46 persen sampah Kota Sukabumi merupakan sampah organik. Kemudian terdapat 30 persen sampah lainnya atau residu, 14 persen plastik, serta 10 persen kertas dan karton. Sampah organik, terutama sisa makanan dan sampah dapur, dinilai memiliki peluang besar untuk diolah secara mandiri menjadi kompos maupun pupuk organik cair (POC). Teknologi sederhananya pun tidak harus mahal. Masyarakat dapat memanfaatkan biopori dari ember bekas maupun komposter tumpuk. DLH menargetkan melalui pengelolaan tersebut sedikitnya 30 persen sampah organik dapat dikurangi dari aliran menuju TPA pada 2030. Sementara sampah anorganik seperti plastik, kertas, kaleng, botol kaca dan besi dapat dipilah untuk kemudian disetorkan ke Bank Sampah. “Jangan semua sampah dianggap tidak berguna. Ada sampah yang bisa menjadi kompos dan ada yang mempunyai nilai ekonomi. Kalau dipilah, masyarakat bisa mendapatkan manfaat sekaligus membantu pemerintah mengurangi beban TPA,” kata Yudi. DLH juga mengajak masyarakat mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dalam aktivitas sehari-hari. Kantong plastik dapat digantikan dengan tas kain, sedangkan penggunaan tumbler, kotak makan dan peralatan makan yang dapat digunakan berulang kali perlu menjadi kebiasaan baru. Langkah sederhana tersebut dinilai penting karena pengurangan sampah tidak akan efektif jika hanya mengandalkan program pemerintah. Yudi menekankan, perubahan harus dilakukan secara kolektif mulai dari keluarga, RT, RW, kelurahan, sekolah, pelaku usaha, komunitas hingga pemerintah. Pola yang ingin dibangun DLH adalah menjadikan TPA sebagai tempat terakhir bagi sampah residu, bukan tempat menampung seluruh sampah masyarakat. Alurnya dimulai dari pemilahan di rumah, penampungan sementara dan pengangkutan. Sampah organik diolah menjadi kompos atau POC, sementara sampah anorganik bernilai ekonomi masuk ke Bank Sampah. Hanya sampah yang benar-benar tidak dapat dimanfaatkan yang dibuang ke TPA. Jika pola tersebut berjalan konsisten, dampaknya bukan hanya memperpanjang usia TPA Cikundul. Pengelolaan sampah yang benar juga dapat membantu mengurangi pencemaran lingkungan, mencegah penyumbatan saluran air yang berpotensi memicu banjir, menekan risiko penyakit, mengurangi biaya pemerintah, sekaligus membuka peluang ekonomi masyarakat. “Yang kita bangun bukan hanya sistem pengelolaan sampah, tetapi budaya bersama. Kalau masyarakat, pemerintah, dunia usaha dan seluruh unsur lingkungan bergerak bersama, persoalan sampah bisa kita kurangi,” ujar Yudi. Ia berharap masyarakat tidak lagi menempatkan persoalan sampah sebagai pekerjaan petugas kebersihan semata. Ketika sampah sudah dihasilkan dari rumah, maka tanggung jawab pertama berada pada setiap individu yang menghasilkan sampah tersebut. “Mulai dari rumah, mulai dari diri sendiri, lalu kita bergerak bersama. Jangan menunggu sampah menjadi masalah besar baru kita bertindak,” tegasnya. Dengan produksi sampah mencapai 190,33 ton setiap hari, Kota Sukabumi membutuhkan gerakan bersama yang konsisten. Menyelamatkan TPA Cikundul bukan semata-mata soal memperpanjang usia sebuah tempat pembuangan, tetapi tentang membangun kesadaran bahwa lingkungan yang bersih dan sehat merupakan tanggung jawab seluruh warga. (Usep)
JAKARTA,-Bidik-kasusnews.com,.(FRIC) 24 Agustus 2026 — Kemerdekaan Republik Indonesia yang telah diperjuangkan dengan pengorbanan besar para pahlawan bukan sekadar catatan sejarah, tetapi menjadi amanah yang harus terus dijaga oleh seluruh elemen bangsa. Ketua Umum Fast Respon Indonesia Center (FRIC), H. Dian Surahman, menegaskan bahwa semangat perjuangan para pahlawan harus menjadi inspirasi bagi seluruh masyarakat Indonesia untuk terus memperkuat persatuan, menjaga kebersamaan, serta menumbuhkan kecintaan terhadap tanah air. Menurutnya, kemerdekaan Indonesia lahir dari semangat perjuangan, pengorbanan dan persatuan para pendahulu bangsa yang mampu mengesampingkan berbagai perbedaan demi satu tujuan, yakni Indonesia yang merdeka dan berdaulat. “Kemerdekaan Indonesia lahir dari semangat perjuangan dan persatuan para pahlawan. Kini tugas kita bersama adalah merawat persatuan itu dengan saling menghargai, menjaga kebersamaan dan memperkuat rasa cinta tanah air,” tegas H. Dian Surahman. Ia menilai, di tengah perkembangan zaman dan dinamika kehidupan masyarakat yang semakin kompleks, persatuan nasional harus menjadi fondasi utama dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Perbedaan pilihan, pandangan, latar belakang maupun kepentingan, kata dia, merupakan bagian dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun, perbedaan tersebut jangan sampai menjadi alasan untuk saling memecah belah. “Kita boleh berbeda pandangan, tetapi jangan sampai perbedaan membuat kita kehilangan rasa persaudaraan sebagai sesama anak bangsa. Indonesia terlalu besar untuk dipertaruhkan oleh kepentingan kelompok maupun perbedaan yang tidak dikelola dengan bijaksana,” ujarnya. H. Dian Surahman juga mengajak seluruh jajaran FRIC di berbagai daerah untuk terus menjadi bagian dari masyarakat yang ikut menjaga kondusivitas, menyebarkan informasi yang membangun, serta mengedepankan semangat persatuan dan kepentingan bangsa. Ia menekankan bahwa menjaga Indonesia bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah maupun aparat keamanan, melainkan tanggung jawab seluruh masyarakat. “Menjaga Indonesia adalah tugas kita bersama. Mari kita rawat persatuan, hormati perbedaan, jaga kebersamaan dan jangan mudah terprovokasi oleh informasi yang dapat memecah belah masyarakat,” katanya. Lebih lanjut, Ketum FRIC berharap semangat kemerdekaan tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Nilai-nilai perjuangan para pahlawan harus diwujudkan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari, seperti menjaga toleransi, gotong royong, menaati aturan, membantu sesama serta ikut menciptakan lingkungan yang aman dan harmonis. Menurutnya, Indonesia yang kuat tidak hanya dibangun melalui pembangunan fisik dan ekonomi, tetapi juga melalui masyarakat yang memiliki rasa persaudaraan, kepedulian sosial dan kecintaan terhadap bangsa. “Mari kita jadikan semangat kemerdekaan sebagai energi untuk terus membangun Indonesia. Bersatu bukan berarti harus sama, tetapi mampu berjalan bersama meskipun memiliki perbedaan,” pungkas H. Dian Surahman. FRIC, lanjutnya, akan terus mendorong semangat kebangsaan serta mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga Indonesia agar tetap utuh, aman, damai dan harmonis. (Asep Rusliman)