CIREBON – BIDIK-KASUSNEWS.COM            Aktivitas pengolahan batu alam di Kecamatan Dukupuntang, Kabupaten Cirebon, kembali menjadi perhatian. Warga Desa Girinata dan Desa Bobos mengeluhkan kondisi lingkungan di sekitar kawasan usaha yang dinilai mengalami tekanan akibat aktivitas pengolahan batu alam dan pengelolaan limbah yang belum optimal. Keluhan terutama berkaitan dengan air berlumpur yang disebut mengalir ke saluran air dan sungai di sekitar permukiman. Warga berharap pemerintah daerah segera melakukan pemeriksaan lapangan, memastikan kepatuhan perizinan, serta mengambil langkah sesuai ketentuan apabila ditemukan pelanggaran. Warga Keluhkan Air Berubah Keruh Berdasarkan keterangan warga dan hasil penelusuran di lapangan, sejumlah lokasi pengolahan batu alam berada di kawasan Desa Girinata dan Bobos. Warga menyebut sisa proses pemotongan dan pengolahan batu berupa material lumpur halus atau slurry berpotensi terbawa aliran air ketika tidak dikelola dengan baik. “Dulu airnya jernih, sekarang kondisinya keruh seperti susu,” ujar seorang warga Desa Girinata. Menurut warga, kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran karena sejumlah saluran air berada tidak jauh dari area permukiman dan lahan pertanian. Keluhan lainnya berkaitan dengan material sisa pengolahan batu yang disebut menumpuk di sejumlah lokasi. Warga meminta pemerintah memastikan apakah pengelolaan limbah tersebut telah memenuhi ketentuan lingkungan yang berlaku. Persoalan Perizinan Perlu Diverifikasi Sejumlah pelaku usaha yang ditemui di lapangan disebut mengaku belum memiliki dokumen perizinan tertentu. Namun, informasi mengenai status legalitas masing-masing usaha tersebut perlu diverifikasi kepada instansi berwenang agar tidak menimbulkan kesimpulan sepihak. Pemerintah daerah juga perlu memastikan status kegiatan masing-masing pelaku usaha, termasuk legalitas kegiatan, dokumen lingkungan, serta kewajiban pengelolaan limbahnya. Langkah verifikasi dinilai penting karena setiap usaha memiliki karakteristik dan kewajiban perizinan yang dapat berbeda, tergantung jenis kegiatan serta skala usahanya. Warga Minta Pemerintah Turun Langsung Persoalan lingkungan tersebut membuat warga berharap pemerintah tidak hanya melakukan pemantauan administratif, tetapi juga melakukan pemeriksaan langsung terhadap kondisi di lapangan. Camat Dukupuntang Adang Suryana, S.Sos., sebagai salah satu unsur pemerintahan di wilayah kecamatan, turut menjadi perhatian warga. Sejumlah warga meminta adanya koordinasi yang lebih intensif antara pemerintah kecamatan, Pemerintah Kabupaten Cirebon, serta instansi teknis terkait. Warga juga mengharapkan adanya penjelasan terbuka mengenai langkah pemerintah dalam menangani persoalan limbah pengolahan batu alam di Girinata dan Bobos. Usulan IPAL Komunal Salah satu solusi yang diharapkan masyarakat adalah penyediaan sistem pengolahan limbah yang memadai, termasuk kemungkinan pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) komunal apabila secara teknis dan regulasi dinilai memungkinkan. Skema tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif bagi pelaku usaha skala kecil dalam mengelola limbah secara lebih terkontrol. Selain persoalan limbah, warga juga mengusulkan penataan aktivitas usaha agar kegiatan ekonomi tetap berjalan tanpa mengorbankan kualitas lingkungan dan kepentingan masyarakat sekitar. “Harapannya masalah ini segera ditangani. Jangan sampai kondisi lingkungan semakin buruk dan baru mendapat perhatian setelah dampaknya semakin luas,” kata warga. Menunggu Langkah Pemerintah Persoalan pengolahan batu alam di Desa Girinata dan Desa Bobos kini menjadi pekerjaan rumah yang membutuhkan penanganan lintas sektor. Pemerintah Kabupaten Cirebon melalui perangkat daerah terkait diharapkan dapat melakukan pengecekan terhadap kondisi lingkungan, memverifikasi status perizinan usaha, serta menentukan langkah penanganan berdasarkan hasil pemeriksaan. Di sisi lain, keberadaan industri pengolahan batu alam juga memiliki aspek ekonomi karena menjadi salah satu sumber penghasilan bagi sebagian masyarakat. Karena itu, penataan kegiatan usaha perlu dilakukan secara terukur dengan tetap memperhatikan ketentuan lingkungan dan keberlangsungan ekonomi warga. Hingga berita ini disusun, keluhan masyarakat terkait kondisi aliran air dan pengelolaan limbah masih menjadi perhatian warga di Desa Girinata dan Desa Bobos. (Asep Rusliman)

