Bidik-kasusnews.com Sintang,Kalimantan Barat Pemasangan plang larangan beraktivitas oleh Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) di kebun sawit dan lahan milik warga Desa Sarai kecamatan sungai tebelian kabupaten Sintang mendapat penolakan keras masyarakat dan telah memicu reaksi keras dari masyarakat Desa Sarai beberapa hari lalu. Plang yang dipasang oleh satgas PKH bertuliskan “Lahan perkebunan sawit seluas 983.25Ha ini dalam penguasaan pemerintah Republik Indonesia C.Q. satgas penertiban kawasan hutan (PKH) Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2025 tentang penertiban kawasan hutan” dan dibawahnya ditulis lagi berwarna merah yang isinya DILARANG memperjualbelikan dan menguasai tanpa izin satgas penertiban kawasan hutan. Pemasangan patok dan plang oleh satgas PKH terhadap lahan masyarakat beberapa hari lalu, mendapat reaksi keras dari masyarakat Desa Sarai kecamatan sungai tebelian kabupaten Sintang kalbar, karena tidak ada sama sekali pemberitahuan, maupun koordinasi kepada pemerintah Desa setempat, sehingga menjadi tanda tanya besar atas kesewenang-wenangan tim satgas PKH dan tiba-tiba datang pasang plang dan setelah itu pergi, ujar tokoh adat setempat. Kamis (20/11/2025) Sebelum melakukan aksi, terlebih dahulu diadakan ritual adat Dayak yang dipimpin oleh Sujiman/geredat dan diikuti Tokoh Adat Sijung, hadir juga kepala Desa Sarai Apin Hanjabudin, tokoh masyarakat, ketua APDESI kabupaten Sintang Dede Hendrianus dan beberapa orang kepala desa yang ada di kecamatan sungai tebelian, dan ratusan masyarakat Desa Sarai. Melakukan ritual adat Dayak dilokasi sebagai respon dan sekaligus melakukan pernyataan sikap yaitu menolak dan melarang dengan keras atas pemasangan patok dan plang oleh satgas PKH (penertiban kawasan hutan) yang mengatasnamakan tanah tersebut milik negara, dan menyita tanah masyarakat adat dengan semena-mena, padahal tanah masyarakat adat sudah puluhan bahkan ratusan tahun dikelola oleh masyarakat, serta dilahan tersebut ada kebun, ada tembawang, ada tempat keramat yang sudah turun temurun sampai sekarang. “Lahan ini adalah warisan yang kami jaga turun temurun, Kami tidak akan membiarkan harkat dan martabat leluhur diinjak-injak demi aturan yang dibuat tanpa mendengarkan suara rakyat,” Dilahan yang disegel tersebut ada namanya kampung laman Tapang, Ada keramat’ batu lancang,ada kampung pemabuk Raung,ada makam tua Tapang kingkin dan makam tua di laman Tapang yang merupakan tempat asal masyarakat Desa Sarai, kenapa lalu bisa menjadi hutan, bisa menjadi milik negara, padahal asal nenek moyang kami, sebelum adanya negara merdeka sudah ada nenek moyang kami, ujar Sedayu dan didampingi M.yamin dan pak Ramli saat orasi pernyataan sikap. Masyarakat juga menuntut pemerintah daerah mengambil langkah dan tindakan nyata menyelesaikan masalah ini, karena menyangkut kelangsungan hidup harkat dan martabat manusia, ujar Yamin. Sementara itu kepala Desa Sarai Apin hamjahudin mengatakan bahwa pemasangan patok dan plang oleh satgas PKH terhadap lahan masyarakat tidak ada sama sekali pemberitahuan dan maupun koordinasi dengan pihak pemerintah Desa, serta tidak adanya sosialisasi satgas PKH kepada masyarakat, justru pemerintah Desa Sarai terkejut atas terjadinya penyegelan lahan masyarakat Desa Sarai, terangnya “kami pemerintah Desa akan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait, terutama