SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Ketua Hiswana Migas Sukabumi, H. Eten Rustandi, memastikan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) dan liquefied petroleum gas (LPG) di wilayah Sukabumi hingga akhir 2026 dalam kondisi aman. Eten menegaskan, persoalan yang beberapa kali muncul di lapangan lebih disebabkan keterlambatan pengiriman, bukan karena stok BBM maupun LPG benar-benar mengalami kekurangan. “Kalau ada kekurangan, sampaikan. Berarti diusahakan diprioritaskan. Sebetulnya bukan kekurangan, tapi keterlambatan di lapangan,” ujar Eten Rustandi, Kamis (27/8). Ia mengatakan, Hiswana Migas terus berkoordinasi dengan Pertamina untuk memastikan distribusi tetap berjalan dan pasokan dapat diprioritaskan apabila terjadi keterlambatan pengiriman di suatu wilayah. Menurut Eten, pengamanan stok untuk kebutuhan hingga akhir 2026 bahkan telah dilakukan sejak Februari dan Maret. Langkah tersebut dilakukan melalui pola saving atau menyisihkan sebagian pasokan untuk digunakan menghadapi kebutuhan pada periode akhir tahun. “Dari bulan Februari, Maret kita sudah saving untuk akhir tahun,” ungkapnya. Pola tersebut dilakukan dengan menyesuaikan kondisi distribusi dan tingkat serapan di lapangan. Eten memberikan gambaran, apabila dalam kondisi normal suatu wilayah mendapatkan sekitar tiga truk, maka pada kondisi tertentu distribusinya bisa diberikan dua truk terlebih dahulu. Satu truk lainnya diamankan untuk kebutuhan berikutnya. “Misalkan biasanya di sini tiga truk, diberi dua truk. Yang satu truk diamankan untuk ke depan,” jelasnya. Strategi tersebut dilakukan bukan semata-mata untuk mengurangi pasokan, melainkan sebagai bagian dari manajemen stok agar ketersediaan BBM dan LPG tetap terjaga sampai penghujung tahun. Selain itu, kondisi penyerapan di masing-masing wilayah juga terus dipantau. Eten menjelaskan, tingkat kebutuhan dapat dilihat dari penyerapan Delivery Order (DO) di Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE). Jika suatu wilayah seharusnya memperoleh kuota 10, tetapi realisasinya hanya terserap enam atau delapan, maka pasokan yang tidak terserap tersebut tidak dibiarkan menumpuk. “Misalkan seharusnya 10, yang ditebus hanya enam atau delapan. Buru-buru di-split, diamankan untuk daerah yang lain,” katanya. Dengan pola tersebut, pasokan dapat dialihkan ke wilayah yang tingkat kebutuhannya lebih tinggi. Langkah ini sekaligus menjadi cara untuk menjaga agar distribusi tidak mengalami ketimpangan antara daerah yang serapannya rendah dengan daerah yang membutuhkan tambahan pasokan. Eten menegaskan, manajemen stok dan distribusi menjadi kunci utama dalam menjaga ketersediaan BBM serta LPG. Terlebih, ia menyebut adanya kecenderungan pengurangan pasokan oleh pemerintah dari tahun ke tahun jika dibandingkan dengan kebutuhan atau perhitungan tahun sebelumnya. “Kalau perhitungan tahun sekarang dengan tahun kemarin, terus terang tiap tahun itu dikurangi oleh pemerintah. Tapi kita juga berusaha dengan Pertamina untuk mengamankan stok sampai 2026,” ujarnya. Karena itu, menurut Eten, langkah antisipasi tidak bisa dilakukan hanya ketika terjadi persoalan. Pengamanan stok harus dilakukan jauh-jauh hari dengan melihat pola kebutuhan, tingkat serapan, kondisi distribusi, serta momentum tertentu seperti hari libur. “Pada saat hari libur, kita ambil sedikit-sedikit, ditumpukkan untuk nanti akhir tahun,” tuturnya. Dengan strategi tersebut, Eten optimistis kebutuhan BBM dan LPG masyarakat Sukabumi hingga akhir 2026 dapat tetap terpenuhi. “Insyaallah aman,” tegasnya. Meski demikian, Eten mengakui masih terdapat persoalan lain yang menjadi perhatian pelaku usaha, khususnya berkaitan dengan regulasi. Ia menyebut arah regulasi saat ini masih belum sepenuhnya jelas sehingga diperlukan kepastian agar para pelaku usaha dapat menyesuaikan pola distribusi dan pelayanan di lapangan. “Justru sekarang regulasinya remang-remang semuanya. Mau ke mana pemerintah ini arahnya?” kata Eten. Ia berharap koordinasi antara pemerintah, Pertamina, dan pelaku usaha dapat terus diperkuat sehingga setiap perubahan kebijakan maupun kebutuhan distribusi dapat diantisipasi lebih cepat. Bagi Hiswana Migas Sukabumi, yang terpenting saat ini adalah memastikan BBM dan LPG tetap tersedia, mengelola stok secara cermat. “Kita akan memindahkan pasokan dari wilayah dengan serapan rendah ke wilayah yang membutuhkan. Dengan pola tersebut, ketahanan pasokan hingga akhir 2026 diharapkan tetap terjaga,” ungkapnya. (Usep)

SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di lingkungan Sekretariat Daerah Kabupaten Sukabumi berlangsung meriah. Ratusan pegawai mengikuti berbagai perlombaan tradisional yang digelar di halaman Kantor Setda Kabupaten Sukabumi, Rabu (26/8/2026). Kegiatan tersebut dibuka Sekretaris Daerah Kabupaten Sukabumi, H. Ade Suryaman. Tidak hanya menjadi hiburan setelah menjalankan rutinitas kedinasan, perlombaan juga dimanfaatkan sebagai momentum memperkuat kebersamaan dan membangun kekompakan antarpegawai. Sejumlah permainan khas perayaan kemerdekaan turut dipertandingkan, mulai dari tarumpah, voli bola air, estafet air, tarik tambang hingga berbagai permainan tradisional lainnya. Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Masing-masing kelompok berusaha menjadi yang terbaik, namun tetap mengedepankan sportivitas dan semangat persaudaraan. H. Ade Suryaman mengatakan, peringatan kemerdekaan hendaknya tidak hanya diisi dengan kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi momentum untuk menumbuhkan rasa syukur sekaligus mengenang jasa para pejuang bangsa. “Yang paling penting, kita tetap menjaga kebersamaan dan sportivitas. Mudah-mudahan acara hari ini berjalan sukses dan lancar,” ujarnya. Menurutnya, suasana kebersamaan seperti yang tercipta dalam kegiatan tersebut perlu dipelihara dan dibawa ke dalam pelaksanaan tugas sehari-hari. Kekompakan antarpegawai dinilai penting untuk mendukung kelancaran pelayanan dan roda pemerintahan. Senada, Kepala Bagian Umum Setda Kabupaten Sukabumi, Gin Gin Ginanjar, menyebut perlombaan tradisional menjadi salah satu sarana membangun kedekatan antarpengawai. “Melalui kegiatan seperti ini, kami ingin memperkuat persatuan, membangun komunikasi antarpengawai dan menumbuhkan semangat gotong royong,” katanya. Ia berharap semangat yang muncul dalam kegiatan tersebut tidak berhenti setelah perlombaan selesai. Nilai kebersamaan, komunikasi, persatuan dan gotong royong diharapkan terus menjadi bagian dari budaya kerja di lingkungan Sekretariat Daerah. Sebagai bentuk penghargaan, para peserta yang berhasil menjadi juara dalam masing-masing perlombaan mendapatkan hadiah. Pemberian apresiasi tersebut sekaligus menjadi penyemangat bagi pegawai untuk berpartisipasi dalam berbagai kegiatan positif di lingkungan Setda Kabupaten Sukabumi. (Dicky)

SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Kebakaran hebat melanda kawasan perkebunan warga dan hutan bambu di Gunung Geulis, Kampung Ciroyom, Desa Pabuaran, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Sukabumi. Kobaran api yang muncul sejak Selasa (25/8/2026) petang hingga Rabu (26/8/2026) masih belum berhasil dipadamkan seluruhnya. Kebakaran diketahui terjadi sekitar pukul 18.30 WIB. Api kemudian merambat dari lahan perkebunan menuju kawasan lahan kosong yang dipenuhi tanaman bambu. Kondisi tersebut membuat kobaran api cepat meluas. Petugas Penanggulangan Bencana Kecamatan (P2BK) Pabuaran, Rida Agung Yoga, mengatakan laporan kebakaran pertama kali diterima dari masyarakat yang melihat api membakar lahan di sekitar Gunung Geulis. “Informasi awal kami terima dari warga yang melihat adanya kebakaran di ladang dan kawasan hutan bambu,” ujar Rida, Rabu (26/8/2026). Ia mengungkapkan, luas lahan yang terdampak kebakaran diperkirakan mencapai empat hektare. Selain menghanguskan kebun warga, kobaran api juga merambat ke area yang ditumbuhi bambu dan semak belukar. Situasi menjadi perhatian karena lokasi kebakaran berada tidak jauh dari permukiman. Api yang masih menyala berpotensi menjalar apabila kondisi angin dan lingkungan sekitar mendukung penyebaran kobaran. “Api sampai