SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM- Kecelakaan tunggal terjadi di ruas Jalan Raya Puncak Darma Palangpang, tepatnya di Jembatan Cimarinjung, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, Minggu (27/7/2025) sekitar pukul 12.30 WIB. Sebuah sepeda motor Honda Beat tanpa pelat nomor mengalami kecelakaan dalam perjalanan dari arah Pelabuhanratu menuju Pantai Palangpang Geopark Ciletuh. Berdasarkan laporan dari Polsek Ciemas, kecelakaan mengakibatkan satu orang meninggal dunia di tempat dan satu orang lainnya mengalami luka-luka. Korban meninggal diketahui bernama Febriyana, pria berusia 25 tahun asal Bogor. Sementara korban luka bernama Sumarni, perempuan 22 tahun asal Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi. Kapolsek Ciemas, AKP Deni Miharja, SH, MH, membenarkan kejadian tersebut dan menyampaikan bahwa evakuasi telah dilakukan dengan cepat oleh jajaran Polsek Ciemas dibantu warga sekitar. Karena mengalami luka serius, kedua korban langsung dilarikan ke RSUD Palabuhanratu untuk penanganan medis lebih lanjut bagi yang mengalami luka-luka. “Korban Febriyana meninggal dunia di lokasi kejadian, sementara Sumarni mengalami luka dan saat ini masih menjalani perawatan di rumah sakit,” terang AKP Deni saat dikonfirmasi Sabtu siang. Pihak kepolisian menduga kecelakaan disebabkan pengendara hilang kendali saat melintasi jalan menurun dan menikung di sekitar jembatan, yang memang dikenal rawan kecelakaan. Motor korban diketahui mengalami kerusakan cukup parah di bagian depan dan bodi samping. Untuk kebutuhan penyelidikan lebih lanjut, unit kendaraan telah diamankan sementara. Pihak Polsek Ciemas juga berkoordinasi dengan Satlantas Polres Sukabumi untuk penanganan lanjutan dan olah TKP lebih detail. Polisi mengimbau pengguna jalan, terutama wisatawan yang melintas ke kawasan Geopark Ciletuh, untuk lebih berhati-hati, terutama di jalur Puncak Darma yang memiliki kontur jalan menantang dan minim rambu keselamatan. (Dicky)
JATENG:Bidik-kasusnews.com Jepara – Semarak budaya, spiritualitas, dan ekonomi kerakyatan menyatu dalam satu panggung besar di Alun-Alun 1 Jepara, Sabtu (26/7/2025). Ribuan warga tumpah ruah menghadiri Festival UMKM dan Sholawat Kebangsaan yang digagas oleh DPC GRIB Jaya Kabupaten Jepara, menghadirkan suasana hangat, guyub, dan penuh makna kebangsaan. Tak sekadar festival biasa, acara ini memadukan kegiatan sosial berupa santunan untuk anak yatim, bazar produk UMKM lokal yang menjadi tulang punggung perekonomian rakyat, hingga lantunan sholawat kebangsaan yang menggema dari dua tokoh kharismatik tanah air: Gus Miftah dan Habib Zaidan. Polres Jepara All Out, Ratusan Personel Diterjunkan Menyadari besarnya antusiasme masyarakat, Polres Jepara pun mengambil langkah taktis. Sebanyak 291 personel gabungan dikerahkan demi menjaga ketertiban dan keamanan selama acara berlangsung. Pengamanan melibatkan unsur TNI, Brimob Den 45, Polres Demak, Satpol PP, Dishub, Dinkes, hingga elemen mitra kamtibmas lainnya. “Ini adalah bentuk kolaborasi keamanan lintas sektor untuk memastikan masyarakat merasa aman, nyaman, dan bisa menikmati seluruh rangkaian kegiatan,” jelas AKP Dwi Prayitna, Kasihumas Polres Jepara. Strategi Pengamanan Menyeluruh Personel ditempatkan di titik-titik vital, seperti area panggung