Bupati Sintang dan juga wakil rakyat, dan berharap ada solusi terbaik untuk menyelesaikan masalah ini”, ujar kades Sarai. Kades Sarai juga menyoroti kebijakan penertiban kawasan hutan yang sering kali diterapkan tanpa kajian sosial yang mendalam. Padahal Negara ini hadir untuk membantu dan mensejahterakan masyarakat, tapi kenyataannya membuat kebijakan yang merugikan masyarakat, katanya. “Kami ingin pemerintah tidak melupakan keadilan, mari ajak kami masyarakat berbicara dan bermusyawarah, dan jangan mengabaikan karena aturan dan kebijakan pemerintah yang menambah penderitaan masyarakat, tutupnya. Penulis: Tinus Yai Tim liputan : Tinus Yai// Basori

SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Semarak Hari Guru Nasional (HGN) dan HUT PGRI 2025 mulai terasa di Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi. ‎ ‎Dipusatkan di Lapang Lodaya Setra Surade, rangkaian kegiatan resmi digelar sejak 17 hingga 24 November 2025 oleh PGRI Cabang Surade bekerja sama dengan KKGO Kecamatan Surade. ‎ ‎Kegiatan ini menjadi ajang kebersamaan seluruh guru dari jenjang TK hingga SMA sederajat. ‎ ‎Selain memperingati momentum tahunan, rangkaian ini juga bertujuan mempererat solidaritas, membangun kekompakan, dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap peran PGRI sebagai organisasi profesi guru. ‎ ‎Enam cabang lomba digelar, meliputi catur, tenis meja, bulutangkis, voli, futsal, dan solo. Setiap pertandingan berlangsung meriah dan penuh sportivitas. ‎ ‎Antusias peserta sangat tinggi, terlihat dari banyaknya sekolah yang mengirimkan tim terbaiknya. Guru-guru pun dapat sejenak melepas rutinitas mengajar dan menikmati suasana kompetisi yang sehat. ‎ ‎Rangkaian kegiatan akan ditutup pada Selasa, 25 November 2025, bersamaan dengan Upacara HGN yang dipusatkan di Gedung PGRI Kecamatan Surade. Seluruh guru dijadwalkan hadir dalam upacara, ramah tamah, sekaligus pengumuman pemenang lomba. ‎ ‎Ketua PGRI Kecamatan Surade, H. Budianto Asfari, menyampaikan apresiasinya atas semangat dan partisipasi para guru. ‎ ‎”Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk menumbuhkan kembali motivasi, memperkuat silaturahmi, serta membuka ruang bagi para guru bertukar pengalaman,” katanya, Kamis (20/11/2025). ‎ ‎Ia juga berharap peringatan HGN dan HUT PGRI ke depan dapat berlangsung lebih meriah dan melibatkan lebih banyak guru dari berbagai jenjang pendidikan. Semangat kebersamaan ini diharapkan terus tumbuh sebagai cerminan dedikasi para pendidik dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Surade. (Dicky)

SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Sebuah video berdurasi 2 menit 2 detik yang memperlihatkan seorang pria dewasa memarahi seorang pelajar hingga diduga melakukan pemukulan, viral setelah diunggah di Facebook. ‎ ‎Rekaman itu menampilkan aksi arogansi pria tersebut sambil meluapkan amarah dengan suara keras dan kata-kata kasar kepada sang pelajar. ‎ ‎Insiden itu terjadi di ruas jalan desa, tepatnya di Kampung Citamiang, Desa Cikangkung, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi, Rabu (19/11/2025) sekitar pukul 17.00 WIB usai pulang sekolah. ‎ ‎Saat itu, pelajar bernama Ajiansu — siswa kelas X SMKN 1 Surade tengah dalam perjalanan pulang usai mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. ‎ ‎Peristiwa bermula ketika keduanya melintas di jalan