SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Sebanyak 25 pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dipastikan ikut meramaikan bazar dalam rangkaian peringatan Hari Perhubungan Nasional (Harhubnas) 2026 di Kota Sukabumi. Bazar UMKM tersebut digelar Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Sukabumi berkolaborasi dengan Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian dan Perdagangan (Diskumindag) di area Car Free Day (CFD) Jalan Ahmad Yani, tepatnya di kawasan cekungan Capitol, Minggu (27/9/2026). Kepala Dishub Kota Sukabumi Iskandar Ihfan mengatakan, pelaksanaan Harhubnas tahun ini mengikuti arahan Kementerian Perhubungan agar kegiatan di daerah digelar secara sederhana dan tidak berlebihan. Fokus kegiatan diarahkan pada penguatan UMKM, aksi kemanusiaan, kepedulian lingkungan serta penguatan kearifan lokal. “Insyaallah akhir pekan ini Dishub dan Diskumindag akan menggelar bazar UMKM di area Car Free Day. Ini menjadi salah satu rangkaian peringatan Harhubnas 2026,” kata Iskandar, Kamis (24/9/2026). Selain bazar UMKM, masyarakat juga dapat menikmati Gerakan Pangan Murah yang digelar DKP3 serta mengakses sejumlah layanan publik. Sedikitnya terdapat 10 layanan yang disiapkan, di antaranya dari Dinkes, Disdukcapil, DPMPTSP, Inspektorat, DPUPR, PDAM, Optik Waluya, Dinsos, Perpustakaan Keliling dan BJB Mobile. “Silakan masyarakat Kota Sukabumi meramaikan bazar UMKM dan layanan publik sambil berolahraga di Car Free Day,” ujarnya. Iskandar menjelaskan, lokasi CFD yang biasanya berada di depan City Mall untuk sementara bergeser ke depan Gedung Capitol. Beragam kegiatan disiapkan mulai senam, kaulinan barudak, poundfit, karaoke, BMX, sepatu roda hingga Sukabumi Menari. Rangkaian CFD berlangsung pukul 06.00 hingga 09.00 WIB, sedangkan bazar UMKM difasilitasi hingga pukul 11.00 WIB. Menurut Iskandar, kegiatan tersebut diharapkan dapat memberikan ruang promosi sekaligus mendorong perputaran ekonomi pelaku usaha mikro. “Semoga bazar ini bisa mendongkrak perekonomian para pelaku usaha mikro dan mengangkat kearifan lokal Kota Sukabumi,” ungkapnya. Sementara itu, Kepala Diskumindag Kota Sukabumi Een Rukmini menyampaikan, bazar UMKM tersebut juga menggandeng Badan Musyawarah Perbankan Daerah (BMPD), mengingat sejumlah perbankan memiliki program pembinaan terhadap UMKM. Menurut Een, terdapat 52 UMKM binaan yang masuk kategori naik kelas pada 2026 dan mendapat informasi untuk mengikuti bazar. Namun, dari jumlah tersebut sebanyak 25 UMKM menyatakan siap mengisi stan bazar. “Informasinya ada 52 UMKM naik kelas 2026 untuk mengikuti bazar, namun hanya 25 UMKM yang siap mengisi bazar tersebut,” terang Een. Ia berharap kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang promosi produk, tetapi turut mendorong pertumbuhan ekonomi dan membuka peluang UMKM Kota Sukabumi untuk semakin berkembang, terutama sektor kuliner yang dinilai masih memiliki potensi besar. “Jajanan kuliner dari UMKM Kota Sukabumi semoga semakin banyak dan bisa dinikmati masyarakat luas,” pungkasnya. (Usep)
KUNINGAN – Bidik-kasusnews.com Kabupaten Kuningan memiliki kekayaan potensi produk lokal yang melimpah. Namun, potensi besar ini tidak akan berdampak maksimal tanpa adanya “benteng” perlindungan hukum yang kuat. Menyadari hal tersebut, Pemerintah Kabupaten Kuningan bersama Kementerian Hukum menggelar langkah strategis untuk memperkuat identitas dan daya saing produk daerah melalui perlindungan Kekayaan Intelektual (KI). Fajar, salah satu narasumber utama dalam kegiatan tersebut, menekankan bahwa bagi pelaku usaha, merek bukan sekadar tempelan nama atau