Bandar Lampung, Bidik-kasusnews.com Suasana penuh antusiasme mewarnai Markas Kodim 0410/Kota Bandar Lampung, Kamis (18/6/2026) pagi WIB. Ribuan pasang mata larut dalam euforia kegiatan Nonton Bareng (Nobar) Bola Gembira Piala Dunia 2026 saat menyaksikan duel sengit antara Ghana dan Panama yang berakhir dengan kemenangan dramatis Ghana 1-0. Sorak-sorai penonton pecah ketika Ghana mencetak gol penentu kemenangan pada masa injury time babak kedua. Gol tersebut sekaligus menjadi penutup laga penuh tensi dalam pertandingan perdana Grup L yang digelar di BMO Field, Toronto, Kanada. Kegiatan nobar yang berlangsung di Markas Kodim 0410/KBL, Jalan Imam Bonjol, Kelurahan Langkapura, Bandar Lampung, tidak hanya menjadi tontonan olahraga semata, tetapi juga menjadi ruang kebersamaan antara prajurit TNI dan masyarakat yang hadir dari berbagai wilayah di Kota Bandar Lampung. Sejak peluit awal dibunyikan, pertandingan berlangsung dalam tempo tinggi. Panama tampil agresif dan langsung mengancam pertahanan Ghana melalui beberapa peluang berbahaya. Namun solidnya lini belakang Ghana serta penampilan disiplin penjaga gawang membuat skor tetap bertahan imbang sepanjang babak pertama. Memasuki babak kedua, Panama kembali menekan dan sempat memperoleh sejumlah peluang emas. Namun ketidakmampuan menyelesaikan peluang menjadi gol membuat mereka gagal memanfaatkan dominasi permainan. Di sisi lain, Ghana perlahan meningkatkan intensitas serangan. Pergantian pemain yang dilakukan pelatih Ghana terbukti membawa perubahan signifikan terhadap pola serangan tim berjuluk Black Stars tersebut. Puncak ketegangan terjadi pada masa tambahan waktu. Umpan matang dari sisi kiri yang dikirim pemain pengganti Brandon Thomas-Asante berhasil dimanfaatkan dengan sempurna oleh gelandang Ghana, Caleb Yirenkyi. Tanpa pengawalan berarti, ia menceploskan bola ke gawang Panama dan mengubah skor menjadi 1-0. Gol tersebut sontak memicu ledakan kegembiraan para penonton yang memadati area nobar di Markas Kodim 0410/KBL. Hingga peluit panjang dibunyikan, Panama gagal membalas dan Ghana sukses mengamankan tiga poin penting pada laga pembuka Grup L. Komandan Kodim 0410/Kota Bandar Lampung, Kolonel Arm Roni Hermawan, mengatakan kegiatan nobar Piala Dunia 2026 merupakan salah satu upaya mempererat hubungan antara TNI dan masyarakat melalui olahraga yang memiliki daya tarik besar bagi semua kalangan. Menurutnya, sepak bola memiliki kekuatan menyatukan berbagai elemen masyarakat dalam suasana yang positif dan penuh semangat kebersamaan. “Melalui kegiatan nonton bareng ini, kami ingin menghadirkan ruang kebersamaan bagi masyarakat. Selain menikmati pertandingan sepak bola dunia, kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat silaturahmi, menumbuhkan sportivitas, serta memperkuat persatuan di tengah masyarakat,” ujar Dandim. Program Nonton Bareng Bola Gembira Piala Dunia 2026 yang berada di bawah naungan Korem 043/Garuda Hitam dan didukung TVRI sebagai mitra penyiaran tersebut mendapat sambutan hangat dari masyarakat Bandar Lampung. Kodim 0410/KBL pun membuka kesempatan bagi masyarakat untuk terus hadir dan meramaikan setiap pertandingan Piala Dunia 2026 yang ditayangkan di markas Kodim. Kehadiran ribuan warga dalam laga Ghana kontra Panama menjadi bukti bahwa sepak bola masih menjadi olahraga pemersatu yang mampu menghadirkan kebersamaan lintas usia, profesi, dan latar belakang. Dengan atmosfer meriah dan penuh keakraban, nobar Piala Dunia di Kodim 0410/Kota Bandar Lampung tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga memperkuat kedekatan TNI dengan masyarakat melalui semangat sportivitas dan persatuan. (Agus)
Indramayu,-Bidik-kasusnwws.com,. Kasus pembunuhan di Paoman, Indramayu yang merenggut nyawa lima orang korban, kembali menjadi perbincangan hangat usai sidang yang dijadwalkan pada Rabu, 17 Juni 2026 lalu terpaksa ditunda. Penundaan ini mengundang berbagai tanggapan dan sorotan luas, terutama di media sosial.