MAJALENGKA, BIDIK-KASUSNEWS.COM        Aktivitas pelayanan publik di Kantor Desa Mekarwangi, Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, menjadi sorotan. Saat dilakukan pantauan pada jam kerja, kantor desa tersebut didapati dalam kondisi kosong dan tidak terlihat aparatur desa yang bersiaga memberikan pelayanan kepada masyarakat. Pantauan dilakukan pada Selasa (15/9/2026) sekitar pukul 09.00 WIB dan kembali dilakukan sekitar pukul 11.30 WIB. Pada dua waktu tersebut, tidak terlihat Kepala Desa maupun perangkat desa berada di ruang pelayanan. Kondisi kantor juga tampak sepi tanpa aktivitas pelayanan kepada warga. Situasi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai kedisiplinan aparatur pemerintahan desa dalam menjalankan tugas, khususnya berkaitan dengan kewajiban memberikan pelayanan kepada masyarakat selama jam kerja. Padahal, kantor desa merupakan salah satu pusat pelayanan pemerintahan yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat, mulai dari administrasi kependudukan, surat-menyurat, hingga berbagai keperluan pelayanan pemerintahan lainnya. Sejumlah warga yang ditemui media mengaku kondisi kantor desa yang sepi bukan kali pertama terjadi. Mereka berharap aparatur desa dapat lebih konsisten berada di kantor sehingga masyarakat tidak harus datang berulang kali atau menunggu ketika membutuhkan pelayanan. “Memang di balai desa sering kosong dan sepi pelayanan. Warga juga sering kecewa karena tidak ada perangkat saat jam kerja,” ujar salah seorang warga. Kondisi kantor pemerintahan yang tidak didapati aparatur saat jam kerja tentu menjadi perhatian karena pelayanan publik semestinya berjalan secara tertib dan dapat diakses masyarakat sesuai ketentuan yang berlaku. Namun demikian, kondisi tersebut belum serta-merta membuktikan adanya pelanggaran disiplin. Aparatur desa bisa saja sedang menjalankan tugas kedinasan di luar kantor. Karena itu, diperlukan klarifikasi dari Pemerintah Desa Mekarwangi mengenai alasan tidak adanya Kepala Desa maupun perangkat yang terlihat di kantor saat pantauan dilakukan. Hingga berita ini disusun, belum diperoleh keterangan resmi dari Kepala Desa Mekarwangi terkait kondisi kantor tersebut, termasuk mengenai aktivitas perangkat desa di luar kantor pada waktu pantauan. Persoalan ini juga menjadi perhatian terhadap kualitas pelayanan publik di tingkat desa. Pemerintah Kabupaten Majalengka diharapkan dapat melakukan pembinaan dan memastikan penyelenggaraan pemerintahan desa berjalan sesuai ketentuan serta tetap mengutamakan kepentingan masyarakat. Jika memang terdapat persoalan kedisiplinan, evaluasi dan pembinaan terhadap aparatur desa diperlukan agar pelayanan kepada masyarakat tidak terganggu. (Asep Rusliman)

SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Desa Ubrug, Kecamatan Warungkiara, Kabupaten Sukabumi, didorong untuk mengembangkan berbagai potensi lokal yang dimilikinya menjadi kekuatan ekonomi masyarakat. Pengembangan sektor pangan, pariwisata, kuliner, hingga usaha masyarakat dinilai dapat dikemas menjadi satu kesatuan yang saling menguatkan. Hal tersebut disampaikan Bupati Sukabumi H Asep Japar saat melepas Jalan Santai dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Sukabumi (HJKS) ke-156 di Desa Ubrug, Kecamatan Warungkiara, Sabtu (12/9/2026). Asep Japar melihat Desa Ubrug memiliki modal potensi yang cukup untuk dikembangkan lebih jauh. Keberadaan potensi alam dan aktivitas ekonomi masyarakat dapat menjadi bagian dari daya tarik desa apabila dikelola secara terarah dan dikemas secara menarik. Menurutnya, pengembangan Ubrug tidak harus dilakukan dengan membangun