Bidik-kasusnews.com Jakarta — Kabar duka datang dari dunia jurnalistik Indonesia. Sekretaris Jenderal Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, Zulmansyah Sekedang, meninggal dunia pada Sabtu dini hari (18/4/2026) sekitar pukul 00.05 WIB di RS Budi Kemuliaan. Almarhum berpulang di usia 54 tahun, diduga akibat serangan jantung.   Kepergian Zulmansyah yang terjadi secara mendadak mengejutkan banyak pihak. Pasalnya, pada Jumat sore sebelumnya, ia masih aktif berkomunikasi dengan sejumlah pengurus PWI di berbagai daerah, menunjukkan dedikasinya yang tinggi hingga akhir hayat.   Sosok Bersahaja dan Dekat dengan Anggota Kepergian almarhum meninggalkan kesan mendalam bagi para kolega. Mantan Plt Ketua PWI Kalimantan Barat, Wawan Suwandi, mengaku tak menyangka kabar tersebut datang begitu cepat. Ia mengingat Zulmansyah sebagai pribadi yang hangat, terbuka, dan mudah bergaul dengan siapa saja.   Menurutnya, Zulmansyah bukan hanya pemimpin organisasi, tetapi juga sosok yang mampu menjalin komunikasi erat dengan anggota hingga ke daerah. Setiap kunjungannya selalu meninggalkan kesan positif dan mempererat soliditas organisasi.   Perjalanan Panjang di Dunia Pers Lahir di Banda Aceh pada 2 Juli 1972, Zulmansyah dikenal sebagai figur yang telah lama berkiprah di dunia jurnalistik. Ia menyelesaikan pendidikan S1 Ilmu Administrasi Negara di Universitas Riau dan aktif dalam berbagai organisasi sejak masa kuliah, termasuk kegiatan kemahasiswaan dan organisasi kepemudaan.   Karier profesionalnya berkembang pesat di lingkungan Riau Pos Group. Di tingkat daerah, ia dipercaya memimpin PWI Riau selama dua periode. Kepemimpinannya dinilai mampu membawa organisasi lebih solid dan progresif.   Perjalanan kariernya terus menanjak hingga ke tingkat nasional sebagai Sekjen PWI Pusat. Bahkan, dalam dinamika organisasi, ia sempat dipercaya sebagai Ketua Umum PWI melalui Kongres Luar Biasa pada 2024. Kehilangan Besar bagi Pers Indonesia.   Wafatnya Zulmansyah Sekedang menjadi kehilangan besar bagi dunia pers nasional. Dedikasi dan kontribusinya dalam memperjuangkan profesionalisme serta kemerdekaan pers di Indonesia akan selalu dikenang.   Ucapan belasungkawa terus mengalir dari berbagai kalangan, khususnya keluarga besar PWI di seluruh Indonesia. Harapan dan doa dipanjatkan agar almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan, serta keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan ketabahan.   Selamat jalan, Zulmansyah Sekedang. Jejak pengabdianmu akan tetap hidup dalam perjalanan pers Indonesia.(Wely)

Bidik-kasusnews.com,Jakarta Dunia pers Indonesia kembali diselimuti awan duka. Salah satu putra terbaiknya, tokoh pers senior yang menjabat sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, H. Zulmansyah Sekedang (54), mengembuskan napas terakhir pada Sabtu (18/4/2026) pukul 00.05 WIB di RS Budi Kemuliaan, Jakarta. Kabar kepergian almarhum menyisakan duka mendalam bagi rekan sejawat dan insan pers di seluruh tanah air. Almarhum diduga meninggal dunia akibat serangan jantung. Kepergiannya tergolong mendadak, mengingat pada Jumat sore, Zulmansyah dilaporkan masih aktif berkomunikasi dengan sejumlah pengurus PWI. Sosok yang Hangat dan Familiar Mantan Pelaksana Tugas (Plt) Ketua PWI Kalimantan Barat, Wawan Suwandi, mengaku sangat terkejut mendengar kabar duka tersebut. Ia mengenang percakapan terakhirnya dengan almarhum melalui sambungan telepon dan pesan singkat WhatsApp yang masih berlangsung akrab sesaat sebelum almarhum berpulang. Menurut Wawan, Zulmansyah adalah sosok pemimpin yang rendah hati dan memiliki kemampuan komunikasi yang luar biasa ke seluruh lapisan anggota di daerah. “Almarhum orangnya