HSU, BIDIK-KASUSNEWS.COM      Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polres Hulu Sungai Utara (HSU), Polda Kalimantan Selatan, berhasil mengungkap kasus dugaan tindak pidana narkotika jenis sabu di wilayah Kecamatan Amuntai Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kamis (6/11/2026). Dalam pengungkapan tersebut, petugas mengamankan seorang perempuan berinisial NAS alias Ambon (45), yang diduga terlibat dalam kepemilikan dan penguasaan narkotika jenis sabu. Penindakan berlangsung sekitar pukul 11.00 WITA di sebuah rumah di Desa Sungai Karias RT 005, Kecamatan Amuntai Tengah. Berdasarkan keterangan kepolisian, saat petugas mendatangi lokasi, perempuan tersebut ditemukan sedang berbaring di lantai ruang tamu. Petugas kemudian melakukan pengamanan dan penggeledahan di dalam rumah. Dari hasil penggeledahan, polisi menemukan satu paket sabu yang disimpan dalam kemasan tisu merek Indomaret dan dibungkus menggunakan tiga lembar tisu putih. Barang tersebut ditemukan di lantai kamar tidur, tepatnya di samping dinding kayu. Dari hasil penimbangan, barang bukti sabu tersebut memiliki berat bruto 15,21 gram dengan berat bersih 14,11 gram. Selain narkotika, petugas turut mengamankan sejumlah barang yang diduga berkaitan dengan aktivitas penyalahgunaan maupun peredaran narkotika, yakni satu timbangan digital, satu sedotan plastik yang diduga digunakan sebagai sendok, satu pipet kaca, seperangkat alat isap sabu atau bong, satu buah mancis, serta satu unit telepon genggam. Selanjutnya, perempuan yang diamankan beserta seluruh barang bukti dibawa ke Mapolres Hulu Sungai Utara untuk menjalani pemeriksaan dan proses penyidikan lebih lanjut. Pihak kepolisian juga melakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi dan terduga pelaku, pengujian awal terhadap barang bukti sabu menggunakan tes kit, serta melaksanakan gelar perkara sebagai bagian dari tahapan penanganan kasus. Atas dugaan perbuatannya, terduga pelaku disangkakan melanggar Pasal 114 ayat (2) Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika sebagaimana telah disesuaikan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan terkait, atau Pasal 609 ayat (2) huruf a KUHP sebagaimana disesuaikan dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana. Pengungkapan ini menjadi bagian dari upaya Polres Hulu Sungai Utara dalam menekan peredaran gelap narkotika di wilayah hukumnya. Kepolisian juga mengajak masyarakat untuk berperan aktif memberikan informasi apabila mengetahui adanya dugaan penyalahgunaan maupun peredaran narkoba di lingkungan masing-masing. Polisi Bersama Masyarakat, Bersama Perangi Narkoba. (Agus)

CIREBON – Bidik-kasusnews.com Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polresta Cirebon mengungkap kasus dugaan peredaran narkotika jenis tembakau sintetis di Kecamatan Palimanan, Kabupaten Cirebon. Dalam pengungkapan tersebut, polisi mengamankan seorang pria berinisial SM alias S (18) beserta 15 paket tembakau sintetis dengan berat bruto 10,10 gram. Pengungkapan kasus itu berlangsung pada Kamis (22/10/2026) sekitar pukul 20.30 WIB, di sebuah rumah di Blok Napi, Desa Ciawi, Kecamatan Palimanan. Saat melakukan penggeledahan, petugas menemukan belasan paket tembakau sintetis yang dikemas dalam plastik klip bening. Selain 15 paket tembakau sintetis, polisi turut mengamankan dua bungkus rokok merek HS Matcha, satu bungkus rokok merek Nestlite, satu bungkus plastik klip bening, serta satu unit telepon genggam merek Infinix HOT 11S warna hijau berikut kartu SIM. Kapolresta