desa Pamoyanan–Bojonggadog. Motor yang dikendarai Ajiansu melindas genangan air pada sebuah lubang. ‎ ‎Tak ayal menyebabkan cipratan yang mengenai pria dari arah berlawanan yang saat itu membonceng seorang perempuan. ‎ ‎Merasa tidak terima dengan kejadian tersebut, pria itu kemudian memutar balik, mengejar, dan langsung memarahi Ajiansu. Aksi tersebut terekam oleh warga dan kemudian menjadi viral. ‎ ‎Wakasek Kesiswaan SMKN 1 Surade, Madhani, membenarkan identitas pelajar dalam video tersebut. ‎ ‎“Benar, siswa itu adalah Ajiansu. Anak ini baik, aktif di OSIS, dan hari itu baru pulang setelah kegiatan ekstrakurikuler,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (20/11/2025). ‎ ‎Kapolsek Ciracap, Iptu Taofik Hadian, saat dikonfirmasi melalui telepon, memastikan kasus tersebut kini ditangani Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Sukabumi. ‎ ‎“Kasusnya sudah ditangani Unit PPA Polres Sukabumi,” singkatnya. ‎ ‎Hingga berita ini diturunkan, Unit PPA Polres Sukabumi masih melakukan pendalaman dan meminta keterangan dari pihak terkait. (Dicky)

SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Wali Kota Sukabumi Ayep Zaki memprioritaskan terciptanya lapangan kerja baru melalui pengembangan kawasan industri dan perluasan program pekerja migran. ‎ ‎Upaya ini disampaikan di hadapan Menteri Perlindungan Kerja Migran Indonesia Mukhtarudin dalam kegiatan di Yayasan Pasim Sukabumi, Kamis (20/11/2025). ‎ ‎Ayep mengungkapkan bahwa kawasan industri Cemerlang tengah diperjuangkan agar memperoleh izin penuh sebagai kawasan industri. ‎ ‎Dorongan ini, menurutnya, menjadi kunci menghadirkan investasi yang berdampak langsung pada penyerapan tenaga kerja. ‎ ‎Selain investasi, Pemkot juga mendorong penempatan tenaga kerja ke luar negeri sebagai solusi cepat. ‎ ‎Dengan angka pengangguran berada di sekitar 15.400 orang, strategi penempatan migran akan menjadi fokus kebijakan lima tahun ke depan. ‎ ‎Politeknik Sukabumi didorong menjadi pusat penguatan vokasi melalui program kuliah singkat yang terintegrasi dengan pengalaman kerja di luar negeri. ‎ ‎Ayep menyambut positif langkah Yayasan Pasim melalui Pasim Go Internasional dan menegaskan bahwa Pemkot, Disnaker, dan Pasim akan bergerak bersama menciptakan peluang kerja baru bagi warga. (Usep)

MAJALENGKA-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Dugaan kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) kembali mencuat di Kabupaten Majalengka. Seorang warga Desa Baribis, Kecamatan Cigasong, bernama Enok Suhati, diduga kuat menjadi korban perdagangan orang saat bekerja di Arab Saudi. ‎ ‎Informasi ini terungkap setelah Enok menghubungi langsung Tim Investigasi BidikKasus dan mengaku mengalami perlakuan tidak manusiawi serta proses pemberangkatan yang diduga tidak sesuai prosedur. ‎ ‎Dalam keterangannya, Enok menjelaskan bahwa ia berangkat melalui sebuah sarikah (perusahaan penyalur tenaga kerja). Namun baru tiga bulan bekerja, ia memilih kabur karena tidak tahan dengan tekanan dan kondisi kerja. ‎ ‎Saat berupaya menyelamatkan diri, Enok justru dibawa seseorang yang dikira akan menolong, tetapi malah disekap dan tidak dapat keluar selama beberapa hari. ‎ ‎”Saya sudah meminta pertolongan kepada pihak sarikah maupun sponsor di Indonesia, namun tidak mendapat respons. Bahkan ketika berniat pulang melalui jalur SAKAN yang menurut informasi seharusnya