SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Upaya mewujudkan Kota Sukabumi yang lebih bersih tidak cukup hanya mengandalkan petugas kebersihan dan armada pengangkut sampah. Perubahan harus dimulai dari sumbernya, yakni rumah tangga. Pesan itu ditegaskan Wakil Wali Kota Sukabumi Bobby Maulana saat mengikuti kegiatan World Clean Up Day, Minggu (20/9). Ia mendorong masyarakat mengubah kebiasaan dalam memperlakukan sampah, dari sekadar membuang menjadi memilah dan mengolah sejak dari rumah. Menurut Bobby, persoalan sampah selama ini terlalu sering diselesaikan di hilir. Sampah dikumpulkan, diangkut, kemudian dibawa ke tempat pembuangan. Jika pola tersebut terus berlangsung, beban sistem pengelolaan sampah akan semakin besar. “Yang paling penting itu dari hulunya, dari rumah tangga. Sampah harus dipilah,” kata Bobby. Ia menegaskan, membuang sampah pada tempatnya memang merupakan kewajiban dasar setiap warga. Namun, kepedulian terhadap sampah tidak boleh berhenti setelah sampah masuk ke tempat pembuangan. Masyarakat juga perlu mengetahui ke mana sampah tersebut dibawa dan bagaimana sampah seharusnya dikelola agar tidak seluruhnya berakhir di tempat pembuangan. “Masyarakat perlu memiliki kepedulian untuk mengetahui ke mana sampah tersebut pergi dan bagaimana seharusnya sampah itu dikelola,” ujarnya. Untuk memperkuat pengelolaan dari tingkat lingkungan, Pemkot Sukabumi menyiapkan langkah mengaktifkan kembali Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) yang belum seluruhnya berfungsi optimal. Dari sekitar 12 hingga 13 TPS 3R yang tersedia, pemerintah menargetkan setidaknya separuhnya dapat kembali diaktifkan pada 2027 dengan dukungan anggaran yang tersedia. Bobby berharap keberadaan TPS 3R dapat menjadi bagian dari perubahan pola pengelolaan sampah. Sampah tidak harus selalu diangkut jauh dan diselesaikan di tempat pembuangan, tetapi sebisa mungkin diolah lebih dekat dengan sumbernya. “Dengan pengolahan yang dilakukan lebih dekat dengan sumbernya, sampah yang harus diangkut ke Cikundul dapat ditekan,” tandasnya. Perubahan tersebut membutuhkan keterlibatan masyarakat hingga tingkat paling bawah. Kelurahan, RW, RT dan keluarga dinilai memiliki peran penting dalam memastikan pemilahan dan pengolahan sampah benar-benar berjalan. Salah satu gagasan yang didorong adalah penguatan satgas di tingkat RT. Mereka nantinya bukan hanya bertugas mengambil sampah dari rumah ke rumah, tetapi juga menjadi penggerak edukasi agar warga terbiasa memilah sampah sebelum dikumpulkan. Dengan pola tersebut, sampah organik dapat langsung diarahkan untuk pengomposan, biopori atau pengolahan lainnya. Sedangkan sampah anorganik dapat dikumpulkan dan dimanfaatkan kembali sesuai jenisnya. Ketua Restu Bumi Kia Prolita menilai pengelolaan sampah dari lingkungan memiliki manfaat yang lebih luas. Selain menjaga kebersihan, pola tersebut dapat mengubah sesuatu yang selama ini dianggap sebagai limbah menjadi sumber manfaat. Sejumlah RW, kata Kia, telah mulai memanfaatkan sampah organik melalui biopori serta mengolahnya menjadi pupuk yang dapat digunakan untuk tanaman, termasuk hidroponik. “Rantai pengelolaan sampah dapat dibuat berputar di lingkungan sendiri. Apa yang sebelumnya dianggap tidak berguna dapat kembali memberikan manfaat,” kata Kia. Kia juga mendorong masyarakat melihat sampah dari perspektif yang berbeda. Pemilahan tidak semata-mata menjadi kewajiban untuk menjaga lingkungan, tetapi juga dapat membuka peluang ekonomi. “Yang tadinya sampah harus dibuang, kita dorong supaya bisa menjadi sesuatu yang bernilai, bahkan bisa menjadi uang,” ujarnya. Gerakan tersebut menegaskan bahwa upaya menciptakan Sukabumi yang bersih tidak hanya bergantung pada seberapa banyak sampah yang berhasil diangkut pemerintah. Kuncinya justru berada pada kemampuan masyarakat mengurangi, memilah dan mengolah sampah sejak dari sumbernya. Dari rumah, perubahan dimulai. Dari lingkungan, pengelolaan diperkuat. Dan dari kebiasaan memilah, sampah yang sebelumnya menjadi beban diharapkan dapat berubah menjadi manfaat bagi Kota Sukabumi. (Usep)
SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Sukabumi memperketat pengawasan terhadap warga binaan. Langkah itu dilakukan melalui inspeksi mendadak (sidak) gabungan kamar hunian dan tes urine bersama TNI, Polri, serta Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Sukabumi, Sabtu (19/9/2026) malam. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya deteksi dini untuk mencegah gangguan keamanan dan ketertiban (kamtib), sekaligus memperkuat komitmen Lapas Sukabumi mewujudkan Zero HALINAR atau bebas dari handphone ilegal, pungutan liar, dan narkoba. Sidak dilaksanakan menindaklanjuti Surat Edaran Direktur Jenderal Pemasyarakatan Nomor PAS-61.OT.02.02 Tahun 2026 tentang peningkatan kewaspadaan dan deteksi dini gangguan keamanan serta ketertiban di lingkungan Lapas, LPKA, dan Rutan. Petugas gabungan menyasar kamar hunian di Blok A, Blok B, Blok C, hingga Blok Wanita. Penggeledahan dilakukan secara menyeluruh dengan tetap mengedepankan pendekatan profesional, humanis, sopan, dan santun. Kepala Lapas Kelas IIB Sukabumi, Budi Hardiono, A.Md.IP., S.H., M.H., mengatakan sidak bukan sekadar kegiatan rutin, tetapi menjadi langkah pencegahan untuk memastikan tidak ada narkoba, handphone ilegal, senjata tajam, maupun barang terlarang lainnya di dalam Lapas. “Target kita adalah memastikan tidak ada narkotika, handphone ilegal, senjata tajam, maupun barang-barang lain yang dilarang berada di dalam kamar hunian,” ujar Budi. Dari hasil penggeledahan, petugas tidak menemukan narkoba maupun alat komunikasi ilegal. Namun, sejumlah barang yang tidak diperkenankan berada di kamar hunian masih ditemukan dan langsung diamankan. Barang tersebut antara lain korek gas, cermin, power bank, jepit kuku, kipas angin, alat pencukur rambut, sendok, kape, botol parfum kaca, pencukur jenggot, gelas kaca, kartu remi, tempered glass, charger handphone, kabel data, baterai, termos stainless, earphone, pengharum ruangan, casing handphone, wallpaper hingga kacamata. Seluruh barang temuan kemudian diamankan untuk didata dan ditindaklanjuti sesuai ketentuan yang berlaku. Tak berhenti pada penggeledahan kamar, BNNK Sukabumi juga melakukan tes urine secara acak terhadap 50 Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP). Hasilnya, seluruh sampel menunjukkan negatif narkoba. BNNK Sukabumi memastikan dari 50 WBP yang menjalani pemeriksaan tidak ditemukan indikasi penggunaan maupun penyalahgunaan narkotika. Budi menegaskan, hasil negatif tersebut tidak membuat pengawasan dilonggarkan. Sebaliknya, pemeriksaan dan penggeledahan akan terus dilakukan secara rutin dan berkala. “Sinergi dengan TNI, Polri, dan BNNK akan terus kami perkuat. Kami berkomitmen menjaga Lapas Sukabumi tetap aman, tertib, bebas dari narkoba, serta bersih dari barang-barang terlarang lainnya,” tegasnya. Menurutnya, konsistensi pengawasan menjadi bagian penting dalam menjaga situasi Lapas tetap aman dan kondusif. Sidak juga menjadi sarana evaluasi terhadap efektivitas sistem pengamanan sekaligus menutup celah masuknya barang terlarang. Kegiatan tersebut turut melibatkan Kapolsek Warudoyong beserta personel, Danramil 0607-7 Warudoyong beserta personel, jajaran Lapas Sukabumi, BNNK Sukabumi, pejabat manajerial, staf, regu pengamanan, serta Taruna Poltekimipas. Langkah tersebut sekaligus mendukung 15 Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan Tahun 2026, khususnya program pemberantasan peredaran narkoba dan berbagai modus penipuan di dalam Lapas dan Rutan. Selain itu, kegiatan ini menjadi implementasi 21 Perintah Harian Direktur Jenderal Pemasyarakatan Drs. Mashudi, terutama komitmen mewujudkan Lapas dan Rutan yang bersih dari handphone ilegal, peredaran narkoba, pungutan liar, dan penipuan melalui razia yang rutin dan berkelanjutan. Lapas Kelas IIB Sukabumi juga menindaklanjuti arahan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jawa Barat, Yudi Suseno. Dengan penggeledahan gabungan dan tes urine yang dilakukan secara berkala, Lapas Sukabumi menegaskan bahwa upaya menjaga keamanan tidak dilakukan secara sporadis. Pengawasan akan terus diperketat sebagai bagian dari komitmen mewujudkan Lapas Sukabumi Bersih dari Narkoba. (Usep)
SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Kedatangan dua pria ke kandang kelompok tani di Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, yang awalnya disebut untuk mempertanyakan bantuan ternak domba, berujung pada operasi tangkap tangan (OTT) polisi. Seorang pria yang disebut mengaku dari LSM KPK Jabar diamankan Satreskrim Polres Sukabumi setelah diduga meminta uang kepada Ketua Kelompok Tani Ciraden Girang. Dalam proses penindakan tersebut, polisi berhasil mengamankan uang tunai Rp5 juta sebagai barang bukti. Peristiwa ini bermula pada Jumat (18/9/2026) pagi. Dua pria mendatangi kandang Kelompok Tani Ciraden Girang di Kampung Marinjung Girang, Desa Karangpapak, Kecamatan Cisolok. Ketua Kelompok Tani Ciraden Girang, Robi Farid, mengatakan kedua pria tersebut menanyakan program bantuan ternak domba tahun 2025. Pihak kelompok tani kemudian menunjukkan kondisi ternak dan memberikan penjelasan mengenai bantuan tersebut. Alih-alih menyadari kesalahannya, pelaku kembali menghubungi korban. Sekitar pukul 13.00 WIB, Robi menerima telepon yang mempertanyakan jumlah ternak bantuan. Di sinilah persoalan mulai memanas karena terdapat perbedaan data. Menurut Robi, kelompok tani mencatat sekitar 40 ekor ternak. Sementara pihak yang mengaku dari LSM KPK Jabar menyebut jumlah ternak hanya 20 ekor. Persoalan tersebut kemudian dibawa ke pertemuan sekitar pukul 16.30 WIB di kawasan depan Hotel Agusta, dekat Masjid Istiqomah. Dalam pertemuan itu, Robi mengaku dirinya diminta menyediakan uang agar persoalan tersebut diselesaikan. “Ujung-ujungnya mereka berdua dari LSM KPK Jabar meminta untuk diselesaikan masalah ini dengan nominal Rp6 juta,” ujar Robi. Permintaan tersebut membuat pihak kelompok tani keberatan. Robi mengaku kelompoknya tidak sanggup memenuhi permintaan tersebut dan hanya bersedia mengganti biaya transportasi. Namun persoalan belum berhenti. Komunikasi melalui WhatsApp kembali dilakukan dan kelompok tani disebut diminta menyelesaikan persoalan tersebut pada malam hari. Merasa ditekan, kelompok tani akhirnya memilih mengambil langkah lain: melapor kepada polisi. Laporan itu kemudian berujung pada penindakan. Polisi bersama pihak kelompok tani menyiapkan pertemuan di kawasan Citepus, Kecamatan Palabuhanratu, Jumat malam. Sekitar pukul 22.00 WIB, uang yang diminta akhirnya diserahkan. Nilainya Rp5 juta. “Benar transaksi di situ. Kami serahkan nominal Rp5 juta,” kata Robi. Sesaat setelah transaksi berlangsung, polisi langsung bergerak. Pria yang diduga terlibat diamankan dalam OTT yang dipimpin Kanit Jatanras Ipda Majlis Pakpahan sekitar pukul 22.19 WIB. Sejumlah barang bukti turut diamankan, termasuk uang tunai Rp5 juta serta barang yang dibawa oleh pria tersebut. Salah satu yang menjadi perhatian adalah atribut atau lencana bertuliskan “KPK” yang dikenakannya. Kasat Reskrim Polres Sukabumi Iptu Dudi Suharyana membenarkan adanya penangkapan tersebut. “Benar, yang bersangkutan sudah kami amankan dalam operasi tangkap tangan (OTT) tadi malam,” ujar Dudi saat dikonfirmasi, Sabtu (19/9/2026). Dudi menegaskan, perkara tersebut masih dalam proses pendalaman. Penyidik tengah memeriksa pihak yang diamankan serta para saksi untuk mengurai seluruh rangkaian kejadian. “Terduga pelaku saat ini masih dalam proses pemeriksaan lebih lanjut oleh petugas. Kami masih mendalami keterangan dari yang bersangkutan serta para saksi,” pungkasnya. Polisi masih mendalami dugaan modus dan motif dalam perkara tersebut. Status hukum pihak yang diamankan serta penerapan pasal dalam kasus ini masih menunggu hasil pemeriksaan penyidik. (Reno)
SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Pemerintah Kabupaten Sukabumi kembali menghadirkan kegiatan yang menyentuh langsung masyarakat melalui program “Ngalongok Dulur di Lembur”. Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Hari Jadi Kabupaten Sukabumi (HJKS) ke-156 tersebut dikemas dengan perjalanan bersama sekaligus pelayanan sosial di sejumlah wilayah. Bupati Sukabumi H. Asep Japar bersama Wakil Bupati H. Andreas, Sekretaris Daerah H. Ade Suryaman, unsur Forkopimda, serta jajaran perangkat daerah memulai perjalanan dari Pusbangdai, Kecamatan Cikembar, Sabtu (19/9/2026). Perjalanan tersebut tidak sekadar menjadi kegiatan kebersamaan. Di sejumlah titik, rombongan menghadirkan berbagai bentuk pelayanan masyarakat, mulai dari bakti sosial, pasar murah, pelayanan publik, penyaluran bantuan air bersih hingga bantuan bedah rumah. Dari Kecamatan Cikembar, rombongan bergerak menuju Alun-Alun Jampangtengah untuk melaksanakan bakti sosial, pasar murah dan pelayanan publik. Selanjutnya, kegiatan berlanjut ke Puncak Buluh, Desa Karanganyar, Kecamatan Jampangkulon, dengan agenda penyaluran bantuan air bersih dan bakti sosial. Rombongan kemudian dijadwalkan melanjutkan perjalanan ke Kecamatan Surade untuk kembali menggelar bakti sosial sekaligus menyerahkan bantuan bedah rumah. Kegiatan serupa juga dilakukan di Kecamatan Ciracap melalui bantuan air bersih, bakti sosial dan program bedah rumah. Rangkaian “Ngalongok Dulur di Lembur” direncanakan berakhir di kawasan Pantai Ujunggenteng dengan agenda pemberian bantuan sosial kepada masyarakat. Bupati juga mengatakan, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi sekaligus mendengar langsung aspirasi masyarakat. Turun ke lapangan, menurutnya, juga penting untuk melihat potensi sekaligus mengetahui berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat di setiap wilayah. “Melalui kegiatan ini, kami ingin membangun kedekatan dan komunikasi dengan masyarakat. Kami yang merupakan pelayan masyarakat, harus turun langsung ke masyarakat. Ini upaya memperkuat pelayanan serta pembangunan di Kabupaten Sukabumi,” ujar Asep Japar. Ia menegaskan, pemerintah tidak cukup hanya menerima laporan dari balik meja. Kehadiran langsung di tengah masyarakat diperlukan agar persoalan yang ada dapat diketahui secara lebih nyata sekaligus menjadi bahan dalam menentukan langkah pembangunan. Di sisi lain, Bupati mengingatkan seluruh peserta yang mengikuti perjalanan agar tetap menjaga ketertiban dan keselamatan selama berkendara. “Patuhi aturan lalu lintas dan saling mengingatkan selama perjalanan,” pungkasnya. (Dicky)
SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Bupati Sukabumi H. Asep Japar membuka Festival Bonsai di Alun-Alun Jampangtengah, Sabtu (19/9/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-156 Kabupaten Sukabumi sekaligus menjadi wadah bagi pelaku dan komunitas bonsai untuk memperkenalkan karya tanaman hias kepada masyarakat. Dalam arahannya, Bupati H. Asep Japar menyampaikan bahwa bonsai tidak hanya berkembang sebagai hobi, tetapi juga memiliki potensi untuk mendukung aktivitas ekonomi kreatif dan pariwisata daerah. “Di era modern ini, bonsai telah bermutasi menjadi sebuah ekosistem ekonomi kreatif dan komoditas hortikultura yang sangat strategis,” ujarnya. Menurut Bupati, pameran dan kontes bonsai dapat menjadi salah satu daya tarik yang memperkenalkan potensi tanaman hias Kabupaten Sukabumi kepada masyarakat dari luar daerah. Pengembangan potensi tersebut diharapkan dapat berjalan seiring dengan upaya meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat. Festival bonsai tersebut terselenggara melalui kolaborasi Pemerintah Kabupaten Sukabumi dengan komunitas Rumah Bonsai Indonesia (Rubi) Kabupaten Sukabumi yang diketuai Wahyu Kurniawan. Camat Jampangtengah Ikhsan Muchlis Sani menyampaikan bahwa kegiatan tersebut menjadi ruang bagi para pengrajin dan pecinta bonsai untuk menampilkan karya sekaligus memperkenalkan potensi tanaman hias di wilayahnya. “Mudah-mudahan nanti kalau orang luar, seperti orang Jakarta, mencari bonsai itu ingatnya adalah Kabupaten Sukabumi,” harapnya. Selain festival bonsai, kegiatan tersebut turut dirangkaikan dengan sejumlah pelayanan kepada masyarakat, di antaranya layanan kesehatan gratis, pasar pangan murah, pelayanan administrasi kependudukan, serta pelayanan pajak kendaraan bermotor keliling. Pada kesempatan tersebut, Pemerintah Kabupaten Sukabumi juga menyalurkan sejumlah bantuan sosial kepada masyarakat, meliputi paket sembako, kursi roda, intervensi penanganan stunting, serta bantuan tanggap darurat bagi warga Desa Nangerang yang terdampak musibah kebakaran. Bupati H. Asep Japar berharap rangkaian kegiatan Hari Jadi Kabupaten Sukabumi dapat menjadi momentum untuk memperkuat silaturahmi dan kebersamaan masyarakat dalam mendukung pembangunan daerah. “Ngalongok dulur di lembur, ngaraketkeun silaturahmi, babarengan ngawangun Sukabumi anu Mubarokah,” pungkasnya. (Dicky)
SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Pemerintah Kabupaten Sukabumi tengah mematangkan rencana menjadikan Pasar Jubleg sebagai pasar induk daerah. Langkah ini disiapkan untuk memperkuat penyerapan dan distribusi hasil pertanian dari berbagai wilayah Kabupaten Sukabumi. Sekretaris Daerah Kabupaten Sukabumi H. Ade Suryaman mengatakan, pembangunan pasar induk menjadi kebutuhan strategis melihat besarnya potensi agribisnis yang tersebar di 47 kecamatan dan 381 desa. Pernyataan tersebut disampaikan Ade saat memimpin Rapat Koordinasi Perubahan Berita Acara Justifikasi Teknis Pembangunan Pasar Jubleg bersama Kementerian Perdagangan RI dan sejumlah perangkat terkait secara virtual dari Pendopo Sukabumi, Jumat (18/9/2026). Ade menyebut selama ini sebagian besar hasil bumi dari Sukabumi harus melewati jalur distribusi yang cukup panjang karena dikirim ke pasar induk di Jakarta maupun Bandung. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan Pemkab Sukabumi mendorong keberadaan pasar induk di wilayah sendiri. Pasar Jubleg dinilai memiliki posisi yang mendukung karena berada di kawasan yang strategis dan berdekatan dengan wilayah Kota Sukabumi serta Kabupaten Cianjur. “Selama ini hasil bumi kita selalu dikirim ke pasar induk di Jakarta dan Bandung. Apabila dibangun di Pasar Jubleg yang posisinya strategis dan berbatasan dengan wilayah kota maupun Cianjur, kita berharap hasil panen petani tidak perlu dikirim terlalu jauh dan bisa ditampung langsung di sini,” kata Ade. Ia berharap pasar induk tersebut nantinya mampu menjadi titik temu antara produksi petani dengan kebutuhan pasar. Dengan distribusi yang lebih dekat, hasil panen dapat terserap di wilayah Sukabumi sebelum dikirim ke daerah lainnya. Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Sukabumi Dani Tarsoni memaparkan sejumlah perubahan dalam dokumen justifikasi teknis yang diajukan kepada Kementerian Perdagangan. Penyesuaian dilakukan terhadap konsep awal pembangunan yang sebelumnya direncanakan menggunakan lahan seluas 5 hektare. Pemkab kini mengoptimalkan aset daerah yang sudah tersedia dengan luas sekitar 2 hektare hingga mencapai batas jalan provinsi. Dalam rancangan terbaru, pasar tersebut disiapkan untuk menampung 266 pedagang. Jumlah itu terdiri dari 133 unit kios dan 133 unit meja atau los. Sementara luas keseluruhan bangunan direncanakan mencapai 6.700 meter persegi. “Revisi justifikasi teknis ini mengusulkan pembangunan untuk menampung 266 pedagang, yang terdiri dari 133 unit kios dan 133 unit meja atau los. Total luas bangunan mencapai 6.700 meter persegi,” ujar Dani. Untuk menunjang aktivitas perdagangan, bangunan pasar akan ditata berdasarkan jenis komoditas. Zonasi yang disiapkan meliputi pangan kering, pangan basah, makanan siap saji, hingga produk non-pangan. Pemkab Sukabumi juga terus mengejar penyelesaian aspek administrasi. Disdagin menargetkan seluruh dokumen persetujuan administratif dapat diselesaikan paling lambat 7 Oktober 2026. Pematangan dokumen tersebut menjadi bagian dari upaya Pemkab Sukabumi agar usulan pembangunan Pasar Induk Jubleg segera mendapatkan persetujuan dari pemerintah pusat. Ke depan, pasar induk ini diharapkan dapat menjadi salah satu pusat perdagangan dan distribusi komoditas Sukabumi. Tidak hanya memudahkan pedagang memperoleh pasokan, keberadaannya juga diharapkan membuka akses pasar yang lebih dekat bagi petani sekaligus menekan panjangnya mata rantai distribusi hasil bumi. (Reno)
SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Prestasi membanggakan kembali datang dari dunia pendidikan Kabupaten Sukabumi. Dian Wardiana, S.Pd., guru Sosiologi sekaligus Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMAN 1 Surade, berhasil terpilih sebagai salah satu peserta program beasiswa pelatihan pendidikan yang didanai Pemerintah Republik Rakyat Tiongkok (RRT) melalui Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia. Dian mendapatkan kesempatan mengikuti “Seminar for Education Administrators from South East Asia”, sebuah program internasional yang digelar di Provinsi Zhejiang, Republik Rakyat Tiongkok. Salah satu rangkaian kegiatan berlangsung di Zhejiang Normal University. Program tersebut menjadi forum bagi para aparatur sipil negara dari sejumlah negara Asia Tenggara untuk memperdalam pengetahuan mengenai administrasi pendidikan, pengelolaan lembaga pendidikan, sekaligus bertukar pengalaman terkait perkembangan dunia pendidikan di masing-masing negara. Dian tercatat sebagai salah satu dari sembilan PNS asal Indonesia yang terpilih mengikuti program tersebut. Para delegasi Indonesia berasal dari berbagai instansi, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Kesempatan ini menjadi pengalaman berharga bagi Dian untuk melihat secara langsung berbagai pendekatan dan praktik pengelolaan pendidikan yang diterapkan di Tiongkok serta negara-negara Asia Tenggara. Tidak hanya mengikuti seminar dan pelatihan, para peserta juga mendapat ruang untuk berdiskusi dan berinteraksi dengan akademisi, praktisi pendidikan, serta delegasi dari negara-negara ASEAN. Pertukaran pengalaman tersebut membahas berbagai tantangan pendidikan sekaligus gagasan mengenai strategi pengembangan pendidikan di tengah perubahan global. Bagi Dian, pengalaman tersebut bukan sekadar perjalanan akademik ke luar negeri. Lebih dari itu, kesempatan tersebut menjadi bagian dari proses meningkatkan kapasitas diri sekaligus memperluas cara pandang dalam melihat pengelolaan pendidikan. Sebagai pendidik dan Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas, pengalaman internasional itu juga diharapkan dapat memberikan perspektif baru dalam pengembangan sekolah, termasuk dalam membangun jejaring serta membuka peluang kolaborasi di bidang pendidikan. Wawasan yang diperoleh selama mengikuti program nantinya dapat menjadi bekal untuk dibagikan kembali kepada lingkungan sekolah maupun sesama pendidik. Dengan demikian, pengalaman yang diperoleh tidak berhenti sebagai pencapaian individu, tetapi dapat memberikan manfaat yang lebih luas. Keikutsertaan Dian juga menjadi gambaran bahwa pendidik dari daerah memiliki peluang untuk tampil dalam forum pendidikan internasional. Hal tersebut sekaligus menjadi motivasi bagi guru lainnya untuk terus meningkatkan kompetensi, memperluas wawasan, dan berani membangun jejaring pendidikan hingga ke tingkat global. Program di Zhejiang tersebut akhirnya menjadi jembatan pertukaran pengalaman antara pendidikan Indonesia, negara-negara Asia Tenggara, dan Tiongkok. Bagi Kabupaten Sukabumi, kehadiran seorang guru dari SMAN 1 Surade dalam forum tersebut menjadi kesempatan untuk membawa wawasan pendidikan global lebih dekat dengan lingkungan pendidikan di daerah. (Dicky)
SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Di tengah kemarau yang masih berlangsung, jajaran Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Sukabumi bersama warga binaan menundukkan kepala dalam doa. Mereka bermunajat pada yang maha kuasa seraya memohon turunnya hujan. Prosesi dilakukan melalui pelaksanaan Shalat Istisqa’ dan doa bersama, Jumat (18/9/2026). Kegiatan tersebut diikuti oleh Aparatur Sipil Negara (ASN) dan Warga Binaan Lapas Kelas IIB Sukabumi dengan menghadirkan Ust. H. Endang Saepulloh sebagai imam sekaligus khatib. Sementara itu, Ust. Dedi Rizaludin dari Kementerian Agama (Kemenag) Kota Sukabumi turut hadir sebagai penyuluh agama. Pelaksanaan Shalat Istisqa ini merupakan tindak lanjut Surat Direktur Pembinaan Narapidana dan Anak Binaan Nomor PAS.4.PK.06.01-35 tertanggal 15 September 2026. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari Gerakan Nasional Shalat Istisqa dan Doa Bersama untuk memohon hujan sekaligus meningkatkan kesadaran terhadap mitigasi dampak kekeringan di satuan kerja Pemasyarakatan. Kepala Lapas Kelas IIB Sukabumi Budi Hardiono, A.Md.IP., S.H., M.H., mengatakan kemarau menjadi momentum bagi seluruh jajaran dan warga binaan untuk kembali bersyukur serta menyadari keterbatasan manusia di hadapan Allah SWT. Menurutnya, Shalat Istisqa bukan sekadar rangkaian kegiatan keagamaan, melainkan bentuk ikhtiar bersama untuk memohon pertolongan Allah SWT sekaligus memperkuat nilai pembinaan bagi warga binaan. “Apa yang kita lakukan prinsipnya yaitu Pemasyarakatan Pasti Bermanfaat untuk