sangat mudah diajak berkomunikasi dan sangat familiar dengan semua anggota PWI. Beliau beberapa kali berkunjung ke Kalimantan Barat dalam rangka agenda organisasi dan selalu meninggalkan kesan yang baik,” kenang Wawan. Jejak Karier dan Dedikasi Lahir di Banda Aceh pada 2 Juli 1972, Zulmansyah merupakan sosok yang telah lama malang melintang di dunia jurnalistik. Pria asal Aceh Tenggara ini menempuh pendidikan tingginya di S1 Ilmu Administrasi Negara, Universitas Riau (UNRI), Pekanbaru. Kecintaannya pada dunia organisasi dan jurnalistik sudah terpupuk sejak masa kuliah melalui keterlibatannya di: • SKK Bahana Mahasiswa • Mapala Sakai • Senat Mahasiswa UNRI • Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Pekanbaru Dalam karier profesionalnya, ia merupakan tokoh kunci di lingkungan Riau Pos Group. Puncak kepemimpinannya di daerah ditandai dengan menjabat sebagai Ketua PWI Provinsi Riau selama dua periode (2017–2022 dan 2022–2027). Dedikasinya kemudian membawanya ke kancah nasional sebagai Sekretaris Jenderal PWI Pusat. Bahkan, dalam dinamika organisasi, Zulmansyah sempat terpilih sebagai Ketua Umum PWI Pusat periode 2023–2028 melalui mekanisme Kongres Luar Biasa (KLB) pada Agustus 2024 lalu. Penghormatan Terakhir Kepergian Zulmansyah Sekedang menjadi kehilangan besar bagi marwah pers nasional. Ucapan belasungkawa terus mengalir dari berbagai pengurus PWI daerah, termasuk keluarga besar PWI Kalimantan Barat. “Semoga almarhum diterima amal ibadahnya, diampuni segala dosanya, dan mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT. Keluarga yang ditinggalkan semoga diberikan ketabahan,” pungkas Wawan mewakili jajaran PWI Kalbar. Selamat jalan, Bang Zulmansyah Sekedang. Dedikasimu untuk kemerdekaan pers akan selalu dikenang. (Team/read)

CIREBON-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Dugaan praktik pungutan liar (pungli) mencuat di lingkungan SDN 2 Tukmudal, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon, menjelang kegiatan perpisahan siswa kelas VI. Wali murid disebut-sebut diminta membayar sejumlah uang yang dinilai memberatkan. Informasi yang dihimpun menyebutkan, pungutan awalnya mencapai Rp370 ribu per siswa. Penarikan dana diduga dilakukan melalui wali kelas dengan permintaan pembayaran dalam waktu tertentu, sehingga menimbulkan tekanan bagi sebagian orang tua. Seorang narasumber yang enggan disebutkan namanya mengaku keberatan atas kebijakan tersebut. Ia menilai, pungutan itu tidak sepenuhnya bersifat sukarela karena adanya dorongan dari pihak sekolah. Upaya konfirmasi kepada Kepala SDN 2 Tukmudal belum membuahkan hasil. Saat didatangi, yang bersangkutan disebut sedang tidak berada di tempat oleh pihak guru. Sementara itu, Ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Kecamatan Sumber, Siti Lomrah, S.Pd., saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon menyampaikan bahwa pihaknya perlu melakukan penelusuran terlebih dahulu guna memastikan kebenaran informasi. Beberapa hari kemudian, saat ditemui di SDN 1 Gegunung, K3S menyampaikan klarifikasi berdasarkan hasil komunikasi dengan pihak sekolah terkait. Ia membenarkan adanya rencana kegiatan perpisahan, namun nominal iuran disebut berkisar Rp300 ribuan, bukan Rp370 ribu. Menurutnya, dana tersebut merupakan hasil kesepakatan antara wali murid dan komite sekolah yang dituangkan dalam berita acara rapat. Seluruh mekanisme, kata dia, telah ditempuh melalui musyawarah bersama. Meski demikian, praktik pengumpulan dana di sekolah tetap menjadi sorotan. Mengacu pada ketentuan dalam Permendikbud Nomor 75 Tahun 2016 tentang Komite Sekolah, sekolah tidak diperkenankan melakukan pungutan kepada orang tua atau wali