Cirebon Kombes Pol. Imara Utama, S.H., S.I.K., M.H., menegaskan bahwa pemberantasan narkotika menjadi salah satu upaya kepolisian untuk menjaga keamanan masyarakat sekaligus melindungi generasi muda dari ancaman penyalahgunaan narkoba. “Polresta Cirebon berkomitmen untuk terus memberantas peredaran gelap narkotika. Kami tidak ingin generasi muda terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba yang dapat merusak kesehatan, masa depan, dan kehidupan sosial mereka,” tegasnya. Berdasarkan keterangan awal dalam laporan kepolisian, tersangka mengakui bahwa tembakau sintetis tersebut merupakan miliknya dan rencananya akan diperjualbelikan. Petugas kemudian membawa tersangka beserta seluruh barang bukti ke Mapolresta Cirebon untuk menjalani pemeriksaan dan proses hukum lebih lanjut. Dalam perkara tersebut, tersangka disangkakan melanggar Pasal 114 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dan/atau Pasal 609 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP juncto Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana, sebagaimana tercantum dalam laporan kepolisian. Saat ini, penyidik masih mendalami kasus tersebut, termasuk menelusuri asal-usul tembakau sintetis dan kemungkinan adanya pihak lain yang terlibat dalam peredarannya. “Kami akan terus mengembangkan kasus ini untuk menelusuri asal-usul barang bukti serta mengungkap kemungkinan keterlibatan pihak lain. Kami juga mengajak masyarakat untuk berperan aktif memberikan informasi apabila mengetahui adanya dugaan peredaran narkotika di lingkungannya,” ungkapnya. Kapolresta Cirebon turut mengimbau masyarakat agar meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar dan tidak ragu melaporkan aktivitas yang diduga berkaitan dengan penyalahgunaan maupun peredaran narkoba. Masyarakat dapat menyampaikan laporan melalui layanan Call Center Polri 110 agar informasi yang diterima dapat ditindaklanjuti oleh petugas sesuai prosedur. Melalui penegakan hukum dan dukungan masyarakat, Polresta Cirebon terus berupaya menekan peredaran narkotika serta menciptakan lingkungan yang aman dan melindungi generasi muda dari bahaya narkoba. (Asep Rusliman)

HSU – BIDIK-KASUSNEWS.COM                        Satuan Reserse Narkoba Polres Hulu Sungai Utara (HSU), Kalimantan Selatan, mengungkap kasus dugaan tindak pidana narkotika jenis sabu dengan barang bukti seberat 98,78 gram bersih. Dalam pengungkapan tersebut, polisi mengamankan dua pria yang diduga terlibat dalam perkara tersebut. Pengungkapan berlangsung pada Kamis (8/10/2026), bermula di Jalan H. Abd. Hamidan, Kelurahan Antasari, Kecamatan Amuntai Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Utara, sekitar pukul 15.15 Wita. Berdasarkan keterangan dalam laporan kepolisian, petugas mengamankan seorang pria berinisial SH alias Suma. Saat hendak diamankan, pria tersebut diduga membuang sebuah bungkusan ke tepi jalan menggunakan tangan kirinya. Setelah dilakukan pemeriksaan terhadap bungkusan tersebut, petugas menemukan satu paket yang diduga narkotika jenis sabu. Barang tersebut memiliki berat keseluruhan 100 gram dengan berat bersih 98,78 gram, dibungkus plastik klip transparan dan dilapisi kantong plastik hitam berlakban bening. Dari lokasi penangkapan, polisi juga mengamankan dua unit telepon seluler serta satu unit sepeda motor Suzuki Shogun berwarna biru. Polisi Telusuri Dugaan Keterlibatan Pihak Lain Dalam pemeriksaan awal, SH disebut mengaku diminta oleh pria berinisial SN alias Andut untuk mengambil paket yang diduga berisi sabu tersebut. Menindaklanjuti