sekarang masih menyala. Permukiman warga juga terancam,” ungkapnya. Rida menambahkan, petugas gabungan masih berada di lokasi untuk melakukan pemantauan sekaligus penanganan terhadap titik-titik api. Upaya pemadaman dilakukan dengan peralatan yang tersedia sambil memastikan kondisi di sekitar lokasi tetap terkendali. Sementara itu, penyebab munculnya api belum dapat dipastikan. Petugas masih melakukan asesmen untuk mengetahui sumber awal kebakaran. “Penyebabnya masih dalam kajian. Kami masih melakukan pemantauan karena api belum sepenuhnya padam,” katanya. Penanganan kebakaran melibatkan P2BK Kecamatan Pabuaran bersama unsur Forkopimcam, Tagana, Babinsa, Babinmas, Satpol PP, serta warga setempat. Tim gabungan melakukan asesmen ke lokasi dan mengawasi perkembangan api agar tidak semakin mendekati permukiman. Hingga Rabu (26/8/2026), petugas masih bersiaga di sekitar lokasi kebakaran untuk mengantisipasi meluasnya api sekaligus melakukan pemantauan terhadap titik-titik yang masih mengeluarkan kobaran. (Dicky)

SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 12 Rabiul Awal 1448 Hijriah menjadi momentum bagi Anggota Komisi I DPRD Kabupaten Sukabumi dari Fraksi PKS, Erpa Aris Purnama, S.Si., untuk mengajak masyarakat kembali menghidupkan nilai-nilai keteladanan Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari. Peringatan Maulid Nabi yang jatuh pada Selasa (25/8/2026) tersebut, menurut Erpa, tidak semata menjadi agenda seremonial keagamaan. Lebih dari itu, momentum tersebut harus mampu mendorong umat untuk merefleksikan kembali akhlak Rasulullah SAW, terutama dalam menjunjung tinggi kejujuran dan menjaga kepercayaan. Erpa menilai, kejujuran merupakan salah satu nilai penting yang relevan diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan, baik dalam lingkungan keluarga, masyarakat maupun dalam menjalankan amanah. “Kejujuran yang diajarkan Rasulullah SAW menjadi fondasi kepercayaan. Semoga kita mampu menjunjungnya di setiap langkah kehidupan kita,” ujar Erpa. Ia menegaskan, keteladanan Rasulullah SAW memiliki nilai universal yang dapat menjadi pedoman dalam membentuk karakter masyarakat yang lebih baik. Karena itu, peringatan Maulid Nabi diharapkan tidak berhenti pada kegiatan peringatan, tetapi diwujudkan melalui perilaku nyata. Menurutnya, akhlak mulia yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW menjadi modal penting dalam membangun generasi yang memiliki integritas, kepedulian serta tanggung jawab terhadap lingkungan dan sesama. “Masih dalam semangat ini, mari kita teladani akhlak Rasulullah SAW untuk membangun generasi berakhlak mulia,” tegasnya. Erpa berharap, semangat Maulid Nabi dapat menjadi pengingat bersama bahwa kemajuan masyarakat tidak hanya ditentukan oleh pembangunan secara fisik, tetapi juga oleh kualitas moral dan karakter manusia yang menjalankannya. Dengan menjadikan kejujuran, amanah dan akhlak Rasulullah SAW sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, ia meyakini akan tumbuh lingkungan masyarakat yang semakin harmonis, saling percaya dan memiliki kepedulian sosial yang kuat. (Dicky)

SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Kerusakan saluran irigasi Cilegok di Kampung Kalapa Satangkal, Desa Ciracap, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi, yang telah berlangsung sejak 2025, kembali mendapat perhatian. Anggota DPRD Kabupaten Sukabumi dari Fraksi PKB, H. Dadang Hermawan, turun langsung meninjau kondisi irigasi tersebut, Selasa (25/8/2026). Peninjauan itu dilakukan untuk melihat secara langsung dampak longsor terhadap saluran pengairan yang menjadi salah satu penopang aktivitas pertanian masyarakat di wilayah Ciracap. Dadang datang bersama Kepala Desa Ciracap Sopandi, Kepala BPP Kecamatan Ciracap Miftahul Zanah, SP., petugas BBWS Citarum Ciletuh Candra, kepala dusun, tokoh masyarakat, kelompok tani, serta sejumlah warga. Di lokasi, rombongan melihat titik kerusakan yang cukup serius. Tebing pada titik longsor utama memiliki ketinggian sekitar 7 meter dengan lebar mencapai 15 meter. Sementara