(18/06/2026) Berbagai komentar bermunculan dari warga dan netizen. Ada yang menyebut proses persidangan akan ditunda hingga tahun depan, tidak sedikit pula yang mempertanyakan jalannya proses hukum, bahkan ada dugaan yang beredar bahwa majelis hakim sedang di permainkan langkah Jaksa Penuntut Umum. Di tengah berkembangnya pendapat tersebut, harapan masyarakat tetap satu: kasus ini segera mendapatkan kepastian hukum yang jelas. Mereka berharap pihak yang terbukti bersalah dihukum setimpal sesuai perbuatannya, sementara pihak yang tidak bersalah segera dibebaskan dari segala tuduhan. Masyarakat juga mendesak agar jika masih ditemukan kejanggalan dalam perkara, segera ditelusuri dan digali lebih dalam untuk dilengkapi sebagai barang bukti yang sah. Tak kalah penting, publik menuntut agar pernyataan para terduga pelaku yang menyebutkan bahwa orang yang digembor-gemborkan sebagai dalang utama masih hidup, segera ditindaklanjuti. Pihak penegak hukum diminta terus melakukan pencarian, baik dalam keadaan hidup maupun meninggal dunia, agar kebenaran dapat terungkap sepenuhnya. Masyarakat berpesan agar proses hukum berjalan transparan, adil, dan tidak berlarut-larut, sehingga rasa keadilan dapat dirasakan oleh semua pihak, terutama keluarga korban. (Asep.R)
Pagar Alam | Bidik-kasusnews.com – Gejolak internal mengguncang tubuh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kota Pagar Alam, Sumatera Selatan. Sejumlah pengurus dan kader secara terbuka menyatakan kekecewaannya atas penunjukan Ludi Oliansyah sebagai Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PKB Kota Pagar Alam. Kekecewaan tersebut bahkan berkembang menjadi ancaman pengunduran diri dari sejumlah pengurus dan kader yang merasa proses penetapan pimpinan partai di tingkat daerah tidak berjalan sesuai mekanisme organisasi yang selama ini menjadi tradisi di PKB. Sejumlah nama yang menyuarakan keberatan antara lain Sekretaris DPC Dempo Tengah M. Sa’an, Ketua PAC Dempo Selatan Darul Qutni, serta beberapa kader senior yang menilai keputusan tersebut telah menimbulkan keresahan di tingkat bawah. Menurut mereka, penetapan Ketua DPC seharusnya dilakukan melalui proses yang lebih terbuka dan melibatkan aspirasi kader serta pengurus di berbagai tingkatan organisasi. “Kami mempertanyakan keputusan tersebut karena dianggap tidak melalui proses musyawarah cabang sebagaimana yang selama ini menjadi mekanisme organisasi,” ujar kader senior PKB Kota Pagar Alam, Chandra, kepada wartawan, Senin (16/6/2026). Chandra menilai keputusan yang diambil tanpa melibatkan suara kader berpotensi menimbulkan jarak antara pengurus pusat dan struktur partai di daerah. Ia menyebut banyak kader merasa kontribusi dan pengabdian mereka selama ini seolah tidak menjadi pertimbangan dalam proses pengambilan keputusan strategis. “Kami kecewa karena aspirasi kader di bawah tidak mendapatkan ruang yang cukup dalam menentukan arah kepemimpinan partai di daerah,” tegasnya. Senada dengan itu, M. Sa’an menegaskan bahwa pihaknya tidak mempermasalahkan siapa pun yang dipercaya memimpin PKB Kota Pagar Alam. Namun, menurutnya, kepemimpinan partai semestinya diberikan kepada figur yang memiliki rekam jejak panjang, loyalitas, serta kontribusi nyata dalam membesarkan partai. “Kami berharap kepemimpinan partai diberikan kepada kader yang selama ini aktif berjuang dan memiliki kontribusi nyata terhadap perkembangan PKB di Kota Pagar Alam,” katanya. Sementara itu, Ketua PAC Dempo Selatan Darul Qutni mengungkapkan bahwa kekecewaan kader kini semakin meluas. Bahkan, sejumlah pengurus disebut tengah mempertimbangkan langkah pengunduran diri apabila aspirasi mereka tidak mendapat perhatian dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PKB. Menurutnya, para kader yang selama ini bekerja membangun basis dukungan partai di akar rumput merasa layak dilibatkan dalam setiap keputusan penting yang menyangkut masa depan organisasi. “Kami ingin ada ruang dialog yang terbuka. Pengurus dan kader yang selama ini berjuang membesarkan partai tentu berharap pendapat mereka juga menjadi bagian dari pertimbangan,” ujarnya. Darul juga mengingatkan bahwa capaian politik PKB di Kota Pagar Alam tidak terlepas dari kerja kolektif seluruh kader. Keberhasilan mengantarkan tiga kader PKB duduk di kursi DPRD, kata dia, merupakan hasil perjuangan panjang yang melibatkan seluruh struktur partai hingga tingkat kecamatan. Karena itu, ia berharap keputusan strategis yang menyangkut kepemimpinan partai dapat memperhatikan dinamika dan aspirasi yang berkembang di internal organisasi. Hingga berita ini diturunkan, sejumlah pengurus DPC maupun pengurus tingkat kecamatan masih menunggu respons resmi dari DPP PKB terkait tuntutan evaluasi atas penunjukan Ketua DPC yang baru. Situasi tersebut kini menjadi ujian serius bagi soliditas PKB Kota Pagar Alam. Pengamat politik menilai langkah komunikasi dan rekonsiliasi perlu segera dilakukan untuk meredam ketegangan internal agar tidak berdampak pada konsolidasi partai menjelang agenda politik mendatang. Jika polemik ini tidak segera menemukan titik temu, bukan hanya berpotensi memicu eksodus kader, tetapi juga dapat memengaruhi kekuatan politik PKB yang selama ini dibangun melalui kerja kolektif dan militansi kader di tingkat akar rumput. (Agus)