informasi itu, petugas melakukan penyelidikan lebih lanjut. Sekitar pukul 19.40 Wita pada hari yang sama, polisi mengamankan SN di sebuah rumah di Desa Padang Basar, Kecamatan Amuntai Utara, Kabupaten Hulu Sungai Utara. Dari lokasi tersebut, petugas menyita satu unit telepon seluler, uang tunai sebesar Rp70.000, serta satu unit sepeda motor Honda Supra X berwarna hitam tanpa tanda nomor kendaraan bermotor. Kedua pria beserta barang bukti kemudian dibawa ke Satresnarkoba Polres HSU untuk menjalani proses penyidikan lebih lanjut. Sejumlah Barang Bukti Diamankan Selain satu paket yang diduga sabu dengan berat bersih 98,78 gram, polisi turut mengamankan tiga unit telepon seluler, dua unit sepeda motor, uang tunai Rp70.000, serta sejumlah material pembungkus yang berkaitan dengan barang bukti. Penyidik juga melakukan pengujian awal terhadap barang bukti menggunakan tes kit, memeriksa saksi-saksi dan pihak yang diamankan, serta melaksanakan gelar perkara sebagai bagian dari tahapan penanganan kasus. Perkara ini berkaitan dengan dugaan tindak pidana narkotika, termasuk dugaan peredaran atau penguasaan narkotika golongan I bukan tanaman dengan berat melebihi lima gram. Penerapan pasal dan pembuktian unsur pidana selanjutnya menjadi bagian dari proses penyidikan sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Pengungkapan ini menjadi bagian dari upaya kepolisian dalam menangani dugaan peredaran narkotika di wilayah Kabupaten Hulu Sungai Utara. (Agus)

Kuningan – Bidik-kasusnews.com                        Satuan Reserse Narkoba Polres Kuningan meringkus seorang pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu berinisial FR (26). Pegawai di lingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten Kuningan tersebut diduga terlibat jaringan peredaran sabu-sabu sebagai kurir demi mendapatkan pasokan narkoba secara cuma-cuma. Penangkapan warga Purawinangun ini dikonfirmasi oleh Kasat Narkoba AKP Arif Zaenal Abidin melalui Kanit Narkoba Ipda Heru Pramu Apriliyanto. FR ditangkap bersama lima rekan lainnya dengan total barang bukti sabu seberat 10,12 gram. “Kita amankan dia itu adanya jaringan. Jadi kita amankan bersama-sama itu, yang enam orang itu. Nah kalau untuk pegawai P3K kan kita atas dasarnya dari Disdik ya kemarin itu. Iya, betul (dari Dinas Pendidikan), belum menikah usia 26 tahun,” tutur Heru, Rabu (30/9/2026). Ipda Heru menjelaskan bahwa FR berperan mengantarkan pesanan kepada pengguna. Motif utamanya adalah agar pelaku bisa mengonsumsi sabu tanpa harus mengeluarkan biaya alias gratis. “Nah si F diduga yang sering nganterin pesanannya. Jadi perannya tuh kurir, iya. Seperti yang pertama pemakai, yang keduanya kurir, gitu aja. Ya motifnya berarti dia pengin pakai gratis, jadi dia melakukan itu,” tutur Heru. Atas perbuatannya, FR terancam hukuman maksimal penjara seumur hidup. Polisi menjeratnya dengan Pasal 114 juncto Pasal 132 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. “Berarti saya pasang pasal itu 114 juncto 132-nya. Karena barang buktinya itu kan kepemilikannya orang lain, nah jadi kita pakai pasal 132-nya,” tutur Heru. Terpisah, Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kabupaten Kuningan, Beni Prihayatno, membenarkan status kepegawaian FR sebagai tenaga PPPK paruh waktu di Dinas Pendidikan. Namun, pihaknya belum bisa mengambil tindakan administratif karena masih menunggu laporan resmi. “Baru tau dan belum ada laporan dari kepolisiannya dan dari dinas terkaitnya. Kalau ada laporan pasti diproses kepegawaiannya,” kata Beni