SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Momentum Hari Bakti Pemasyarakatan ke-62 dimanfaatkan Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Sukabumi untuk mempertegas komitmen menciptakan lingkungan pemasyarakatan yang bersih dari praktik Halinar. Implementasi di lapangan diwujudkan lewat kegiatan razia gabungan kamar hunian serta tes urine yang digelar pada Senin (6/4/2026). Kegiatan dipimpin Kepala Lapas, Budi Hardiono, dengan melibatkan seluruh jajaran petugas serta dukungan aparat penegak hukum, mulai dari Koramil 0607-07 Warudoyong, Polsek Warudoyong, hingga BNNK Sukabumi. Razia dilakukan secara sistematis di setiap blok hunian warga binaan dengan tetap mengedepankan pendekatan persuasif dan humanis. Petugas menyisir seluruh area untuk memastikan tidak ada barang terlarang yang berpotensi mengganggu keamanan dan ketertiban di dalam lapas. Dari hasil pemeriksaan, ditemukan sejumlah barang yang tidak semestinya berada di dalam kamar hunian, seperti perangkat elektronik dan benda berbahan logam. Seluruh barang tersebut langsung diamankan sebagai bagian dari upaya penertiban internal. Temuan itu menjadi bahan evaluasi ke depan bagi Lapas Sukabumi. Tak hanya itu, penguatan pengawasan juga dilakukan melalui tes urine yang menyasar 105 warga binaan dan 35 pegawai. Hasilnya menunjukkan seluruh peserta negatif dari penyalahgunaan narkotika, menandakan lingkungan Lapas Sukabumi dalam kondisi kondusif dan bebas dari peredaran narkoba. Menurut Budi Hardiono, kegiatan ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan langkah berkelanjutan dalam menjaga integritas lembaga. Ia menegaskan, razia dan tes urine akan terus digelar secara rutin sebagai bagian dari deteksi dini serta pencegahan gangguan keamanan. “Ini adalah bentuk komitmen kami untuk memastikan lapas tetap aman, tertib, dan bebas dari narkoba maupun praktik ilegal lainnya. Sinergi dengan aparat eksternal juga akan terus kami perkuat,” ujarnya. Dengan pelaksanaan kegiatan ini, Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Sukabumi menegaskan langkah nyata menuju pemasyarakatan yang bersih, profesional, dan berintegritas, selaras dengan semangat Pemasyarakatan Kerja Nyata, Pelayanan Prima. (Usep)
SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Kebakaran melanda sebuah rumah warga di Kampung Cipandan, RT 042/010, Desa Cicarap, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi, pada Senin (6/4/2026) sekitar pukul 11.12 WIB. Peristiwa tersebut diduga dipicu oleh korsleting listrik yang memunculkan percikan api hingga membesar dan menghanguskan bangunan. Rumah panggung berukuran 8×12 meter tersebut dilaporkan ludes terbakar. Saat kejadian berlangsung, pemilik rumah diketahui sedang berada di kebun. Alhasil, mereka tidak sempat melakukan upaya penyelamatan terhadap bangunan maupun barang di dalamnya. Tidak ada korban jiwa maupun luka dalam kejadian ini. Namun, dampak kebakaran menyebabkan satu kepala keluarga dengan dua jiwa terpaksa mengungsi akibat kehilangan tempat tinggal. Tim Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kecamatan Ciracap segera bergerak ke lokasi untuk melakukan asesmen dan koordinasi dengan pemerintah desa, P2BK, serta unsur Forkopimcam. Selain itu, petugas juga memberikan imbauan kepada masyarakat sekitar agar lebih waspada terhadap potensi kebakaran, khususnya yang disebabkan oleh instalasi listrik. Sejumlah pihak turut hadir di lokasi kejadian, di antaranya Tagana, Pemerintah Desa Ciracap, serta warga setempat yang membantu proses penanganan awal. Tagana Kecamatan Ciracap, Hendra Gunawan, mengatakan pihaknya langsung merespons cepat laporan warga dengan turun ke lokasi untuk memastikan kondisi korban dan melakukan pendataan awal. “Kami bergerak cepat melakukan asesmen serta berkoordinasi dengan pemerintah desa dan unsur terkait agar penanganan bisa