utama, jalur keluar masuk penonton, lokasi parkir kendaraan, hingga ruas jalan yang rawan macet. Sejumlah personel juga ditugaskan mengatur arus lalu lintas agar tidak terjadi penumpukan kendaraan di sekitar alun-alun. “Bukan hanya mengamankan acara, tapi juga mengantisipasi gangguan-gangguan kecil yang bisa mengganggu kenyamanan masyarakat,” imbuh Dwi. Spirit Persatuan dan Kemandirian Ekonomi Festival ini menjadi simbol kuat bagaimana elemen masyarakat sipil, pelaku usaha kecil, dan tokoh agama bisa bersatu dalam satu tujuan: menumbuhkan semangat persatuan dan kemandirian ekonomi masyarakat lokal. “UMKM harus terus kita dukung. Melalui festival ini, masyarakat bisa mengenal produk-produk lokal berkualitas sekaligus menumbuhkan rasa cinta tanah air lewat sholawat dan nilai-nilai kebangsaan,” ujar salah satu pengunjung, Rini (32), warga Jepara yang datang bersama keluarganya. Ajakan Damai dan Tertib Menutup pernyataannya, AKP Dwi Prayitna turut mengimbau kepada masyarakat untuk bersama-sama menjaga suasana damai dan tertib selama acara berlangsung. “Kami berharap masyarakat ikut menjadi bagian dari penjaga kamtibmas. Suasana damai adalah tanggung jawab kita bersama,” tegasnya. Festival UMKM dan Sholawat Kebangsaan bukan hanya ajang hiburan, tapi juga panggung silaturahmi antar elemen bangsa yang rindu harmoni, persatuan, dan kemajuan. Sebuah momentum yang patut diapresiasi, tidak hanya oleh warga Jepara, tetapi juga oleh Indonesia secara luas.(Wely-jateng) Sumber:humas polres jepara
SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Puluhan perwakilan dari Ormas, LSM, dan OKP yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Muslim Sukabumi menggelar aksi damai di Mapolres Sukabumi Kota, Sabtu (26/7/2025). Mereka mendesak aparat penegak hukum untuk segera memproses laporan dugaan penistaan terhadap ulama yang beredar di media sosial. Aksi tersebut dilatarbelakangi oleh unggahan di platform Facebook yang dianggap menghina ulama dengan menyamakan mereka dengan dukun. Salah satu tokoh yang menjadi sasaran adalah KH. Fajar Laksana, ulama kharismatik dan budayawan asal Sukabumi yang dikenal luas lewat kiprahnya dalam bidang pendidikan, budaya, dan keagamaan. Sekretaris DPC Syarikat Islam Sukabumi, Ivan Alghifari, mengatakan pihaknya telah berdialog dengan kepolisian dan diarahkan untuk memperkuat laporan hukum melalui surat pernyataan bersama yang ditandatangani seluruh unsur aliansi. “Ini bentuk dukungan kolektif kami agar laporan yang sudah masuk diperkuat secara administratif,” ujarnya. Ivan menegaskan bahwa aliansi berharap kasus ini tidak berlarut. Menurutnya, lambannya penanganan bisa membuka ruang bagi munculnya kembali ujaran serupa yang melecehkan martabat ulama. “Ini menyangkut kehormatan ulama secara umum, bukan hanya personal,” tegasnya. Ia menjelaskan bahwa narasi unggahan tersebut tidak hanya menyesatkan, tetapi juga merendahkan praktik pengobatan tradisional yang menurutnya merupakan bagian dari sunah Nabi dan lazim dijalankan oleh para ulama. KH. Fajar Laksana sendiri dikenal sebagai pencetus seni tradisional Bola Leungeun Seuneu (Boles) yang telah menorehkan rekor MURI, serta pendiri Museum Prabu Siliwangi di lingkungan Pondok Pesantren Al-Fath yang keberadaannya bahkan diakui oleh BRIN. “Ini bukan klaim sepihak, tapi pengakuan resmi secara nasional,” pungkas Ivan. Ia juga menyampaikan bahwa jika aparat tidak segera bertindak, aliansi siap mengerahkan massa lebih besar sebagai bentuk peringatan moral terhadap lambannya penegakan hukum. (Usep)
SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Manajemen Hotel Augusta Sukabumi yang diwakili H. Dadang Hendar, H. Asep Suparwan dan Deni Rustiawan bersama 32 orang wartawan lintas media Sukabumi Raya sepakat mengakhiri polemik terkait kegiatan salah satu dinas di lingkungan Pemkab Sukabumi. Polemik muncul saat wartawan salah satu media TV lokal hendak meliput kegiatan Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi bertajuk Sekolah Siaga Kependudukan/ Jumpa Bakti Gembira (Jumbara) Sekolah Siaga Kependudukan, Jumat (25/07/2025). Rupanya saat itu, petugas pengamanan hotel tidak memperkenankan wartawan tersebut untuk meliput kegiatan dengan alasan harus ada undangan dari pihak penyelenggara. Mungkin hal itulah yang memicu perdebatan antara dia dan seorang sekuriti yang berujung tuntutan digelarnya audiensi. Dipandu tokoh pergerakan pemuda Sukabumi, Bang Tanjung kedua belah pihak menyampaikan uneg-uneg dan masukan-masukan untuk menyelesaikan kemelut yang sempat memanas tersebut. Berkat kepiawaian Tanjung dalam mengawal lalu lintas dialog, hingga tidak sampai terjadi debat kusir yang membuang waktu dan energi. Kesempatan pertama disampaikan pada tuan rumah Dadang Hendar. Menurutnya, kejadian itu dimaknai sebagai sebuah sikap yang diambil pihak hotel Augusta sebagai reaksi dari prilaku sebagai kecil dari oknum wartawan yang kerap berbuat kegaduhan yang mengganggu kenyamanan tamu hotel. ”Saya harus mengatakan, mereka yang berprilaku kurang simpatik itu adalah oknum wartawan. Mereka itu boleh dibilang sudah kehilangan etika sebagai seorang yang mengaku sebagai pewarta yang mendegradasi nama baik wartawan secara keseluruhan,” ujarnya, Sabtu (26/7/2025). Senada dengan Dadang, Asep Suparwan juga menegaskan bahwa dia tidak pernah melarang apalagi mengintimidasi wartawan. Karena sebagai pembina media online BIDIK-KASUSNEWS.COM, dia selalu menekankan para wartawannya untuk selalu memegang teguh Kode Etik Jurnalistik (KEJ) dalam setiap kegiatan peliputan. ”Mudah-mudahan ini semua menjadi hikmah atau pelajaran. Pertemuan kali ini menjadi ajang silaturahmi dengan rekan-rekan media. Teman seperjuangan yang selalu tegak lurus pada aturan dan mekanisme yang tercantum dalam UU 40/1999,” tuturnya. Sementara itu, salah seorang audiens Bakar Salim menuturkan, bahwa seorang wartawan itu harus benar-benar terbebas dari segala bentuk intervensi siapapun dalam mengemban tugas jurnalistik. ”Saya bekerja sebagai wartawan TV yang berbeda secara teknis dari online. Saya dituntut oleh redaksi untuk menghasilkan liputan yang objektif dengan visual yang baik sesuai harapan. Jadi itu lah yang menuntut saya bekerja all out memenuhi ekspektasi atasan,” ujarnya. Beragam masukan muncul saat dialog interaktif terjadi dari pembicara-pembicara lain seperti pembuatan sekretariat bersama (Sekber) dan membebaskan peliputan dengan narasumber kompeten. Tidak hanya itu, juga disepakati bersama melakukan pengawasan terhadap pergerakan-pergerakan oknum wartawan yang kerap beroperasi saat ada kegiatan-kegiatan baik lembaga pemerintah maupun non pemerintah,” tegasnya. (Usep)
SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Sebuah temuan menggemparkan terjadi di pesisir Pantai sebelah timur Ujung Genteng, Desa Ujung Genteng, Kecamatan Ciracap, Kabupaten Sukabumi. Seorang nelayan setempat tak sengaja menemukan kepingan uang koin kuno yang diduga berasal dari zaman dulu kala yang memicu antusiasme warga hingga menarik perhatian aparat TNI AL. Temuan tersebut pertama kali dilaporkan terjadi pada Sabtu, 26 Juli 2025 sekitar pukul 09.38 WIB. Lokasinya berada di wilayah pesisir RT 01 RW 01, Desa Ujung Genteng. Penemunya adalah Sopyan (35), seorang nelayan asal Kampung Cipaku RT 07 RW 02 desa setempat. Menurut pengakuannya, penemuan uang koin kuno itu terjadi secara tidak sengaja pada Selasa, 22 Juli 2025 sekitar pukul 09.00 WIB. Saat itu, Sopyan tengah menunggu ombak membawa ikan rebon ke pantai sembari duduk santai. Awalnya, dia iseng menggaruk-garuk pasir, ia terkejut menemukan benda logam bulat yang setelah dibersihkan menggunakan sitrun, tampak sebagai uang koin zaman dahulu. Sopyan kemudian mengunggah penemuannya ke media sosial Facebook. Tak disangka, unggahan itu menjadi viral dan menarik perhatian warga lainnya, baik nelayan maupun masyarakat umum, yang berbondong-bondong datang ke lokasi untuk ikut mencari koin serupa. Melihat situasi tersebut, Pos TNI Angkatan Laut (Posal) Ujung Genteng langsung bergerak cepat menuju lokasi kejadian untuk memastikan benda yang diduga benda kuno itu. Dipimpin oleh Danposal Letda Laut (P) Andri Kurniawan, aparat melakukan pengamanan terhadap sejumlah koin kuno serta mengumpulkan serpihan besi yang juga ditemukan berserakan di lokasi. “Setelah mendapatkan informasi tersebut, kami menerjunkan beberapa orang personel untuk mengamankan lokasi agar tempat tersebut steril dari yang tidak berkepentingan,” ujarnya. Sebagai bentuk pengamanan dan penertiban, kegiatan pencarian koin oleh masyarakat sekitar dihentikan sementara. Karena dikhawatirkan banyak warga yang datang ke lokasi penemuan koin-koin tersebut. Selanjutnya, pihak Posal Ujung Genteng berkoordinasi dengan Pangkalan TNI AL (Lanal) Bandung untuk langkah lebih lanjut serta dengan Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disparbudpora) Kabupaten Sukabumi. Saat ini, barang bukti berupa uang koin kuno dan serpihan besi telah diamankan di Posal Ujung Genteng sambil menunggu hasil kajian dan tindak lanjut dari instansi terkait. Temuan ini membuka peluang penelitian lebih lanjut terhadap jejak sejarah maritim di wilayah selatan Sukabumi. (Dicky)
Pekanbaru, Bidik-kasusnews.com — Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Riau, Akmal Abbas, S.H., M.H., secara resmi melantik 11 pejabat Eselon III dalam lingkungan Kejaksaan Tinggi Riau. Prosesi pelantikan berlangsung khidmat di Gedung Satya Adhi Wicaksana, dan menjadi bagian dari upaya penguatan institusi penegak hukum di Bumi Lancang Kuning.