gambar. “Merek merupakan wajah sekaligus pembeda dari sebuah produk. Pendaftaran merek sejak awal sangat vital agar identitas usaha memiliki perlindungan hukum. Dengan begitu, usaha dapat dikembangkan secara konsisten melalui kemasan, promosi, hingga membangun pengalaman konsumen yang terpercaya,” ujar Fajar. Pentingnya Merek Kolektif untuk Desa dan Koperasi Poin krusial dalam diskusi kali ini adalah pemahaman mengenai Merek Kolektif . Fajar menjelaskan bahwa instrumen ini sangat cocok untuk karakteristik ekonomi di Kuningan yang banyak berbasis komunitas. “Bagi koperasi, BUMDes, asosiasi sentra usaha, maupun kelompok ekonomi produktif, merek kolektif adalah instrumen perlindungan bersama. Ini memungkinkan satu kelompok atau desa menggunakan satu identitas bersama berdasarkan kesepakatan, sehingga mewakili kualitas produk seluruh anggotanya,” jelasnya. Selain itu, Fajar juga menyoroti potensi Indikasi Geografis (IG). Produk-produk yang memiliki kualitas, reputasi, dan karakteristik unik yang berasal dari wilayah geografis tertentu—seperti hasil bumi atau kerajinan khas Kuningan—sangat didorong untuk segera didaftarkan agar tidak diklaim pihak lain. Peta Jalan: Dari Pemetaan hingga Pendampingan Agar penguatan daya saing ini tidak hanya menjadi wacana, Fajar mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk fokus pada dua agenda utama. Pertama, pemetaan potensi dan identitas. Langkah ini meliputi identifikasi produk unggulan mana yang layak dilindungi, termasuk kesiapan kelembagaan pelaku usahanya. Kedua, pendampingan tuntas. Proses ini tidak berhenti pada administrasi, melainkan mencakup penelusuran merek, pemilihan kelas barang/jasa, hingga pemanfaatan hak setelah merek terdaftar sebagai strategi bisnis. “Kami berharap ini berlanjut pada pemanfaatan kekayaan intelektual sebagai bagian dari strategi pengembangan usaha dan ekonomi daerah, bukan sekadar dokumen administratif,” tambahnya. Wabup Tuti: Merek adalah Aset Ekonomi Bupati Kuningan berhalangan hadir karena agenda penting lainnya, namun sambutan pemerintah daerah disampaikan langsung oleh Wakil Bupati Kuningan, Tuti Andriani. Dalam paparannya, Wabup Tuti menegaskan bahwa pengembangan produk lokal harus berjalan beriringan dengan penguatan identitas. “Merek bukan sekadar nama atau logo. Merek merupakan identitas, aset ekonomi, dan bagian dari reputasi suatu produk atau jasa yang perlu dilindungi dan dikembangkan secara berkelanjutan,” tegas Wabup Tuti. Ia juga mendorong para peserta agar ilmu yang didapat tidak berhenti di ruangan tersebut, melainkan ditularkan kepada pelaku usaha dan masyarakat di lingkungannya masing-masing. Rangkaian Aksi Nyata Kegiatan ini diisi dengan rangkaian agenda padat dan aplikatif, mulai dari penguatan peran paralegal di pos bantuan hukum, demonstrasi aplikasi SIMAKO (Sistem Informasi Merek), hingga literasi keuangan bersama Bank BJB. Sesi yang paling dinanti adalah klinik pendampingan bagi calon pemohon merek dan merek kolektif, memastikan para pelaku usaha mendapatkan panduan langsung hingga tuntas. Melalui sinergi antara Pemerintah Kabupaten Kuningan, Kementerian Hukum, dunia usaha, perguruan tinggi, dan komunitas, diharapkan kekayaan intelektual Kuningan dapat menjadi motor penggerak ekonomi kreatif. Tujuannya jelas: Produk Kuningan tidak hanya dikenal karena kualitasnya, tetapi juga memiliki identitas yang terlindungi, reputasi yang terjaga, dan nilai ekonomi yang kuat untuk menembus pasar yang lebih luas. (Asep Rusliman)
SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Kreativitas dan keterampilan yang dimiliki Harun, warga Kampung Cicariu, Desa Cipeundeuy, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, menjadi bukti bahwa potensi ekonomi kreatif dapat tumbuh dari tingkat desa. Berbekal keahlian di bidang kerajinan tangan, bonsai, serta penataan lingkungan, ia terus berupaya mengembangkan usahanya meski masih menghadapi keterbatasan modal. Selama bertahun-tahun, Harun telah menekuni berbagai pekerjaan yang berkaitan dengan pembentukan dan perawatan bonsai, pembuatan ornamen dekoratif, hingga jasa penataan taman dan lingkungan. Keahliannya mencakup penataan halaman rumah, taman sekolah, perkantoran, hingga ruang terbuka agar terlihat lebih rapi, hijau, dan menarik. Saat ditemui di kediamannya, Rabu (3/6/2026), Harun mengaku permintaan jasa penataan lingkungan cukup terbuka. Namun, keterbatasan modal menjadi tantangan utama dalam meningkatkan kapasitas usahanya. “Keinginan untuk berkembang ada, bahkan saya siap menerima berbagai pesanan. Hanya saja, kebutuhan modal untuk membeli bahan, peralatan, dan mengembangkan usaha masih menjadi kendala,” ujarnya. Menurutnya, dukungan permodalan akan sangat membantu untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi sekaligus memperluas jangkauan usaha. Ia juga optimistis pengembangan usaha tersebut dapat menciptakan peluang kerja bagi masyarakat sekitar. Berbagai hasil karya yang telah dibuat Harun mendapat apresiasi karena mampu menghadirkan nuansa asri dan estetis pada lingkungan yang ditata. Potensi tersebut dinilai dapat menjadi salah satu sektor ekonomi kreatif yang menjanjikan apabila mendapatkan pembinaan dan dukungan yang berkelanjutan. Harun berharap pemerintah, pelaku usaha, maupun pihak terkait lainnya dapat memberikan perhatian terhadap pengembangan usaha kreatif masyarakat desa. Dengan dukungan yang memadai, bakat dan keterampilan yang dimiliki warga lokal diyakini mampu menjadi sumber penghasilan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah Surade dan sekitarnya. (Dicky)
SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Gaung batu akik kembali menggema lewat gelaran Pameran Kemilau Batu Bercahaya di Gedung Juang 45, Minggu (5/4/2026). Event ini bukan sekadar ajang pamer, tapi menjadi titik temu puluhan komunitas untuk menghidupkan kembali potensi batu nusantara ke pasar yang lebih luas. Ketua panitia, Rachmi, menegaskan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai langkah konkret memperkenalkan batu-batu unggulan yang memiliki nilai ekonomi tinggi, termasuk peluang untuk menembus pasar internasional. Sebanyak 45 komunitas dari berbagai daerah terlibat, memperlihatkan kekuatan jejaring pecinta dan pelaku usaha batu akik di tingkat nasional. “Ini bukan hanya pameran, tapi upaya menyatukan potensi. Kita ingin dorong agar batu lokal punya daya saing hingga ke luar negeri,” ujarnya. Ia menyebut, sinergi juga akan diarahkan dengan berbagai sektor kerajinan lain di bawah naungan Dewan Kerajinan Nasional Daerah, agar promosi produk unggulan daerah bisa dilakukan secara terintegrasi. Pameran sehari ini pun menjadi ruang strategis memperluas kolaborasi. Komunitas-komunitas yang hadir diharapkan tidak hanya berhenti pada ajang ini, tetapi mampu mendorong lahirnya event yang lebih besar dan berkelanjutan di Sukabumi. “Ke depan kita dorong jadi agenda rutin. Bahkan memungkinkan masuk kalender event tahunan,” kata Rachmi. Di sisi lain, Ketua Komunitas Batu Akik Sukabumi, Wandi Efendi alias Kawat, melihat kegiatan ini sebagai momentum mengangkat kembali marwah batu akik yang sempat redup. Ia menilai, potensi pengrajin lokal masih sangat kuat dan perlu ruang untuk tampil. “Batu akik ini tidak pernah benar-benar