segera dilakukan,” ujarnya. Ia menambahkan, kebutuhan mendesak saat ini difokuskan pada pemenuhan logistik dasar bagi korban terdampak. “Korban membutuhkan bantuan seperti pakaian, perlengkapan tidur, makanan siap saji, serta kebutuhan harian lainnya. Kami berharap ada dukungan dari berbagai pihak agar kebutuhan tersebut bisa segera terpenuhi,” katanya. Hendra juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran, terutama yang disebabkan oleh instalasi listrik. Menurutnya, pemeriksaan rutin terhadap jaringan listrik di rumah menjadi langkah penting untuk mencegah kejadian serupa terulang kembali. Saat ini, korban membutuhkan bantuan darurat berupa pakaian, kasur, tenda, makanan, perlengkapan mandi, serta kebutuhan sehari-hari lainnya untuk menunjang kehidupan pascabencana. (Dicky)
SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Gaung batu akik kembali menggema lewat gelaran Pameran Kemilau Batu Bercahaya di Gedung Juang 45, Minggu (5/4/2026). Event ini bukan sekadar ajang pamer, tapi menjadi titik temu puluhan komunitas untuk menghidupkan kembali potensi batu nusantara ke pasar yang lebih luas. Ketua panitia, Rachmi, menegaskan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai langkah konkret memperkenalkan batu-batu unggulan yang memiliki nilai ekonomi tinggi, termasuk peluang untuk menembus pasar internasional. Sebanyak 45 komunitas dari berbagai daerah terlibat, memperlihatkan kekuatan jejaring pecinta dan pelaku usaha batu akik di tingkat nasional. “Ini bukan hanya pameran, tapi upaya menyatukan potensi. Kita ingin dorong agar batu lokal punya daya saing hingga ke luar negeri,” ujarnya. Ia menyebut, sinergi juga akan diarahkan dengan berbagai sektor kerajinan lain di bawah naungan Dewan Kerajinan Nasional Daerah, agar promosi produk unggulan daerah bisa dilakukan secara terintegrasi. Pameran sehari ini pun menjadi ruang strategis memperluas kolaborasi. Komunitas-komunitas yang hadir diharapkan tidak hanya berhenti pada ajang ini, tetapi mampu mendorong lahirnya event yang lebih besar dan berkelanjutan di Sukabumi. “Ke depan kita dorong jadi agenda rutin. Bahkan memungkinkan masuk kalender event tahunan,” kata Rachmi. Di sisi lain, Ketua Komunitas Batu Akik Sukabumi, Wandi Efendi alias Kawat, melihat kegiatan ini sebagai momentum mengangkat kembali marwah batu akik yang sempat redup. Ia menilai, potensi pengrajin lokal masih sangat kuat dan perlu ruang untuk tampil. “Batu akik ini tidak pernah benar-benar mati. Aktivitas komunitas dan transaksi tetap berjalan, hanya perlu panggung seperti ini untuk kembali terlihat,” ungkapnya. Sebanyak 120 batu terbaik ditampilkan dalam kontes, mulai dari jenis Bacan hingga batu khas Garut dengan berbagai varian unggulan. Peserta datang dari sejumlah daerah seperti Sumedang, Cirebon, Tasikmalaya, Garut, Bandung, Jakarta, Bogor, dan Cianjur. Menurut Kawat, batu-batu yang masuk ke meja penilaian merupakan koleksi pilihan, mencerminkan kualitas terbaik dari masing-masing daerah. “Yang tampil hari ini adalah yang terbaik. Ini bukti bahwa kualitas batu nusantara masih sangat diperhitungkan,” pungkasnya. (Usep)
SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Sorotan terhadap penanganan persoalan dasar di Kota Sukabumi kembali mencuat. Anggota Komisi II DPRD Kota Sukabumi dari Fraksi PKS, Inggu Sudeni, menegaskan bahwa pemerintah daerah harus segera bertindak atas kondisi darurat yang dialami warga. Hal itu disampaikan menyusul ambruknya rumah milik Wendi, seorang juru parkir di kawasan Tipar, Kecamatan Citamiang, pada Kamis malam (2/4/2026). Inggu yang turun langsung ke lokasi bersama pihak kelurahan dan BPBD menyebut kondisi bangunan memang sudah tidak layak dan membahayakan. “Ini bukan sekadar musibah, tapi juga soal keselamatan yang harus segera ditangani,” ujarnya. Namun, upaya penanganan masih terkendala