(24/7/2025) Dalam sambutannya, Kajati Riau menegaskan bahwa pelantikan, pengambilan sumpah jabatan, dan serah terima jabatan ini bukanlah seremoni biasa, tetapi bagian dari strategi pembenahan internal demi menjawab tantangan penegakan hukum di daerah. “Rotasi, mutasi, dan promosi adalah dinamika organisasi yang bertujuan menyegarkan struktur, meningkatkan efektivitas, serta mendukung visi dan misi Kejaksaan,” tegas Akmal. Adapun pejabat yang dilantik meliputi: Nadda Lubis, S.H., M.H. – Kajari Bengkalis Dwianto Prihartono, S.H., M.H. – Kajari Kampar Siswanto AS, S.H., M.H. – Kajari Pelalawan Dr. Rabani Meryanto Halawa, S.H., M.H. – Kajari Rokan Hulu Sapta Putra, S.H., M.H. – Asintel Kejati Riau Otong Hendra Rahayu, S.H., M.H. – Aspidum Kejati Riau Dr. Marlambson Carel Williams, S.H., M.H. – Aspidsus Kejati Riau Dwi Astuti Beniyanti, S.H., M.H. – Aswas Kejati Riau Bayu Novrian Dinata, S.H., M.H. – Koordinator Kejati Riau Dr. Andrie Wahyu Setiawan, S.H., M.H. – Koordinator Kejati Riau Farouk Fahrozi, S.H., M.H. – Koordinator Kejati Riau Dalam arahannya, Akmal meminta para pejabat untuk langsung tancap gas. Ia mendorong para Asisten segera memetakan kinerja, memperkuat sinergi lintas bidang, dan memperkuat layanan publik berbasis integritas serta akuntabilitas. Kepada para Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari), Kajati mengingatkan pentingnya cepat beradaptasi dengan tantangan lokal, menegakkan hukum secara adil dan tegas, serta memulai langkah konkret untuk meraih predikat Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM). Sementara itu, kepada Koordinator yang baru dilantik, Akmal menekankan pentingnya membangun pola pikir baru, dari sekadar pengawasan teknis menjadi kepemimpinan administratif yang strategis, serta menjaga kekompakan tim. “Pelantikan ini diharapkan menjadi momentum pembaruan semangat kerja seluruh jajaran Adhyaksa di Riau. Mari kita tegakkan supremasi hukum dan tingkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat,” tutupnya. Acara pelantikan juga dihadiri oleh Ketua IAD Wilayah Riau Ny. Dewi Akmal, para Asisten, pejabat eselon IV, Kepala Bagian TU, para koordinator, serta para undangan lainnya.(Agus)
TEMANGGUNG- BIDIK KASUSNEWS.COM.– Uri-Uri Budaya Dan Tradisi Nenek moyang Ratusan warga mengenakan pakaian adat Jawa lengkap mengikuti prosesi tahunan Kirab Budaya Merti Dusun dalam rangka Regeng Suro 2025 di Dusun Krajan, Desa Campurejo, Kecamatan Tretep, Jumat (25/7/2025) pagi. Arak-arakan membawa tumpeng bucu, ingkung ayam, dan aneka jajanan pasar dimulai dari Kantor Desa menuju Komplek Makam Panjang, yang merupakan lokasi pemakaman leluhur atau pepunden pembuka wilayah permukiman setempat. Kirab dipimpin langsung oleh Bupati Temanggung, Agus Setyawan, didampingi istri, Panca Dewi. Kehadiran Bupati bukan tanpa alasan—Desa Campurejo merupakan kampung halamannya, sekaligus tempat ia pernah mengabdi sebagai kepala desa sejak 2007 sebelum menjadi Bupati Temanggung. Di lokasi, warga menggelar doa bersama (umbul donga) dan makan bersama (kembul bujono) dengan tumpeng yang mereka bawa dari rumah masing-masing. Prosesi ini juga dimeriahkan dengan pertunjukan seni tradisional seperti topeng ireng dan jaran kepang. Ketua panitia, Guris Ma’arif, menjelaskan bahwa Merti Dusun merupakan tradisi tahunan yang dilaksanakan setiap bulan Muharam atau Suro dalam penanggalan Jawa. “Ritual utama berupa selamatan rutin kami gelar di Makam Panjang, yang merupakan makam tokoh pepunden atau pembuka wilayah (bubak alas) di dusun ini,” jelas Guris. Ia menambahkan, acara ini juga menjadi sarana mempererat silaturahmi dan menjaga kerukunan warga Dusun Krajan, yang dikenal memiliki semangat gotong royong tinggi. “Ini adalah wujud penghormatan kami kepada sesepuh dusun, sekaligus doa menyambut musim panen tembakau,” imbuhnya. Selain prosesi kirab, berbagai agenda turut digelar sebagai rangkaian Regeng Suro, antara lain pagelaran seni budaya lokal, pengajian, hingga pementasan wayang kulit semalam suntuk. Juga untuk menghidupkan seni Budaya.pungkasnya. Jurnalis ( trm )
SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM- Manajer Hotel Augusta Sukabumi, Dadang Suparwan, membantah kabar bahwa pihaknya melarang pihak media untuk melakukan kegiatan peliputan. Hal tersebut mengemuka saat digelar kegiatan Dinas Pendidikan Kabupaten Sukabumi bertajuk Sekolah Siaga Kependudukan / JUMBARA (Jumpa Bakti Gembira) Sekolah Siaga Kependudukan, Jumat (25/07/2025). “Kami dari pihak manajemen mengklarifikasi tentang adanya tuduhan bahwa ada pelarangan oleh pihak pengamanan hotel terhadap aktivitas media yang betul-betul terverifikasi dan memiliki legalitas berdasarkan UU 40 tahun 1999,” kata Dadang, Sabtu (26/7/2025). Dia menambahkan, apa yang dilakukan oleh stafnya, bukan bentuk intimidasi terhadap ruang gerak para wartawan dalam proses mencari, membuat dan menyebarluaskan pemberitaan untuk di akses masyarakat. ”Kami atas nama manajemen mohon maaf jika sikap dan tindakan kami dinilai mengganggu kenyamanan awak media yang saat akan meliput kegiatan itu. Hemat kami itu hanya kesalahpahaman saja. Sekali lagi kami mohon maaf,” ujarnya. Masih kata Dadang, pihaknya tidak menggeneralisir dan mendikotomi media yang menjalankan fungsi jurnalistik dan yang tidak. ”Bukan sekali dua kali kami didatangi oleh media yang tidak menunjukkan identitas kewartawanan melakukan peliputan di Augusta tapi pada kenyataannya hanya datang dan tidak melakukan apa-apa,” ujarnya. Dia juga menegaskan, bahwa sebagai pembina di salah satu media online dia sangat mendukung kerja wartawan di wilayah tugas Kabupaten dan Kota Sukabumi. Karena tanpa dukungan media, tidak mungkin negara berdiri tegak. ”Sekali lagi saya tegaskan, saya mendukung perkembangan media di Sukabumi dalam segala bentuk. Apalagi saya sebagai bagian yang ada di dalamnya yang akan mendorong media yang perannya sangat penting di masa kini dan di masa mendatang,”tegasnya. (Usep)
JATENG:Bidik-kasusnews.com Jepara, 25 Juli 2025 – Suasana meriah pertunjukan Orkes Romansa di Desa Jinggotan, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara, berubah menjadi tragedi. Seorang pemuda bernama Muhammad Rangga Alan Saputra (20), warga Desa Balong, meninggal dunia usai menjadi korban pengeroyokan oleh sekelompok orang tak dikenal pada Sabtu sore (19/7/2025). Kapolres jepara AKBP Erick Budi Santoso saat dikonfirmasi via WhatsApp Bidik-kasusnews Jum,at 25/7/2025 melalui Kasubsi penmas humas polres IPDA Eko menyapaikan bahwa korban bersama dua rekannya, VK (22) dan RD (20), sebelumnya hadir di lokasi pertunjukan orkes tersebut yang digelar di pinggir Jalan Raya Jepara–Kembang KM 06, tepatnya di depan TK Desa Jinggotan. Setelah acara selesai, ketiganya pulang dengan satu sepeda motor Honda PCX warna hitam, dengan korban duduk di bagian depan. Namun nahas, di tengah perjalanan mereka dicegat oleh sekitar enam orang tak dikenal yang diduga berasal dari Dukuh Depok, Desa Kancilan. “Korban