gratis justru saya kembali ditahan,” kata Enok, Kamis (20/11/2025). ‎ ‎Menindaklanjuti laporan tersebut, Tim Investigasi BidikKasus mendatangi rumah keluarga korban di Baribis. Sang ibu hanya bisa menangis, berharap putrinya segera pulang dalam kondisi selamat. Pihak keluarga mengaku bingung harus meminta pertolongan ke mana karena tidak memahami prosedur penanganan WNI bermasalah di luar negeri. ‎ ‎Tim kemudian mencoba menghubungi sponsor yang memberangkatkan korban, namun upaya itu gagal karena yang bersangkutan sulit dilacak. Minimnya petunjuk memaksa tim mencari dukungan dari unsur pemerintah daerah. ‎ ‎Tim selanjutnya menghubungi anggota DPRD Majalengka dari Partai Golkar, Saprudin, yang langsung merespons dan meminta tim mengisi formulir pengaduan untuk kemudian dikoordinasikan dengan Disnaker. ‎ ‎Tak berhenti di situ, tim bergerak ke pemerintah desa. Sekretaris Desa Baribis membenarkan bahwa Enok adalah warga setempat, namun menyebut bahwa korban tidak pernah mengurus izin pemberangkatan ke luar negeri melalui desa. ‎ ‎Ia memastikan akan berkoordinasi dengan kepala desa untuk langkah berikutnya. Mendengar hal itu, Tim Investigasi BidikKasus menegaskan bahwa persoalan administrasi tidak boleh menjadi penghambat. Keselamatan WNI di luar negeri harus menjadi prioritas. ‎ ‎Tim BidikKasus menilai kasus ini memiliki unsur kuat dugaan TPPO, mulai dari pemberangkatan nonprosedural, dugaan penyekapan, penahanan tanpa dasar, ancaman biaya pemulangan, hingga tidak adanya bantuan dari sarikah maupun sponsor. ‎ ‎Mereka meminta pemdes dan anggota dewan bergerak cepat sebelum kondisi korban memburuk. Kasus dugaan TPPO yang menimpa Enok Suhati menjadi peringatan serius bahwa praktik pengiriman pekerja migran nonprosedural masih terjadi dan berpotensi mengancam nyawa warga. ‎ ‎ Tim Investigasi BidikKasus menegaskan akan terus mengawal kasus ini hingga korban dipulangkan dan mendapatkan perlindungan penuh dari negara. Pemerintah desa, Disnaker, dan anggota DPRD didesak segera mengambil langkah konkret untuk menyelamatkan korban dari ancaman kekerasan dan pelanggaran hak asasi di Arab Saudi. (Amin)

CIREBON-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Sebuah dugaan pelanggaran prosedur kembali mencuat di lingkungan Bank BRI KCP Sumber, Kabupaten Cirebon, setelah sertifikat rumah milik almarhum Gatot tak juga diserahkan kepada keluarga meski kredit telah dilunasi sejak November 2024. ‎ ‎Selama satu tahun penuh, keluarga tidak pernah menerima kepastian, justru menghadapi jawaban yang berubah-ubah dan saling bertolak belakang dari petugas bank bernama Hariri dan Memey. ‎ ‎Situasi ini membuat keluarga bingung dan menimbulkan dugaan kuat bahwa pihak bank tidak menjalankan prosedur sebagaimana mestinya. ‎ ‎Istri almarhum, Tati, mengaku sudah berulang kali menanyakan keberadaan sertifikat kepada Hariri, yang sejak awal berjanji akan mengantarkannya langsung ke rumah. “Janji itu tak pernah ditepati. Ketika ditanya kembali melalui WhatsApp, dia selalu memberikan jawaban lain, menyebut sertifikat ada di kantor dan dapat diambil melalui Memey,” ujarnya, Kamis (20/11/2025) ‎ ‎ ‎Namun saat Tati mendatangi kantor BRI KCP Sumber dan bertemu Memey, jawaban yang diterima justru semakin membingungkan karena Memey menyatakan tidak mengetahui keberadaan sertifikat dan menyebut sertifikat masih dipegang Hariri. ‎ ‎”Selama satu