Masyarakat,” ujar Budi. Ia juga mengapresiasi keterlibatan warga binaan yang mengikuti kegiatan dengan tertib. Menurutnya, partisipasi tersebut menunjukkan bahwa pembinaan di dalam Lapas tidak hanya berkaitan dengan kedisiplinan, tetapi juga menyentuh aspek keimanan dan pembentukan karakter. Sementara itu, Ust. H. Endang Saepulloh dalam khutbahnya mengingatkan bahwa hujan merupakan kebutuhan mendasar bagi seluruh kehidupan. Bukan hanya manusia, tetapi juga hewan, tumbuhan, tanah dan berbagai ekosistem bergantung pada ketersediaan air. Karena itu, jamaah diajak memperbanyak istighfar dan taubat serta melakukan introspeksi terhadap berbagai kesalahan yang telah dilakukan. Taubat, kata dia, tidak cukup hanya diucapkan. Taubat harus diwujudkan dengan meninggalkan perbuatan yang salah, menyesali kesalahan yang telah diperbuat dan memiliki tekad untuk tidak mengulanginya. Pesan tersebut menjadi semakin bermakna bagi warga binaan yang tengah menjalani proses pembinaan. Momentum Shalat Istisqa’ diharapkan dapat menjadi ruang untuk melakukan refleksi diri sekaligus memperkuat tekad memperbaiki diri. Selain menjadi ikhtiar spiritual memohon turunnya hujan, kegiatan ini juga diarahkan untuk menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan. Kesadaran menghemat air dan menjaga ketersediaannya menjadi bagian penting dalam menghadapi dampak kemarau. Lapas Kelas IIB Sukabumi berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat keimanan dan ketakwaan seluruh peserta sekaligus mendukung proses pembinaan kepribadian dan keagamaan bagi warga binaan. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman, tertib, lancar dan khidmat dalam suasana Lapas yang tetap kondusif. (Usep)
SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM — Desa Mekarjaya, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, bakal menjadi salah satu titik penting pelaksanaan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-130 Tahun Anggaran 2026. Berbagai program pembangunan fisik maupun nonfisik disiapkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat di wilayah tersebut. Persiapan pelaksanaan TMMD dibahas dalam Rapat Koordinasi Teknis Rencana Pelaksanaan TMMD ke-130 yang digelar di Ruang Data Makodim 0622/Kabupaten Sukabumi, Kamis (17/9/2026). Rapat tersebut diikuti Wakil Bupati Sukabumi H. Andreas bersama unsur Forkopimda dan jajaran terkait. Dalam rakor, Paban V/Wilhanrat Sterad Kolonel Inf Denny Noviandi menyampaikan bahwa TMMD ke-130 akan berlangsung selama 30 hari, mulai 13 Oktober hingga 11 November 2026. Kegiatan tersebut dilaksanakan secara serentak di 51 kabupaten/kota di Indonesia. Untuk Kabupaten Sukabumi, Desa Mekarjaya dipilih sebagai lokasi pelaksanaan dengan sejumlah sasaran pembangunan yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat. Salah satu sasaran fisik yang disiapkan yakni peningkatan jalan sepanjang kurang lebih dua kilometer dengan lebar 2,5 meter. Selain itu, program TMMD juga mencakup pembangunan rumah tidak layak huni serta berbagai fasilitas yang dibutuhkan masyarakat. Wakil Bupati Sukabumi H. Andreas menegaskan, Pemerintah Kabupaten Sukabumi siap memberikan dukungan terhadap seluruh rangkaian kegiatan TMMD. Menurutnya, sinergi antara pemerintah daerah dan TNI menjadi bagian penting dalam mempercepat pembangunan, khususnya di wilayah yang masih membutuhkan penguatan infrastruktur dan pelayanan dasar. “Insya Allah Pemerintah Kabupaten Sukabumi selalu support dan mendukung kegiatan TMMD ini setiap tahunnya,” ujar Andreas. Tidak hanya menyasar pembangunan fisik, TMMD ke-130 juga akan diisi dengan berbagai kegiatan nonfisik. Di antaranya wawasan kebangsaan, pelayanan kesehatan, pendidikan, ketahanan pangan hingga program penyediaan air bersih yang menjadi salah satu program unggulan TNI AD. Untuk wilayah Ciemas, kebutuhan air bersih menjadi salah satu perhatian. Sejumlah titik sumur bor disiapkan guna membantu masyarakat memperoleh sumber air bersih yang lebih memadai. Andreas menjelaskan, penetapan Desa Mekarjaya sebagai lokasi TMMD bukan dilakukan tanpa pertimbangan. Pemerintah daerah bersama jajaran TNI terlebih dahulu melakukan survei dan koordinasi untuk menentukan wilayah yang membutuhkan intervensi pembangunan. “Wilayah tersebut dipilih karena membutuhkan percepatan penanganan pembangunan dan pelayanan dasar,” pungkasnya. Dengan pelaksanaan TMMD selama 30 hari, Pemkab Sukabumi berharap kolaborasi pemerintah daerah dan TNI tidak hanya menghasilkan pembangunan infrastruktur, tetapi juga memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kualitas kehidupan masyarakat Desa Mekarjaya dan sekitarnya. (Dicky)
SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM — Senyum bahagia terpancar dari wajah 95 pasangan suami istri yang mengikuti Itsbat Nikah Masal Terpadu di Gedung Olah Raga (GOR) Desa Sukamaju, Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Sukabumi, Kamis (17/9/2026). Bagi sebagian peserta, kegiatan tersebut bukan sekadar agenda pelayanan administrasi. Itsbat nikah menjadi pintu bagi mereka untuk mendapatkan pengakuan dan kepastian hukum atas pernikahan yang selama ini belum tercatat secara resmi oleh negara. Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 08.30 WIB itu digelar Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Cimanggu di bawah kepemimpinan Humaeni Johari, S.HI., M.H., dengan melibatkan Pengadilan Agama Cibadak, Kementerian Agama Kabupaten Sukabumi, serta Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Sukabumi. Peserta tidak hanya berasal dari Kecamatan Cimanggu. Sebanyak 95 pasangan yang mengikuti program tersebut datang dari empat wilayah, yakni Cimanggu, Kalibunder, Cibitung, dan Jampangkulon. Kepala KUA Kecamatan Cimanggu Humaeni Johari mengatakan, pelaksanaan itsbat nikah terpadu tersebut mendapat dukungan dari Pemerintah Kecamatan Cimanggu. Menurutnya, tingginya jumlah peserta menunjukkan masih adanya masyarakat yang membutuhkan pelayanan pencatatan pernikahan. “Peserta yang mengikuti tidak hanya berasal dari warga Kecamatan Cimanggu, melainkan juga dari luar wilayah kecamatan ini,” ujar Humaeni. Rangkaian kegiatan diawali dengan doa, pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Selanjutnya, kegiatan diisi dengan sambutan serta arahan dari unsur yang terlibat dalam pelayanan itsbat nikah. Camat Cimanggu Dusep Sadeli, S.IP., menyambut positif pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia melihat kebahagiaan masyarakat yang hadir karena akhirnya mendapatkan dokumen penting bagi kehidupan keluarga mereka. “Terlihat warga yang hadir sangat sumringah. Surat nikah itu sangat penting bagi setiap keluarga,” kata Dusep. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah bersinergi, mulai dari Pengadilan Agama Cibadak, Kementerian Agama Kabupaten Sukabumi, Disdukcapil Kabupaten Sukabumi hingga KUA Kecamatan Cimanggu. Sementara itu, Kasi Bimas Islam Kementerian Agama Kabupaten Sukabumi H. Maman Hidayat, S.Ag., M.Si., turut memberikan sambutan. Hal serupa disampaikan perwakilan Disdukcapil Kabupaten Sukabumi melalui Kepala UPTD Disdukcapil Jampangkulon Iwan Suherlan. Pembukaan kegiatan dan arahan secara resmi disampaikan Ketua Pengadilan Agama Cibadak Mukhlisin Noor, S.H., M.H. Ia mengapresiasi inisiatif KUA Kecamatan Cimanggu yang menggagas pelaksanaan Itsbat Nikah Masal Terpadu tersebut. Momentum kebahagiaan peserta semakin terasa ketika H. Maman Hidayat secara simbolis menyerahkan buku nikah kepada salah satu pasangan. Salah satunya dirasakan pasangan Teteng dan Hayati asal Kecamatan Jampangkulon. Setelah menjalani kehidupan rumah tangga selama puluhan tahun, keduanya akhirnya mendapatkan kesempatan untuk memiliki buku nikah. “Kami sangat bersyukur dan bahagia. Setelah puluhan tahun berumah tangga, kini kami akan memiliki buku nikah,” tutur Teteng dan Hayati dengan wajah ceria. Itsbat nikah terpadu ini diharapkan tidak berhenti pada penerbitan dokumen pernikahan semata. Dengan tercatatnya perkawinan secara resmi, pasangan dan keluarganya memiliki kepastian hukum serta dapat memperoleh kemudahan dalam pengurusan berbagai dokumen administrasi kependudukan. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bentuk kolaborasi lintas instansi dalam mendekatkan pelayanan administrasi dan hukum kepada masyarakat, khususnya pasangan yang selama ini belum memiliki pencatatan pernikahan secara resmi. (Dicky)