total saluran irigasi yang terdampak kerusakan diperkirakan mencapai 1.000 meter. Persoalan tersebut dinilai tidak bisa dipandang sebagai kerusakan infrastruktur biasa. Pasalnya, irigasi Cilegok berada di wilayah binaan Kelompok Tani Neglasari yang dipimpin Asep Gunawan dan memiliki fungsi penting bagi sektor pertanian di tiga desa, yakni Pasirpanjang, Ciracap, dan Purwasedar. Dengan cakupan layanan persawahan sekitar 450 hektare, keberadaan saluran tersebut sangat menentukan kelancaran pengairan lahan pertanian dan keberlangsungan aktivitas para petani. Kepala Desa Ciracap, Sopandi, menyampaikan apresiasi atas perhatian yang diberikan Dadang Hermawan bersama unsur terkait yang datang langsung melihat kondisi di lapangan. Menurutnya, masyarakat sangat berharap kerusakan irigasi segera mendapatkan penanganan agar lahan pertanian kembali produktif. “Kami berharap saluran irigasi yang longsor ini segera dibangun kembali agar para petani dapat kembali menanam padi dan beraktivitas seperti biasa,” ujar Sopandi. Dalam kunjungan tersebut, Kepala BPP Kecamatan Ciracap Miftahul Zanah juga menyampaikan informasi mengenai Program Pertanian Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS) kepada rombongan dan masyarakat yang hadir. Sementara itu, Dadang Hermawan menegaskan dirinya akan membawa persoalan tersebut untuk didorong kepada instansi yang memiliki kewenangan. “Kasus irigasi ini akan kami dorong penanganannya kepada dinas terkait, khususnya BBWS Citarum karena kewenangan pengelolaannya berada di sana,” tegas Dadang. Ia berharap koordinasi lintas instansi dapat menghasilkan langkah konkret sehingga perbaikan tidak kembali berlarut-larut. “Semoga secepatnya dibangun kembali agar masyarakat dapat kembali bertani dengan lancar,” katanya. Selain mendorong perbaikan fisik irigasi, Dadang juga mengingatkan kelompok tani agar memperkuat kelengkapan administrasi. Menurutnya, kesiapan dokumen menjadi bagian penting ketika kelompok tani mengajukan bantuan pembangunan kepada pemerintah. “Kami mengimbau para kelompok tani agar menyusun dan memiliki Akta Notaris, karena dokumen tersebut merupakan salah satu syarat penting dalam pengajuan usulan bantuan,” pungkasnya. Kerusakan irigasi Cilegok kini menjadi pekerjaan rumah bersama. Bagi masyarakat, pemulihan saluran bukan sekadar memperbaiki bangunan yang longsor, tetapi menyangkut keberlangsungan ratusan hektare lahan pertanian dan penghidupan para petani di tiga desa. (Dicky)

SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah hendaknya tidak berhenti pada seremoni keagamaan, tetapi menjadi momentum untuk menghidupkan kembali nilai-nilai keteladanan Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari. Pesan tersebut disampaikan Sekretaris DPRD Kabupaten Sukabumi, H. Wawan Godawan Saputra, S.IP., M.A.P., dalam menyambut peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang bertepatan dengan 12 Rabiul Awal 1448 Hijriah, Selasa (25/8/2026). Wawan mengajak seluruh masyarakat Kabupaten Sukabumi, termasuk pimpinan dan anggota DPRD serta jajaran Sekretariat DPRD Kabupaten Sukabumi, menjadikan momentum tersebut sebagai ruang untuk melakukan refleksi sekaligus memperkuat kualitas keimanan dan ketakwaan. Menurutnya, kehidupan Rasulullah SAW memberikan teladan yang sangat luas, bukan hanya dalam hubungan manusia dengan Allah SWT, tetapi juga dalam membangun hubungan sosial yang dilandasi persaudaraan, kepedulian dan kebaikan. “Maulid Nabi hendaknya menjadi pengingat bagi kita semua untuk terus meneladani akhlak Rasulullah SAW. Mari perkuat iman, jaga ukhuwah dan terus menebarkan kebaikan di tengah masyarakat, bangsa dan negara,” ujar H. Wawan. Ia berharap semangat keteladanan Rasulullah SAW dapat semakin memperkokoh kebersamaan di tengah masyarakat. Nilai-nilai persaudaraan, saling menghormati dan kepedulian terhadap sesama, kata dia, menjadi modal penting dalam menciptakan kehidupan yang harmonis. H. Wawan juga menyampaikan doa agar peringatan Maulid Nabi tahun ini membawa keberkahan bagi masyarakat Kabupaten Sukabumi. “Semoga seluruh masyarakat Kabupaten Sukabumi senantiasa mendapatkan perlindungan, keberkahan dalam kehidupan dan kelak memperoleh syafaat Rasulullah SAW,” pungkasnya. (Dicky)

SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Manajer Hotel Augusta Cikukulu, H. Asep Suparwan, memberikan perhatian khusus terhadap kualitas pekerjaan pengaspalan halaman hotel. Pria paruh baya yang dikenal energik tersebut bahkan menyampaikan langsung sejumlah tips agar hasil pekerjaan hotmix lebih rata, kuat, dan tidak mudah mengelupas. Testimoni Asep mengenai proses pengaspalan tersebut ditayangkan melalui sebuah video yang diunggah di media sosial TikTok. Dalam video itu, ia memperlihatkan sekaligus menjelaskan tahapan pekerjaan renovasi yang tengah dilakukan di lingkungan Hotel Augusta Cikukulu. Menurut Asep, pekerjaan renovasi hotel dilakukan secara bertahap, mulai dari pembenahan restoran, kemudian dilanjutkan ke area lobi hingga pekerjaan pengaspalan atau hotmix halaman hotel. “Setelah pekerjaan renovasi restoran lanjut ke lobi dan ke pekerjaan hotmix. Khusus hotmix ada tata caranya bagaimana menabur split dan aspal yang benar agar hasilnya rata dan kuat dan tidak mudah mengelupas,” kata Asep, Selasa (25/8/2026). Ia menekankan bahwa kualitas pengaspalan tidak hanya ditentukan oleh material yang digunakan, tetapi juga sangat bergantung pada proses pengerjaan di lapangan. Penaburan material, komposisi, pemerataan hingga proses pemadatan menjadi bagian penting yang harus diperhatikan agar permukaan aspal memiliki daya tahan optimal. Bagi Asep, pekerjaan pengaspalan harus dikerjakan secara benar sejak tahap awal. Sebab, kesalahan dalam proses pengerjaan dapat berdampak terhadap kualitas permukaan dan memperpendek usia penggunaan aspal. Melalui video testimoninya, Asep sekaligus ingin menunjukkan bahwa pekerjaan hotmix membutuhkan ketelitian dan teknik yang tepat. Hasil yang rata, kokoh serta tidak mudah mengelupas, menurutnya, merupakan bagian dari standar kualitas yang harus menjadi perhatian dalam setiap pekerjaan pengaspalan. Renovasi Hotel Augusta Cikukulu sendiri terus dilakukan secara bertahap untuk meningkatkan kenyamanan dan kualitas fasilitas hotel. Pekerjaan pengaspalan halaman menjadi salah satu bagian dari rangkaian pembenahan tersebut. Mengingat bagian itu lah yang menjadi salah satu atensi para pengunjung hotel. (Usep)

SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Persoalan pengangguran tak cukup diselesaikan hanya dengan membuka informasi lowongan kerja. Kesiapan sumber daya manusia menjadi faktor penting agar masyarakat benar-benar mampu mengambil peluang di tengah kebutuhan tenaga kerja yang semakin kompetitif. Pesan bernada motivasi tersebut disampaikan saat Wali Kota Sukabumi Ayep Zaki menghadiri sekaligus membuka Grand Opening Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Politeknik Sukabumi, Senin (24/8/2026). Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Wali Kota Sukabumi Bobby Maulana. Ayep melihat keberadaan LPK Politeknik Sukabumi sebagai bagian dari solusi konkret untuk memperkuat kualitas tenaga kerja sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap kesempatan kerja. Menurutnya, masyarakat yang ingin memasuki dunia kerja harus dibekali kemampuan yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan lapangan. Keinginan untuk bekerja, kata dia, harus berjalan beriringan dengan kompetensi dan keterampilan. “Masyarakat tidak cukup hanya memiliki keinginan untuk bekerja, tetapi juga harus memiliki kompetensi, keterampilan, dan kemampuan yang dibutuhkan,” ujar Ayep. LPK Politeknik Sukabumi sendiri ungkapnya membuka pelatihan bahasa serta berbagai keterampilan yang dipersiapkan bagi calon pekerja migran Indonesia. Salah satu peluang yang menjadi perhatian adalah kesempatan bekerja di Jepang. Bagi Ayep, peluang tersebut harus diikuti dengan kesiapan yang serius. Penguasaan bahasa, keterampilan teknis hingga mental menjadi modal penting sebelum masyarakat berangkat dan bersaing di dunia kerja internasional. “Kalau ada peluang kerja, kita harus siap. Karena itu