dan saksi dicegat di jalan oleh enam orang, kemudian langsung dikeroyok. Korban mengalami luka parah dan sempat memuntahkan darah malam harinya. Korban akhirnya meninggal di rumah pada keesokan harinya pukul 11.00 WIB,” jelas kapolres jepara melalui Ipda Eko, Kasubsi Penmas Humas Polres Jepara. Tiga Luka, Satu Tewas Akibat kejadian tersebut: VK (22) dan RD (20), keduanya warga Desa Balong, mengalami luka ringan. Muhammad Rangga Alan Saputra meninggal dunia akibat luka berat yang dideritanya. Enam Pelaku Diamankan Polres Jepara bergerak cepat. Enam orang terduga pelaku pengeroyokan kini telah diamankan, di antaranya: 1. BD (21), warga Desa Kancilan 2. MF (18), warga Desa Kancilan 3. DK 4. AL (di bawah umur) 5. SL 6. AR (di bawah umur) “Seluruh pelaku saat ini sedang dalam proses penyidikan lebih lanjut. Kami juga masih mendalami motif aksi pengeroyokan tersebut,” tambah Ipda Eko. Polisi Imbau Warga Tetap Tenang Kapolres Jepara AKBP Erick Budi Santoso menyampaikan bahwa pihaknya berkomitmen mengusut tuntas kasus ini dan meminta masyarakat untuk tidak main hakim sendiri. Peristiwa ini menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban dan menjadi pengingat akan pentingnya pengamanan serta pengawasan dalam acara hiburan rakyat.(Wely-jateng)
SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Tradisi legendaris Bola Leungeun Seuneu (Boles) dari Kota Sukabumi menorehkan tinta emas dalam sejarah budaya Indonesia. Dalam Festival Boles yang digelar di Padepokan Pencak Silat, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, Jumat (25/7/2025). Dalam perhelatan tersebut ada sekitar 1.000 pendekar silat dari Paguron Sang Maung Bodas tampil memukau dan berhasil memecahkan Rekor Dunia versi MURI. Atraksi menegangkan yang memadukan jurus-jurus pencak silat dan permainan bola api ini menghipnotis ratusan penonton, termasuk Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, dan Wakil Wali Kota Sukabumi, Bobby Maulana, yang hadir langsung menyaksikan keagungan budaya warisan leluhur. “Tradisi ini bukan hanya atraktif, tetapi juga sarat makna spiritual, pengendalian diri, dan kekuatan mental,” ujar Menteri Fadli Zon dalam sambutannya. Ia menilai Boles sangat potensial menjadi magnet wisata budaya internasional dan perlu terus didukung pelestariannya. Wakil Wali Kota Bobby Maulana juga menyampaikan rasa syukur dan bangga atas pencapaian ini. “Insya Allah, Pemkot Sukabumi siap bekerja sama dengan Kementerian untuk terus mempromosikan budaya lokal agar mendunia,” ujarnya. Festival ini bukan sekadar pencatatan rekor, tetapi juga menjadi momen penting konsolidasi antar paguron silat, mempererat semangat kebangsaan, serta menjaga marwah seni bela diri tradisional. Acara ini menjadi ruang kolaborasi berbagai elemen budaya untuk merawat warisan spiritual masyarakat Sunda. Antusiasme publik, khususnya dari kalangan pelajar dan mahasiswa, turut membuktikan bahwa Boles masih hidup dan relevan di tengah modernitas. Keterlibatan generasi muda memperkuat harapan bahwa nilai-nilai luhur Boles akan terus diwariskan lintas zaman. Keberhasilan ini menegaskan bahwa bila dikelola dengan visi dan komitmen kuat, kesenian tradisional seperti Boles bisa menjadi kekuatan identitas daerah, bahkan menjadi kebanggaan Indonesia di mata dunia. (Usep)