tahun, kami merasa hanya dipingpong tanpa arah, tanpa satu pun penjelasan resmi ataupun pemberitahuan tertulis dari pihak bank mengenai alasan penundaan atau persyaratan yang harus dipenuhi,” ujarnya. ‎ ‎Karena tidak lagi melihat adanya itikad baik dari pihak bank, pada 18 November 2025 Tati memutuskan mengadu kepada Tim Investigasi Bidik Kasus. Tim kemudian melakukan pendampingan langsung ke kantor BRI KCP Sumber pada hari yang sama. ‎ ‎Baru setelah itu pihak bank mulai menunjukkan respons, tetapi kembali muncul alasan baru yang tidak pernah disampaikan sebelumnya. Pihak bank melalui Memey menyatakan bahwa sertifikat tidak dapat diserahkan karena nasabah telah meninggal dunia. ‎ ‎Sehingga seluruh ahli waris harus hadir lengkap membawa KTP asli dan akta lahir. Menurut keluarga, persyaratan tersebut tidak pernah sekalipun disampaikan selama satu tahun sejak pelunasan. ‎ ‎Demi mempercepat penyelesaian, keluarga bersama tim investigasi memenuhi permintaan tersebut. Pada 19 November 2025, setelah pendampingan intensif, sertifikat akhirnya diserahkan kepada ahli waris. ‎ ‎Namun proses belum selesai sampai di situ. Usai penyerahan, Memey kembali memberikan pernyataan lain yang menimbulkan pertanyaan baru. ‎ ‎Ia meminta keluarga mengurus roya secara mandiri ke BPN dengan alasan sertifikat masih manual, tanpa adanya penjelasan mengapa informasi tersebut tidak pernah disampaikan sejak awal. ‎ ‎Rangkaian kejadian ini meninggalkan banyak pertanyaan mengenai profesionalisme pelayanan di BRI KCP Sumber. Keluarga mempertanyakan mengapa sejak pelunasan pada 2024 pihak bank tidak pernah menghubungi ahli waris. ‎ ‎Yang menjadi pertanyaan, mengapa persyaratan baru muncul setelah satu tahun dan setelah ada pendampingan investigasi, serta mengapa kedua petugas memberikan informasi yang saling bertolak belakang. ‎ ‎Keluarga juga mempertanyakan apakah bank diperbolehkan menahan sertifikat selama satu tahun tanpa pemberitahuan resmi, dan mengapa mereka seolah dipersulit untuk mengambil dokumen yang merupakan haknya sendiri. ‎ ‎Dalam standar praktik perbankan, agunan wajib dikembalikan segera setelah pelunasan dan penyelesaian administrasi, dan jika ada syarat tertentu bagi ahli waris, bank seharusnya menyampaikannya secara jelas sejak awal. ‎ ‎Tati menyampaikan kekecewaan mendalam karena merasa selama satu tahun hanya dibiarkan tanpa arah. Ia mengatakan bahwa jika sejak awal pihak bank menjelaskan secara benar dan jujur mengenai syarat yang harus dipenuhi, keluarga tidak akan dibuat bingung dan menunggu selama itu. ‎ ‎Sementara itu, Tim Investigasi Bidik Kasus menyatakan akan menindaklanjuti kasus ini dengan menyusun laporan resmi atas dugaan pelanggaran prosedur pengembalian agunan, dugaan pembiaran administrasi, informasi menyesatkan, serta pelayanan tidak profesional dari kedua petugas terkait. ‎ ‎Tim menilai kasus ini menunjukkan lemahnya kepatuhan terhadap standar pelayanan publik di sektor perbankan, yang seharusnya mengutamakan transparansi, kepastian layanan, dan akuntabilitas terhadap nasabah. (Amin)

SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional (HGN) dan HUT ke-80 PGRI tahun 2025, PGRI Cabang Kecamatan Cibitung menggelar berbagai kegiatan pada Rabu, 19 November 2025. ‎ ‎Kegiatan dipusatkan di halaman MTs Cidahu dan diikuti lebih dari 250 peserta dari empat ranting. ‎ ‎Ketua PGRI Cabang Cibitung yang juga Ketua K3S, Yusup Ansori, S.Pd., mengatakan peringatan tahun ini mengangkat tema Guru Bermutu Indonesia Maju yaitu Bersama PGRI Wujudkan Indonesia Emas. ‎ ‎Ia mengajak seluruh guru menjadikan momentum HGN sebagai penguat semangat positif dalam memajukan pendidikan. ‎ ‎Berbagai cabang lomba digelar, mulai dari bola voli putra-putri, sepak bola, jalan santai, hingga lomba menyanyi. Seluruh jenjang pendidikan ikut berpartisipasi, meliputi guru SD, SMP, MTs, TK, dan PAUD. ‎ ‎Selain kompetisi, kegiatan sosial dan pembagian door prize juga menjadi bagian dari rangkaian acara. ‎ ‎Yusup menegaskan bahwa kegiatan ini bertujuan mempererat silaturahmi antar guru sekaligus meningkatkan profesionalisme di lingkungan pendidikan. ‎ ‎Ia berharap seluruh pendidik semakin kompak, kreatif, dan terus meningkatkan kompetensi. ‎ ‎Puncak peringatan HGN dan HUT ke-80 PGRI akan dilaksanakan pada 25 November 2025 dan direncanakan dipusatkan di halaman SMPN 1 Cibitung. (Dicky)

SIKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Tim SAR Gabungan akhirnya menemukan korban hilang kecelakaan laut di Perairan Teluk Palabuhanratu, tepatnya Pantai Cikeueus, Desa Girimukti, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi. ‎ ‎Insiden terjadi pada Minggu 16 November 2025 sekitar pukul 08.15 WIB ketika dua warga dilaporkan hilang saat memancing. ‎ ‎Pada hari keempat pencarian, Rabu 19 November 2025 sekitar pukul 10.40 WIB, tim menemukan satu korban atas nama Ujang Agus (40), warga Kampung Babadan RT 001 RW 011, Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan, mengambang di perairan Pantai Cibakung. ‎ ‎Saat ditemukan, korban masih mengenakan pakaian lengkap sehingga memudahkan proses identifikasi oleh aparat berwenang. ‎ ‎Jenazah langsung dievakuasi dan dibawa ke RSUD Palabuhanratu untuk pemeriksaan visum sebelum diserahkan kepada keluarga. Korban diketahui beragama Islam dan bekerja sebagai karyawan Bank BRI. ‎ ‎Kapolsek Ciemas AKP Deni Miharja menyampaikan bahwa penemuan ini menandai berakhirnya seluruh rangkaian operasi SAR. ‎ ‎“Korban kedua akhirnya berhasil ditemukan. Dengan ditemukannya dua korban yang sebelumnya hilang saat memancing ikan, operasi SAR kami nyatakan selesai,” ujarnya. ‎ ‎Ia menjelaskan, proses pencarian sempat terhambat cuaca buruk. ‎ ‎“Gelombang tinggi, angin tidak stabil, serta cuaca yang berubah-ubah menjadi kendala utama. Meski begitu, Tim SAR Gabungan tetap bekerja maksimal hingga seluruh korban berhasil ditemukan,” jelasnya. ‎ ‎Dengan ditemukannya dua korban, operasi SAR resmi ditutup dan seluruh unsur kembali ke kesatuan masing-masing. (Dicky)

SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Camat Cibitung Hodan Firmansyah, S.IP., M.Si., bersama Kapolsek Surade Iptu Ade Hendra serta jajaran kecamatan Sekretaris Kecamatan, Kasi Binwasdes, Kasi Pemerintahan, dan Kasi PMD. ‎ ‎Kehadiran para pejabat tersebut untuk melaksanakan pembinaan penyelenggaraan pemerintahan Desa Cidahu, Kecamatan Cibitung, Kabupaten Sukabumi, Rabu (19/11/2025). ‎ ‎”Kegiatan ini diadakan untuk memperkuat koordinasi serta memberikan arahan terkait tata kelola pemerintahan desa, termasuk peningkatan kualitas layanan publik kepada masyarakat,” ujarnya. ‎ ‎Dalam sesi pembinaan, Camat Hodan Firmansyah berdialog dengan Kepala Desa Cidahu Wahyu Hidayat beserta perangkat desa. ‎ ‎Pembahasan mencakup administrasi