Kader Pertanyakan Pergantian Nahkoda Partai di Tengah Capaian Politik Terbaik PKB Lubuklinggau Lubuklinggau, Bidik-kasusnews.com Musyawarah Cabang (Muscab) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kota Lubuklinggau periode 2026–2031 memunculkan dinamika yang cukup kuat di internal partai. Pergantian kepemimpinan dari Yulius, SE kepada Elvaria, SE memicu beragam respons dari kader, pengurus hingga simpatisan yang menilai perubahan tersebut terjadi setelah PKB mencatat prestasi politik terbaik sepanjang sejarah partai di daerah itu. Muscab yang berlangsung di Hotel Dwinda Lubuklinggau tersebut menetapkan Elvaria sebagai Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PKB Kota Lubuklinggau periode 2026–2031. Bersamaan dengan itu, Novita Angraini dipercaya mengemban amanah sebagai Sekretaris DPC PKB. Namun, keputusan pergantian kepemimpinan tersebut menjadi sorotan karena terjadi setelah kepengurusan sebelumnya di bawah komando Yulius berhasil mendongkrak perolehan kursi legislatif secara signifikan pada Pemilu 2024. Dari sebelumnya hanya meraih dua kursi DPRD, PKB sukses menggandakan kekuatannya menjadi empat kursi atau meningkat hingga 100 persen. Tak hanya mencatat lonjakan kursi legislatif, PKB juga berhasil menembus jajaran tiga besar partai politik dengan perolehan suara terbanyak di Kota Lubuklinggau. Capaian itu dinilai menjadi tonggak penting dalam perjalanan politik PKB di daerah tersebut. Kondisi inilah yang kemudian memunculkan pertanyaan dari sejumlah kader terkait alasan pergantian kepemimpinan di tengah tren positif yang sedang dialami partai. “Banyak kader merasa terkejut. Di bawah kepemimpinan Pak Yulius, PKB mampu mencetak sejarah dengan empat kursi DPRD. Prestasi itu tentu menjadi catatan penting dan menimbulkan pertanyaan ketika terjadi pergantian kepemimpinan,” ujar salah seorang kader yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan. Di tingkat akar rumput, sejumlah pengurus Dewan Pimpinan Anak Cabang (DPAC) disebut mulai menyuarakan pentingnya komunikasi yang lebih terbuka antara kepengurusan baru dan seluruh elemen partai. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga soliditas organisasi sekaligus menghindari potensi friksi internal menjelang agenda politik mendatang. Sementara itu, Ketua Dewan Syuro PKB Kota Lubuklinggau, Drs. Abd Hafidz Noeh, menegaskan bahwa regenerasi kepemimpinan merupakan bagian dari dinamika organisasi yang wajar. Meski demikian, ia menilai setiap proses pergantian kepemimpinan perlu memperhatikan aspirasi kader di berbagai tingkatan agar semangat demokrasi internal tetap terpelihara. Menurutnya, kekuatan utama partai terletak pada kebersamaan dan kemampuan merangkul seluruh kader tanpa terkecuali. “Harapan kita PKB tetap menjadi partai kader yang besar, kuat, dan mampu menampung aspirasi seluruh kader di semua tingkatan. Kekompakan harus tetap menjadi prioritas agar perjuangan politik partai dapat terus berjalan,” ujarnya. Pengamat politik lokal menilai situasi pasca-Muscab saat ini menjadi momentum penting bagi PKB Lubuklinggau. Kepengurusan baru dituntut tidak hanya menjaga capaian yang telah diraih, tetapi juga mampu membangun konsolidasi internal yang kuat. Menurut mereka, keberhasilan mengelola perbedaan pandangan melalui komunikasi dan rekonsiliasi akan menjadi kunci bagi PKB untuk mempertahankan eksistensinya sebagai salah satu kekuatan politik utama di Kota Lubuklinggau. Dengan berbagai respons yang muncul, hasil Muscab PKB Lubuklinggau kini tidak hanya menjadi bagian dari proses regenerasi kepemimpinan partai, tetapi juga menjadi ujian sejauh mana soliditas kader dapat dipertahankan di tengah perubahan arah kepemimpinan. Jika mampu dikelola dengan baik, dinamika tersebut justru dapat menjadi modal penting bagi PKB untuk menghadapi kontestasi politik di masa mendatang. (Agus)