saat dikonfirmasi. Disdik Buka Suara Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kuningan memberikan respons resmi terkait penangkapan salah satu pegawainya oleh Satuan Reserse Narkoba Polres Kuningan akibat kasus penyalahgunaan sabu. Kepala Sub Bagian Umum dan Kepegawaian Disdikbud Kuningan, Arif Yudianto, mengonfirmasi bahwa pelaku berinisial FR merupakan pegawai P3K Paruh Waktu yang bertugas di Koordinator Wilayah (Korwil) Kecamatan Kuningan. Berdasarkan informasi yang diterima, penangkapan FR telah dilakukan pihak kepolisian sejak dua bulan lalu. “FR selama ini tercatat sebagai pegawai P3K di korwil Kuningan dinas pendidikan dan kebudayaan, kejadian penangkapan tersebut saya dengar terjadi kurang lebih 2 bulan yang lalu kalau nggak salah di bulan agustus dan sudah berstatus tersangka (dari rilis laporan polisi),” tutur Arif, Rabu (30/9/2026). Arif mengungkapkan keprihatinan mendalam atas kasus ini. Meski FR bukan merupakan tenaga pendidik melainkan staf administrasi, tindakan tersebut dinilai telah mencoreng citra institusi pendidikan di Kabupaten Kuningan. “Secara kelembagaan kami turut prihatin atas kejadian tersebut sebagai warga pendidikan juga kurang elok dan sedikit menodai dunia pendidikan walaupun sebenarnya yang bersangkutan juga bukan berstatus tenaga pendidik dan hanya tenaga administrasi kantor di kordinator wilayah kecamatan kuningan,” kata Arif menambahkan. Mengenai kelanjutan status kepegawaian FR, Disdikbud Kuningan saat ini tengah menjalin komunikasi intensif dengan Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) serta pihak kepolisian. “Secara preventif kami juga sedang berkoordinasi dan konsultasi dengan BKSDM mengenai status kepegawaiannya karena terikat sebagai pegawai P3K itu dan secara kejadian perkara tersebut biarlah menjadi ranah aparat kepolisian,” jelasnya. Sebagai langkah antisipasi agar kejadian serupa tidak terulang, Disdikbud berencana memperketat pengawasan melalui perluasan pelaksanaan tes urin. Agenda rutin yang bekerja sama dengan BNN Kabupaten Kuningan tersebut nantinya tidak hanya menyasar pegawai di kantor dinas, tetapi juga akan menjangkau hingga ke tingkat kecamatan. “Sebagai pembina kepegawaian di lingkungan dinas pendidikan. Saya berharap kedepan tidak terjadi lagi perilaku yang tidak baik dan menyimpang apa lagi dilingkungan keluarga besar pendidikan. Sebagai bentuk pencegahan sebenarnya pada pegawai kami secara periodik bekerja sama dengan BNN kabupaten baik itu inisiatif kita atau dari BNN selalu ada giat tes Urin pada pegawai cuman belum sampai menyasar ke pegawai kita di wilayah kecamatan kedepannya mungkin akan kita giatkan sampai ke wilayah binaan disdikbud,” pungkas Arif. (Asep Rusliman)

HSU – BIDIK-KASUSNEWS.COM                        Satuan Reserse Narkoba Polres Hulu Sungai Utara mengungkap dugaan tindak pidana narkotika di wilayah Kecamatan Sungai Pandan, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Kalimantan Selatan. Dalam pengungkapan tersebut, polisi mengamankan seorang pria berinisial U alias UTIH, warga Desa Banyu Tajun Hulu, Kecamatan Sungai Pandan. Pria berusia 39 tahun itu diamankan pada Senin (28/9/2026) sekitar pukul 19.30 Wita. Penangkapan berlangsung di sebuah rumah di Jalan Brigjen H. Hasan Baseri, RT 003, Desa Banyu Tajun Hulu. Berdasarkan keterangan kepolisian, petugas menemukan satu paket narkotika jenis sabu dengan berat keseluruhan 5,22 gram atau berat bersih 5,04 gram. Barang tersebut ditemukan di dalam lemari pakaian, tepatnya di antara tumpukan baju. Sabu tersebut