kependudukan, pengelolaan keuangan desa, hingga progres pembangunan yang tengah berjalan di Desa Cidahu. ‎ ‎“Pembinaan ini penting untuk memastikan pemerintahan desa berjalan sesuai regulasi dan dapat menjawab kebutuhan masyarakat,” ujar Camat. ‎ ‎Adapun beberapa fokus pembinaan meliputi administrasi kependudukan yang menuntut ketelitian dalam pengelolaan data warga, transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan desa. ‎ ‎Selain itu program untuk penguatan pelayanan publik agar lebih responsif. Camat juga menekankan pentingnya sinkronisasi program pembangunan desa dengan prioritas kecamatan dan kabupaten. ‎ ‎Camat Hodan turut mengapresiasi kinerja perangkat Desa Cidahu dan mendorong terus terjalinnya sinergi antara pemerintah kecamatan dan desa demi kemajuan masyarakat. “Agar tercapai Sukabumi Mubarokah, Cibitung Nanggung,” ujarnya. ‎ ‎Sementara itu, Kepala Desa Cidahu Wahyu Hidayat menyambut baik kegiatan pembinaan ini dan menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan dan pembangunan di desanya. ‎ ‎”Pembinaan ini diharapkan mampu memperkuat koordinasi sekaligus meningkatkan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan di Desa Cidahu ke depan,” tandasnya. (Dicky)

SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Warga di kawasan selatan Kabupaten Sukabumi menyambut dengan antusias pemasangan lampu Penerangan Jalan Umum (PJU) di ruas Surade–Ujunggenteng. ‎ ‎Program yang digulirkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Jabar Caang ini dinilai membawa perubahan besar bagi kenyamanan dan keselamatan pengguna jalan, terutama saat malam hari. ‎ ‎Pemasangan yang hingga Minggu (16/11) telah mencapai Kampung Warungjati, Kecamatan Ciracap, dikerjakan secara bertahap. Saat ini, tim pelaksana fokus pada pemasangan angkur atau dudukan tiang lampu menggunakan pasir beton instan untuk memastikan konstruksi benar-benar kokoh. ‎ ‎Dadang, pelaksana lapangan, menyebutkan bahwa total 395 titik PJU akan menerangi jalur sepanjang kurang lebih 10 kilometer tersebut. Pemasangan dimulai dari Kampung Warungtilu, Desa Buniwangi, Kecamatan Surade, hingga kawasan Pantai Ujunggenteng, salah satu destinasi wisata utama Sukabumi Selatan. ‎ ‎”Sebanyak  112 titik lampu dipasang mulai Surade hingga Jembatan Cikarang, Desa Pasiripis. Sementara 183 titik lampu lainnya dibentangkan dari seberang Jembatan Cikarang hingga kawasan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Ujunggenteng, kata dia, Rabu (19/11/2025). ‎ ‎Menurut Dadang, program ini bukan sekadar menghadirkan penerangan, tetapi juga memperkuat aspek keselamatan dan mendongkrak perekonomian wilayah selatan Sukabumi. Penerangan yang memadai akan membuat mobilitas masyarakat dan wisatawan jauh lebih aman. ‎ ‎Respons positif pun datang dari warga. Mereka menilai keberadaan PJU sangat dibutuhkan mengingat jalur Surade–Ujunggenteng merupakan akses utama menuju kawasan wisata dan aktivitas ekonomi. ‎ ‎“Alhamdulillah, dengan adanya lampu PJU ini masyarakat, khususnya para pengguna jalan, akan merasa lebih aman dan nyaman,” ujar seorang warga Surade. ‎ ‎Masyarakat berharap proyek ini dapat segera rampung sehingga manfaatnya dapat segera dirasakan secara penuh. Hadirnya penerangan di sepanjang jalur tersebut diyakini akan membuka peluang ekonomi baru sekaligus mendukung perkembangan pariwisata di wilayah selatan Kabupaten Sukabumi. (Dicky)