mati. Aktivitas komunitas dan transaksi tetap berjalan, hanya perlu panggung seperti ini untuk kembali terlihat,” ungkapnya. Sebanyak 120 batu terbaik ditampilkan dalam kontes, mulai dari jenis Bacan hingga batu khas Garut dengan berbagai varian unggulan. Peserta datang dari sejumlah daerah seperti Sumedang, Cirebon, Tasikmalaya, Garut, Bandung, Jakarta, Bogor, dan Cianjur. Menurut Kawat, batu-batu yang masuk ke meja penilaian merupakan koleksi pilihan, mencerminkan kualitas terbaik dari masing-masing daerah. “Yang tampil hari ini adalah yang terbaik. Ini bukti bahwa kualitas batu nusantara masih sangat diperhitungkan,” pungkasnya. (Usep)
SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Usaha pengolahan gula semut kelapa yang dijalankan secara rumahan di Kampung Cibuntu, Desa Buniwangi, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, terus menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Produk olahan berbahan baku nira kelapa tersebut tidak hanya dipasarkan di tingkat lokal, tetapi juga telah berhasil menembus pasar mancanegara, termasuk sejumlah negara di Eropa. Usaha yang dijalankan oleh pelaku usaha Famili Abadi ini memanfaatkan potensi sumber daya alam desa yang melimpah. Di wilayah Desa Buniwangi sendiri tercatat lebih dari 200 pohon kelapa yang dimanfaatkan sebagai sumber nira untuk bahan baku pembuatan gula semut. Pengrajin gula semut Famili Abadi, Subarna, menjelaskan bahwa dari sekitar 20 pohon kelapa yang disadap setiap harinya dapat menghasilkan kurang lebih 10 kilogram gula semut siap jual. “Alhamdulillah, selama menjalankan usaha ini tidak ada kendala yang berarti. Bahan baku nira kelapa di sini sangat mencukupi, sehingga produksi bisa berjalan secara berkelanjutan,” ujar Subarna, Jumat (6/3/2026). Ia menjelaskan, sebutan gula semut berasal dari bentuknya yang berupa butiran halus menyerupai sarang semut di dalam tanah. Selain tampilannya yang khas, gula semut juga memiliki keunggulan dari sisi ketahanan penyimpanan. Menurutnya, gula semut dapat bertahan hingga dua tahun apabila dikemas dengan baik dan rapat. Hal ini karena kadar udara yang terkandung di dalam gula semut relatif rendah, yakni hanya sekitar 2 hingga 3 persen. “Kalau dikemas dengan baik, gula semut bisa disimpan sampai dua tahun tanpa mengalami perubahan warna maupun rasa,” jelasnya. Proses pembuatan gula semut sendiri tidak jauh berbeda dengan pembuatan gula merah cetak. Tahapannya dimulai dari pengambilan nira kelapa, kemudian dimasak dan diaduk secara terus-menerus hingga mengkristal dan berubah menjadi butiran gula. Seluruh proses tersebut memerlukan waktu sekitar empat jam hingga gula semut siap untuk dikemas. Subarna menegaskan bahwa produk gula semut yang diproduksinya dibuat secara alami tanpa menggunakan campuran bahan kimia. Teknik pengolahannya masih mengandalkan cara tradisional yang telah lama dilakukan para pengrajin di daerah tersebut. “Dalam prosesnya kami tidak menggunakan bahan kimia. Semua murni dari nira kelapa dan diolah secara alami,” tegasnya. Untuk pemasaran, gula semut produksi Famili Abadi saat ini telah dipasarkan di berbagai wilayah Pajampangan atau kawasan selatan Kabupaten Sukabumi. Produk tersebut dijual dalam kemasan ekonomis seberat 250 gram dengan harga sekitar Rp10 ribu per kemasan. Selain memenuhi pasar lokal, gula semut asal Desa Buniwangi juga telah menembus pasar ekspor, salah satunya ke Belanda. Keberhasilan usaha rumahan ini menjadi bukti bahwa potensi sumber daya alam desa, apabila dikelola secara optimal dan berkelanjutan, mampu memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat serta membuka peluang pasar hingga ke tingkat internasional. (Dicky)