bahasa harus dikuasai, keterampilan harus dimiliki, dan mental juga harus dipersiapkan,” tegasnya. Ia menilai pelatihan semacam ini memiliki arti strategis karena dapat mempertemukan kebutuhan peningkatan kualitas SDM dengan peluang kerja yang tersedia, termasuk peluang di luar negeri. Menariknya, manfaat LPK Politeknik Sukabumi tidak dibatasi hanya bagi warga Kota Sukabumi. Masyarakat dari berbagai daerah juga dapat memanfaatkan fasilitas pelatihan tersebut untuk meningkatkan kapasitas dan mempersiapkan diri memasuki dunia kerja. “LPK ini terbuka, bukan hanya untuk masyarakat Kota Sukabumi. Semakin banyak masyarakat yang mendapatkan pelatihan dan keterampilan, maka semakin besar pula peluang mereka untuk mendapatkan pekerjaan,” ungkapnya. Ayep menegaskan, pemerintah memiliki peran penting dalam menciptakan ekosistem ketenagakerjaan, namun penyelesaian persoalan pengangguran membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, lembaga pelatihan, dunia usaha dan berbagai pemangku kepentingan lainnya dinilai menjadi kunci agar masyarakat tidak hanya mendapatkan pelatihan, tetapi juga memiliki akses yang lebih luas terhadap kesempatan kerja. “Pemerintah tentu tidak bisa bekerja sendiri. Kita membutuhkan kolaborasi dengan lembaga pendidikan, lembaga pelatihan, dunia usaha, dan seluruh pihak untuk bersama-sama membuka dan memperluas peluang kerja,” katanya. Ia berharap kehadiran LPK Politeknik Sukabumi tidak berhenti sebagai tempat pelatihan, tetapi mampu menjadi jembatan yang menghubungkan masyarakat dengan masa depan pekerjaan yang lebih baik. “Mudah-mudahan LPK Politeknik Sukabumi ini bisa memberikan manfaat nyata, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, dan menjadi jalan bagi masyarakat untuk meraih masa depan yang lebih baik, termasuk mendapatkan kesempatan bekerja hingga ke Jepang,” pungkas Ayep. (Usep)

SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM. Persoalan sampah di Kota Sukabumi tidak lagi bisa dipandang sebagai urusan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) semata.Di tengah produksi sampah yang mencapai 190,33 ton per hari, seluruh elemen masyarakat dituntut mengambil bagian agar persoalan sampah dapat diselesaikan secara bersama-sama. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Sukabumi Yudi Sutriana menegaskan, pemerintah membutuhkan keterlibatan masyarakat mulai dari tingkat rumah tangga hingga lingkungan permukiman. Sebab, sebesar 47 persen sumber sampah Kota Sukabumi berasal dari rumah tangga. “Persoalan sampah ini bukan hanya tanggung jawab DLH. Ini tanggung jawab kita bersama. Pemerintah tidak mungkin menyelesaikan persoalan sampah sendirian tanpa perubahan perilaku masyarakat dari sumbernya,” tegas Yudi Sutriana saat diwawancara di ruang kerjanya, Senin (24/8). Data persampahan tahun 2025 menunjukkan, dengan jumlah penduduk 373.189 jiwa, Kota Sukabumi menghasilkan sekitar 69.469 ton sampah per tahun. Kondisi tersebut semakin mendesak karena TPA Cikundul yang dibangun sejak 1995 dengan luas keseluruhan 10,7 hektare, kini hanya memiliki sisa lahan aktif sekitar 1 hektare. Setiap harinya, TPA Cikundul masih menerima beban sekitar 132 ton sampah. Jika seluruh sampah terus berakhir di TPA tanpa pengurangan dari sumber, persoalan keterbatasan lahan akan semakin sulit diatasi. Menurut Yudi, kondisi TPA tersebut harus menjadi alarm bersama. Sebab, persoalan yang dihadapi bukan hanya soal cepat atau lambatnya lahan TPA penuh, tetapi juga menyangkut dampak lingkungan dan pembiayaan pemerintah. Penumpukan sampah berpotensi meningkatkan emisi gas metan, menimbulkan air lindi yang berisiko mencemari lingkungan, sekaligus membuat biaya operasional pengelolaan sampah semakin besar. “Kalau semua sampah dibuang ke TPA, kapan pun lahannya akan penuh. Karena itu, solusinya bukan sekadar bagaimana mengangkut sampah sebanyak-banyaknya ke TPA, tetapi bagaimana sampah itu dikurangi sejak dari rumah,” jelasnya. DLH Kota Sukabumi kini mendorong perubahan paradigma. Masyarakat tidak cukup hanya membuang sampah pada tempatnya, tetapi harus