disebut berada dalam sobekan kantong plastik berwarna hitam dan dibungkus menggunakan plastik klip transparan. Selain sabu, petugas turut mengamankan sejumlah barang yang diduga berkaitan dengan perkara tersebut. Barang bukti yang diamankan antara lain satu paket plastik klip transparan, satu pak plastik klip transparan, satu timbangan digital merek JLD Tool berwarna hitam, uang tunai Rp6,5 juta, serta satu unit telepon seluler Android merek OPPO A54. Saat petugas melakukan pengamanan, U disebut berada di bagian dapur rumah. Penggeledahan kemudian dilakukan dengan disaksikan kepala desa setempat. Selanjutnya, terduga pelaku beserta seluruh barang bukti dibawa ke ruang Satresnarkoba Polres Hulu Sungai Utara untuk menjalani proses penyidikan lebih lanjut. Polisi Lakukan Penyidikan Kasat Resnarkoba Polres HSU menyebut sejumlah langkah telah dilakukan setelah pengungkapan tersebut. Petugas mengamankan terduga pelaku dan barang bukti, melakukan tes kit terhadap barang bukti yang diduga sabu, serta memeriksa saksi-saksi dan terduga pelaku. Polisi juga melakukan gelar perkara sebagai bagian dari proses penyidikan. Dalam perkara ini, kepolisian menyebut terduga pelaku disangkakan dengan ketentuan peredaran dan kepemilikan narkotika sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. Meski demikian, status dan keterlibatan seseorang dalam perkara pidana tetap harus dibuktikan melalui proses hukum yang berlaku dan putusan pengadilan. Polres Hulu Sungai Utara menyatakan proses penyidikan masih berlanjut untuk mendalami perkara tersebut. (Agus)

CIREBON – Bidik-kasusnews.com                Polresta Cirebon kembali menunjukkan komitmennya dalam memberantas peredaran obat keras terbatas (OKT) dan minuman keras (miras) ilegal di wilayah hukum Polresta Cirebon. Sepanjang pertengahan hingga akhir September 2026, jajaran Satresnarkoba Polresta Cirebon menggelar serangkaian penindakan secara terukur dan berkelanjutan. Hasilnya, tiga pelaku peredaran OKT di tiga wilayah kecamatan berhasil diamankan dengan barang bukti mencapai lebih dari 1.000 butir tablet ilegal. Penindakan pertama dilakukan pada Minggu (13/9/2026) malam sekitar pukul 22.00 WIB. Petugas mengamankan tersangka DF (26), seorang wiraswasta, di pinggir jalan wilayah Kecamatan Gegesik. Dari tangan tersangka, polisi menyita 260 butir pil Tramadol, uang tunai Rp200.000 yang diduga hasil penjualan, satu tas selempang warna hijau, serta satu unit telepon seluler Oppo. Dalam pemeriksaan, DF mengaku memperoleh obat keras tersebut dari seorang penyuplai berinisial Gotit yang kini masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO). Selanjutnya, pada Sabtu (19/9/2026) sekitar pukul 16.00 WIB, petugas kembali melakukan penindakan di Kecamatan Gunungjati. Kali ini, tersangka TAP (31) diamankan di halaman kediamannya. Petugas menemukan 550 butir Tramadol, 110 butir Trihexyphenidyl, uang tunai Rp122.000, sebuah kotak plastik, dan tas warna cokelat. Kepada penyidik, TAP mengaku mendapatkan sediaan farmasi tersebut dari seorang penyuplai di kawasan Kesunean, Kota Cirebon. Penindakan ketiga dilakukan pada Senin (21/9/2026) sekitar pukul 13.30 WIB di wilayah Kecamatan Ciledug. Petugas mengamankan tersangka S (25), seorang buruh asal Pabedilan, di sebuah toko. Dari hasil pengembangan hingga penggeledahan di rumah orang tua tersangka di Kecamatan Ciledug, polisi menyita 101 tablet Trihexyphenidyl serta uang tunai Rp300.000. Dalam pemeriksaan, S mengaku memesan obat keras tersebut secara daring melalui platform media sosial