KUNINGAN-BIDIK-KASUSNEWS.COM – Di balik kepulan asap arang dan deru mesin produksi briket yang menjadi sumber nafkah banyak orang, terselip nama seorang pengusaha yang kini dikenal karena ketulusan hatinya, dia adalah H. Sobat. Seorang pengusaha arang briket asal Palimanan, Kabupaten Cirebon. Ia tak hanya piawai mengembangkan usaha ramah lingkungan, tapi juga dikenal luas karena kepeduliannya terhadap sesama. Langkah kebaikan H. Sobat bahkan menembus hingga ke pelosok Desa Pugag, Kecamatan Selajambe, Kabupaten Kuningan daerah yang dijuluki warga sekitar sebagai “negeri di atas awan”. Akses menuju lokasi itu tidak mudah, medan terjal membuatnya hanya bisa dilalui dengan sepeda motor trail atau berjalan kaki. Namun, hal itu tak pernah menjadi penghalang bagi datangnya kebaikan. Di kampung terpencil itu tinggal sejumlah warga mualaf yang baru mengenal Islam. Mereka hidup sederhana, bahkan kerap menghadapi penolakan dari lingkungan sekitar. Meski demikian, semangat mereka untuk mempertahankan iman tetap menyala. Suatu hari, musola kecil yang menjadi satu-satunya tempat ibadah warga roboh diterpa hujan deras. Atapnya lapuk, dindingnya nyaris runtuh. Dalam keterbatasan, warga berusaha memperbaikinya, berharap ada tangan dermawan yang sudi membantu. Dan harapan itu terwujud. Bantuan datang dari seseorang yang tak mereka kenal langsung, namun terasa seperti jawaban atas doa, H. Sobat. Ia membantu perbaikan musola warga mualaf Pugag tanpa banyak publikasi dan tanpa embel-embel nama besar. “Orang baik itu datang dari Palimanan. Kami tidak kenal, tapi dia peduli. Semoga Allah membalas kebaikannya,” tutur salah satu warga mualaf dengan mata berkaca-kaca, Jumat (31/10/2025). Di Palimanan dan Panjalin, nama H. Sobat sudah tak asing. Ia dikenal sebagai pengusaha arang briket yang sukses sekaligus figur yang rendah hati dan peduli sosial. Tak jarang, ia turun langsung membina pekerja lokal agar lebih mandiri, serta rutin menyalurkan bantuan bagi warga sekitar. Mulai dari santunan yatim piatu, perbaikan tempat ibadah, hingga bantuan bagi korban bencana, semua dilakukan tanpa pamrih. “Saya tidak ingin dikenal karena harta, tapi karena manfaat. Kalau sedikit yang saya punya bisa membuat orang lain tersenyum, itu sudah cukup,” ujarnya suatu ketika kepada awak media. Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan individualistis, sosok seperti H. Sobat menjadi pengingat bahwa kesuksesan sejati tidak diukur dari besarnya keuntungan, melainkan dari seberapa banyak kebaikan yang mampu dibagikan. Berkat uluran tangannya, musola warga mualaf di Pugag kini berdiri kokoh kembali bukan hanya karena papan dan paku, tetapi karena doa dan ketulusan yang menyertainya. “Semoga Allah membalas setiap kebaikan orang baik itu. Surga pasti merindukannya,” ucap seorang warga menutup kisah haru itu dengan doa. (Amin)
SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM- Lembaga Wakaf Doa Bangsa terus memperkuat peran nadzir dalam mengelola potensi wakaf secara produktif. Melalui program Qarsdul Hasan, lembaga ini kembali menyalurkan pembiayaan tanpa bunga kepada masyarakat Kota Sukabumi dalam kegiatan yang digelar di Kelurahan Cikundul, Kecamatan Lembursitu, Sabtu (18/10/2025). Direktur Lembaga Wakaf Doa Bangsa, Entus Wahidin Abdul Quddus atau biasa disapa Tus Wahid, menyebut bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari fungsi nadzir. Nadzir akan memastikan tiga pilar pengelolaan wakaf berjalan baik, yakni penghimpunan, pengelolaan, dan penyaluran berjalan baik. “Hari ini kita mewakili nadzir dalam program Dana Abadi Kota Sukabumi. Dana umat ini dikelola dengan orientasi pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui skema qadhul hasan,” ujar Tus Wahid. Pada tahap kedua ini, program Qardhul Hasan menyentuh 66 penerima manfaat dari tiga kelurahan: Sindangsari, Cikundul, dan Cipanengah. Skema ini tidak hanya memberikan bantuan modal, tetapi juga mengajarkan nilai tanggung jawab sosial dalam pengelolaan dana wakaf. Tus Wahid menjelaskan, wakaf merupakan bagian dari ibadah yang memiliki dimensi hukum kuat. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf, pelaksanaannya melibatkan unsur wakif, nadzir, Lembaga Keuangan Syariah Penerima Wakaf Uang (LKS-PWU), dan mauquf alaih. “Hukum wakaf itu bersifat abadi. Karena itu, nadzir wajib menjaga dan mengelola hasil wakaf secara amanah serta melaporkannya secara berkala ke BWI setiap semester,” tegasnya. Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara nadzir dan pemerintah daerah, terutama dalam berbagi data sosial ekonomi warga agar program wakaf lebih tepat sasaran. “Kerja sama ini strategis karena mauquf alaih adalah warga Kota Sukabumi. Kita perlu tahu angka kemiskinan dan data autentiknya di mana. Namun secara hukum, laporan tetap disampaikan ke BWI, bukan Pemda,” jelasnya. Tus menambahkan, hubungan antara nadzir dan pemerintah daerah bersifat saling mendukung. Pemerintah berperan dalam mempercepat dan memperluas manfaat wakaf, sementara nadzir menjaga integritas dan keberlanjutan pengelolaannya. “Wakaf adalah perbuatan hukum antara wakif dan nadzir. Pemerintah hadir untuk akselerasi dan sinergi dalam membangun kemandirian ekonomi umat,” tutupnya. (Usep)
SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM- Program qardhul hasan terus berkembang seiring meningkatnya pengelolaan dana wakaf. Direktur Lembaga Wakaf Doa Bangsa, Tus Wahid, menegaskan bahwa kunci utama memperkuat pembiayaan qardhul hasan adalah memperbesar himpunan wakaf uang sebagai dana abadi. “Kalau ingin qardhul hasan tumbuh, maka penghimpunan wakaf juga harus tumbuh. Caranya adalah dengan gencar sosialisasi agar partisipasi masyarakat meningkat,” ujarnya, Sabtu (20/9/2025). Tus menjelaskan bahwa regulasi wakaf Indonesia sudah memberi perlindungan kepada wakif (pemberi wakaf) dan nadzir (pengelola). Mekanisme wakaf sederhana: wakif menyerahkan wakaf kepada nadzir, lalu nadzir mengelolanya sesuai amanah dan melaporkan hasilnya kepada Badan Wakaf Indonesia (BWI) tembusan kepada Kementerian Agama. Ia mengibaratkan wakaf seperti pohon beringin itu batangnya besar dan harus dijaga, sementara buahnya bisa dipetik untuk kemaslahatan. “Dana pokok wakaf tidak boleh berkurang sampai akhir zaman. Yang dibagikan ke penerima manfaat adalah hasil pengelolaannya,” jelasnya. Menurutnya, peran nadzir sangat penting. Mereka ibarat penjaga pohon yang harus merawat agar terus berbuah. Hasilnya bisa segera disalurkan kepada masyarakat. Karena itu, kemampuan nadzir perlu diperkuat. Tus menilai strategi paling efektif dalam mensosialisasikan wakaf adalah menggandeng komunitas. “Komunitas seperti yayasan memiliki kekuatan organik. Jika pimpinannya mengajak anggota untuk berwakaf, dampaknya besar,” katanya. Saat ini BWI menargetkan penghimpunan wakaf uang nasional sebesar Rp180 triliun per tahun. Namun realisasi baru mencapai Rp3 triliun. “Targetnya masih jauh. Kita perlu kerja sama semua nadzir untuk mengejar potensi nasional yang Rp181 triliun itu,” terangnya. Kabar baiknya, kesadaran masyarakat untuk mengembalikan dana qardhul hasan sebagai dana hasil pengelolaan wakaf cukup tinggi. “Sekarang sudah masuk putaran kedua. Ada kelompok-kelompok kecamatan yang rutin melunasi pinjaman karena mereka tahu dana itu akan diputarkan kembali untuk membantu yang lain,” tandasnya. (Usep)