ketersediaan anggaran. Program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) disebut belum memiliki alokasi anggaran saat ini, sehingga perbaikan kemungkinan baru bisa dilakukan melalui anggaran perubahan. Kondisi tersebut, lanjut Inggu, bukan hanya terjadi di satu titik. Ia menyebut ada kasus serupa di wilayah lain seperti Kecamatan Baros, yang menunjukkan persoalan hunian layak masih menjadi pekerjaan rumah serius. “Jangan sampai warga terus menunggu tanpa kepastian,” tegasnya. Di sisi lain, korban saat ini hanya mengandalkan bantuan darurat berupa terpal dari BPBD dan bantuan spontanitas. Harapan untuk mendapatkan tempat tinggal yang layak masih bergantung pada keputusan pemerintah. Tak hanya itu, Inggu juga menyoroti kerusakan parah di Jalan Ciaul Pasir yang telah memicu kecelakaan lalu lintas. Seorang pengendara motor dilaporkan terjatuh dan mengalami luka di bagian wajah akibat kondisi jalan yang berlubang. “Ini jelas membahayakan. Tidak bisa dibiarkan berlarut,” katanya. Ia mendesak Dinas PUTR segera mengambil langkah cepat, termasuk menyiapkan skema anggaran parsial untuk penanganan mendesak. DPRD, kata dia, tidak ingin persoalan ini terus tertunda dengan alasan administratif. “Begitu dana tersedia, eksekusi harus cepat. Warga butuh solusi, bukan sekadar wacana,” pungkasnya. (Usep)
SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Aksi unjuk rasa yang digelar Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) di Balai Kota Sukabumi, Kamis (2/4/2026), mendapat respons dari Pemerintah Kota Sukabumi. Salah satu poin yang disorot adalah kebijakan pembatasan penggunaan Lapang Merdeka untuk Salat Idul Fitri. Sekretaris Daerah Kota Sukabumi, Andang Tjahjandi, menyatakan pemerintah memahami aspirasi yang disampaikan massa aksi, yang berasal dari PC IMM Sukabumi Raya dan BEM FIS Universitas Muhammadiyah Sukabumi. Menurutnya, kebijakan yang berlaku saat ini mengacu pada Peraturan Wali Kota Nomor 19, yang menetapkan Lapang Merdeka sebagai ruang yang diprioritaskan untuk kegiatan pemerintah daerah. Selain itu, pelaksanaan Salat Id oleh pemerintah juga mengikuti hasil sidang isbat dari Kementerian Agama. “Ketentuan yang ada memang menjadi dasar kebijakan saat ini. Namun, kami juga memahami adanya dinamika di masyarakat,” ujar Andang. Sebagai tindak lanjut, Pemkot Sukabumi membuka kemungkinan untuk melakukan peninjauan ulang terhadap aturan tersebut. Wali Kota Sukabumi, kata Andang, telah memberikan arahan agar dilakukan kajian ulang guna mengantisipasi polemik serupa di masa mendatang. Pemkot berencana melibatkan berbagai pihak dalam proses evaluasi, termasuk unsur organisasi keagamaan dan kemasyarakatan. Salah satunya melalui forum diskusi kelompok terarah (FGD) untuk menghimpun masukan secara komprehensif. Sebelumnya, komunikasi juga telah dilakukan antara pemerintah daerah dan pengurus Muhammadiyah Kota Sukabumi. Dari pertemuan itu, kedua belah pihak sepakat pentingnya membuka ruang dialog dan melakukan evaluasi terhadap kebijakan yang dinilai sensitif di tengah masyarakat. Pemkot berharap proses kajian ulang ini dapat menghasilkan kebijakan yang lebih inklusif, sekaligus menjaga ketertiban dalam pemanfaatan ruang publik di Kota Sukabumi. (Usep)
SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Jembatan gantung yang menjadi akses penghubung Kampung Lingkungsari dan Kampung Cisalak, Desa Sumberjaya, Kecamatan Tegalbuleud, Kabupaten Sukabumi, ambruk pada Kamis (2/4/2026) sekitar pukul 06.30 WIB. Insiden ini diduga kuat dipicu putusnya tali seling penopang utama saat jembatan dilintasi sejumlah kendaraan secara bersamaan. Peristiwa bermula ketika lima sepeda motor melintas di atas jembatan tersebut dalam waktu hampir bersamaan. Tanpa diduga, konstruksi jembatan tiba-tiba miring ke arah kanan sebelum akhirnya roboh setelah kabel penopang tak mampu menahan