TikTok dengan menggunakan akun IDLCM8MWK3, kemudian menjualnya kembali secara eceran. Kapolresta Cirebon Kombes Pol. Imara Utama, S.H., S.I.K., M.H., menegaskan bahwa pemberantasan peredaran obat keras terbatas dan penertiban minuman keras ilegal menjadi bagian penting dalam upaya menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas). “Polresta Cirebon tidak akan memberikan ruang gerak bagi para pelaku peredaran obat keras terbatas maupun penjual minuman keras ilegal. Peredaran barang terlarang ini dapat menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan munculnya kejahatan jalanan, premanisme hingga bentrokan fisik di tengah masyarakat,” ujar Imara, Rabu (28/9/2026). Menurutnya, pola peredaran obat keras terus berkembang, termasuk memanfaatkan media sosial. Karena itu, jajaran Satresnarkoba akan terus melakukan pemantauan dan penindakan terhadap berbagai modus yang digunakan para pelaku. “Baik transaksi secara langsung maupun modus melalui jaringan media sosial, seluruhnya akan kami tindak sesuai hukum yang berlaku. Langkah ini merupakan bagian dari upaya melindungi masyarakat, khususnya generasi muda di Kabupaten Cirebon,” katanya. Untuk kasus peredaran OKT, ketiga tersangka, yakni DF, TAP, dan S, dijerat Pasal 435 dan/atau Pasal 436 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang RI Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan sebagaimana telah diubah dalam UU RI Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana, dengan ancaman pidana penjara paling lama 12 tahun. Penyidik Satresnarkoba Polresta Cirebon masih terus melakukan pengembangan untuk mengungkap jaringan pemasok di atas para tersangka, termasuk memburu sejumlah pihak yang telah masuk dalam DPO. Selain penindakan terhadap peredaran OKT, Satresnarkoba Polresta Cirebon juga menggelar Operasi Penyakit Masyarakat (Pekat) dengan sasaran peredaran minuman keras ilegal. Operasi tersebut dilaksanakan secara maraton pada 15 hingga 22 September 2026 di sembilan kecamatan. Dalam kegiatan itu, petugas menindak 22 pedagang miras ilegal dan menyita 655 botol minuman beralkohol serta 4 liter miras tradisional jenis tuak. Seluruh barang bukti telah diamankan di Mapolresta Cirebon. Sementara para pemilik barang menjalani pemeriksaan dan membuat surat pernyataan untuk tidak mengulangi perbuatannya serta diproses melalui Tindak Pidana Ringan (Tipiring). Polresta Cirebon memastikan kegiatan penindakan terhadap OKT dan miras ilegal akan terus dilakukan secara berkelanjutan sebagai bagian dari upaya menjaga kondusivitas wilayah sekaligus mencegah berbagai gangguan kamtibmas yang berpotensi meresahkan masyarakat. (Asep Rusliman)

PONTIANAK, Bidik-kasusnews.com                    TNI Angkatan Darat (TNI AD) melalui Korem 121/Alambhana Wanawwai (Abw) menyerahkan barang bukti narkotika jenis sabu seberat 16,4 kilogram kepada Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kalimantan Barat (Kalbar), di Aula Mapomdam XII/Tpr, Pontianak, Senin (28/9/2026). Barang bukti tersebut merupakan hasil penggagalan dua upaya penyelundupan narkoba di wilayah perbatasan RI-Malaysia. Penyerahan secara simbolis dilakukan Danrem 121/Abw Brigjen TNI Purnomosidi, S.I.P., M.A.P., M.Han., mewakili Pangdam XII/Tpr, kepada Kepala BNNP Kalbar Brigjen Pol Totok Lisdiarto, S.I.K., S.H., M.H. Pengungkapan pertama dilakukan Satgas Pamtas Sektor Barat pada Senin (21/9/2026) di Desa Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang, dengan mengamankan sabu seberat 1,93 kilogram yang diselundupkan melalui jalur