SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Wali Kota Sukabumi, Ayep Zaki, melontarkan pesan yang tegas, lugas dan sarat makna di momen Hari Ulang Tahun ke-112 Kota Sukabumi.
Ia menegaskan, peringatan tahun ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan alarm keras untuk membenahi kinerja birokrasi dan tata kelola anggaran.

Dari Lapang Merdeka, Rabu (1/4/2026), Ayep secara terbuka menuntut lonjakan kualitas kerja aparatur. Ia bahkan memasang standar tinggi, dengan target capaian kinerja di atas 90.
“Kalau ingin kesejahteraan tercapai, kinerja tidak boleh biasa-biasa saja. Harus di atas standar,” tegasnya.
Ayep menyoroti bahwa selama ini masih ada pola kerja yang belum sepenuhnya efektif. Karena itu, empat tahun ke depan harus menjadi fase percepatan, bukan lagi tahap uji coba kebijakan.

Di sektor program, rencana pembangunan Sekolah Rakyat menjadi salah satu yang disorot. Namun, kendala klasik kembali muncul yaitu keterbatasan lahan datar dengan luas ideal.
Kondisi geografis Kota Sukabumi dinilai membuat biaya pembangunan melonjak.
Alih-alih berhenti di kendala, Pemkot memilih tancap gas dengan skema sekolah perintis. Langkah ini disebut sebagai solusi cepat agar program tetap berjalan sambil menyiapkan konsep jangka panjang.
Tak hanya itu, Ayep juga “ngegas” di sektor infrastruktur. Ia memastikan tiga tahun ke depan pembangunan akan difokuskan pada proyek-proyek yang benar-benar berdampak, bukan sekadar mengejar realisasi anggaran.
“Jangan sampai bangun hari ini, beberapa tahun sudah rusak. Kita ingin yang tahan lama, minimal 25 tahun manfaatnya,” ujarnya.
Sorotan tajam juga diarahkan pada belanja daerah. Ayep terang-terangan menargetkan efisiensi besar-besaran hingga 20–30 persen, khususnya pada belanja barang dan jasa yang selama ini dinilai masih berpotensi boros.
Langkah tersebut akan dikawal bersama lembaga pengawas seperti BPK dan BPKP, sebagai upaya memastikan anggaran tidak lagi bocor di titik-titik yang tidak produktif.
“Anggaran itu uang rakyat. Harus dipakai seefektif mungkin,” kata Ayep.
Sementara itu, terkait kebijakan pusat seperti pembatasan BBM dan penerapan work from home (WFH), Pemkot Sukabumi memilih mengikuti garis kebijakan nasional.
Namun, pelayanan publik dipastikan tetap berjalan normal, dengan pejabat strategis tetap bekerja di kantor.
Di akhir, Ayep menegaskan bahwa kunci utama keberhasilan pembangunan ada pada peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Tanpa fiskal yang kuat, menurutnya, program sehebat apa pun akan sulit direalisasikan.
“HUT ke-112 ini jadi momentum berbenah. Kita gas semua—kinerja, anggaran, dan pembangunan—biar hasilnya benar-benar dirasakan masyarakat,” tandasnya. (Usep)