sesuatu yang baru. Potensi yang sudah ada di masyarakat justru perlu dipetakan, diperkuat, kemudian dikembangkan menjadi produk unggulan desa. “Potensi ini bisa dikemas menjadi paket wisata terpadu sehingga kunjungan wisatawan turut memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya. Konsep tersebut, kata Bupati, dapat menghubungkan berbagai aktivitas masyarakat, mulai dari potensi wisata, kuliner, produk UMKM hingga sektor pangan. Dengan demikian, wisatawan yang datang tidak sekadar berkunjung, tetapi juga memiliki pengalaman sekaligus memberikan perputaran ekonomi bagi masyarakat setempat. Asep Japar juga menaruh perhatian terhadap penguatan sektor pangan di wilayah Warungkiara. Ia mengapresiasi program yang dijalankan melalui BUMDes di 12 desa, termasuk bagaimana potensi desa dapat dikelola menjadi kegiatan usaha yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat. “Pariwisata kita kembangkan, pangan kita kuatkan, BUMDes kita berdayakan, dan masyarakat kita sejahtera,” tegasnya. Bupati berharap pengembangan potensi Desa Ubrug tidak berjalan sendiri. BUMDes, pemerintah desa, pelaku UMKM dan masyarakat perlu membangun kolaborasi sehingga setiap potensi yang dimiliki dapat menghasilkan nilai tambah. Ia juga mendorong BUMDes antardesa di Kecamatan Warungkiara untuk membangun jejaring usaha. Kolaborasi tersebut dinilai penting agar produk dan potensi lokal memiliki pasar yang lebih luas sekaligus memperkuat perekonomian kawasan. Bagi Asep Japar, desa memiliki peran strategis dalam membangun kekuatan ekonomi Kabupaten Sukabumi. Karena itu, potensi lokal seperti yang dimiliki Ubrug harus terus didorong agar mampu menjadi sumber kesejahteraan masyarakat dan bagian dari upaya mewujudkan Sukabumi Mubarokah. Rangkaian kegiatan di Desa Ubrug kemudian dilanjutkan dengan peletakan batu pertama pembangunan Tugu Selamat Datang Kecamatan Warungkiara. (Dicky)

SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Pemerintah Desa Kutasirna, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi, mempertanyakan pengalihan paket bantuan pembangunan talud yang sebelumnya direncanakan untuk wilayah mereka. Program yang disebut-sebut bernilai ratusan juta rupiah itu kini dialihkan ke Kelurahan Sukasari, Kecamatan Cisaat. Pengalihan tersebut memicu kekecewaan di tengah masyarakat Kutasirna yang mengklaim bahwa bantuan itu tidak seharusnya dialihkan ke wilayah lain. Kekecewaan itu cukup beralasan sebab rencana pembangunan talud di Kampung Cicadas RT 01/RW 01 itu sebelumnya telah diketahui secara luas oleh warga dan menjadi bagian dari harapan pembangunan infrastruktur di wilayah tersebut. Ketua LPM Desa Kutasirna, Ismail Marzuki, menyayangkan keputusan tersebut. Menurutnya, masyarakat berhak mendapatkan penjelasan yang jelas mengenai alasan program yang sebelumnya diperuntukkan bagi Desa Kutasirna justru dialihkan ke wilayah lain. “Jelas warga sangat kecewa dengan pengalihan program itu. Apalagi dasarnya sangat lemah, hanya karena bantuan program untuk Desa Kutasirna kebanyakan,” kata Ismail, Kamis (10/9). Ia menilai persoalan tersebut tidak semestinya dibiarkan tanpa penjelasan terbuka dari pihak terkait. Terlebih, rencana pembangunan talud sudah menjadi pengetahuan umum masyarakat. Kondisi itu, kata Ismail, berpotensi menimbulkan keresahan apabila tidak segera diberikan penjelasan yang dapat diterima secara rasional. “Kalau masih tidak ada penjelasan dari pihak terkait, dikhawatirkan ada gejolak di masyarakat. Kalau alasannya masuk akal dan bisa diterima, kami anggap urusan ini selesai sampai di sini,” tegasnya. Di tengah polemik tersebut, muncul pula dugaan bahwa pembatalan program pembangunan talud di Kutasirna berkaitan dengan adanya intervensi dari oknum anggota DPRD yang berasal dari salah satu partai politik. Namun, dugaan tersebut masih membutuhkan klarifikasi dan pembuktian dari pihak-pihak yang disebut berkaitan dengan proses pengalihan program. Pemerintah desa maupun masyarakat Kutasirna berharap persoalan ini dapat dijelaskan secara transparan sehingga tidak berkembang menjadi polemik yang lebih luas. Bagi masyarakat, persoalannya bukan semata-mata mengenai ke mana program tersebut dialihkan, melainkan mengapa program yang sebelumnya direncanakan untuk Kutasirna dibatalkan dan apa dasar keputusan tersebut. Hingga kini, masyarakat Kutasirna masih menunggu penjelasan resmi dari dinas terkait mengenai alasan pengalihan program pembangunan talud tersebut. (Dicky)

SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Pembangunan infrastruktur Desa Kutasirna Kecamatan Cisaat tidak hanya diarahkan untuk memperbaiki akses jalan, tetapi juga menjadi bagian penting dalam membuka pergerakan ekonomi masyarakat. Bendahara Desa Kutasirna Azis Dwi Julianto atau biasa disapa Ajo mengatakan, salah satu titik pembangunan berada di Kampung Kotasirna, RT 08/RW 03, dengan ruas jalan sepanjang sekitar 470 meter dan lebar 2,5 meter. “Ruas tersebut menggunakan konstruksi jalan beton yang kemudian dilapisi aspal atau hotmix,” ujarnya, Kamis, (10/9/2026). Sementara titik lainnya kata dia, berada di Kampung Cirenged, RT 16/RW 06 atau wilayah RW 05, berupa pembangunan Tembok Penahan Tanah (TPT) untuk mendukung akses jalan lingkungan. Kedua pembangunan tersebut bersumber dari Dana Desa (DD) tahun anggaran 2026. Di balik pembangunan jalan tersebut, terdapat aktivitas ekonomi masyarakat yang cukup potensial. Akses yang lebih baik dinilai penting untuk memperlancar mobilitas warga sekaligus distribusi barang dan jasa dari wilayah desa menuju pasar yang lebih luas. Dia menambahkan, salah satu sektor yang berkembang adalah industri makanan rumahan. Masyarakat yang sebelumnya banyak bergerak pada kerajinan anyaman bambu kini mulai beralih ke produksi makanan ringan, seperti tiktak, sukro, hingga produk olahan sayuran. Sedikitnya terdapat empat sentra atau pabrik tiktak di wilayah tersebut. Masing-masing mempekerjakan sekitar 25 orang, yang sebagian besar merupakan ibu rumah tangga. Dengan demikian, aktivitas produksi tersebut sedikitnya membuka lapangan pekerjaan bagi sekitar 100 warga. Selain industri rumahan, sektor pertanian dan perikanan juga menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat. Komoditas sayuran menjadi salah satu hasil pertanian yang dikembangkan, sementara di sektor perikanan terdapat sekitar lima kelompok pembudidaya ikan. Hasil produksi masyarakat bahkan tidak berhenti di pasar lokal. Sebagian hasil pertanian dan perikanan dikirim ke kawasan industri dan pasar luar daerah, termasuk Jakarta dan Cikarang. Kondisi tersebut membuat keberadaan infrastruktur jalan memiliki posisi strategis. Jalan bukan hanya menjadi sarana keluar-masuk warga, tetapi juga menjadi jalur yang menghubungkan sentra produksi dengan konsumen dan pasar. Desa Kotasirna sendiri terdiri atas 18 RT dan enam RW yang tersebar di tiga dusun, yakni Dusun Babakan Jampang, Dusun Kotasirna dan Dusun Cirenged. Jumlah penduduknya tercatat lebih dari 6.000 jiwa berdasarkan data pendataan terakhir. Dengan potensi tersebut, pembangunan infrastruktur diharapkan tidak berhenti pada peningkatan kondisi fisik jalan. Lebih jauh, infrastruktur diharapkan mampu memperkuat rantai ekonomi desa, menekan hambatan distribusi, serta membuka ruang lebih besar bagi usaha masyarakat untuk berkembang. Bagi warga Kotasirna, jalan yang semakin baik berarti akses yang semakin terbuka. Bukan hanya untuk bepergian, tetapi juga untuk membawa hasil produksi desa menuju pasar yang lebih luas. (Usep)

SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Tahapan menuju Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak di wilayah Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, mulai menjadi perhatian masyarakat. Namun, hingga kini geliat politik desa masih relatif sepi, termasuk di Desa Cipeundeuy yang belum mencatatkan adanya figur yang secara terbuka menyatakan diri siap bertarung. Belum munculnya bakal calon membuat peta persaingan Pilkades di Desa Cipeundeuy masih sulit diprediksi. Sejumlah tokoh yang berpotensi maju pun belum terlihat mengambil langkah politik secara terbuka. Kepala Desa Cipeundeuy petahana, Bakang Anwar As’Adi, saat dikonfirmasi mengenai kemungkinan kembali mencalonkan diri, memilih belum memberikan kepastian. Ia menegaskan, saat ini dirinya masih memprioritaskan penyelesaian tugas hingga akhir masa jabatannya. “Saat ini saya masih fokus bekerja menyelesaikan sisa masa jabatan saya sebagai Kepala Desa definitif,” ungkap Bakang. Menurutnya, Pilkades merupakan bagian dari proses demokrasi di tingkat desa yang harus memberikan ruang kepada masyarakat untuk menentukan sosok terbaik yang akan memimpin ke depan. Karena itu, Bakang menyatakan tidak menutup peluang bagi warga yang ingin tampil sebagai calon kepala desa. Ia bahkan memastikan akan memberikan dukungan terhadap siapa pun warga yang memiliki niat membangun dan memajukan Desa Cipeundeuy. “Jika di antara warga ada yang berniat maju dan mencalonkan diri sebagai bakal calon kepala desa, kami akan memberikan dukungan penuh,” ujarnya. Sementara ketika ditanya mengenai kemungkinan dirinya kembali maju apabila masyarakat masih menginginkan kepemimpinannya, Bakang menyerahkan keputusan tersebut kepada kepercayaan warga. “Jika warga masih membutuhkan dan masih mempercayai, Insya Allah bismillah,” katanya. Hingga kini, dinamika Pilkades di Desa Cipeundeuy masih menunggu kemunculan sejumlah figur yang siap menawarkan gagasan dan program kepada masyarakat. Kondisi serupa juga terlihat di sejumlah desa lainnya di Kecamatan Surade. Dengan tahapan Pilkades yang terus berjalan, masyarakat kini tinggal menunggu siapa saja tokoh yang akan mengambil langkah dan secara resmi menyatakan kesiapan untuk ikut dalam kontestasi. (Dicky)

SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Pemerintah Desa Cipeundeuy, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, terus memperkuat budaya kerja aparatur desa dengan menanamkan disiplin, kemandirian, dan tanggung jawab sebagai standar utama dalam menjalankan pemerintahan serta pelayanan kepada masyarakat. Di bawah kepemimpinan Kepala Desa Cipeundeuy, Bakang Anwar As’Adi, setiap perangkat desa didorong untuk mampu menjalankan tugas secara mandiri tanpa bergantung pada pengawasan maupun instruksi pimpinan. Budaya kerja tersebut dirangkum dalam tiga prinsip yang menjadi pegangan jajaran pemerintahan desa, yakni disiplin tanpa harus diawasi, bekerja tanpa harus diperhatikan, serta bertanggung jawab tanpa harus diminta. Menurut Bakang, prinsip tersebut bukan sekadar slogan, tetapi harus menjadi karakter yang melekat dalam diri setiap perangkat desa. Dengan demikian, setiap aparatur memiliki kesadaran untuk menjalankan tugas dan kewajibannya secara konsisten. Penerapan disiplin mandiri juga menjadi bagian dari upaya membangun tata kelola pemerintahan desa yang lebih efektif, efisien dan berintegritas. Perangkat desa dituntut memiliki inisiatif, memahami tugas pokok dan fungsi masing-masing, serta mampu memberikan pelayanan kepada masyarakat secara cepat dan bertanggung jawab. “Disiplin bukan karena takut diawasi, tetapi karena sadar terhadap tugas dan tanggung jawab. Begitu juga bekerja, tidak harus menunggu diperhatikan. Setiap perangkat harus memiliki rasa tanggung jawab terhadap pekerjaannya,” ujarnya. Dengan pola tersebut, Pemerintah Desa Cipeundeuy berupaya membangun lingkungan kerja yang profesional sekaligus mendorong aparatur untuk lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat. Budaya disiplin mandiri diharapkan tidak hanya meningkatkan kinerja perangkat desa, tetapi juga memperkuat kepercayaan publik terhadap pemerintah desa. Pelayanan yang cepat, tepat, transparan dan bertanggung jawab menjadi salah satu indikator penting dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan desa yang semakin baik. (Dicky)

SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Semangat kebersamaan dan gotong royong masyarakat Desa Cibenda, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, kembali terlihat dalam pembangunan jalan penghubung yang menghubungkan dua Kedusunan antara Kampung Bantar Limus dengan Kampung Pasir Ceuri, Minggu (30/8/2026). Pembangunan akses tersebut dipimpin langsung Kepala Desa Cibenda, Adi Rizwan, yang akrab disapa Hurung. Kehadiran orang nomor satu di Desa Cibenda itu sekaligus menjadi bentuk dukungan terhadap upaya masyarakat dalam membuka dan meningkatkan akses transportasi antarwilayah. Hurung mengapresiasi kekompakan warga yang secara bersama-sama terlibat dalam pengerjaan jalan. Menurutnya, keterlibatan masyarakat menjadi kekuatan penting sehingga pembangunan akses tersebut dapat direalisasikan. “Dengan menyatukan kekompakan, Alhamdulillah pembangunan jalan ini akhirnya bisa terealisasi. Maju terus semangat gotong royong kita,” ujar Hurung. Ia menilai, semangat kebersamaan menjadi modal besar dalam mewujudkan pembangunan di tingkat desa. Dengan tekad yang kuat dan persatuan warga, berbagai keterbatasan dapat dihadapi secara bersama-sama. “Tidak ada kata lelah maupun menyerah ketika kita memiliki tekad kuat dan semangat persatuan. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kemudahan dan kelancaran dalam setiap langkah kita,” katanya. Hurung juga menyampaikan terima kasih kepada masyarakat Kampung Bantar Limus dan warga sekitar yang telah berkontribusi dalam pembangunan tersebut. Ia berharap jalan baru itu tidak hanya menjadi akses penghubung, tetapi juga mampu memberikan dampak positif terhadap aktivitas ekonomi masyarakat. Terlebih, jalur tersebut memiliki fungsi penting bagi kegiatan pertanian warga. Kemudahan akses diharapkan dapat membantu petani dalam membawa sarana produksi maupun mengangkut hasil pertanian, sehingga aktivitas usaha tani menjadi lebih efektif. “Semoga jalan ini memudahkan akses usaha tani warga. Jalan merupakan urat nadi kehidupan masyarakat. Kami berharap fasilitas ini memberikan manfaat besar dan turut mendorong kemajuan Desa Cibenda,” pungkasnya. (Dicky)

SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Dua kelompok Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) di Desa Pasiripis, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, mendapat bantuan Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) yang bersumber dari APBN Tahun Anggaran 2026. Program tersebut mendapat sambutan positif dari pemerintah desa dan masyarakat, khususnya para petani yang selama ini bergantung pada jaringan irigasi untuk menunjang aktivitas pertanian. Paket bantuan tersebut diberikan kepada Kelompok P3A Tani Muda yang berada di Daerah Irigasi Cigangsa dengan ketua Saepul Samsudin, serta Kelompok P3A Garda Muda yang juga berada di daerah irigasi yang sama dan diketuai Gusti Persada. Program peningkatan tata guna air irigasi ini dinilai memberikan manfaat langsung bagi masyarakat karena membantu memperbaiki dan meningkatkan fungsi jaringan irigasi yang menjadi salah satu penunjang produktivitas lahan pertanian. Perwakilan kelompok penerima bantuan, Hadi dan Gusti, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan program. Keduanya secara khusus mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum. “Atas nama masyarakat, kami menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya. Alhamdulillah, selama kegiatan berlangsung semuanya berjalan dengan baik. Kami berharap program seperti ini bisa terus berlanjut pada tahun-tahun berikutnya,” ujar Hadi dan Gusti, Jumat (14/8/2026). Menurut mereka, keberadaan jaringan irigasi yang lebih baik akan memberikan dampak positif terhadap aktivitas para petani. Selain mendukung kelancaran pengairan, pemeliharaan infrastruktur irigasi juga diharapkan mampu menjaga keberlangsungan kegiatan pertanian masyarakat. Kepala Desa Pasiripis, Nandang Saepul Mikdar, turut memberikan apresiasi atas perhatian pemerintah terhadap kebutuhan masyarakat di wilayahnya. Ia menyampaikan terima kasih kepada seluruh unsur pemerintahan, mulai dari tingkat kecamatan, kabupaten, provinsi hingga pemerintah pusat. “Pemerintah Desa Pasiripis mengapresiasi dan berterima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan perhatian serta membantu pembangunan dan pengembangan desa, termasuk melalui program peningkatan jaringan irigasi ini,” ungkap Nandang. Sementara itu, tokoh masyarakat Desa Pasiripis, Sobirin, menilai bantuan tersebut menjadi kabar baik bagi para petani. Menurutnya, perbaikan jaringan irigasi memiliki peran penting dalam menjaga ketersediaan air bagi lahan pertanian. Ia berharap program serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat. “Para petani tentu bersyukur dengan adanya bantuan ini. Mudah-mudahan perbaikan irigasi dapat mendukung pertanian dan meningkatkan hasil produksi masyarakat,” tutur Sobirin. Dengan dukungan infrastruktur irigasi yang semakin baik, masyarakat Desa Pasiripis berharap sektor pertanian dapat berkembang lebih optimal. Bantuan P3-TGAI pun diharapkan tidak hanya memperbaiki jaringan pengairan, tetapi turut memperkuat produktivitas dan kesejahteraan petani di wilayah tersebut. (Dicky)

SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Dua kelompok Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) di Desa Pasiripis, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, mendapat bantuan Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) yang bersumber dari APBN Tahun Anggaran 2026. Program tersebut mendapat sambutan positif dari pemerintah desa dan masyarakat, khususnya para petani yang selama ini bergantung pada jaringan irigasi untuk menunjang aktivitas pertanian. Paket bantuan tersebut diberikan kepada Kelompok P3A Tani Muda yang berada di Daerah Irigasi Cigangsa dengan ketua Saepul Samsudin, serta Kelompok P3A Garda Muda yang juga berada di daerah irigasi yang sama dan diketuai Gusti Persada. Program peningkatan tata guna air irigasi ini dinilai memberikan manfaat langsung bagi masyarakat karena membantu memperbaiki dan meningkatkan fungsi jaringan irigasi yang menjadi salah satu penunjang produktivitas lahan pertanian. Perwakilan kelompok penerima bantuan, Hadi dan Gusti, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan program. Keduanya secara khusus mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum. “Atas nama masyarakat, kami menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya. Alhamdulillah, selama kegiatan berlangsung semuanya berjalan dengan baik. Kami berharap program seperti ini bisa terus berlanjut pada tahun-tahun berikutnya,” ujar Hadi dan Gusti, Jumat (14/8/2026). Menurut mereka, keberadaan jaringan irigasi yang lebih baik akan memberikan dampak positif terhadap aktivitas para petani. Selain mendukung kelancaran pengairan, pemeliharaan infrastruktur irigasi juga diharapkan mampu menjaga keberlangsungan kegiatan pertanian masyarakat. Kepala Desa Pasiripis, Nandang Saepul Mikdar, turut memberikan apresiasi atas perhatian pemerintah terhadap kebutuhan masyarakat di wilayahnya. Ia menyampaikan terima kasih kepada seluruh unsur pemerintahan, mulai dari tingkat kecamatan, kabupaten, provinsi hingga pemerintah pusat. “Pemerintah Desa Pasiripis mengapresiasi dan berterima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan perhatian serta membantu pembangunan dan pengembangan desa, termasuk melalui program peningkatan jaringan irigasi ini,” ungkap Nandang. Sementara itu, tokoh masyarakat Desa Pasiripis, Sobirin, menilai bantuan tersebut menjadi kabar baik bagi para petani. Menurutnya, perbaikan jaringan irigasi memiliki peran penting dalam menjaga ketersediaan air bagi lahan pertanian. Ia berharap program serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat. “Para petani tentu bersyukur dengan adanya bantuan ini. Mudah-mudahan perbaikan irigasi dapat mendukung pertanian dan meningkatkan hasil produksi masyarakat,” tutur Sobirin. Dengan dukungan infrastruktur irigasi yang semakin baik, masyarakat Desa Pasiripis berharap sektor pertanian dapat berkembang lebih optimal. Bantuan P3-TGAI pun diharapkan tidak hanya memperbaiki jaringan pengairan, tetapi turut memperkuat produktivitas dan kesejahteraan petani di wilayah tersebut. (Dicky)