tikus. Dalam penindakan tersebut, terduga pelaku melarikan diri. Pengungkapan kedua berlangsung pada Sabtu (26/9/2026) di Desa Entumun, Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau. Satgas Pamtas Yonarmed 19/Bogani bersama Satgas Intelijen mengamankan 13 paket sabu seberat 14,472 kilogram. “Pada kesempatan ini, saya mewakili Pangdam XII/Tpr menyampaikan informasi terkait keberhasilan Satgas Pamtas RI-Malaysia di wilayah Kalbar dalam menggagalkan upaya penyelundupan narkoba di dua kejadian berbeda,” ujar Brigjen TNI Purnomosidi. Atas keberhasilan tersebut, Pangdam XII/Tpr menyampaikan apresiasi kepada seluruh prajurit yang melaksanakan tugas pengamanan perbatasan. Selanjutnya, seluruh barang bukti diserahkan kepada BNNP Kalbar untuk penanganan dan pengembangan kasus lebih lanjut sesuai ketentuan. Penyerahan ini menjadi bagian dari sinergi TNI AD bersama BNNP Kalbar dalam memperkuat pemberantasan peredaran narkoba sekaligus mencegah pemanfaatan jalur perbatasan sebagai jalur penyelundupan narkotika ke wilayah Indonesia. (Agus)

AMUNTAI – Bidik-kasusnews.com                  Satuan Reserse Narkoba Polres Hulu Sungai Utara (HSU) mengamankan tiga pria dalam pengungkapan kasus dugaan tindak pidana narkotika di Jalan Norman Umar, Kelurahan Kebun Sari, Kecamatan Amuntai Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan. Ketiganya diamankan pada Selasa, 22 September 2026, sekitar pukul 20.30 Wita. Dalam penindakan tersebut, polisi menyita dua paket narkotika jenis sabu dengan berat bersih 10,02 gram. Tiga pria yang diamankan masing-masing berinisial AGR (42), FG (37), dan JBS (31). Berdasarkan laporan kepolisian, ketiganya saat itu berada di dalam sebuah mobil pikap yang dikemudikan JBS. Penangkapan bermula ketika petugas melakukan tindakan terhadap ketiga orang tersebut. Saat hendak diamankan, AGR yang duduk di kursi penumpang bagian kiri disebut sempat membuang sebuah benda ke badan jalan. Petugas kemudian melakukan pemeriksaan di sekitar lokasi. Benda yang ditemukan tersebut ternyata berupa tisu putih yang di dalamnya terdapat dua paket sabu yang dikemas menggunakan plastik klip transparan. Selain sabu, polisi turut mengamankan tiga unit telepon seluler serta satu unit mobil pikap Daihatsu Gran Max yang digunakan saat ketiga pria tersebut berada di lokasi. Seluruh tersangka bersama barang bukti selanjutnya dibawa ke Satresnarkoba Polres HSU untuk menjalani proses penyidikan lebih lanjut. Polisi juga menyatakan telah melakukan pemeriksaan awal terhadap barang bukti, pemeriksaan terhadap saksi dan para tersangka, serta gelar perkara sebagai bagian dari tahapan penyidikan. Dalam perkara ini, para tersangka disangkakan dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, termasuk Pasal 114 ayat (2) dan Pasal 112 ayat (2) juncto Pasal 132 ayat (1), sesuai konstruksi perkara yang disampaikan kepolisian. Kasus tersebut masih dalam proses penyidikan. Status hukum para tersangka tetap mengikuti proses peradilan dan asas praduga tak bersalah hingga terdapat putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap. (Agus)