mulai memilah dan mengolah sampah sejak dari rumah. Apalagi berdasarkan komposisinya, 46 persen sampah Kota Sukabumi merupakan sampah organik. Kemudian terdapat 30 persen sampah lainnya atau residu, 14 persen plastik, serta 10 persen kertas dan karton. Sampah organik, terutama sisa makanan dan sampah dapur, dinilai memiliki peluang besar untuk diolah secara mandiri menjadi kompos maupun pupuk organik cair (POC). Teknologi sederhananya pun tidak harus mahal. Masyarakat dapat memanfaatkan biopori dari ember bekas maupun komposter tumpuk. DLH menargetkan melalui pengelolaan tersebut sedikitnya 30 persen sampah organik dapat dikurangi dari aliran menuju TPA pada 2030. Sementara sampah anorganik seperti plastik, kertas, kaleng, botol kaca dan besi dapat dipilah untuk kemudian disetorkan ke Bank Sampah. “Jangan semua sampah dianggap tidak berguna. Ada sampah yang bisa menjadi kompos dan ada yang mempunyai nilai ekonomi. Kalau dipilah, masyarakat bisa mendapatkan manfaat sekaligus membantu pemerintah mengurangi beban TPA,” kata Yudi. DLH juga mengajak masyarakat mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dalam aktivitas sehari-hari. Kantong plastik dapat digantikan dengan tas kain, sedangkan penggunaan tumbler, kotak makan dan peralatan makan yang dapat digunakan berulang kali perlu menjadi kebiasaan baru. Langkah sederhana tersebut dinilai penting karena pengurangan sampah tidak akan efektif jika hanya mengandalkan program pemerintah. Yudi menekankan, perubahan harus dilakukan secara kolektif mulai dari keluarga, RT, RW, kelurahan, sekolah, pelaku usaha, komunitas hingga pemerintah. Pola yang ingin dibangun DLH adalah menjadikan TPA sebagai tempat terakhir bagi sampah residu, bukan tempat menampung seluruh sampah masyarakat. Alurnya dimulai dari pemilahan di rumah, penampungan sementara dan pengangkutan. Sampah organik diolah menjadi kompos atau POC, sementara sampah anorganik bernilai ekonomi masuk ke Bank Sampah. Hanya sampah yang benar-benar tidak dapat dimanfaatkan yang dibuang ke TPA. Jika pola tersebut berjalan konsisten, dampaknya bukan hanya memperpanjang usia TPA Cikundul. Pengelolaan sampah yang benar juga dapat membantu mengurangi pencemaran lingkungan, mencegah penyumbatan saluran air yang berpotensi memicu banjir, menekan risiko penyakit, mengurangi biaya pemerintah, sekaligus membuka peluang ekonomi masyarakat. “Yang kita bangun bukan hanya sistem pengelolaan sampah, tetapi budaya bersama. Kalau masyarakat, pemerintah, dunia usaha dan seluruh unsur lingkungan bergerak bersama, persoalan sampah bisa kita kurangi,” ujar Yudi. Ia berharap masyarakat tidak lagi menempatkan persoalan sampah sebagai pekerjaan petugas kebersihan semata. Ketika sampah sudah dihasilkan dari rumah, maka tanggung jawab pertama berada pada setiap individu yang menghasilkan sampah tersebut. “Mulai dari rumah, mulai dari diri sendiri, lalu kita bergerak bersama. Jangan menunggu sampah menjadi masalah besar baru kita bertindak,” tegasnya. Dengan produksi sampah mencapai 190,33 ton setiap hari, Kota Sukabumi membutuhkan gerakan bersama yang konsisten. Menyelamatkan TPA Cikundul bukan semata-mata soal memperpanjang usia sebuah tempat pembuangan, tetapi tentang membangun kesadaran bahwa lingkungan yang bersih dan sehat merupakan tanggung jawab seluruh warga. (Usep)

SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Persoalan sampah di Kota Sukabumi perlahan diarahkan dari sekadar masalah lingkungan menjadi peluang untuk membangun pola pengelolaan yang lebih produktif dan berkelanjutan. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Sukabumi di bawah kepemimpinan Kepala DLH Yudi Sutriana menyiapkan strategi pengelolaan sampah secara menyeluruh, mulai dari rumah tangga hingga Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Paradigmanya pun mulai digeser. Sampah tidak semata-mata dipandang sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi sebagai material yang masih dapat dipilah, diolah, dimanfaatkan bahkan memiliki nilai ekonomi. Yudi mengatakan perubahan tersebut membutuhkan keterlibatan masyarakat karena sebagian besar persoalan sampah justru bermula dari sumbernya, yakni rumah tangga. “Pengelolaan sampah harus dimulai dari hulu. Masyarakat harus menjadi bagian utama dalam proses pemilahan dan pengolahan sampah,” ujar Yudi, Senin (24/8). Karena itu, DLH menggandeng komunitas, kelurahan serta berbagai unsur masyarakat untuk memperluas edukasi mengenai pemilahan sampah. Sosialisasi juga diarahkan kepada sektor usaha, khususnya hotel, restoran dan kafe atau Horeka. Langkah sederhana dari rumah menjadi sangat penting mengingat sampah organik, terutama sisa makanan, masih mendominasi produksi sampah hingga sekitar 70–80 persen. Untuk menjawab persoalan tersebut, DLH mendorong pemanfaatan teknologi sederhana yang dapat diterapkan masyarakat. Salah satunya melalui bantuan ember biopori untuk pengolahan sampah organik di lingkungan kelurahan, termasuk Kelurahan Cikundul. “Kalau sampah organik bisa selesai di tingkat rumah tangga atau lingkungan, beban yang dibawa ke TPA otomatis akan berkurang,” jelasnya. Tidak berhenti pada edukasi, DLH juga menyiapkan penguatan pengolahan sampah skala kawasan melalui optimalisasi TPS 3R. TPS 3R Cisarua menjadi salah satu fasilitas yang diarahkan untuk kembali berfungsi secara optimal. Fasilitas tersebut akan didukung mesin Refuse-Derived Fuel (RDF) dan rumah maggot sebagai bagian dari pengembangan ekonomi sirkular. Konsepnya sederhana namun memiliki dampak besar: sampah yang sebelumnya berakhir di TPA diupayakan masuk kembali ke dalam rantai pemanfaatan. Sampah organik dapat diolah melalui budidaya maggot, sementara material tertentu dapat diproses menjadi RDF yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan bakar industri maupun pembangkit. DLH juga berupaya memperkuat teknologi pengolahan melalui pengajuan hibah mesin insinerator ramah lingkungan berkapasitas lima ton per hari kepada pemerintah provinsi. Bahkan, penjajakan teknologi insinerator yang dapat beroperasi tanpa ketergantungan listrik juga tengah dilakukan sebagai salah satu alternatif pengolahan sampah. Di sektor hilir, pembenahan dilakukan secara bersamaan. DLH mulai menata armada pengangkutan sampah dengan menginventarisasi kendaraan yang sudah tidak layak beroperasi. Sekitar tujuh hingga delapan unit dump truck yang mengalami kerusakan berat, bersama sejumlah kendaraan operasional lainnya, dipersiapkan untuk proses penghapusan atau pelelangan sesuai ketentuan. Langkah tersebut bukan sekadar merapikan aset, tetapi juga bagian dari efisiensi agar anggaran tidak terus terserap untuk kendaraan yang sudah tidak produktif. Sementara itu, TPA Cikundul menjadi salah satu titik penting dalam pembenahan pengelolaan sampah Kota Sukabumi. DLH menyiapkan perubahan sistem dari pola open dumping menuju controlled landfill melalui pengurugan tanah secara berkala. Pembenahan IPAL juga dilakukan untuk memperbaiki pengelolaan air limbah. Tak kalah penting, DLH merencanakan pemasangan pipa gas metana guna mengendalikan gas yang muncul dari timbunan sampah sekaligus mengantisipasi potensi kebakaran dan ledakan. “TPA juga harus dibenahi. Kita ingin sistem pengelolaan sampah semakin aman, tertata dan memenuhi ketentuan lingkungan,” kata Yudi. Visi pengelolaan sampah tersebut tidak berhenti pada pembenahan hari ini. DLH juga mempersiapkan skema jangka panjang menuju TPA Bersama pada 2028, dengan rencana pemanfaatan fasilitas Galuga dan Kayu Manis tanpa tipping fee. Rencana itu sekaligus diarahkan untuk mendukung kebijakan pemerintah pusat dalam pengembangan Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL). Bagi Yudi, keberhasilan pengelolaan sampah bukan hanya diukur dari seberapa banyak sampah yang berhasil diangkut. Ukuran keberhasilan justru terletak pada seberapa banyak sampah yang berhasil dikurangi, diolah dan dimanfaatkan sebelum mencapai TPA. “Harapannya, masyarakat tidak lagi melihat sampah sebagai sesuatu yang tidak berguna. Dengan pemilahan dan pengolahan yang benar, sampah bisa menjadi sumber manfaat dan bagian dari ekonomi sirkular,” pungkasnya. (Usep)