SUKABUMI-BIDIK-KASUSNEWS.COM- Direktur Lembaga Wakaf, Tus Wahid, memaparkan program Qardhul Hasan sebagai alternatif pembiayaan tanpa bunga bagi masyarakat. Skema ini sudah difatwakan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan berbentuk pinjaman kebaikan (qard berarti pinjaman, hasan berarti kebaikan). Menurut Tus Wahid, program ini masih dalam tahap pengelolaan dengan hasil sementara sebesar Rp250 ribu yang akan disalurkan kepada masyarakat pelaku UMKM dengan tenor 10 bulan. “Dana pokok wakaf tetap dijaga agar tidak habis, sementara hasil pengelolaannya terus diputar untuk membantu usaha kecil,” kata Tus Wahid, Rabu (27/8/2025). Ia menegaskan, meskipun dana yang digulirkan relatif kecil, manfaatnya dapat mendongkrak modal usaha, menambah stok, hingga meningkatkan omzet. “Harapannya, pelaku usaha bisa naik kelas, ekonomi masyarakat tumbuh, dan kegiatan sosial tetap berjalan,” tambahnya. Program qardhul hasan ini juga dilengkapi fungsi pendampingan dan pengawasan agar dana yang beredar bisa terus bergulir di lingkungan penerima manfaat. Contohnya, dari 30 penerima dalam satu kecamatan, hasil pengembalian pinjaman akan kembali diputar untuk masyarakat setempat. Selain untuk mendukung pengembangan usaha, lanjut Tus Wahid, dana qardhul hasan juga diarahkan agar hasil pengelolaan wakaf tidak hanya berhenti di penerima awal, melainkan terus berputar sehingga manfaatnya lebih luas. Dengan cara ini, dana wakaf tetap utuh, sementara hasilnya berdaya guna bagi masyarakat. Ia menambahkan, fleksibilitas dalam pengelolaan program menjadi nilai tambah. Peserta tidak hanya mendapatkan bantuan dana, tetapi juga pendampingan agar usaha yang dijalankan benar-benar berkembang. “Dari nilai bantuan kecil, lahir outcome besar ketika usaha mereka berjalan dan bisa didayagunakan kembali,” ujarnya. Camat Citamiang, Aries Arisandi, menyambut baik program tersebut. Ia menyebutkan ada 1.498 UMKM di wilayahnya yang berpotensi terbantu melalui qardhul hasan. “Kegiatan ini juga sekaligus memberikan santunan bagi 15 anak yatim piatu. Kami berharap pelaku usaha memanfaatkan bantuan modal ini sebaik-baiknya. Qardhul hasan adalah bantuan yang terbebas dari riba,” tegasnya. (Usep/Kabiro)
SUKABUMI.BIDIK-KASUSNEWS.COM- Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Kota Sukabumi, Ade Hermawan, menyebut peringatan Hari Adhyaksa yang bertepatan dengan HUT RI ke-80 menjadi momentum ganda yang saling berkaitan. Hari Bakti Adhyaksa (HBA) yang jatuh setiap 22 Juli merupakan momen historis perpisahan kejaksaan dari Mahkamah Agung, sementara peringatan tahun ini dilaksanakan pada 2 September 2025. Sebagai rangkaian kegiatan, Kejari Kota Sukabumi menggelar operasi pasar bersama Pemerintah Daerah dan Bulog, Selasa (12/8/2025). Langkah ini diambil untuk membantu menekan inflasi, mengingat data BPS mencatat pada Juli 2025 Kota Sukabumi mengalami inflasi tertinggi di Jawa Barat, yakni 3,63 persen. Operasi pasar menyediakan sembilan bahan pokok seperti beras, minyak goreng, dan kebutuhan lainnya, termasuk produk UMKM. Semua dijual di bawah harga pasar melalui kerja sama dengan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) serta Bulog. Ade berharap kegiatan ini dapat meringankan beban masyarakat dan menjaga daya beli, sehingga kebutuhan pokok sehari-hari tetap terpenuhi. ”Melalui kegiatan operasi pasar ini diharapkan dapat meringankan beban masyarakat karena tingginya harga-harga kebutuhan pokok saat ini,” tandasnya. (Usep)