beban. Akibatnya, empat sepeda motor berikut pengendaranya terjatuh ke aliran Sungai Cibugel, sementara satu unit lainnya tersangkut di bagian jembatan yang tersisa. Warga sekitar yang melihat kejadian itu langsung bergerak cepat melakukan evakuasi secara gotong royong dengan memanfaatkan perahu seadanya. Lima warga yang menjadi korban dalam kejadian tersebut masing-masing Dera (30), Sumarni (27), Dinda (6), Tutang (42), dan Fitri (35). Seluruh korban berhasil diselamatkan dan segera dibawa ke Puskesmas Tegalbuleud untuk mendapatkan penanganan medis. “Alhamdulillah tidak ada korban jiwa, hanya luka ringan seperti lecet dan syok,” ujar salah satu warga di lokasi. Pasca kejadian, aparat bersama unsur terkait langsung turun ke lokasi untuk melakukan asesmen serta pengamanan area. Koordinasi juga dilakukan dengan Forkopimcam dan petugas kebencanaan guna langkah penanganan lanjutan. Jembatan gantung sepanjang sekitar 50 meter dengan lebar 1,2 meter tersebut diketahui merupakan akses vital bagi mobilitas warga antar kampung. Sebelumnya, jembatan ini sempat direhabilitasi dan diresmikan pada September 2022 oleh Pangdam III/Siliwangi. Untuk sementara waktu, warga diimbau tidak melintasi jembatan tersebut. Aktivitas penyeberangan kini dialihkan menggunakan perahu milik warga sambil menunggu perbaikan dari pihak berwenang. (Dicky)
SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Dugaan keterlibatan oknum anggota DPRD Kota Sukabumi dalam pengelolaan dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memicu reaksi tegas dari Wakil Ketua DPRD Kota Sukabumi, Rojab Asyari. Isu tersebut mencuat bersamaan dengan aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Kota Sukabumi, Rabu (1/4/2026), saat berlangsungnya Rapat Paripurna peringatan Hari Ulang Tahun ke-112 Kota Sukabumi. Menanggapi tuntutan massa, Rojab menegaskan bahwa anggota dewan dilarang terlibat dalam aktivitas yang berkaitan dengan program atau proyek yang menggunakan anggaran negara, termasuk pengelolaan dapur MBG. “Kalau memang ada dan terbukti secara administratif, itu jelas tidak diperbolehkan dan harus ditindak,” ujarnya. Ia menjelaskan, setiap dugaan pelanggaran yang memiliki dasar kuat dapat diproses melalui mekanisme internal DPRD, salah satunya lewat Badan Kehormatan untuk dilakukan penelusuran lebih lanjut. Menurutnya, aturan tata tertib DPRD secara tegas melarang adanya konflik kepentingan, terlebih dalam program pemerintah yang bersumber dari anggaran publik. Keterlibatan anggota dewan dalam program seperti MBG dinilai berpotensi mencederai integritas lembaga dan menurunkan kepercayaan masyarakat. Meski demikian, Rojab mengingatkan agar setiap tuduhan tidak hanya berhenti pada isu, melainkan harus disertai bukti yang jelas. “Kalau masih sebatas informasi yang beredar, tentu perlu diklarifikasi terlebih dahulu. Kami akan panggil yang bersangkutan,” katanya. Ia juga memastikan DPRD terbuka terhadap laporan masyarakat dan menjamin setiap aduan akan diproses sesuai prosedur yang berlaku. Sanksi terhadap pelanggaran, lanjutnya, bisa berupa teguran administratif hingga langkah lanjutan sesuai aturan. Di sisi lain, Rojab menilai aksi unjuk rasa tersebut sebagai bentuk kepedulian publik terhadap jalannya program MBG di Kota Sukabumi. “Kami anggap ini sebagai masukan di momentum hari jadi kota. Kritik seperti ini penting untuk perbaikan ke depan,” pungkasnya. (Usep)
SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Pemerintah Kabupaten Sukabumi kembali melakukan penyegaran organisasi melalui pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan aparatur sipil negara (ASN) yang digelar di Aula Sekretariat Daerah, Rabu (1/4/2026). Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Bupati Sukabumi, H. Asep Japar. Sebanyak 93 ASN resmi dilantik, meliputi tiga pejabat tinggi pratama serta 90 pegawai yang kini berstatus penuh sebagai pegawai negeri sipil (PNS). Tiga pejabat tinggi tersebut ditugaskan mengisi jabatan strategis pada Satuan Polisi Pamong Praja, Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM), serta Dinas Arsip dan Perpustakaan. Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Bupati Sukabumi H. Andreas, Sekretaris Daerah H. Ade Suryaman, Inspektur Komarudin, serta para pimpinan perangkat daerah. Dalam arahannya, Bupati menekankan bahwa pelantikan ini merupakan bagian dari upaya memperkuat kinerja birokrasi agar semakin adaptif dan profesional dalam melayani masyarakat. Ia mengingatkan bahwa jabatan yang diemban harus dijalankan dengan penuh integritas dan tanggung jawab. Menurutnya, ASN memiliki peran penting sebagai garda terdepan dalam pelayanan publik. Oleh karena itu, pola kerja yang cepat, tepat, dan berorientasi solusi harus menjadi prioritas. “Pelayanan kepada masyarakat harus menjadi fokus utama. ASN dituntut mampu memberikan kepastian dan kemudahan dalam setiap layanan,” ujarnya. Bupati juga menyoroti pentingnya komunikasi publik yang baik, terutama dalam menghadapi berbagai isu yang berkembang di masyarakat maupun media sosial. Ia meminta ASN untuk tidak menghindari kritik, melainkan meresponsnya secara bijak dan sesuai kewenangan. “Setiap persoalan yang muncul harus dijelaskan dengan baik. ASN harus hadir memberikan pemahaman kepada masyarakat, bukan justru menjauh,” tegasnya. Selain itu, ia mengingatkan seluruh ASN untuk menjaga etika, profesionalisme, serta citra pemerintah daerah melalui sikap dan kinerja yang positif. Adapun tiga pejabat eselon II B yang dilantik yakni Deni Yudono sebagai Kepala Satuan Polisi Pamong Praja, Ganjar Anugrah sebagai Kepala BKPSDM, dan Dadang Rustandi sebagai Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan. Melalui langkah ini, Pemerintah Kabupaten Sukabumi berharap tercipta birokrasi yang lebih solid, responsif, serta mampu memberikan pelayanan publik yang berkualitas dan terpercaya. (Dicky)
SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Polemik penggunaan istilah “wartawan bodrex” yang mencuat di kalangan jurnalis Kabupaten Sukabumi akhirnya mendapat tanggapan langsung dari pemilik akun media sosial @Rere Said Subakti. Unggahan tersebut sebelumnya menuai reaksi keras karena dianggap merendahkan profesi wartawan, terutama di tengah sorotan terhadap pengelolaan wisata Ujunggenteng. Sejumlah insan pers menegaskan bahwa kritik terkait isu publik mulai dari tiket masuk, kebersihan, hingga dugaan pungutan liar merupakan bagian dari fungsi pers sebagai kontrol sosial. Mereka menilai, penggunaan istilah yang bernada merendahkan dapat mencederai marwah profesi jurnalistik yang dilindungi undang-undang. Menanggapi hal itu, Rere Said Subakti yang diketahui bernama asli Reni Sumarni (38) menyampaikan klarifikasi saat dikonfirmasi di Polsek Ciracap, Rabu (1/4/2026). “Saya tegaskan, tidak ada niat sedikit pun untuk menyindir wartawan secara umum ataupun lembaga pers. Pernyataan saya tidak ditujukan ke sana,” ujarnya. Rere menjelaskan, unggahan tersebut berangkat dari kegelisahannya melihat sejumlah konten di media sosial yang dinilai memicu persepsi negatif terhadap kondisi wisata Ujunggenteng. “Ada beberapa postingan yang menyoroti soal karcis, sampah, hingga dugaan pungli. Itu kemudian berkembang menjadi opini pro dan kontra, bahkan cenderung menyudutkan,” katanya. Ia mengungkapkan, saat itu kawasan wisata tengah menghadapi lonjakan kunjungan karena momentum libur panjang. Kondisi tersebut membuatnya khawatir narasi negatif yang beredar tanpa penjelasan utuh dapat berdampak pada citra daerah. “Pengunjung sedang ramai dari luar daerah. Saya khawatir jika narasi negatif terus menyebar, bisa memengaruhi kepercayaan orang untuk datang,” ungkapnya. Lebih lanjut, Rere menegaskan bahwa istilah yang digunakannya