murid. Kontribusi hanya dapat dilakukan dalam bentuk sumbangan sukarela tanpa paksaan. Selain itu, Komisi Pemberantasan Korupsi juga menegaskan bahwa pungutan liar di sektor pendidikan termasuk dalam kategori korupsi skala kecil yang harus dicegah sejak dini. Sejumlah pemerhati pendidikan menilai, kegiatan perpisahan seharusnya tidak menjadi beban finansial bagi orang tua. Transparansi dan prinsip sukarela menjadi kunci agar tidak menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Aduan terkait dugaan ini juga telah disampaikan kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Cirebon melalui salah satu pejabat bidang teknis. Pihak dinas dikabarkan akan melakukan peninjauan langsung, namun hingga berita ini disusun, belum ada keterangan resmi yang disampaikan. Masyarakat berharap ada langkah tegas dan evaluasi menyeluruh agar praktik serupa tidak terulang. Dunia pendidikan diharapkan tetap menjunjung tinggi nilai integritas dan tidak membebani peserta didik maupun orang tua dengan pungutan yang tidak sesuai aturan. (Asep Rusliman)

SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Seorang tokoh masyarakat dan juga menjabat Ketua RW 02 Kelurahan Citamiang, Miftah Faroz Sanusi, menegaskan bahwa Forum Komunikasi (FK) RT/RW di wilayahnya harus berdiri independen dan terbebas dari kepentingan politik praktis. Menurutnya, FK RT/RW merupakan organisasi kemasyarakatan yang berfungsi sebagai wadah koordinasi, silaturahmi, serta penguatan peran RT dan RW dalam mendukung pelayanan dan pembangunan di tingkat lingkungan. “Forum ini bukan untuk kepentingan politik. Ini murni ruang kebersamaan dan pengabdian bagi masyarakat,” ujarnya, Jumat (17/4/2026). Miftah menjelaskan, FK RT/RW Citamiang pertama kali dibentuk pada 1998 saat masa kepemimpinan Wali Kota Sukabumi, Muslikh Abdussyukur. Saat itu, forum menjadi sarana komunikasi efektif antar pengurus wilayah. Ia sendiri dipercaya sebagai ketua awal, didampingi Dawami sebagai sekretaris dan Abas Sambas sebagai bendahara. Keberadaan forum kala itu dinilai mampu memperkuat sinergi antar RT dan RW di Kecamatan Citamiang. Namun, seiring waktu, aktivitas forum mengalami penurunan dan bahkan sempat vakum. Kepengurusan terakhir dipimpin oleh Ade Suherman, namun tidak berlanjut setelah masa jabatannya berakhir. “Sekarang ini secara struktur masih ada, tapi kegiatannya belum berjalan maksimal. Ini yang menjadi perhatian kita bersama,” katanya. Melihat kondisi tersebut, Miftah menginisiasi kembali pembentukan kepengurusan FK RT/RW agar organisasi ini bisa kembali aktif dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Ia menekankan bahwa FK RT/RW harus menjadi mitra pemerintah tanpa kehilangan independensinya. Dalam konteks ini, ia juga menyatakan dukungan terhadap pemerintahan Kota Sukabumi di bawah kepemimpinan Ayep Zaki. “Siapapun pemimpinnya harus kita dukung. Tapi forum ini tidak boleh ditarik ke kepentingan politik. Fokusnya tetap pada pelayanan masyarakat,” tegasnya. Dalam proses pembentukan kembali, telah muncul tiga kandidat calon ketua, yakni Ade Komarudin, Ginanjar, dan H. Dadang. Miftah pun secara terbuka memberikan dukungan kepada H. Dadang. Ia menilai pengalaman panjang dalam organisasi kemasyarakatan menjadi keunggulan tersendiri. “Kami sudah bersama sejak 1986 di BKM dan masih aktif di LPM. Saya tahu betul kapasitas dan komitmennya,” ungkapnya. Ia berharap, kebangkitan FK RT/RW Citamiang dapat menjadi contoh bagi wilayah lain dalam membangun organisasi masyarakat yang solid, netral, dan berkelanjutan. “Ini bukan organisasi yang mengejar keuntungan, tapi pengabdian. Nilai utamanya ada pada kebersamaan dan kontribusi untuk pembangunan,” pungkasnya. (Usep)