JAKARTA – Bidik-kasusnews.com                      Upaya sindikat narkotika menyamarkan pengiriman barang haram kembali terbongkar. Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri bersama Bea Cukai Jawa Timur I dan Rutan Kelas I Surabaya berhasil mengungkap peredaran narkotika jaringan Jakarta–Surabaya–Lombok. Dalam pengungkapan tersebut, petugas menyita 5.418,10 gram atau sekitar 5,4 kilogram sabu yang disembunyikan secara rapi di dalam ban serep mobil. Seorang tersangka bernama Sayed Zuwanda berhasil ditangkap di Terminal Ro-Ro Jamrud, Surabaya, Kamis (10/9). Modus penyelundupan dengan memanfaatkan ruang tersembunyi pada kendaraan tersebut menjadi bagian dari upaya jaringan untuk mengelabui petugas dan memuluskan distribusi narkotika lintas wilayah. Dari hasil pengungkapan, barang bukti sabu sebanyak 5.418,10 gram tersebut diperkirakan memiliki nilai ekonomi mencapai Rp975,25 juta. Lebih dari sekadar nilai rupiah, pengungkapan ini juga memiliki dampak besar terhadap upaya pencegahan penyalahgunaan narkotika. Berdasarkan perhitungan yang digunakan dalam pengungkapan kasus tersebut, barang bukti yang berhasil diamankan diperkirakan dapat mencegah penyalahgunaan terhadap sekitar 27.091 jiwa. “Namun, pengungkapan ini belum menjadi titik akhir.” Penyidik masih melakukan pengembangan untuk membongkar mata rantai jaringan yang diduga berada di balik peredaran narkotika tersebut. Dua nama kini menjadi perhatian dalam pengembangan perkara, yakni Daniel Alfian, yang telah masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO), serta Haykal Fikri, yang diduga berperan sebagai pengendali jaringan. Langkah pengejaran terhadap kedua pihak tersebut menjadi bagian penting dari pengembangan penyidikan guna mengungkap secara lebih luas struktur jaringan, jalur distribusi, serta pihak-pihak lain yang diduga terlibat. Pengungkapan ini sekaligus memperlihatkan bahwa peredaran narkotika tidak berhenti pada satu wilayah. Jaringan lintas daerah terus memanfaatkan berbagai modus untuk mengirimkan barang terlarang dari satu wilayah ke wilayah lainnya. Dengan diamankannya lebih dari lima kilogram sabu tersebut, aparat penegak hukum berhasil memutus salah satu mata rantai distribusi narkotika yang diduga menyasar jalur Jakarta–Surabaya–Lombok. Kini, penyidikan terus bergulir. Satu tersangka telah diamankan, sementara pengejaran terhadap pihak lain yang diduga memiliki peran dalam jaringan tersebut masih dilakukan. Pesannya tegas: jaringan boleh bergerak secara tersembunyi, tetapi aparat terus memburu setiap mata rantai peredarannya. (Asep Rusliman)

CIREBON – Bidik-kasusnews.com      Penyelundupan sabu dan Trihex ke Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Cirebon berhasil digagalkan oleh petugas. Upaya penyelundupan ini dilakukan pada Rabu 16 September 2026. Petugas menemukan narkotika jenis sabu-sabu dan obat terlarang jenis Trihex yang disamarkan dalam botol bedak cair merek Caladine. Barang tersebut diketahui merupakan titipan untuk seorang warga binaan berinisial ESD. Upaya penyelundupan terbongkar ketika petugas Klinik Rutan melakukan pemeriksaan rutin terhadap obat dan barang titipan yang masuk ke dalam rutan. Dalam pemeriksaan tersebut, petugas menemukan kejanggalan pada salah satu barang titipan. Botol bedak cair yang diterima tidak hanya berisi produk sebagaimana mestinya. Barang Terlarang Disembunyikan dalam Botol Bedak Cair. Petugas kemudian memeriksa lebih lanjut isi botol tersebut. Hasil pemeriksaan menemukan puluhan bungkusan plastik berwarna hitam yang diduga digunakan untuk menyembunyikan barang terlarang. Temuan itu langsung dilaporkan secara berjenjang kepada Kepala Sub Seksi Administrasi dan Perawatan (Kasubsi Adper) serta Kepala Seksi Pelayanan Tahanan. Pemeriksaan selanjutnya melibatkan Kepala Kesatuan Pengamanan Rutan (Ka KPR) dan warga binaan yang menjadi tujuan barang titipan tersebut. Dari pemeriksaan isi botol, petugas menemukan 25 bungkusan plastik berwarna hitam. (Asep Rusliman)