merujuk pada oknum tertentu, bukan profesi wartawan secara keseluruhan. Ia bahkan menyebut individu yang dimaksud bukan berasal dari kalangan jurnalis. “Yang saya maksud adalah oknum, dan itu bukan wartawan. Saya tidak menyebutkan siapa pun karena unggahan saya bersifat umum,” jelasnya. Meski begitu, ia mengakui pilihan kata yang digunakannya menimbulkan multitafsir dan melukai perasaan sejumlah pihak. Ia pun menyampaikan permohonan maaf secara terbuka. “Saya mohon maaf kepada rekan-rekan wartawan yang merasa tersinggung. Sungguh, itu bukan maksud saya. Ini menjadi pelajaran penting bagi saya,” ucapnya. Rere juga berkomitmen untuk lebih berhati-hati dalam menyampaikan pendapat di ruang digital agar tidak menimbulkan kesalahpahaman serupa di masa mendatang. “Ke depan saya akan lebih bijak dalam bermedia sosial,” tambahnya. Sementara itu, kalangan jurnalis berharap polemik ini menjadi refleksi bersama tentang pentingnya menjaga etika komunikasi publik. Mereka menekankan bahwa peran pers sebagai pilar demokrasi harus dihormati, sekaligus mengajak semua pihak untuk lebih arif dalam menyampaikan kritik di ruang tterbuka (Dicky)
SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Wali Kota Sukabumi, Ayep Zaki, melontarkan pesan yang tegas, lugas dan sarat makna di momen Hari Ulang Tahun ke-112 Kota Sukabumi. Ia menegaskan, peringatan tahun ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan alarm keras untuk membenahi kinerja birokrasi dan tata kelola anggaran. Dari Lapang Merdeka, Rabu (1/4/2026), Ayep secara terbuka menuntut lonjakan kualitas kerja aparatur. Ia bahkan memasang standar tinggi, dengan target capaian kinerja di atas 90. “Kalau ingin kesejahteraan tercapai, kinerja tidak boleh biasa-biasa saja. Harus di atas standar,” tegasnya. Ayep menyoroti bahwa selama ini masih ada pola kerja yang belum sepenuhnya efektif. Karena itu, empat tahun ke depan harus menjadi fase percepatan, bukan lagi tahap uji coba kebijakan. Di sektor program, rencana pembangunan Sekolah Rakyat menjadi salah satu yang disorot. Namun, kendala klasik kembali muncul yaitu keterbatasan lahan datar dengan luas ideal. Kondisi geografis Kota Sukabumi dinilai membuat biaya pembangunan melonjak. Alih-alih berhenti di kendala, Pemkot memilih tancap gas dengan skema sekolah perintis. Langkah ini disebut sebagai solusi cepat agar program tetap berjalan sambil menyiapkan konsep jangka panjang. Tak hanya itu, Ayep juga “ngegas” di sektor infrastruktur. Ia memastikan tiga tahun ke depan pembangunan akan difokuskan pada proyek-proyek yang benar-benar berdampak, bukan sekadar mengejar realisasi anggaran. “Jangan sampai bangun hari ini, beberapa tahun sudah rusak. Kita ingin yang tahan lama, minimal 25 tahun manfaatnya,” ujarnya. Sorotan tajam juga diarahkan pada belanja daerah. Ayep terang-terangan menargetkan efisiensi besar-besaran hingga 20–30 persen, khususnya pada belanja barang dan jasa yang selama ini dinilai masih berpotensi boros. Langkah tersebut akan dikawal bersama lembaga pengawas seperti BPK dan BPKP, sebagai upaya memastikan anggaran tidak lagi bocor di titik-titik yang tidak produktif. “Anggaran itu uang rakyat. Harus dipakai seefektif mungkin,” kata Ayep. Sementara itu, terkait kebijakan pusat seperti pembatasan BBM dan penerapan work from home (WFH), Pemkot Sukabumi memilih mengikuti garis kebijakan nasional. Namun, pelayanan publik dipastikan tetap berjalan normal, dengan pejabat strategis tetap bekerja di kantor. Di akhir, Ayep menegaskan bahwa kunci utama keberhasilan pembangunan ada pada peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Tanpa fiskal yang kuat, menurutnya, program sehebat apa pun akan sulit direalisasikan. “HUT ke-112 ini jadi momentum berbenah. Kita gas semua—kinerja, anggaran, dan pembangunan—biar hasilnya benar-benar dirasakan masyarakat,” tandasnya. (Usep)